
Ini sudah jam 3.30 sore. Seharusnya Edewina sudah sampai sekitar 20 menit yang lalu. Karena perjalanan dari kampus ke hotel paman Clark ini hanya 30-40 menit jaraknya. Itu pun kalau macet. Namun jika Edewina ikut jalur khusus yang bebas hambatan maka gadis itu akan sampai 30 menit saja.
Reo menatap gaun berwarna merah maroon yang sudah ia siapkan untuk Edewina. Gaun yang dipesan khusus dari rumah mode The Aslon. Kebetulan, ukuran Edewina sudah ada di sana saat mereka membuat gaun pengantin. Makanya, Reo tinggal menelepon saja dan memesannya.
Ia ada di kamar 4007. Ini kamar yang berbeda dengan kamar kejadian di malam Reo menjebak Edewina. Ia tak mau Edewina mengingat kenangan buruk saat ada di kamar itu.
Pintu kamar Reo diketuk. Ia membukanya. Ternyata Indira yang datang.
"Wina sudah ada?" tanya Indira sambil melangkah masuk.
"Belum. Aku sudah menelepon ponselnya namun nggak diangkat. Memang sejak kecelakaan itu, Edewina nggak mau lagi menerima panggilan telepon ketika sedang mengendarai mobil. Mungkin dia sudah dekat."
"Para wartawan dan reporter TV semuanya sudah ada. Bintang iklannya juga sudah ada. Apakah kamu akan turun sekarang?" tanya Indira. "Ini sudah setengah empat."
"Aku akan menunggu Edewina sebentar. Nanti aku menyusul."
"Ok. Usahakan on time ya karena ini juga akan disiarkan langsung oleh Chanel YouTube milik perusahaan kita."
"Ok. Wina pasti dandannya tak lama."
Indira segera keluar kamar sedangkan Reo agak gelisah. Ia menyesal karena atas permintaan Edewina, bodyguard yang selama ini mengikuti Edewina sudah Reo berhentikan. Seandainya bodyguard itu masih ada, tentu saja dengan muda akan tahu apa yang terjadi.
Reo mencoba mengecek GPS yang ada di mobil Edewina. Ia terkejut mengetahui kalau mobil Edewina masih ada di kampusnya.
Kenapa ia masih ada di kampus? Apakah ada kuliah tambahan? Bukankah ia tadi mengatakan kalau kuliahnya sudah selesai?
Reo kembali menghubungi nomor Edewina namun panggilannya tak dijawab. Namun GPS ponsel Edewina menunjukan bahwa gadis itu sudah tak ada di kampus.
"Apakah mungkin mobil Edewina bermasalah lagi?" tanya Reo pada dirinya sendiri. Ia langsung menghubungi Mark yang ada di lantai satu hotel ini.
"Tak mungkin kalau mesinnya bermasalah. Karena semuanya sudah saya periksa sebelum diambil dari bengkel." kata Mark.
"Lalu mengapa mobilnya ada di kampus namun GPS ponselnya nggak ada di sana?"
"Tuan tolong kirimkan lokasi GPS nyonya."
"Baik." Reo langsung mengirimnya.
Tak lama kemudian Mark kembali kembali menghubunginya. "Tuan, GPS ponsel Nyonya menunjukan bahwa nyonya berada di apartemen tuan Ken."
"Apa?"
"Begitulah yang saya tahu, tuan.
Lokasinya tak jauh dari kampus. Hanya sekitar 10 menit saja jika naik kendaraan."
"Terima kasih." Reo melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur. Dadanya terasa sesak. Ia sungguh dibakar oleh rasa cemburu yang dalam. Namun Reo berusaha menguasai pikirannya. Ia tahu, kemarahan dan kecemburuan yang tak terkendali bisa membuatnya bertingkah tak terkontrol.
Apakah mungkin ini alasannya sampai ia tak mau ada bodyguard lagi yang mengawasinya? Supaya ia bebas ketemu dengan Ken?
Tidak...! Aku tak boleh berpikir demikian. Mungkin ada sesuatu yang terjadi sampai Edewina ke sana. Namun, kenapa dia tak menelepon aku? Setidaknya ia mengatakan alasannya.
Ponsel Reo berbunyi. Ternyata itu Indira.
"Re, ini sudah jam 4 tepat. Kamu belum turun?"
"Iya. Aku akan ke sana." Reo dengan terpaksa meninggalkan kamar itu. Walaupun hatinya sedang galau, namun ia harus profesional dalam mengurus pekerjaannya. Ia tak mau mengecewakan para pelanggan setia produk mereka.
***********
__ADS_1
Tiana, mamanya Ken dengan cepat membawakan obat anaknya. Ken dibaringkan di sofa ruang tamu.
"Mama kan sudah bilang, jangan dulu ke kampus. Namun kamu sudah memaksakan diri untuk kuliah."
Edewina membantu Ken meminum obatnya.
"Ken, kayaknya satu jenis obat sudah habis." ujar Tiana saat melihat obat yang biasa diminum anaknya kurang satu.
"Mama ke rumah sakit saja. Minta resepnya dari dokter." kata Ken sambil memejamkan matanya, menahan sakit di perutnya.
"Masa sih mama meninggalkan kamu sendirian di sini. Bolak balik dari sini ke rumah sakit pasti memakan waktu selama 1 jam." Tiana nampak ragu.
"Bibi pergi saja. Biar aku yang menjaga Ken."
"Baiklah. Mama pakai mobilmu saja, Ken. Supaya lebih cepat." Tiana langsung mengambil tas dan kunci mobil lalu segera pergi.
Ken menatap Edewina. "Maaf merepotkan mu, Wina. Bukankah kau ada acara bersama suamimu?"
Edewina terkejut. "Astaga, aku lupa. Sebentar aku telepon Kak Sen." Edewina mencari tas nya. Namun tas nya ternyata tertinggal di dalam mobil Ken.
"Tas ku ada di mobilmu, Ken."
"Pakai saja ponselku untuk menelepon suamimu."
Edewina mengambil ponsel Ken yang ada di atas meja. Namun ia meletakan nya kembali.
"Aku, nggak hafal nomor Kak Sen." Edewina merasa sungguh bodoh. Selama ini, ia jarang sekali menghubungi suaminya. Ia juga tak pernah berusaha menghafal nomornya. Reo lah yang selalu menelepon dia.
"Kamu nggak hafal nomor suamimu?"
"Eh, kak Sen baru saja ganti nomor. Ada sesuatu sampai ia mengganti nomornya." Edewina berbohong. Ia tak mau Ken curiga kalau sampai Edewina tak hafal nomor suaminya sendiri.
"Win, apakah Reo baik padamu?"
"Kamu bahagia menikah dengannya?"
Edewina yang duduk di depan Ken mengangguk walaupun terlihat ragu.
"Apakah kamu sudah mencintainya?"
"Ken, kita jangan bahas masalah ini. Sekarang fokus dulu pada kesehatanmu."
"Maafkan aku, Win. Aku sungguh tak rela jika kau tak bahagia."
"Aku baik-baik, saja. Sekarang kau istirahat saja. Aku akan menunggu di sini sampai mamamu datang." Edewina berdiri. Ia kemudian mengambil selimut yang ada di dekat kaki Ken, lalu menyelimuti tubuh Ken.
"Terima kasih." kata Ken dengan senyum bahagia.
"Kita bersaudara, Ken. Saling membantu itu adalah hal yang wajar." Kata Edewina lalu duduk kembali di tempat semula. Jujur saja, hati Edewina masih bergetar setiap kali berdekatan dengan Ken. Namun ia berusaha bersikap biasa agar ia dan Ken sama-sama dapat melupakan kenangan manis diantara mereka dan menjalani hubungan sebagai saudara sepupu.
***********
Indira tahu kalau Reo nampak kesal. Namun pria itu berusaha menunjukan sikap manisnya dengan tersenyum dan mengajak para undangan untuk menikmati hidangan yang disiapkan.
Sesekali Reo memeriksa ponselnya lalu kembali berbaur dengan para tamu.
Sekarang sudah jam setengah tujuh sore. Acara hampir selesai namun tak ada kabar dari Edewina. Mobilnya masih ada di pelataran parkir kampus dan 1 jam yang lalu, GPS ponselnya sudah ada di tempat yang lain.
Sementara itu, di apartemen Ken, Edewina nampak gelisah. Mama Ken sudah satu jam lebih perginya. Tadi mamanya mengatakan bahwa dokter yang seharusnya mengeluarkan resep untuk Ken sementara melaksanakan tindakan operasi. Jadi mamanya harus menunggu.
__ADS_1
Ken nampak sudah terlelap di sofa. Sesekali Edewina menghapus keringat di dahi pria itu.
Sampai akhirnya mama Ken datang. "Maafkan bibi ya, Wina. Dokternya baru datang." ujar Mama Ken dengan wajah menyesal.
"Nggak masalah, bi. Sekarang aku pergi dulu, ya? Ini sudah hampir jam 7 malam."
"Ini tas mu yang ketinggalan di mobil. Dari tadi ponselmu berbunyi terus."
Edewina menerima tasnya dan langsung pergi. Ia dengan cepat menuju ke lift sambil membuka ponselnya. Ada 134 kali panggilan dari Reo dan 25 pesan.
Perasaan Edewina jadi tak enak. Ia segera menghubungi Reo. Namun pria itu tak menjawab panggilannya. Edewina pun memanggil taxi untuk kembali ke kampus dan mengambil mobilnya.
Sesampai di dalam mobilnya, Edewina kembali menghubungi Reo. Kembali lagi panggilannya tak terjawab.
Kak Sen, maafkan aku. Ada sesuatu sampai aku tak bisa datang. Nanti aku ceritakan jika kita sudah bertemu. Sampai jumpa di apartemen.
Setelah mengirim pesannya, Edewina segera pulang ke apartemen.
Saat ia tiba di sana, ternyata Reo belum ada. Wina pun mandi dan segera ganti pakaian. Ia merasa sangat lapar karena sejak pagi, ia hanya makan nasi goreng dan Reo siapkan. Makanya ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Tepat di saat itu, pintu apartemen terbuka.
Reo menatapnya dengan tatapan tak bersahabat. Edewina menghentikan langkahnya. "Maafkan aku, kak."
"Setidaknya kamu memberitahu aku kalau kamu tak ingin datang. Agar aku tak terlalu berharap. Lagi pula apa yang kamu lakukan di apartemennya Ken?"
"Kok bisa tahu aku ada di sana? Kakak masih menyuruh bodyguard untuk mengikuti aku ya?" Edewina menjadi kesal.
"Tidak. Aku hanya melacak GPS ponselmu."
"Bagaimana bisa tahu kalau itu apartemen Ken?"
"Mark yang memberitahuku. Jangan tanya bagaimana Mark bisa tahu." Reo berusaha menahan emosi di dadanya.
"Aku akan pergi selesai kuliah seperti yang aku katakan tadi. Namun di tempat parkir aku ketemu Ken." Lalu Edewina menceritakan semuanya, sampai tas nya yang tertinggal di mobil Ken.
"Lain kali, jika kamu berhalangan, telepon aku, Wina. Setidaknya kamu memberi kabar. Aku bukannya melarang mu untuk menolong orang, namun kamu juga harus tahu kalau kehadiranmu sangat berarti di acara tadi. Semua rekan kerjaku, dan tamu undangan menanyakan di mana istriku. Aku tak tahu harus jawab apa." Reo menumpahkan kekesalannya. Jujur saja, ia sebenarnya sangat cemburu saat tahu Edewina ada di bersama Ken walaupun tujuannya untuk menolong pria itu.
"Aku tak sengaja."
"Sudahlah! Aku memang belum bisa mengharapakan apapun darimu." Reo melemparkan kunci mobilnya ke atas meja lalu ia segera menaiki tangga, meninggalkan Edewina yang nampak terpaku di tempatnya.
"Aku nggak sengaja, Kak Sen! Tadi aku hanya panik melihat keadaan Ken." ujar Edewina sedikit berteriak.
Reo menghentikan langkahnya. Namun ia melanjutkannya lagi tanpa menoleh ke arah Edewina. Jujur, ia sedikit kecewa dengan apa yang terjadi.
Edewina menghentakkan kakinya kesal. Bel apartemen berbunyi. Edewina membukanya. Ternyata Mark.
"Maaf menganggu, nyonya. ini gaun dan sepatu nyonya yang diapakan tuan di hotel. Tadi tuan meninggalkannya di kamar hotel."
"Terima kasih."
"Saya permisi."
Edewina hanya mengangguk. Ia kembali menutup pintu. Pandangannya kini beralih ke gaun warna merah maroon yang nampak sangat cantik itu.
Ternyata kak Sen sudah menyiapkan ini bagi ku. Pantas saja ia sangat kecewa. Ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
********
Selamat siang.....
__ADS_1
have a bless weekend guys
jangan lupa dukung emak terus ya guys