
Setelah Adeline keluar dari ruangan perawatan Edewina, Reo segera mendekatinya.
"Ada apa, bi? Apa yang istriku katakan?"
"Nyonya hanya meminta aku untuk menelepon orang tuanya agar bisa datang ke sini."
"Dia bilang apa lagi?"
Adeline menggeleng. "Hanya itu, tuan."
"Dan dia tak mau ketemu dengan aku?"
Adeline mengangkat kedua bahunya. "Aku tak tahu, tuan. Tadi aku juga tak banyak bicara. Aku takut membuat nyonya stres."
Reo mengusap wajahnya kasar. "Aku harus bertemu dengan istriku, bi. Aku bisa gila jika dia mendiami aku seperti ini. Bibi tahu kan kalau aku sangat mencintainya."
"Bibi mengerti tuan. Namun kali ini tuan harus lebih sabar, ya. Tahu kan kalau nyonya masih sangat muda."
Reo menarik napas panjang. Ia hanya mengangguk lalu kembali duduk di atas kursi tunggu. Kepalanya tertunduk dan tangannya bertumpu pada kedua kakinya sambil memegang kepalanya.
Semua masalah terjadi secara bersamaan. Pengakuan Indira tentang kehamilannya, lalu kehamilan Edewina dan penculikan yang terjadi padanya, dan yang terakhir adalah kecelakaan yang dialami oleh daddy Jack.
Beberapa jam telah berlalu, dan Reo sempat tertidur karena ia memang sangat lelah. Ia terbangun saat merasakan kalau lorong tempat ia duduk rasanya sangat sepi. Reo melihat jam tangannya. Ternyata sudah jam 8 malam dan ia merasakan punggungnya sakit. Makanya ia langsung berdiri dan melemaskan otot-otot nya yang kaku.
Mungkin bibi Adeline sudah pulang. Reo berjalan menuju ke ruangan perawat. Ruangan itu pun nampak sunyi. Reo mengambil kesempatan ini untuk masuk ke ruangan Edewina.
Saat ia membuka pintu, dilihatnya kalau istrinya itu tertidur. Ia pun melangkah mendekati tempat tidur Edewina. Satu minggu lebih ia tak bisa melihat Edewina dan itu membuatnya hampir kehilangan akal sehatnya.
"Sayang....istriku...., kau tahu kalau hatiku sejak dulu hanyalah untukmu. Kau menjauh seperti rasanya bagaikan membunuh aku secara pelan-pelan." Tangan Reo bergetar sambil menyentuh ujung rambut Edewina. "Maafkan aku jika membuatmu harus terluka seperti ini. Aku berpikir kalau kejadian malam itu tak pernah ada karena saat aku bangun keesokan paginya, Indira bilang kalau tak ada yang terjadi diantara kami. Kalau itu memang aku tahu sejak awal, aku pasti sudah mengatakan padamu karena aku tak mau berbohong apapun padamu. Apalagi sekarang kau harus menderita karena semua memar yang mereka buat di tubuhmu. Aku bersumpah, Win. Aku tak akan pernah melepaskan mereka."
Air mata Reo jatuh. Ia bahkan terisak pelan. Sungguh, Reo sangat takut kehilangan Edewina.
Edewina sebenarnya tidak tidur. Ia hanya berpura-pura tutup mata saat melihat Reo masuk.
"Win, jangan menjauh dariku. Aku tak bisa. Apalagi buah hati kita kini sedang tumbuh di dalam perutmu." Reo mengusap perut Edewina lalu ia mencium perut Wina dengan sangat lembut, seakan tak ingin menganggu tidurnya Edewina.
"Jangan pergi dariku, sayang. Jangan suruh aku menjauh. Sungguh, aku tak bisa tanpamu. Hidupku akan hampa tanpa adanya dirimu. Maukah kau memaafkan kebodohan ku di malam itu?"
Edewina merasakan hatinya ikut hancur mendengarkan pengakuan Reo. Bagaimana pun apa yang Reo lakukan bersama Indira adalah suatu pengkhianatan walaupun itu tak sengaja. Namum Edewina juga tak bisa menyalahkan Reo dan Indira sepenuhnya. Karena itu, ia pun membuka matanya perlahan.
"Kak....."
Reo terkejut mendengar suara Edewina. Ia langsung menatap wajah istrinya itu. Ada air bening yang mengalir di pipi mulus istrinya itu.
"Sayang, jangan menangis. Kamu nggak boleh stres. Ingat pesan dokter."
"Akan kulakukan apa saja untuk membuat kandunganku sehat, kak. Aku ingin menggendongnya nanti dengan tanganku sendiri."
Reo mengecup dahi Edewina. "Sayang, aku sangat merindukanmu. Mengenai Indira...."
__ADS_1
"Ssst.....!" Edewina meletakan jari telunjuknya di bibir Reo. "Jangan bahas itu sekarang."
"Baiklah." Reo tersenyum dan kembali mengecup dahi Edewina. Hatinya sungguh bahagia mendengar kalau istrinya itu mau menerimanya saat ini.
"Kak, aku lapar."
"kamu ingin makan?"
"Iya. Tapi aku ingin makan kue putu." kata Edewina sedikit merengek.
"Oh....soal itu jangan khawatir. Aku akan mendapatkan kue putu itu bagaimana pun caranya. Kamu tenang saja ya?"
"Aku juga mau nasi goreng yang pedas."
"Kalau soal nasi goreng, serahkan padaku."
"Dengan telur mata sapi ya?"
"Ok." Reo nampak bersemangat. Ia mencium perut Edewina. "Tunggu ya, sayang. Daddy akan mendapatkannya." Lalu ia segera keluar dari kamar Edewina. Reo langsung menelepon mommy Riani.
"Untuk apa kau tanyakan resep kue putu?" tanya Riani.
"Edewina ingin memakannya, mom. Dia....dia hamil."
"Apa? Oh my God, Reo. Ini adalah berita paling indah yang mommy dengar setelah kecelakaan daddy. Mommy akan telepon bibi Adeline. Bibi sudah pernah membuatnya bersama mommy. Edewina mana?"
"Kenapa pula dia di rumah sakit?"
"Eh, biasalah orang hamil muda."
"Jaga Wina baik-baik ya, nak. Jika daddy bangun, akan mommy ceritakan kabar bahagia ini. Itu pasti akan membuat daddy mu jadi semangat untuk sembuh."
"Baik, mom."
"Peluk cium mommy untuk Edewina ya, nak?"
"Ok, mommy."
Reo pun segera pulang ke rumah mereka yang ada di kota setelah terlebih dahulu ia meminta para pelayan menyiapkan nasi dan bahan-bahan yang dibutuhkan.
***********
"Sudah, kak. Aku sudah kenyang. Aku sudah menghabiskan 4 potong kue putu tanpa kelapa muda dan sepiring nasi goreng. Sekarang aku jadi mengantuk." tolak Edewina saat Reo akan menyuapinya lagi.
"Kamu sangat kurus, sayang. Makan yang banyak ya?"
"Nanti besok saja. Terlalu banyak makan akan membuat aku merasa mual."
"Ok, deh. Sekarang kamu istirahat saja. Jangan lupa berdoa."
__ADS_1
"Kenapa bukan kakak saja yang mendoakan kami."
"Kami?"
"Ya. Aku dan anak kita." kata Edewina sambil mengusap perutnya.
"Baiklah. Ayo kita berdoa."
Bibi Adeline yang melihat pasangan itu, secara diam-diam meninggalkan kamar perawatan itu. Namun ia juga berdoa agar Edewina diberikan kekuatan sehingga bayi mereka akan selamat.
Di sebuah apartemen mewah di pusat kota London.
"Mengapa kau membiarkan wanita itu pergi?" teriak seorang pria pada pria yang lain.
"Dia sedang hamil. Sabarlah sedikit. Biarkan saja mereka bahagia untuk sementara waktu. Dan kita akan mengambilnya saat harapan mereka sudah begitu melambung. Itu akan jauh lebih sakit."
Seorang perempuan mendekat. "Yang aku dengar kalau Edmond dan Mahira akan datang."
"Dari mana kau tahu?"
"Mereka sedang mengajukan permohonan visa untuk datang ke Inggris. Namun aku akan membuat ijin mereka untuk datang, terhalang sedikit."
"Kenapa?"
"Aku ingin membuat Edewina gila. Aku benci perempuan itu. Sama seperti aku membenci Reo, Jack, Edmond dan Mahira. Entah mengapa dua keluarga itu bisa dipersatukan. Entah mengapa Reo bisa tergila-gila pada Edewina sedangkan Indira jauh lebih cantik dari Edewina. Rasanya tak sabar ingin melihat keluarga Moreno dan Almond bersedih. Sungguh sial karena si Jack ternyata bisa selamat."
"Jadi, apa yang akan kau lakukan pada Indira?"
"Tak akan pernah kubiarkan anak itu lahir."
"Bolehkah kalian tak membunuh Edewina?" tanya seorang pria yang baru saja datang.
"Kenapa, jangan katakan kalau kau mencintai gadis ingusan itu?"
"Dia adalah obsesi terbesarku. Hanya sesaat saja aku ingin mencicipi tubuhnya. Namun setelah itu aku akan membuangnya."
"Kau mencintainya?"
Pria itu tersenyum. "Aku hanya ingin membuat Reo patah hati sampai tak bisa berdiri lagi. Agar ia tahu menghargai perasaan orang yang sangat mencintainya."
Suasana di apartemen itu kemudian menjadi hening. Dendam lama, akankah terbalas nanti?
**********
Hallo semua ...
ternyata Ed dan Mahira belum bisa datang karena terhalang visa.
Sudah ada bayangan siapa komplotan ini?
__ADS_1