MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Kaget


__ADS_3

Tingkat kedewasaan seseorang itu berbeda-beda. Ada yang masih muda tapi sudah bisa berpikir dewasa. Ada yang sudah dewasa tapi pikirannya kadang masih kayak remaja labil.


Aku senang dengan komentar salah satu pembaca yang memandang kasus ini dari kelabilan Edewina. Karena aku memang sudah berulang kali menggambarkan sifat Edewina yang selalu dimanja dan mendapatkan perhatian lebih. Makanya saat Reo bersikap cuek padanya, Edewina tak terima dan cepat emosi, langsung minta cerai.


Aku juga senang saat ada komentar yang memandang Reo berada dititik kejenuhannya. 10 tahun menunggu memang nggak masalah bagi Reo. Namun saat Edewina sudah jadi miliknya, kenapa Reo jadi cepat down saat Edewina tak merespon perasaannya? Bedalah rasanya belum jadi milik dan sudah memiliki. Wajar kalau Reo ingin Edewina segera merespon semua kebaikannya. Ingat, Reo posesif kayak bapaknya.


Semoga pembacanya nggak skip baca narasi dan percakapnnya agar bisa mengerti karakter para tokoh serta bisa menebak, ada apa sampai Reo akhirnya jadi menghindari Edewina.


Akan ada saatnya, mereka berdua akan menyadari bahwa mereka saling cinta. Tapi belum sekarang, kalau sekarang, episode 50 novel ini pasti tamat.


**********


Sudah jam 11 siang dan Edewina belum juga muncul. Tak ada pengacara yang mewakilinya dan ponsel Edewina tak bisa dihubungi. Clara dan Sinta juga tak tahu dimana sahabat mereka itu berada.


"Karena pihak penggugat tak datang maka sidang akan ditunda minggu depan." ujar hakim.


Reo menjadi resah. Apakah Edewina membatalkan gugatannya? Lalu di mana ia sekarang?


"Tuan, apakah kita akan kembali ke kantor?" tanya Mark.


"Kita ke kampus dulu, Mark. Aku harus cari tahu kenapa Wina tak datang. Aku takut ada sesuatu dengan dia. Apalagi sekarang dia kan nggak punya mobil. Bisa saja dia naik kendaraan umum terus mengalami kecelakaan."


Mark menahan senyum mendengarkan kekhawatiran Reo. Cinta sejati tak mungkin hilang begitu saja.


"Baik, tuan." Mark pun membukakan pintu mobil bagi Reo lalu meninggalkan gedung pengadilan.


Sementara itu di ruangan sebuah rumah sakit, Edewina masih nampak lemah dan pucat. Ia perlahan membuka matanya. "Justin? Kamu masih di sini?" tanya Edewina kaget.


"Memangnya aku harus kemana lagi? Meninggalkan kamu sendirian?"


"Aku tadi tertidur lagi ya?"


"Iya. Tadi jam 8, dokter datang mengontrol keadaanmu lagi dan setelah itu kamu tidur lagi."


Edewina bangun secara perlahan walaupun kepalanya masih terasa pusing. "Ini jam berapa?"


Justin menatap jam tangannya. "Hampir jam setengah dua siang."


"Astaga, aku harus ke pengadilan." Edewina ingin segera turun dari tempat tidur namun Justin menahannya.


"Eh, mau apa ke pengadilan? Kamu masih sakit, cantik. Ingat kata dokter, kamu harus banyak istirahat."


"Tapi....."


"Ada urusan apa di pengadilan? Kamu kena tilang? Biar nanti pengacaraku yang mengurusnya."


"Bukan."


"Lalu?"


Edewina menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia menatap Justin dengan sedikit malu. "Aku.....aku, mau bercerai."


"What? Memangnya kamu sudah menikah? Tapi, usia kamu kan baru saja genap 20 tahun."


Edewina merasakan wajahnya panas. "Ada sesuatu sampai harus menikah muda."


"Oh...." Justin mengangguk walaupun sebenarnya ia begitu penasaran untuk bertanya.


"sejak semalam kamu sudah menjaga ku. Aku pasti sudah merepotkan mu."


"Tidak juga. Aku senang menjagamu."

__ADS_1


"Tapi kan pekerjaanmu?"


"Aku bisa mengontrol pekerjaan dari ponselku. Sekarang kan zamannya sudah canggih."


"Kenapa sih kamu mau menjaga aku. Aku kan sudah menghubungi teman-temanku. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang."


"Kamu terlalu cantik untuk aku biarkan sendiri."


Edewina tertawa. "Kamu gombal."


Gantian Justin yang tertawa. "Aku mungkin menggombal. Namun apa yang kukatakan benar. Aku tak pernah bisa membiarkan seorang gadis cantik sendirian. Apalagi dia sedang dalam masalah."


Edewina secara spontan mengusap perutnya. "Aku akan baik-baik saja."


"Setiap orang tidak akan baik-baik saja jika dalam persoalan dan dia hanya sendiri. Apalagi kamu akan bercerai. Memangnya kamu tidak mencintai dia?"


"Aku tak tahu."


"Kenapa tak tahu?"


"Aku menikah dengannya karena terpaksa. Namun jangan paksa aku untuk menceritakannya." Edewina menghapus air matanya yang terlanjur jatuh.


"Kamu jelek kalau menangis."


Perkataan Justin justru membuat Edewina mengingat apa yang pernah dikatakan Reo padanya. Tangis Edewina justru semakin dalam.


"Hei, kenapa tangisannya menjadi lebih keras? Nanti jadi lebih jelek lagi."


"Justin....!" rengek Edewina.


"Perkataan ku sama seperti yang pernah dia katakan ya?"


Edewina mengangguk.


"Justin....!"


"Ayo kesini!" Justin membawa Edewina ke dalam pelukannya. Edewina tak menolak pelukan itu. Ia jadi ingat pada opa dan papinya.


"Menangis lah jika memang kau ingin menangis. Itu artinya kau mulai menyukai dia."


Tepat di saat itu pintu kamar terbuka. Ada Clara, Sinta, Reo dan Mark.


Tangan Reo langsung terkepal. Ia cemburu melihat ada pria lain yang memeluk Edewina.


Clara pura-pura batuk membuat pelukan Wina dan Justin terlepas.


"Selamat siang." sapa Clara berusaha menetralkan suasana yang tiba-tiba saja terasa membeku.


"Hallo semua. Teman-teman Wina ya?" tebak Justin ramah lalu berdiri dari posisi duduknya yang ada di tepi ranjang tempat Edewina duduk sambil berselojor kaki.


"Iya. Aku Clara dan ini Sinta. Kami teman kampus Edewina. Dan ini...."


"Christensen Haireo Almond. Ayahku dan ayahnya Reo sama-sama peselancar." ujar Justin. Reo berusaha tersenyum. Ia mengenal Justin sebagai pengusaha muda dan terkenal playboy. Bagaimana ia bisa mengenal Edewina?


"Karena kalian sudah datang, jadi aku sudah bisa pulang." Justin menatap Edewina. "Cantik, aku pulang dulu ya? Jaga kesehatan dan ingat pesan dokter. Nggak boleh stres karena...."


Edewina melotot ke arah Justin dan menghentikan kata-kata pria itu. "Aku baik-baik saja, Justin."


"Baiklah. Karena pasiennya sudah mengatakan kalau ia baik-baik saja, aku pikir kalian sudah bisa membawanya pulang." kekeh Justin lalu segera pamit dan meninggalkan mereka.


"Siapa dia?" tanya Sinta penasaran.

__ADS_1


"Bos ku. Dia pemilik saham terbesar di mall yang sementara kami kerjakan sekaligus juga salah satu arsiteknya."


"Wah....wah...kamu selalu mendapatkan perhatian dari lelaki tampan yang tajir." ujar Clara sengaja dikeraskan suaranya karena ia kesal atas apa yang terjadi diantara Wina dan Reo.


"Boleh tinggalkan aku berdua dengan Wina?" pinta Reo setengah memerintah. Suaranya terdengar dingin dan agak menahan emosi.


Clara dan Sinta saling berpandangan. Seandainya Reo tak memaksa mereka di kampus untuk memberitahukan di mana Edewina berada, sebenarnya dua gadis ini pun tak mau. Namun Reo orangnya pandai mengintimidasi orang lain sehingga Clara dan Sinta tak sanggup melawan tatapan mata pria itu yang tajam. Seperti juga saat ini. Keduanya harus keluar ruangan diikuti oleh asisten Reo yang tampan bernama Mark itu.


Keduanya saling diam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Reo menarik kursi lalu didekatkan pada ranjang Edewina dan ia duduk di sana.


"Kamu sakit apa?" tanya Reo. Kali ini suaranya menjadi lembut dan menunjukan kekhawatirannya.


"Aku baik-baik saja."


"Baik-baik saja lalu kenapa harus masuk di sini?"


"Ingin saja. Bosan di apartemen terus. Ternyata sesekali tidur di rumah sakit enak juga."


"Edewina!" Reo menunjukan bahwa ia tak mau main-main. Ia peduli dengan Wina. Jantungnya saja hampir copot saat Clara mengatakan kalau Edewina ada di rumah sakit.


"Aku hanya kelelahan. Terlalu capek belajar. Ingin cepat selesai supaya bisa kembali ke Indonesia dan meninggalkan Inggris yang punya kenangan buruk bagiku." kata Edewina ketus sambil membuang tatapannya ke samping. Ia tak mau menatap mata Reo.


"Lalu mengapa lelaki itu yang menjaga mu?"


"Justin? Ya karena dia yang membawa aku ke rumah sakit saat aku pingsan."


"Kamu pingsan? Berarti kamu tidak baik-baik saja, Wina."


"Memangnya apa pedulimu? Kita akan bercerai. Bukankah saat terakhir aku ke kantormu, kamu menunjukan sikapmu yang dingin padaku? Mau kamu apa sih, Reo?"


"Aku....."


"Aku tak ingin kita akan saling menyakiti. Jadi memang jalan terbaiknya berpisah. Aku...."


Kalimat Edewina terhenti saat pintu ruangannya dibuka. "Wina sayang......." tanya Riani yang langsung nyelonong masuk dan memeluk menantunya itu.


"Mommy?"


Riani melepaskan menantunya itu. "Kata dokter kamu pingsan saat dibawa ke sini. Kamu pusing, mual dan sempat muntah." Riani tersenyum. "Kamu hamil ya, nak?"


Reo yang masih duduk langsung berdiri. "Ha....hamil?"


Jack tersenyum bahagia. "Akhirnya putraku berguna juga."


Edewina terdiam. "Aku......"


Reo langsung memeluk Edewina. "Sayang, kamu hamil? Sungguh?"


Edewina melepaskan pelukan Reo. "Aku nggak mau dekat dengan kamu, Reo. Lepaskan !"


"Wina.....?" Riani heran.


"Apakah Reo tak mengatakan pada mommy kalau kami akan bercerai?"


"Bercerai?" Riani langsung pingsan.


**********


Nah....nah....


gimana selanjutnya?

__ADS_1


Ayo komen apa pendapatmu


__ADS_2