MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Kenangan Yang Menyakitkan


__ADS_3

"Jadi kamu akan mundur saat tahu kalau gadis pujaan mu itu semakin dekat saja dengan pacar Korea nya?" tanya Jack sambil mengambil tempat duduk di depan putranya.


"Entahlah, dad. Rasanya sakit setiap kali melihat mereka bermesraan. Apalagi sekarang pacarnya itu sudah kuliah juga di sini."


"Reo, mungkin sudah saatnya kamu berpikir untuk segera melupakan Edewina. Usiamu sekarang berapa, nak? Daddy tak mau kau bertambah sakit nantinya saat Edewina justru menikah dengan pria itu. Mommy sudah ingin kau memiliki anak. Apalagi daddy. Memangnya usia Daddy berapa sekarang? Daddy juga ingin melihatmu menikah. Bukankah Indira gadis yang baik?"


"Daddy, kami hanya berteman."


"Mungkin Indira punya rasa untukmu."


"Nggak, dad."


Jack menatap putranya. "Betapa banyak wanita yang menginginkanmu namun hatimu hanya untuk Edewina. Daddy harap agar kau bisa menemukan cinta yang sungguh-sungguh juga mencintaimu. Seperti juga mommy Dan Daddy." ujar Jack sebelum meninggalkan ruangan putranya.


Reo menatap foto Edewina yang ada di atas mejanya. Foto yang diambilnya saat gadis itu masih SMA.


Kini ia dan Edewina sudah ada di negara yang sama walaupun berbeda kota. Reo tak perlu lagi ke luar negeri jika ia rindu untuk melihat Edwina. Reo yang membantu gadis itu saat ia mendaftar di universitas Oxford. Reo yang mencarikan apartemen terbaik untuk gadis itu.


Namun sayangnya, Reo tak bisa menunjukan perasaanya yang begitu dalam pada gadis itu karena Edewina terlihat begitu bahagia ketika bersama Kennard. Dan Reo sama sekali tak menemukan celah dalam diri Kennard untuk menyingkirkan pria itu dalam kehidupan Edewina.


*********


"Orang tuaku akan datang minggu depan." kata Kennard sambil membelai rambut Edewina. Gadis itu sedang bergelut manja di lengan sang kekasih sambil duduk sambil berselojor kaki di taman dekat kampus mereka.


"Orang tua ku juga mau datang." ujar Edewina.


"Bagaimana jika kita saling memperkenalkan mereka?" tanya Ken.


Edewina mengangguk. "Aku setuju. Kita sudah hampir 3 tahun pacaran dan mereka belum pernah ketemu."


"Bagaimana kalau kita atur acara makan malam di salah satu restoran?" tanya Ken.


"Boleh juga. Aku jadi tak sabar menanti pertemuan ini."


Kennard mengacak rambut Edewina. "Sayang, seandainya orang tuamu mengijinkan, aku ingin kita tunangan dulu."


Edewina melepaskan tangannya dari lengan Ken dan menatap pacarnya itu. "Kita akan bertunangan?"


"Iya. Kebetulan semua akan datang ke sini. Pamanku dan istrinya, juga opaku. Jadi sekalian saja mengikat hubungan kita dalam tali pertunangan."


"Ken...." mata Edewina jadi berkaca-kaca.


"Aku tak menginginkan gadis manapun seumur hidupku selain kamu, Win. Seandainya jika orang tuamu pun mengijinkan, aku ingin segera menikahi mu. Aku begitu takut saat tahu di kampus ini begitu banyak pria yang mengejarmu."


Edewina tersenyum. "Biar saja mereka mengejar aku. Karena aku tak mungkin menyukai mereka. Sebab hati dan jiwaku, hanya ada kamu."


Ken membelai wajah cantik kekasihnya. Ia kemudian menunduk dan memberikan satu kecupan di bibir Wina.


*********


"Cepatlah mami, nanti kita terlambat. Nggak enak kan sama orang tua Ken. Apalagi mereka datangnya lengkap. Ada paman dan bibinya, juga opanya." Edewina yang sudah siap dengan gaun berwarna putih nampak tak sabar.


"Tunggu dikit kenapa? Mami kan harus tampil sempurna juga saat bertemu dengan mereka." ujar Mahira saat keluar dari kamar sambil memperbaiki letak gaunnya.

__ADS_1


"Wah...., mami cantik sekali." puji Edewina saat melihat maminya yang nampak anggun dengan gaun berwana merah maron.


"Benarkah? Ini anniversary papi dan mami." kata Mahira sambil melirik suaminya dengan tatapan mesra.


Edmond tersenyum dengan bangganya. Menatap mata istrinya dengan binar cinta yang selalu mekar di hatinya.


"Ih...papi dan mami mesranya nanti aja. Ayo kita pergi." ajak Edewina sambil mengambil kunci Ferrari merahnya yang merupakan hadiah dari seseorang yang sampai hari ini tak Edewina ketahui orangnya. Reo membantunya mengurus semua sampai mobil itu bisa datang ke Inggris.


Mereka pun menuju ke restoran tempat pertemuan. Ken baru saja menelepon dan mengabarkan bahwa ia dan keluarganya baru saja tiba di tempat parkir restoran.


"Sayang, orang yang suka membantu kamu di sini, siapa namanya? Reo ya? Tak kamu undang juga?" tanya Edmond dalam perjalanan ke restoran.


"Dia orang sibuk, pi. Kami jarang sekali berkomunikasi sekarang."


"Oh...."


Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun tiba di restoran yang di maksud.


Edewina nampak sangat senang akan bertemu dengan orang tua Ken secara langsung. Walaupun sebenarnya mereka sudah sering Videocall.


"Mami, tangan Wina kok berkeringat ya?" tanya Edewina sambil memegang tangan maminya.


"Tenang, jangan gugup. Kamu cantik. Mereka pasti akan menyukaimu."


Kennard yang melihat kedatangan Edewina dan orang tuanya langsing berdiri dan menyambut mereka.


"Selamat malam om..., tante." Ken mencium punggung tangan Mahira dan Edmond secara bergantian.


"Papa..., mama, perkenalkan ini orang tua Edewina."


Mahira mencoba mengenali perempuan yang berdiri di depannya. Edmond juga terkejut saat melihat lelaki yang pernah ada dalam lingkaran hitam masa lalu keluarganya ada di sana.


"Edmond?" Terdy, pria paruh baya itu terkejut.


Mahira menatap Teddy yang juga ada di sini. "Teddy, Kennard adalah keponakanmu?"


"Ya."


Mahira tiba-tiba merasa kalau kakinya kehilangan kekuatan untuk bertahan. Ia dengan cepat melingkarkan tangannya di lengan Edmond.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Edmond.


"Aku merasa pusing." Jawab Mahira sambil semakin mengeratkan tangannya yang melingkarkan di lengan Edmond.


"Mami, apakah mami baik-baik saja?" tanya Edewina sambil memegang tangan maminya.


"Nggak sayang. Mami tidak baik-baik saja. Mami ingin pulang." ujar Mahira lalu segera menarik tangan suaminya.


"Tapi....!" Edewina menjadi bingung. Ia menatap Kennard dan keluarganya yang juga nampak bingung melihat perubahan dari mamanya Edewina.


"Wina, ayo kita pulang. Mungkin acara makan malamnya kita tunda saja. Kayaknya penyakit darah rendah mami kambuh lagi." ujar Edmond.


"Pergilah Wina. Temani mami mu." ujar Teddy.

__ADS_1


Edewina mengangguk. Ia segera mengejar langkah kedua orang tuanya.


********


"Sayang, berhentilah menangis dan cobalah untuk tidur." kata Edmond sambil memeluk istrinya.


"Bagaimana aku bisa tidur, Ed? Rahasia yang kita simpan selama bertahun-tahun akhirnya harus terbongkar. Edewina tak boleh pacaran dengan Kennard. Mereka adalah saudara sepupu. Mamanya Ken adalah adiknya Teddy." kata Mahira sambil menahan sesak di dada.


Edmond pun merasakan sesak di dada. 1 jam yang lalu Teddy juga baru meneleponnya. Dan dia tahu kalau Teddy juga sama khawatirnya dengan mereka.


Pintu kamar diketuk. Edewina kemudian masuk sambil mendekati kedua orang tuanya yang ada di tempat tidur. Mahira dengan cepat menghapus air matanya.


"Mengapa papi dan mami belum tidur? Mami menangis ya? Sebenarnya mami sakit apa sih? Adakah sesuatu yang kalian sembunyikan dari aku?" tanya Edewina sambil memegang tangan mamanya.


"Nggak sayang. Semuanya baik-baik saja. Mami hanya sedikit khawatir soalnya Edgar menelpon dan mengatakan kalau ia agak demam." Mahira berusaha tersenyum.


"Mami, jangan bohong." ujar Edewina sambil menatap wajah mamanya. "Katakan padaku ada apa? Apakah mami tak suka dengan orang tuanya Ken? Kan pamannya Ken, mami dan papi sudah kenal. Lalu mamanya Ken adalah adiknya papa Teddy."


Mahira menahan semua rasa sakit di hatinya. "Wina, kamu tidur ya nak? Ini sudah hampir jam 1. Nanti besok kita bicara lagi. "


Edewina nampak tak puas. Tentu saja ia tahu ada yang tidak beres pada kedua orang tuanya saat melihat orang tua Kennard. Namun ia tak mau menekan ibunya. Ia tahu kalau ibunya akan mengatakan itu tepat pada waktunya. Apapun yang terjadi, Edewina akan tetap mempertahankan hubungannya dengan Kennard.


**********


"Makan malam mereka batal, tuan." Lapor Mark pada Reo yang saat itu sedang duduk sendiri di ruangannya.


"Kenapa?"


"Saya tidak tahu apa yang terjadi namun dari kamera CCTV restoran terlihat kalau nyonya Mahira langsung pusing saat melihat orang tua Ken."


"Oh ya? Bukankah paman Ken sudah mereka kenal? Orang yang biasa Wina panggil dengan sebutan papa Teddy?"


"Saya juga baru tahu kalau ternyata Nyonya Mahira dulu pernah pacaran dengan tuan Teddy."


Reo terkejut. "Oh ya?"


"Nyonya Mahira menikah dengan tuan Edmond hanya satu bulan setelah tuan Teddy meninggalkannya. Di hari pernikahan mereka, tuan Teddy ditangkap oleh gang mafia tuan Edmond dan nanti dilepaskan saat mereka sudah resmi menikah."


Reo mengerutkan dahinya. "Mark, coba cari jalan untuk mencocokkan DNA Edewina dan Teddy."


"Tuan mencurigai sesuatu?"


"Aku curiga kalau Edewina adalah anak dari Teddy."


Mark mengangguk. "Akan ku usahakan, tuan."


Reo tersenyum. sepanjang hari ini ia merasa bad mood karena tahu akan ada pertemuan keluarga antara Edewina dan Ken. Kini ia memiliki harapan lagi. Pria tampan itu pun tersenyum.


********


Hallo semua, terima kasih sudah membaca part ini.


jangan lupa tinggalkan jejak ya

__ADS_1


__ADS_2