
Hari ini Reo memberanikan diri untuk datang ke kamar Edewina sambil membawa sebuah kotak berisi gaun. Ia ingin mengajak Edewina makan malam bersama.
"Boleh aku masuk?" tanya Reo sambil mengetuk pintu yang memang terbuka. Edewina nampak baru saja berolahraga karena masih menggunakan pakaian olahraga.
"Apa itu?" tanya Edewina lihat sebuah kotak putih di tangan Reo.
"Eh, aku....aku ingin mengajak kamu untuk makan malam bersama. Bolehkah?" tanya Reo dengan sedikit rasa gugup di hatinya.
"Boleh." jawab Edewina cepat dengan wajah yang sedikit merona.
Wajah Reo langsung berseri. Ia meletakan kotak itu di atas tempat tidur. "Aku membelikan gaun untukmu. Aku nggak tahu apakah kamu suka atau tidak."
Edewina membuka kotak itu. Matanya langsung berbinar melihat sebuah gaun berwarna oranye muda. "Gaun ini sangat cantik. Aku akan memakainya. Terima kasih ya?"
Reo mengangguk senang. "Sampai jumpa nanti malam. Pukul 8 aku akan menjemputmu." pamitnya lalu segera meninggalkan kamar Edewina. Perempuan itu merasakan jantungnya berdebar sangat kencang.
*********
Mahira dan Edmond sudah kembali ke Indonesia karena opa Edriges kembali tak sehat. Edewina sebenarnya sedih jika orang tuanya pergi namun ia juga tahu kalau di rumah ini ada mami Riani yang sangat mencintainya.
Malam ini, pukul setengah delapan Reo sudah menunggu di ruang keluarga. Kamar Edewina ada di ujung lorong dan pria itu sesekali mengarahkan pandangannya ke sana.
"Sabar, nak. Kamu kan bilang kalau jam 8 akan pergi." Riani tak dapat menahan senyum nya melihat bagaimana tegangnya Reo.
"Kami tak pernah kencan dan langsung menikah. Aku merasa seperti ABG saja yang sedang jatuh cinta."
"Anggaplah kalian pacaran lagi setelah menikah."
"Apakah Edewina akan mengingat aku lagi, mom?"
"Kalau pun tak ingat, pastikan saja Edewina jatuh cinta padamu. Pastikan saja kalau dia merasa nyaman denganmu. Dan berbahagialah tanpa ada masa lalu yang suram itu."
Reo mengangguk. "Anggaplah aku berjuang dari nol lagi untuk merebut hatinya Edewina. Walaupun sebenarnya aku merasa kalau dia mulai suka padaku. Beberapa malam lalu, Edewina bahkan mencium pipiku."
Riani kaget mendengarnya. "Oh ya? Itu sungguh sebuah kemajuan yang besar."
"Apakah dia tertarik karena ketampananku?" tanya Reo sambil memegang dagunya dengan gaya sombong.
Riani tertawa. "Kau memang tampan anakku, sama seperti daddy."
"Siapa yang bilang aku tampan?" tanya Jack yang muncul dari pintu samping bersama Leon.
"Opa memang paling tampan dari semua pria yang ada di dunia ini." puji Leon yang ada dalam gendongan Jack.
"Tapi menurut opa, Leon adalah anak cowok tertampan dari semua anak cowok yang pernah opa lihat di dunia."
Leon pun menepuk dadanya dengan bangga. Ia menatap Reo.
"Papi mau kemana?"
"Mau makan malam dengan mami." jawab Reo.
"Wah ..wah.....pasti mau ciuman lagi kan?"
__ADS_1
Mereka pun tertawa mendengar celotehan Leon.
Tak lama kemudian Edewina keluar dari kamarnya. Semua langsung terpesona melihat Edewina yang nampak sangat anggun dengan gaun yang dikenakannya.
"Mami, cantik sekali." Leon menatap kagum pada maminya.
"Terima kasih, sayang." Edewina jadi tersipu malu.
"Kita pergi sekarang?" tanya Reo.
Edewina mengangguk.
Reo mengukirkan tangannya. Edewina menerimanya dengan malu-malu. Reo mengedipkan sebelah matanya kepada anaknya, lalu sambil menggandeng tangan Edewina, mereka keluar dari rumah.
"Opa, apakah mami sudah mengingat aku dan papi?" tanya Leon.
"Belum sayang. Namun mami pasti akan mengingatnya. Sekarang kita mandi dulu, setelah itu Oma akan siapkan susu hangat untuk kita berdua. Bagaimana?" tanya Jack.
"Boleh. Tapi opa yang mandikan ya?" ujar Leon. Jack mengangguk.
"Oma, siapkan saja susunya." kata Leon sebelum mereka menaiki tangga.
"Baik sayang." Riani tersenyum melihat suami dan cucunya yang selalu nampak akur. Jack sangat terhibur dengan kelahiran Leon.
Sementara itu, Edewina dan Reo sudah sampai di restoran. Sebuah restoran bergaya Perancis dengan permainan piano yang romantis.
"Bagaimana makananya?" tanya Reo.
"Enak." Jawab Edewina. "Aku suka. sangat cocok di lidahku. Sebenarnya waktu kecil dulu, opa Edriges selalu mengajakku makan di restoran Perancis."
"Hei....!" Edewina dengan spontan menahan tangan Reo. "Aku memang tak bisa mengingat mu, namun aku merasakan sesuatu di sini setiap kali aku melihatmu." kata Edewina sambil memegang dadanya.
"Maksudnya."
"Aku nggak tahu apa itu, Reo. Namun hatiku selalu berdetak cepat setiap kali melihatmu."
Reo menjadi bahagia mendengar pengakuan Edewina. Tentu saja ini sangat berbeda dengan Edewina yang dulu. Yang selalu menutup rapat perasaannya.
Reo berpindah tempat duduk di samping Edewina. Ia meraih tangan Edewina dan menggenggamnya erat.
"Aku senang karena kamu mau terbuka dengan apa yang kamu rasakan untukku. Aku pikir kalau kamu sedang jatuh cinta lagi kepadaku."
"Benarkah?" Wajah Edewina jadi semakin merah.
Reo mengecup tangan Edewina dengan penuh sayang. "Aku mencintaimu, melebihi dari apapun juga, sayang. Aku mencintaimu sejak usiamu masih sangat kecil. Aku setia menunggu sampai kamu menjadi dewasa agar kita bisa bersama."
"Kamu mencintai aku sejak aku kecil?"
"Ya, sayang. Dan aku tak pernah mencintai gadis lain selain kamu."
"Sebesar itu cintamu untukku?"
Reo mengangguk.
__ADS_1
"Terima kasih." Edewina tanpa di duga langsung memeluk Reo yang duduk di sampingnya. Reo pun menjadi sangat senang. Ia membalas pelukan Edewina dengan hati yang berbunga-bunga.
"Ayo kita dansa." ajak Edewina membuat Reo semakin terkejut. Ia sungguh tak menyangka kalau Edewina akan mengajaknya berdansa. Tentu saja Reo menyambut ajakan Edewina itu. Keduanya pun ikut bergabung dengan pasangan yang lain.
Dansa yang mereka lalui sangat indah. Mereka bahkan mengahirinya sambil berciuman.
Saat pulang, Reo mengajak Edewina untuk mampir di kantornya sebentar karena ia melupakan sesuatu yang di sana.
Mata Edewina langsung tertuju pada lemari Reo yang berisi replika mobil-mobil. Matanya langsung tertuju pada sebuah mobil berwarna merah.
"Ada apa, Win?" tanya Reo.
"Mobil merah ini, seperti sangat familiar denganku."
Reo tersenyum. "Aku memberikan mobil Ferrari klasik ini saat kamu berulang tahun, Win."
"Mobilnya ada di mana?"
"Mobil itu meledak bersama beberapa koleksi mobilku yang lain saat rumah kami yang di London, diledekan oleh Cecilia. Sangat disayangkan memang. Namun jika kamu menginginkannya, aku akan mencari lagi mobil yang sama untukmu."
"Mobil ini pasti sangat mahal kan?"
"Nggak ada yang mahal bagi orang yang kita cintai."
Edewina kembali tersipu. Keduanya segera pulang ke rumah.
Reo mengantarkan Edewina sampai di depan kamarnya.
"Terima kasih untuk makan malamnya yang sangat enak." ujar Edewina sambil bersandar pada pintu kamarnya, sementara tangannya sudah memegang gagang pintu.
"Terima kasih juga karena sudah mau makan malam denganku." Reo berdiri sangat dekat dengan Edewina.
"Aku masuk ya?" ujar Edewina lalu mendorong gagang pintu ke bawa sehingga pintu kamar itu terbuka..
"Win.....!" Reo menahan tangan Edewina yang akan masuk ke dalam.
"Ada apa?"
"Boleh aku menciummu lagi?"
Edewina tersenyum. Ia mengangguk dengan malu-malu.
Reo menunduk dan langsung mencium bibir Edewina. Tanpa menunggu lama, Edewina membalas ciuman itu.
Ciuman yang awalnya lembut kini mulai menjadi panas.
"Reo....!" Edewina mengahiri ciuman diantara mereka lalu menatap Reo dengan napas yang terengah-engah.
"Sayang, aku menginginkanmu." kata Reo dengan suara yang parau. Ia mencium Edewina kembali lalu mendorong perempuan itu untuk makan ke kamar.
************
Eh...eh....main nyosor aja babang Reo.
__ADS_1
Berhasil nggak ya....
Mana komentarnya ?