
Itulah awal hubungan Sinta dan Mark. Perbedaan usia 15 tahun sepertinya tak menjadi penghalang bagi keduanya.
Mereka selalu berjumpa setiap kali ada kesempatan. Sampai 6 bulan setelah itu, Sinta mendapati dirinya sedang hamil. Gadis itu sempat ketakutan karena ia tahu bahwa Mark tak menginginkan ada anak diantara mereka. Mark tak percaya dengan pernikahan. Dan ia berpikir kalau anak akan membuat mereka akan sulit berpisah jika ada masalah.
"Aku hamil." kata Sinta saat Mark mengunjunginya malam ini di apartemennya.
"Apa?" Mark terkejut. "Bukankah kamu menggunakan pil anti hamil?"
"Ya. Aku mungkin lupa meminumnya. Bulan lalu, saat aku tugas ke Amerika selama 2 minggu, aku memang tak meminum pil ku. Dan siapa yang sangka kalau kamu akan menyusul ku ke sana?"
Mark mengusap wajahnya kasar. Ia memang menyukai Sinta. Ia bahkan merasa sudah jatuh cinta pada gadis ini. Namun, ia trauma dengan kehidupan pernikahan karena ayahnya yang dua kali gagal berumahtangga karena selalu ditinggalkan oleh wanita yang dikasihinya. Akhirnya Mark dan kedua adiknya menjadi anak-anak yang kekurangan kasih sayang karena sang ayah lebih suka menyendiri dan terjun dengan minuman beralkohol.
"Apakah kau tak ingin mengugurkan?" tanya Mark.
Sinta menggeleng. "Aku tak akan memaksa dirimu untuk bertanggungjawab, Mark. Karena aku sudah tahu kalau kamu memang tak ingin ada dalam hubungan pernikahan. Aku hanya mengatakan ini karena aku pikir kamu perlu tahu kalau aku hamil. Bagaimana pun kamu adalah ayah dari bayi yang ku kandung ini. Aku sudah memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Aku dapat tiketnya hari Sabtu nanti. Hari Jumat aku akan resign dari tempat kerjaku. Aku tak bisa hamil dan melahirkan sendiri di sini karena aku tak punya siapa-siapa di sini."
Malam itu, Mark pulang dari apartemen Sinta dengan perasaan galau. Ia menuju ke rumah sakit karena Reo memintanya untuk menjemput Leon.
Saat Mark tiba di rumah sakit, ternyata Leon sudah di jemput oleh opa Jack.
"Ada apa, Mark? Kau terlihat galau." tanya Reo.
"Sinta hamil."
"Sinta? Sinta yang mana?"
"Sinta sahabatnya nyonya Edewina. Kami sudah menjalin hubungan selama setengah tahun ini."
Reo terkejut. "Aku tak pernah menyangka kalau kalian memiliki hubungan. Sudah sedalam itu? Terus kapan nikahnya? Aku akan membiayai semua keperluan pernikahanmu."
"Tuan kan tahu kalau aku tak pernah ingin menikah."
"Tapi Sinta hamil."
"Sinta juga tak meminta tanggungjawab padaku."
"Kamu gila, Mark! Memangnya kamu tak mencintai gadis itu?"
__ADS_1
"Aku mencintainya, tuan. Namun aku tak ingin menjadi kecewa seperti ayahku yang gagal dalam pernikahannya sebanyak 2 kali. Aku tak ingin anak-anakku nanti tak bahagia seperti aku dan adik-adikku."
"Mark, Sinta adalah gadis yang baik. Apakah kamu tahu, banyak bule yang menikah dengan gadis Indonesia karena gadis Indonesia terkenal dengan kesetiaanya. Jangan takut gagal, Mark. Aku yakin kalau kamu nggak akan menjadi ayah tak baik bagi anak-anak mu. Memiliki anak itu adalah hal yang indah. Jangan sia-siakan Sinta. Nanti kamu menyesal telah membuang gadis yang sebenarnya kamu cintai."
Kata-kata Reo membuat Mark terus berpikir. Sampai akhirnya, di hari Jumat pagi, saat Sinta bersiap untuk ke kantor dan pamit dengan teman-temannya, Mark muncul di pintu apartemennya.
"Mark?" Sinta kaget melihat Mark yang berdiri di depan pintu. Mark langsung nyelonong masuk. Ia melihat bahwa barang-barang di apartemen Sinta sudah kosong.
"Jangan pergi!" kata Mark.
Sinta terkejut. "Mark?"
"Aku mencintaimu. Aku sebenarnya menginginkan anak yang ada dalam kandunganmu. Aku hanya takut saja menikah dan gagal seperti ayahku. Itulah sebabnya aku tak percaya dengan pernikahan."
Sinta langsung memeluk Mark sambil menangis."Aku janji tak akan membuatmu kecewa. Aku janji akan selalu setia padamu. Aku juga sangat mencintaimu, Mark."
"Tapi aku sudah tua, Sinta."
Sinta melepaskan pelukannya. "Kamu adalah om tua yang tampan dan menarik. Justru karena usiamu jauh di atasku, aku sangat yakin kalau kamu tak akan pernah mengkhianati aku."
Mark mengangguk. Ia mencium bibir Sinta dengan perasaan senang. Ia kemudian berlutut di hadapan Sinta sambil membuka kotak cincin yang dibawahnya. "Maukah kau menikah denganku?"
Begitulah akhirnya, Sinta dan Mark menikah.
"My baby girl!" Mark membelai perut Sinta yang kini memasuki usia 6 bulan. Mereka sudah tinggal di sebuah kawasan elit yang ada di Manchester. Rumah yang dihasilkan Reo saat pernikahan mereka.
Sinta yang sedang duduk di kursi goyang sambil merajut, tersenyum melihat bagaimana sayangnya Mark pada dirinya semenjak mereka menikah.
"Aku yakin dia akan sangat manja pada papanya."
"Aku memang akan sangat memanjakan nya. Seperti aku memuja ibunya."
Sinta meletakan jarum dan benang yang ada di tangannya Ia langsung memeluk Mark. "Ah, sayang. Bahagianya memiliki suami sepertimu." bisik Sinta lalu menghadiahkan Mark dengan ciuman secara bertubi-tubi.
**********
"Apa jenis kelaminnya?" tanya Reo penasaran. Hari ini mereka kontrol lagi ke dokter kandungan. Usia kandungan Edewina sudah memasuki bulan keempat.
__ADS_1
"Baby boy." Ujar Dokter Lenna membuat Reo dan Edewina saling berpandangan sambil tersenyum.
"Wah....Leon akan punya teman bermain sepak bola." ujar Leon yang memang ikut bersama di hari ini.
"Dia senang sekali akan punya adik laki-laki." Kata Reo sambil mengusap kepala putranya.
"Iya." Leon melompat-lompat kegirangan.
Edewina bahagia. Dia dan Reo memang sudah sepakat untuk tak akan pernah mempermasalahkan tentang jenis kelamin anak mereka. yang penting anak itu lahir dengan sehat.
Sepulang dari tempat praktek dokter, Leon meminta untuk singgah di toko mainan. Ia mau membelikan mainan untuk adiknya. Walaupun Edewina dan Reo sudah menjelaskan bahwa adiknya belum bisa ikut main saat lahir namun cowok kecil itu nampaknya sudah tak sabar dan tak ingin dibantah. Ia pun membelikan beberapa mainan lalu mereka pulang ke rumah.
Saat tiba di rumah, Edewina dikejutkan dengan kedatangan opa Edriges.
"Opa?"
Edriges tersenyum dan memeluk cucunya. "Opa tak sabar untuk melihatmu saat tahu kalau kamu sudah menemukan kembali ingatanmu. Opa sangat senang."
"Aku juga senang opa ada di sini."
Edriges memegang perut Edewina. "Kamu hamil lagi?"
"Ya. Kata dokter jenis kelaminnya laki-laki." jawab Edewina dengan bangganya.
Jack dan Riani pun tersenyum senang saat mendengarnya. Jack yang terlihat paling bahagia karena ia tahu kalau penerus generasi Almond bertambah satu lagi.
"Opa akan tinggal di sini sampai kamu melahirkan anakmu, sayang. Boleh kan?"
"Tentu saja boleh. kebetulan bukan depan aku akan diwisuda, opa. Akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku yang tertunda selama 3 tahun."
"Opa bangga denganmu, sayang."
Edewina pun di wisuda pada bulan berikutnya. Ia bersyukur karena bisa menyelesaikan studi S1. Kedua orang tuanya juga datang.
Saat mereka sedang berpesta merasakan diwisudanya Edewina, Sinta tiba-tiba sakit perut. Semua langsung panik karena ini memang belum waktunya untuk melahirkan.
Dokter memutuskan untuk melakukan operasi sesar. Dan akhirnya bayi perempuan itu lahir sehat.
__ADS_1
**********
1 episode lagi dan akan selesai