
Hubungan Edewina dan Reo bertambah mesra saja setiap hari.
Sepulang dari Manchester, walaupun Edewina sibuk kuliah sambil kerja, begitu juga Reo yang sibuk bekerja namun mereka selalu saling memberi kabar setiap satu jam sekali. Walaupun hanya melalui pesan, namun ada kata-kata manis yang selalu mereka bagikan bersama.
"Justin, aku rencananya mau pulang ke Indonesia sebelum waktu liburan natal tiba. Apa boleh?" tanya Edewina saat mereka baru selesai melihat perkembangan pembangunan mall.
"Boleh. Namun sebelumnya kamu harus menyelesaikan masalah tangga yang aku usulkan untukmu."
"Sudah selesai. Besok akan ku bawah."
"Wah, bagus sekali. Pada hal baru 2 hari yang lalu aku memintamu untuk mengubahnya."
"Aku tak mau menunda pekerjaan."
Justin mengangguk. Inilah yang ia kagumi dari Edewina. Di samping memiliki kecerdasan di atas rata-rata, perempuan ini juga sangat tekun dalam menyelesaikan pekerjaannya.
"Tak masalah kalau begitu. Selamat berlibur ya? Apakah suamimu juga akan ikut?"
"Iya. Bersama dengan mertuaku."
Justin hanya tersenyum. Keduanya kemudian berpisah saat Edewina harus kembali ke ruang kerjanya dan Justin kembali ke perusahaannya.
Begitu Edewina duduk kembali di depan meja kerjanya, ponsel Edewina berbunyi. Ia tersenyum saat tahu kalau ada pesan dari Reo.
Selamat siang, sayang. Kok aku sudah sangat merindukan kamu ya? Jangan lupa makan ya? Aku baru akan mulai rapat. Sampai nanti sore di rumah. Love you so much.
Edewina tersenyum membaca pesan yang dikirimkan Reo padanya. Ia pun membalasnya.
Selamat bekerja sayang. I love you too. 😍😍
Setelah membalas pesan Reo, Edewina pun menyelesaikan beberapa catatan yang merupakan hasil pantauannya hari ini. Ia meneruskannya ke catatan grup lalu segera membereskan barang-barangnya. Ia ingin memasak hari ini.
Saat Edewina sampai di tempat parkir, butiran salju mulai turun lagi. Sudah 2 hari ini salju mulai turun di kota ini.
Edewina pun merapatkan jaketnya saat ia setengah berlari menuju ke arah mobilnya.
Setelah itu Edewina pun menjalankan mobilnya menuju ke salah satu supermarket yang khusus menjual bahan-bahan dapur.
Edewina belanja sayur, ikan, beberapa bumbu dan juga minyak kelapa dan susu.
Setelah itu ia pulang dengan senyum bahagia di wajahnya karena akan menyiapkan makan malam untuk mereka.
Sesampai di rumah, Edewina menurunkan sendiri 3 tas belanjaan nya lalu ia membuka sepatunya, dan mengenakan celemek nya.
__ADS_1
Dari mommy Riani, perempuan itu sudah banyak bertanya tentang makanan kesukaan Reo dan untungnya sebagian besar adalah masakan khas Indonesia.
Sementara mencuci sayur, Edewina merasakan kalau ada seseorang yang sedang mengintipnya dari balik jendela kaca yang berada di sampingnya. Namun saat Edewina menoleh, ia tak menemukan kalau ada orang lain di sana.
Perempuan itu meneruskan pekerjaan nya. Setengah jam kemudian, Edewina merasakan kalau seperti ada orang di ruang tamu.
"Kak Sen?" panggil Edewina karena mengira kalau Reo sudah pulang. Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Ia pun melangkah ke ruang tamu. Namun tak melihat ada siapapun di sana.
"Kok gue jadi parno gini ya?" guman Edewina pada dirinya sendiri. Ia pun menyetel musik dari tape recorder yang ada untuk menghilangkan perasaan tak nyamannya. Dan itu berhasil. Edewina tak merasakan gangguan apapun sampai ia selesai memasak.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah 8 malam saat semua masakan Edewina susah di atur rapi di atas meja, lengkap dengan lilin yang ada. Namun Reo belum juga kembali. Edewina pun segera menelepon suaminya itu.
"Sayang, maaf ya? Ada tamu yang tiba-tiba datang dari Scotlandia. Aku tak bisa meninggalkan mereka. Kami baru saja selesai percakapan. Sekarang aku sedang dalam persiapan untuk pulang." ujar Reo.
"Ok deh, kak. Aku tunggu untuk makan malam bersama ya?"
Edewina menatap jam dinding. Butuh waktu 30 menit dari kantor Reo ke rumah mereka ini. Perempuan itu pun memutuskan untuk mandi saja karena ia merasa semua bumbu makanan itu menempel di tubuhnya.
Sementara mandi, Edewina merasakan kalau ada suara ribut seperti meja yang di dorong. Ia mematikan shower dan mengintip dari balik pintu kaca kamar mandi yang dibukanya sedikit. Kamar itu terlihat tenang saja. Ia pun melanjutkan kembali mandinya dengan cepat.
Saat ia keluar dari kamar mandi, matanya dengan cepat menatap jendela kamarnya yang terbuka.
"Siapa yang membukanya?" tanya Edewina pada dirinya sendiri. Tadi pagi sebelum berangkat ke kampus, Edewina sudah menutup semua jendela dan pintu. Tadi saat ia pulang pun rasanya ia tak membuka jendela itu. "Apakah tadi pagi aku lupa menutupnya?" tanya Edewina pada dirinya sendiri. Perempuan itu pun bergegas menutupnya. Ia tak takut jika ada orang yang masuk melalui jendela karena semua jendela rumah ini dilindungi dengan terali besi yang diukir dengan model yang sangat indah.
"Apa ini?" tanya Edewina. Ia mengisap darah itu lalu kembali menarik daun jendela dan segera menutupnya.
Setelah itu Edewina bergegas ganti pakaian dan memberikan. plester obat untuk menutupi lukanya.
Edewina segera keluar kamar dan menuju ruang kerja Reo. Ia ingin memeriksa CCTV karena merasa ada yang tak beres dengan rumahnya. Namun, saat Edewina memeriksanya, ia tak melihat ada yang aneh. Tak ada pergerakan orang di luar rumahnya.
"Apa aku harus ke psikiater saja ya? Kok jadi aneh begini sih?" Edewina mengusap dadanya perlahan lalu ia keluar dari ruangan kerja suaminya, tepat di saat Reo masuk. Edewina langsung menarik napas lega. Ia berlari ke arah suaminya dan langsung memeluk Reo.
"Hei, sayang....aku jadi nggak bisa bernapas." Ujar Reo karena merasakan kalau pelukan Edewina agak kencang.
Edewina melepaskan pelukannya. Ia mencium pipi suaminya dengan sangat lembut. "Aku senang karena kamu sudah datang."
"Duh, ternyata bukan hanya aku yang sangat merindukan istriku. Istriku juga sangat merindukan aku ya?"
Edewina mengangguk. Ia mencium bibir Reo. Tentu saja Reo menyambutnya dengan sangat antusias. Keduanya larut dalam ciuman yang panjang.
"Aku lapar." ujar Edewina saat ciuman mereka terlepas.
"Namun habis makan kau harus bertanggungjawab karena sudah menggoda aku seperti ini." kata Reo dengan nada suara yang penuh penekanan.
__ADS_1
"Siap, pak." Ujar Edewina sambil tertawa membuat Reo ikutan tertawa. Sambil bergandengan tangan keduanya melangkah menuju ke ruang makan. Lagi-lagi Edewina tak menceritakan apa yang baru saja dialaminya.
**********
Keesokan paginya, Edewina bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan. Sementara menyiapkan sarapan, perempuan itu teringat dengan benda tajam yang membuat hati tengahnya terluka. Ia pun bergegas keluar rumah setelah mengenakan jaketnya dan menuju ke sisi kanan rumah, tempat jendela itu berada.
Edewina memeriksa semuanya dan tak menemukan ada sesuatu yang aneh sehingga bisa melukai tangannya. Ia pun bergegas masuk kembali ke rumahnya melalui pintu belakang. Namun alangkah terkejutnya Edewina saat melihat ada jejak kaki yang, campuran tanah dan salju yang ada di dapur. Dengan cepat Edewina berlari ke arah kamar dan memanggil suaminya.
"Kak Sen..., bangun kak!" teriak Edewina sambil membuka pintu.
Reo bangun dengan kaget. "Ada apa sayang?"
"Ada orang masuk !"
"Apa?" Reo yang masih mengantuk tiba-tiba saja segera bangun, mengenakan pakaiannya secara cepat dan segera mengambil pistolnya yang selalu ia letakan di laci nakas, samping tempat tidurnya. Ia segera keluar.
"Sayang, mana?"
"Tadi ada je...." Edewina terkejut melihat jejak kaki itu sudah tak ada.
"Ada apa?"
"Eh, kita periksa CCTV saja, yuk!" ajak Edewina.
Reo mengikuti langkah istrinya ke ruang kerjanya. CCTV di luar rumah merekam semua titik yang ada sehingga tak mungkin ada orang yang dapat lolos jika masuk ke halaman rumah. Di dalam rumah, hanya di ruang tamu saja ada CCTV karena mereka Reo dan Wina tak ingin privasi mereka terekam.
"Nggak ada siapa-siapa sayang. Hanya ada dirimu yang tadi keluar rumah. Apa sih yang kamu cari?" tanya Reo sambil memegang pipi istrinya.
"Aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Apakah sebaiknya aku ke psikiater saja ya?"
"Hei, ada apa?" Reo memeluk istrinya yang terlihat lingkung. Kemudian ia mencium puncak kepala istrinya. "Sayang, kamu sudah datang bulan?" tanya tanya Reo.
"Maksudnya apa?" tanya Edewina tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Katanya perubahan hormon karena kehamilan dapat membuat wanita menjadi aneh."
Edewina mengerutkan dahinya. Tangannya secara refleks mengusap perutnya.
*********
Apa benar kalau perubahan hormon dapat membuat wanita menjadi aneh? Ada yang pernah alami nggak?
CCTV tak menangkap apapun yang mencurigakan lho.
__ADS_1
Dukung emak terus ya guys