MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Tak Ingin Kau Pergi.


__ADS_3

Membaca komentar para pembaca, aku mengerti jika ada yang kesal karena baru saja bahagia, sudah nggak bahagia lagi. Inilah yang akan terjadi saat hubungan intim itu terjadi. Wina akan tahu kalau dia masih perawan. Dan wajarlah dong kalau Wina merasa ditipu oleh Reo. Kalau pembaca mengikuti alur ini secara benar, kan sudah jelas kalau Edewina tak mau menikah. Reo dan desakan orang tua Wina yang membuat pernikahan ini terjadi.


Bagi yang mau berhenti baca Krn merasa akurnya lambat, nggak masalah. Terima kasih sudah membaca sampai bab ini.


***********


Badan Reo yang tinggi besar menghalangi Edewina yang akan keluar kamar.


"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi, Wina!"


Edewina tahu kalau perkataan Reo mengandung perintah karena sekalipun diucapkan dengan pelan namun penuh penekanan.


Perempuan itu memberanikan diri menatap Reo. "Jangan halangi aku. Aku tak ingin semenit saja berada satu atap bersamamu."


"Aku tahu kamu marah, sayang. Aku tahu kalau kamu kecewa. Namun cobalah berpikir jernih. Jika aku tak melakukan semua itu, kau bisa saja sudah tidur dengan Ken. Bukankah hal itu akan menjadi penyesalan seumur hidup untukmu dan juga bagi orang tuamu?"


"Minggir!" Edewina tak memperdulikan perkataan Reo. Ia berusaha mendorong tubuh Reo namun tentu saja tak bisa. Reo sama sekali tak bergerak. Ia justru memegang kedua sisi pundak istrinya.


"Tenang, Win. Kamu sedang marah."


"Lepaskan! Aku tak mau kamu menyentuhku."


"Ok." Reo mengangkat kedua tangannya. "Yang penting kamu tenang dulu dan berjanji tak akan pergi."


"Kamu tak punya hak meminta apapun padaku!"


"Ok, Win." Reo berusaha untuk mengalah.


Edewina melemparkan koper yang ada di tangannya sebagai bentuk kekesalannya. Ia menuju ke balkon untuk sekedar menghirup udara segar. Tangisnya kembali pecah. Ia benar-benar merasa ingin terjun dari apartemen ini karena semua yang baru saja dialaminya.


Saat Edewina akan membuka hati bagi Reo bahkan menyerahkan dirinya pada pria itu, Edewina justru mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Reo menipunya untuk bisa menikahinya.


Reo sendiri hanya bisa berdiri tak jauh dari Edewina tanpa berani mengajak istrinya berkomunikasi.


Makanan yang sudah ada di atas meja terlihat sudah dingin.


Agak lama Edewina berdiri di depan pagar balkon lalu ia akhirnya menelepon Clara dan Sinta.


"Aku mau pergi!" ujar Edewina lalu meraih tas punggungnya.


"Kamu mau kemana, sayang? Kamu kan belum makan?"


"Aku tak lapar. Dan jangan pernah menyuruh bodyguard mu untuk mengikuti ku." ujar Wina lalu segera pergi. Reo hanya bisa menarik napas panjang.


**********


Clara dan Sinta saling berpandangan melihat sahabat mereka hanya menangis namun tak mau menceritakan apa yang terjadi.


"Lu kenapa sih?" tanya Clara.


"Apakah Reo melakukan sesuatu sama lu? Dia KDRT, mungkin?" gantian Sinta yang bertanya.

__ADS_1


"Nggak. Gue hanya ingin menangis saja. Kangen sama orang rumah. Kangen sama kalian berdua."


Sinta dan Clara saling berpandangan. Mereka yakin pasti ada sesuatu antara Edewina dan Reo.


Akhirnya Sinta dan Clara mengajak Edewina jalan bersama. Mereka ke mall, nonton bersama bahkan makan di restoran favorit mereka.


Sampai akhirnya hari sudah menunjukan pukul sepuluh malam.


Sebenarnya Edewina pun enggan untuk pulang namun jika dia tak pulang, kedua sahabatnya itu akan bertanya terus. Dia yang datang tanpa membawa mobil pun sempat dipertanyakan.


Namun saat Edewina sudah berada di dalam taxi, ia memutuskan untuk pergi ke hotel saja.


*********


Reo yang tadinya gelisah karena Edewina belum pulang juga, akhirnya tahu di mana istrinya itu berada ketika ia membaca pemberitahuan pemakaian kartu kredit yang diberikannya pada Edewina. Dengan cepat ia meraih kunci mobilnya dan segera menuju ke hotel yang digunakan Edewina untuk check in. Tak ada yang mustahil Reo dapatkan ketika akhirnya sang resepsionis memberikan kunci cadangan untuk membuka pintu kamar tempat Edewina menginap. Karena tanpa Edewina ketahui, Reo memiliki saham di hotel ini dan sudah dikenal oleh semua karyawan yang ada.


Saat Reo membuka pintu, dilihatnya Edewina sudah tertidur. Istrinya itu terlihat lelap. Reo tahu kalau Edewina lelah lahir dan batin. Reo mengerti namun ia tak mau istrinya jauh darinya.


Ia pun ikut berbaring di samping Edewina karena sebenarnya ia juga sangat lelah.


**********


Saat pagi hari, Edewina bangun dan menemukan kalau dirinya tak sendiri di kamar itu. Ada Reo yang berbaring di sampingnya.


Bagaimana ia bisa tahu kalau aku ada di sini?


Merasa ada pergerakan di sampingnya, Reo pun membuka matanya. Ia tersenyum melihat Edewina.


Edewina memalingkan wajahnya. Ia tak mau menatap Reo karena memang ia masih merasa marah.


"Kamu ingin sarapan, sayang?" tanya Reo.


Edewina tak menjawab. Ia langsung turun dari tempat tidur dan segera ke kamar mandi.


Saat itulah ponsel Edewina yang ada di atas nakas berbunyi. Reo melihat ada nama Ken di sana. Hati Reo menjadi panas namun ia menguatkan dirinya dan menjawab panggilan itu.


"Hallo Ken."


Ken nampak diam sejenak. Mungkin ia terkejut. Tapi kemudian terdengar suaranya. "Hallo Reo, maaf menganggu. Apakah aku bisa bicara dengan Edewina?"


"Wina sedang ada di kamar mandi."


"Baiklah. Nanti aku telepon lagi."


"Ok."


Reo meletakan kembali hp Edewina. Tak lama kemudian Edewina keluar. Ia duduk di sofa sambil menatap Reo yang juga sedang menatapnya.


"Mau kamu apa dengan mengikuti aku terus?" tanya Edewina.


"Aku hanya memastikan kalau kamu baik-baik saja, Win. Aku tahu kalau aku sudah berbuat salah. Tapi aku melakukan semua itu semata-mata bukan untuk sekedar memilikimu. Namun aku mencegah dirimu untuk melakukan kesalahan."

__ADS_1


Edewina memalingkan wajahnya. Ia tahu apa yang Reo katakan itu adalah suatu kebenaran. Jika saja kejadian di kamar hotel itu tak terjadi, maka Ken dan dirinya pasti sudah menikah. Tapi tetap saja dibohongi itu tak enak.


Reo mendekat. Ia kemudian duduk di samping Edewina. Namun istrinya itu menggeser tubuhnya sampai di ujung sofa.


"Ok. Aku tak akan terlalu dekat denganmu. Namun aku mohon, ijinkan aku bicara. Aku tak mau kamu salah mengerti dengan diriku. Aku memang sangat mencintaimu. Bahkan boleh dikata kalau aku tergila-gila padamu. Tapi aku juga masih memiliki kewarasan sehingga tak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dirimu. Saat kamu bersama Ken, dan aku melihat dirimu bahagia, apakah aku pernah menganggu kalian? Nggak kan? Aku cukup tahu diri. Tak akan memaksamu untuk bersamaku. Namun saat aku tahu kalau kau dan Ken berencana menikah diam-diam, sedangkan kalian adalah sepupu, aku harus turun tangan dan menggagalkan semuanya. Karena aku tahu sangat sulit bagi Papi Ed dan mami Mahira untuk mengatakan kebenaran tentang dirimu. Aku takut justru mereka akan jujur saat kamu dan Ken sudah terlanjur menikah. Aku tak punya cara lain untuk menggagalkan rencana itu. Hanya dengan berpura-pura kalau kita sudah tidur bersama."


"Kenapa kamu tak jujur saja mengatakan kalau aku dan Ken bersaudara jika memang kamu sudah tahu kebenarannya? Mengapa harus memaksa aku untuk berada dalam pernikahan ini? Kamu sendiri tahu kalau aku sebenarnya belum siap menikah."


Reo mengangguk. "Maafkan aku karena sudah memaksa kamu untuk menikah. Namun, apakah kamu sungguh tersiksa dengan pernikahan ini? Apakah kamu merasa bahwa aku tak mampu membuatmu bahagia? Lalu apa arti penyerahan dirimu padaku kemarin? Bukankah kita melalui saat pertama kita dengan manis?"


"Aku melakukan semua itu karena rasa bersalah. Hanya sekedar tanggungjawab semata karena memang aku adalah istrimu. Aku bertahan di pernikahan ini karena kebaikan hati orang tuamu. Namun sejujurnya aku sangat tersiksa karena selalu harus menipu mereka dengan bersikap mesra di hadapan mereka."


"Benarkah hanya karena rasa bersalah dan sekedar tanggungjawab?" Reo tersenyum ketus. Sakit? Tentu saja. "Lalu apa arti pelukanmu, ciumanmu, belaian lembutmu di tubuhku. Apakah itu sama sekali tak ada sesuatu dalam hatimu? Apakah kau tipe orang yang bisa melakukan semua itu tanpa perasaan?"


Edewina akan menjawab pertanyaan Reo namun ada ketukan di pintu kamar mereka. Reo yang berdiri dan membukanya.


"Mommy?" Reo terkejut.


Riani langsung masuk tanpa memperdulikan wajah terkejut putranya. Di belakangnya ada Jack.


"Mommy telpon Mark dan menanyakan kalau kalian ada di mana. Ternyata ada di hotel ini. Apakah kalian sedang menikmati waktu berdua?" Langkah Riani terhenti melihat Edewina yang berdiri menyambut nya namun dengan mata yang sembab karena terlalu banyak menangis.


"Apakah mommy datang di saat yang salah? Kalian sedang marahan?" tanya Riani. Ia terlihat tak enak hati. Sedangkan Jack menatap putranya meminta penjelasan.


"Kami baik....."


"Kami tidak baik-baik saja, mommy." kata Reo memotong ucapan Edewina.


Riani menatap putranya. "Apa maksudnya?"


"Edewina tahu kalau aku menjebaknya untuk bisa menikah denganku." kata Reo jujur membuat Edewina terkejut karena tak menyangka kalau Reo akan mengakui itu di depan mommy Riani.


"Kamu menjebak Edewina?" tanya Riani dengan wajah yang mulai terlihat emosi.


"Ya, mommy!"


Riani menatap Jack. "Dan kamu tahu kalau anakmu ini menggunakan trik licik untuk mendapatkan Edewina?"


"Bukan trik licik, sayang. Reo justru menyelamatkan Edewina agar tak melakukan kesalahan." Jack berusaha membela diri karena ia tahu kalau Riani paling tak suka dengan cara-cara seperti ini.


Riani menatap putranya lagi. "Ayo kita pulang ke rumah dan selesaikan apa yang harus di selesaikan."


Reo menatap Edewina. Yang ditatap hanya bisa tertunduk. Perempuan itu melihat ada luka yang terpancar di wajah ibu mertuanya.


********


Apa keputusan Riani untuk Reo dan Edewina?


Maaf ya kalau up terlambat dan kurang greget bab ini.


Semoga tetap suka ya guys

__ADS_1


__ADS_2