
Saat Reo memasuki kamar, dia melihat Edewina nampak gelisah di depan kaca. Cowok itu baru saja lari pagi bersama papanya.
"Sayang, ada apa?"
"Semua baju yang mommy siapkan di lemari, lehernya agak terbuka. Bagaimana aku bisa menyembunyikan tanda merah ini?"
"Nggak usah di sembunyikan. Biar saja mereka melihatnya. Supaya mereka tahu kalau kita telah melalui malam yang panas walaupun sebenarnya hanya kamu saja yang panas dan aku kedinginan."
Edewina melotot. Ia bermaksud akan menghajar Reo namun pria itu langsung berkelit.
"Sayang, tunggu aku mandi dan kita akan turun sama-sama." ujar Reo lalu segera masuk ke kamar mandi.
Edewina menatap penampilannya di depan kaca. Mau ditutup bagaimana pun, tanda merah itu akan terlihat.
Tak lama kemudian Reo selesai mandi. Setelah berpakaian, keduanya segera turun ke bawa sambil bergandengan tangan.
Mereka akan sarapan di beranda belakang.
"Happy birthday, mom." Reo langsung memeluk mamanya yang sementara menyiapkan meja.
"Thank you my dear son."
"Selamat ulang tahun mommy." Edewina gantian yang memberikan selamat. Mata Riani langsung berbinar melihat ada tanda merah di leher Edewina.
"Apakah Reo membuatmu lelah, nak?" tanya Riani.
Jack menatap Reo meminta penjelasan atas pertanyaan Riani.
"Dad...." Reo memutar matanya malas. "Istriku akan menjadi malu."
"Ayo duduk dan kita sarapan bersama."
Edewina menyaksikan bagaimana sayangnya Jack pada Riani. Kata-kata mesra, tatapan penuh cinta, bahkan bahasa tubuh mereka menunjukan bagaimana keduanya saling mencintai. Sama seperti yang Edewina lihat pada papi Edmond dan mami Mahira.
Kami punya latar belakang keluarga yang sama. Keluarga yang berlimpah kasih sayang. Apakah karena itu Reo juga memiliki cinta seperti cinta yang dimiliki oleh kedua orang tuanya? Bagaimana jika aku tak sanggup membalasnya?
"Sayang, kok melamun?" tanya Reo sambil memegang tangan Edewina.
"Eh, tidak." Edewina buru-buru tersenyum.
Selesai sarapan, Reo mengajak Edewina pergi.
"Kak Sen, aku malu keluar rumah karena tanda merah di leher ini." kata Edewina saat keduanya sudah ada di dekat mobil.
Reo mengatur rambut Edewina agar di letakan di atas bahunya. "Sudah, begini agak sedikit aman. Nanti kita beli kosmetik yang dapat menutupnya. Lagi pula, ini di Manchester. Orang tak akan peduli dengan semua tanda yang ada di tubuhmu. Orang berjalan tanpa busana pun nggak ada yang peduli."
"Benar nih?" Edewina nampak masih ragu.
"Iya sayang." Reo dengan gemas mencium pipi Edewina membuat gadis itu terkejut.
"Kalau ada lihat bagaimana?"
"Nggak masalah. Kita kan suami istri dengan status pacaran. Masa kan mencium pacarnya saja nggak boleh?"
Edewina langsung masuk ke dalam mobil yang pintunya memang sudah di buka oleh Reo.
"Kita mau ke mana sih?"
"Cari hadiah untuk mommy. Aku agak bingung juga mau kasih apa ke mommy. Tadi malam saat aku tanya, mommy bilang pingin hadiah cucu."
Wajah Edewina berubah menjadi sedih. Ia ingat dengan kejadian saat mereka ada di Swiss. Seandainya waktu itu aku tak keguguran, pasti mommy Riani sekarang sedang bahagia menanti kelahiran cucunya. Ya Tuhan, kok rasanya sangat menyakitkan ya?
Dengan cepat Edewina menghapus air matanya namun Reo ternyata sudah melihatnya. Ia memegang bahu istrinya. "Ada apa? Kok kamu menangis?"
"Nggak. Hanya kangen sama mami Mahira."
"Kamu mau libur natal kita pulang ke Indonesia?"
"Bolehkah? Bagaimana kalau mommy Riani juga ingin kita di sini?"
__ADS_1
"Kita ajak saja mommy dan Daddy ke Indonesia. Setahuku sudah lama mommy nggak pulang ke Indonesia. Pasti kangen dengan kak Arma. Kakek dan nenek juga sudah sangat tua, jadi nggak pernah lagi datang ke Inggris."
"Baiklah. Semoga mommy Riani suka pulang ke Indonesia sehingga kita bisa berkumpul bersama."
Reo mengangguk.
"Acara mommy kan nanti malam, bagaimana kalau sekarang kita kencan dulu?"
"Kencan?"
"Kita kan pacaran sayang. Jadi ini bisa jadi kencan pertama kita."
"Kamulah yang menentukan. Kamu kan laki-laki."
"Tapi aku belum pernah pacaran. Mana tahu tentang kencan."
Edewina menatap Reo. Ia memang sudah mendengar bahwa Reo tak pernah punya pacar. Namun nanti hari ini ia percaya kalau lelaki berusia 28 tahun ini memang tak punya pengalaman. Tapi, mengapa jika di kamar, saat merayunya di tempat tidur, Reo seperti lelaki yang sangat berpengalaman? Apakah dia terbiasa dengan tidur dengan para wanita tanpa melibatkan perasaan?
Wajah Edewina menjadi tegang. Ia melirik ke arah Reo. Sungguhkah ia lelaki yang baik?
"Sayang, kok kamu nggak menjawab pertanyaan aku sih?"
"Biasanya orang kencan pergi makan, nonton bioskop, Jalan-jalan ke tempat yang indah."
"Kamu inginnya kemana?"
"Kita ke toko dulu. Cari hadiah untuk mommy. Setelah itu baru pikirkan akan kemana."
"Ok." Reo nampak bersemangat. Ia seperti ABG yang sedang dimabuk cinta.
Edewina meminta Reo mengantarnya ke pasar tradisional. Dia ingat mommy Riani suka sesuatu yang merupakan hasil buatan tangan.
Mereka tiba di sebuah toko yang ternyata menjual barang-barang hasil pengrajin tangan dari berbagai negara. Mata Edewina tertuju pada sebuah hand bag yang indah dengan tempelan beberapa batu. Tas itu terbuat dari benang yang kokoh asal dari Mexico. Harganya juga agak mahal.
"Kak Sen, kayaknya ini bagus."
"Kamu yakin mommy akan suka?"
Mereka sepakat membeli tas itu dan langsung membeli kertas pembungkus. Edewina ingin dia sendiri yang membungkusnya.
Setelah itu Edewina melihat sepasang baju batik yang sangat indah berwarna biru.
"Wah, ini sangat cantik." ujar Edewina.
"Kamu mau kita membelinya? Bagaimana kalau kita pakai malam ini?" tanya Reo.
"Kak Sen suka pakai batik!" tanya Edewina.
"Suka. Daddy juga terkadang suka pakai batik couple bersama mommy."
"Bagaimana kalau kita beli juga untuk mereka?"
"Kita tanya dulu kalau ada ukurannya Daddy."
Setelah mencari akhirnya mereka menemukan ukuran yang cocok untuk Riani dan Jack. Warna memang berbeda dengan batik yang akan dipakai oleh Edewina dan Reo namun coraknya sama.
Mereka pun meninggalkan pasar tradisional itu dan mencari tempat makan siang di sebuah restoran tepi danau.
Sementara makan, Riani menelpon dan mengabarkan bahwa mereka akan merayakan ulang tahunnya di rumah desa.
"Rumah di desa itu sangat berarti bagi mommy. Rumahnya kecil namun sangat menyenangkan tinggal di sana. Dulu kamarnya hanya dua. Namun sekarang sudah menjadi 5. Daddy merenovasinya dengan menambah 3 kamar dan ada tambahan ruangan keluarga di bagian belakang. Jadi kita akan kesana selesai kencan." kata Reo dengan mata yang berbinar membuat Edewina jadi tertawa melihat betapa kekanakannya pria yang berusia 28 tahun ini.
Selesai makan, mereka segera menuju ke bioskop namun sebelumnya Reo sudah menelepon orang rumah untuk membawakan baju ganti bagi dia dan Edewina karena mereka akan langsung menuju ke rumah desa.
Film yang dipilih adalah film komedi romantis. Edewina tertawa sekaligus juga terharus melihat bagaimana lucu sekaligus romantisnya film itu. Tiap kali ada adegan romantis, Reo pasti akan menciumnya. Sangat berbeda dengan Ken ketika menonton ia akan sangat serius karena ia suka membahas alur ceritanya.
"Happy ending. Aku suka cerita yang happy ending." ujar Reo. Keduanya bergandengan tangan keluar dari bioskop. Edewina melirik ke arah Reo yang nampak begitu senang.
"Ada apa melirik aku? Baru sadar ya kalau suamimu ini tampan?"
__ADS_1
"Pede amat." Edewina ingin rasanya tertawa. Sungguh, Reo yang seperti ini sangat berbeda dengan Reo yang menatapnya dengan tatapan intimidasi yang kadang membuat Edewina merinding dan merasa takut.
Mendengar perkataan istrinya, tawa Reo pecah. Ia semaki. mengeratkan pertautan jari mereka.
"Pacaran itu ternyata menyenangkan dari pada memaksakan kehidupan pernikahan yang sebenarnya." ujar Reo lalu mencium tangan Edewina yang ada dalam genggamannya.
"Kayak bocil." ujar Edewina pelan namun sempat didengar oleh Edewina.
"Aku tahu istilah bocil, sayang."
Gantian Edewina yang tertawa. Dan hal itu justru membuat Teo menjadi senang. Entah mengapa ia merasa kencan pertama ini sukses. Walaupun ia yakin hati Edewina belum bisa di sentuhnya.
************
Betapa senangnya Riani mendapatkan baju couple dan juga hadiah tas yang diberikan oleh anak dan menantunya. Jack juga nampak bahagia. Hanya Cassie yang sedikit cemberut karena ia tak menggunakan baju yang sama dengan mereka.
"Maaf ya kakak, aku lupa kalau kamu juga suka batik. Nanti deh jika kakak ulang tahun, akan kuhadiakan batik selusin." hibur Reo membuat yang lain pada bahagia.
"Bagaimana hubunganmu dengan Edewina? Sudah bisa menaklukan dia di ranjang belum?" tanya Clark.
"Uncle...!"
"Istrimu belum kelihatan hamil. Dulu uncle sekali berhubungan, aunty Camila langsung hamil "
"Aku ingin meraih hatinya dulu, uncle."
Clark menggelengkan kepalanya. "Seharusnya kamu menaklukan tubuhnya dulu pasti hatinya akan cepat kau rebut."
"Ajaran sesat!" Jack tiba-tiba datang dan masuk diantara Putranya dan Clark membuat Clark harus menggeser tubuhnya.
Reo hanya menggelengkan kepalanya dan langsung menjauh sebelum telinga nya panas mendengar pertengkaran ayah dan pamannya.
Ia mendekati Edewina yang sedang menikmati kue coklat buatan mamanya. Ia memeluk Edewina dari belakang, membuat Edewina terkejut dan hampir menjatuhkan kue yang dipegangnya.
"Kak Sen...!"
"I love you..." ujar Reo sambil mencium pipi Edewina.
"Kak Sen, malu di lihat mereka."
"Lho, kita kan masih kencan, sayang. Sekarang, ikut aku!"
"Kemana?"
"Ke suatu tempat yang menjadi favoritku jika datang ke sini."
"Tapi acara mommy..."
"Kan sudah selesai. Jika kita menghilangkan pun mommy pasti akan mengerti." Reo langsung menarik tangan Edewina dan melangkah meninggalkan halaman rumah mereka.
"Wah....indahnya." teriak Edewina saat melihat pemandangan di danau yang ada di desa itu. Apalagi bulan hampir purnama malam ini.
"Besok pagi, kita akan ke sini dan bermain sepeda air."
"Ok....!"
Reo memegang kedua tangan Edewina. Keduanya saling berhadapan.
"Ada apa?" tanya Edewina. Ia bingung dengan cara Reo menatapnya.
"Wajahmu bersinar di bawa sinar rembulan. Mau di lihat di bawa sinar matahari, maupun di remangnya malam, kau tetap cantik, sayangku. Dan aku semakin tergila-gila padamu." Lalu Reo menunduk. Mencium bibir tipis Edewina yang selalu menggoda untuknya. Edewina bagaikan tersihir. Ia yang biasa hanya memegang pinggiran kemeja atau kaos Reo saat pria itu menciumnya. Sekarang ia justru melingkarkan tangannya di leher Reo, kakinya sedikit berjinjit, dan membalas ciuman Reo.
*********
Romantis nggak sih?
Jangan minta up lagi ya?
episode ini lumayan panjang lho.
__ADS_1
"