MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Mulai Terkuak.


__ADS_3

Secara perlahan Reo membuka pintu kamar. Di lihatnya Edewina masih duduk sambil membaca sebuah novel.


"Sayang, kenapa belum tidur? Ini sudah hampir jam 11 malam."


"Tadi aku tidur sebentar setelah makan. Baru juga satu jam bangun. Rasa ngantuk sudah pergi entah kemana. Jadi duduk saja sambil membacanya. Novelnya bagus. Kak Sen yang siapkan ya?"


"Iya. Aku tahu kalau kamu suka baca novel online."


"Tahu dari mana?" tanya Edewina.


"Aku pernah melihat semua isi ponselmu."


Edewina melotot ke arah Reo. Namun bukannya takut mendapatkan tatapan istrinya seperti itu, Reo justru mendekat dan langsung mengecup bibir istrinya. "Maafkan aku yang kepo pada istrinya sendiri."


Edewina tersenyum. "Mau tukaran hp juga boleh."


"Benar?"


"Apa sih yang nggak buat kamu, kak Sen."


Reo menarik hidung mancung istrinya. "Aku suka kamu yang bucin padaku."


"Siapa yang bucin? Perasaan kak Sen yang bucin padaku."


"Memangnya kamu nggak bucin padaku?" Reo melingkarkan tangannya di pundak istrinya.


"Nggak."


Reo cemberut. "Berarti cintaku masih bertepuk sebelah tangan dong."


"Aku nggak bucin padamu. Aku tergila-gila padamu, Christensen Haireo Almond."


Reo terkekeh. Hatinya bahagia. Ia dengan cepat memeluk istrinya dan mencium semua bagian wajah istrinya. "Entah mengapa, sejak pertama melihatmu di pesawat saat itu, aku sudah yakin kalau kamu adalah jodohku, Win."


"Kok bisa sih seorang cowok suka sama anak kecil? Kak Sen pedofil dong."


Reo mengangguk. "Mungkin. Makanya aku membutuhkan waktu sekian tahun, menahan seluruh perasaan cintaku padamu, menunggu sampai usiamu cukup, untuk menunjukannya perasaanku padamu. Sayangnya, saat itu hatimu sudah dimiliki orang lain."


Edewina mengecup bibir Reo. "Jangan bicarakan masa lalu. Sekarang pikirkan saja masa depan kita."


"Tentu saja, sayang." Reo mengusap perut Edewina. "Tak sabar menunggu kelahirannya."


"Kak, bagaimana keadaan kak Indira?"


"Sudah membaik. Bibi Adeline ada di sana menjaganya."


Edewina mengangguk. "Kakak sudah makan?"


"Belum."


"Ayo makan. Nanti sakit."


"Biar aku sendiri saja. Kamu istirahatlah."


"Aku mau makan lagi."


Reo tersenyum. "Baiklah. Aku gendong ke ruang makan ya?"


"Ok."


Tawa bahagia mereka terdengar saat keduanya tiba di ruang makan.


"Sayang, bodyguard nya aku suruh tidur saja di kamar art. Kasihan malam ini sangat dingin."


Reo mengangguk. "Iya. Malam ini ada badai salju."


Edewina menyiapkan makanan untuk Reo lalu mengambilnya untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Posisi duduk Edewina menghadap ke kaca jendela belakang. Ia dengan jelas melihat ada sepasang mata yang menatap mereka. Mata berwarna merah.


"Ah.....!"


"Ada apa, sayang?" tanya Reo melihat istrinya berteriak.


"Aku....., aku melihat ada sepasang mata melihatku dengan mata merah. Aku....aku..."


"Sayang ......, nggak ada apa-apa? Kamu ingatkan dengan sensor gerak yang aku katakan?"


"Tapi, aku sungguh melihat tatapan mata itu yang....yang...."


Reo berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri istrinya. "Aku ada di sini. Jangan takut. Ayo kita lanjutkan untuk makan." Reo duduk di samping istrinya.


Edewina hanya makan beberapa suap saja karena ia tiba-tiba merasa kenyang.


Selesai makan, Reo segera memasukan piring kotor ke mesin pencuci piring, menyalahkan nya, lalu mengajak istrinya ke kamar.


Saat Edewina tertidur, Reo segera memeriksa CCTV dari ponselnya. Ia kemudian merasa tak ada yang aneh.


Tak lama kemudian, Reo memeluk istrinya. Ia mendekap Edewina sambil mengusap perut Edewina. Sungguh, ia merasa lelah.


**********


"Ah.....ah.......!" teriak Edewina saat ia bangun pagi dan melihat kalau di lantai dapur ada bercak darah di sana dan seekor kucing mati ada di atas wastafel.


Edewina langsung berlari ke depan.


"Sayang.....! Wina!" Reo yang terbangun karena teriakan Edewina segera berlari ke luar kamar. Ia melihat kalau Edewina sedang ada di ruang tamu dengan tubuh yang bergetar sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Sayang ..., Wina....!" ia memeluk tubuh Edewina sambil mengusap-usap punggung istrinya.


"Ada apa, sayang?"


Edewina menurunkan tangannya yang menutupi wajahnya. "Itu....itu.....di....di....ah...., perutku, ah....!" Edewina memegang perutnya.


"Kamu kenapa, sayang?"


Reo berteriak memanggil kedua bodyguard nya. Namun mereka tak ada. Reo mengangkat tubuh Edewina dan membawanya ke kamar. Ia kemudian menelpon Mark. Lalu menelpon dokter kandungan Edewina.


Reo mengambil bantal lalu meletakkannya di bawa panggil Edewina. Kaki Edewina juga di letaknya di atas tumpukan bantal yang lain. Itulah yang dokter katakan padanya.


Edewina mengusap perutnya. "Anak mami. Kuat di dalam ya, nak. Jangan tinggalkan mami."


Reo mengusap kepala istrinya sambil membisikkan kata-kata untuk membuat istrinya tenang.


Tak lama kemudian Mark datang. Reo keluar dari kamar. "Mana kedua bodyguard nya?"


"Mereka dibius, tuan. Untung saja tak mati kedinginan."


"Di bius dengan cara apa?"


"Sepertinya melalui asap. Dan pintu kamar mereka dibiarkan terbuka."


"Tapi bagaimana mereka bisa lolos dari sensor gerak yang ada. Bagaimana mereka bisa tak terdeteksi di CCTV?" tanya Reo sambil menahan rasa geram karena ia tak tahu siapa yang melakukan ini.


"Tuan, bukankah yang biasa menggunakan obat bius melalui asap hanya komplotan mafia The Justice?"


Reo terkejut. Itu adalah komplotan mafia yang dulu diikutinya. "Tapi, bagaimana bisa mereka menyerang sahabat mereka sendiri? Bukankah aku pamit undur dengan cara baik-baik pada mereka?"


"Itulah yang aku pikirkan, tuan. Dan sepertinya, CCTV kita diretas dengan cara yang sangat canggih. CCTV akan terus merekam namun yang dia rekam adalah tampilan kosong. Artinya mereka membuat CCTV berhenti merekam walaupun jam di CCTV akan terus berputar. Itukah sebabnya mereka bisa masuk tanpa terdeteksi."


"Kalau begitu segera bereskan!"


"Aku yang akan mengerjakannya sendiri. Tinggal menunggu alat yang dibelikan oleh mekanik kita."


"Jangan percaya siapapun, Mark. Kita tidak tahu apakah ada musuh dalam selimut."

__ADS_1


"Baik, tuan!"


Dokter Hardi pun datang. Ia datang bersama seorang suster. Reo segera mengantarnya ke kamar. Ia memeriksa kandungan Edewina.


"Nyonya, jangan tegang lagi ya? Kandungan nyonya baru memasuki 8 minggu. Masih rentan dengan keguguran." dokter Hardi mengingatkan lagi.


"Baik, dokter."


Dokter itu kemudian memasang selang infus di tangan Edewina agar dapat menyuntikan obat penguat kandungan. Ia lalu memberikan resep obat.


Setelah selesai, Teo mengantarkan dokter dan asistennya keluar sedangkan salah satu bodyguard yang baru saja datang, diminta Reo untuk menebus obat Edewina ke apotik.


Ia kemudian ke dapur dan tak melihat ada tanda-tanda kucing mati dan bekas darah di sana.


Reo menelpon bibi Adeline.


"Nona Indira sudah tidur lagi setelah tadi bangun dan sarapan. Kata dokter yang memeriksanya, sore ini nona sudah boleh pulang, tuan."


"Baiklah. Sebaiknya bibi di sana saja menjaga Indira. Hari ini sayang bekerja dari rumah. Nanti sore ada sopir yang akan menjemput dan mengantar Kalian ke apartemen. Ada juga asisten rumah tangga yang sudah saya siapkan di sana. Jadi dari rumah sakit, bibi kembali saja ke sini."


"Baik, tuan."


Reo pun membuatkan sarapan untuk Edewina. Walau hanya roti bakar dan segelas susu hamil untuk istrinya.


Ia kemudian membawanya ke kamar.


"Sayang, sarapan dulu setelah itu kau istirahat." kata Reo.


"Kucing matinya?"


"Sudah dibuang oleh Mark." Reo berbohong. Ia tak mau Edewina sampai stres jika ia mengatakan tak ada jejak darah dan kucing mati di dapur.


Edewina pun menikmati sarapannya dengan lahap. Ia juga menghabiskan susu hamilnya.


Ada senyum kebahagiaan di wajah Reo. "Aku senang melihat kau makan dengan lahap."


"Akan ku lakukan apa saja untuk anakku, kak."


"Anak kita."


Edewina mengangguk sambil tersenyum. "Ya. Anak kita."


Reo mengecup dahi istrinya. "Sayang, apakah tidak sebaiknya kita pindah ke rumah yang ada di pusat kota saja?"


"Aku suka di sini. Rumah di kota itu terlalu besar. Nantilah jika mommy dan daddy sudah datang juga orang tuaku, kita akan tinggal sementara di sana."


Reo mengangguk. "Apapun itu asalkan kau bahagia sayang. Sekarang tidur ya?"


Edewina pun membaringkan tubuhnya. Reo menyelimuti tubuh istrinya, lalu setelah itu ia keluar dari kamar. Ia membutuhkan kopi untuk bisa berpikir jernih tentang siapa yang ingin mencelakai keluarga mereka.


Saat Reo selesai menuangkan kopinya ke dalam gelas, ia duduk di depan meja pantry sambil berpikir tentang kelompok mafia yang pernah diikutinya.


"Tuan, saya mendapatkan data 100 pemilik mobil Hammer secara acak berdasarkan tipe dan bentuk ban mobil yang terdeteksi di CCTV. Dan salah satu pemiliknya adalah Cecilia Smith."


"Apa? Itu adalah bibi dari kak Cassie. Tapi dia sudah lama sekali pindah ke Amerika. Mungkin saat usiaku belum satu tahun."


"Dia tercatat memiliki mobil itu sejak tahun yang lalu."


"Apakah masih ada nama lain?"


"Ya. Mobil Hammer juga dimiliki oleh Justin. Justin Bradley. Nyonya bilang kalau salah satu penculik bisa berbahasa Spanyol. Saya menyelidiki latar belakang pendidikan tuan Justin dan dia ternyata bisa berbicara dalam beberapa bahasa. Salah satunya adalah bahasa Spanyol."


Reo mengepalkan tangannya. "Cari tahu yang lengkap tentang mereka, Mark. Dan hubungan aku dengan ketua The Justice. Aku perlu bicara dengannya hari ini juga."


Mark mengangguk.


*************

__ADS_1


Kalau memang benar itu adalah Justin dan Cecilia, apa hubungannya dengan dendam pada keluarga Moreno ya?


Ada yang bisa menebaknya?


__ADS_2