
Ambulance datang ke tempat kejadian begitu pula dengan para polisi.
Mereka langsung mengangkat tubuh Edewina yang sudah berlumuran darah dan menaikannya ke atas ambulance.
Reo ikut masuk ke dalam sambil terus memegang tangan Edewina yang sudah dingin kayaknya es.
"Baby, open your eyes." kata Reo dengan ketakutan yang sangat besar.
Mata Edewina terus tertutup. Tubuhnya bahkan menjadi semakin dingin.
Sesampai di rumah sakit, mereka langsung menangani Edewina dan juga Indira yang anaknya sudah lahir di tempat penembakan itu. Indira juga terkena peluru di bagian kaki dan tangannya.
3 jam menunggu dalam ketakutan yang terbesar, akhirnya Reo mendengar ada suara tangis bayi. Walaupun suara itu hanya samar saja di telinganya.
1 jam kemudian, dokter Hardi, yang merupakan salah satu dokter yang masuk ke dalam segera menemui Reo.
"Tuan Almond, bayinya sudah lahir namun karena keadaannya yang prematur sehingga ia mengalami koma. Tangisannya tak kuat dan jantungnya juga agak lemah."
Air mata Reo mengalir. "Dan istriku?"
"Keadaan nyonya Almond juga lebih parah. Kemungkinan ia tak bisa bertahan. Salah satu peluru itu mengenai alat vital di dalam perutnya. Ia juga mengalami pendarahan yang parah. Maafkan kami."
"Boleh aku melihat istriku?"
"Belum bisa. Proses operasinya masih berlangsung. Kalau anak tuan, sudah bisa dilihat di ruangan NICU."
Reo menggunakan pakaian steril dan masker serta penutup kepala untuk bisa masuk ke ruangan NICU. Air matanya tak berhenti mengalir saat melihat bagaimana mungil anaknya. Ia tak banyak bergerak. Matanya tertutup dengan rapat.
"My baby boy. Tetaplah kuat, nak. Papi yakin kalau kamu akan keluar dari semua ini. Papi akan melakukan apa saja agar kamu bisa hidup, sayang." Tangan Reo bergetar saat ia menyentuh tangan mungil anaknya dengan jari telunjuknya. Hatinya hancur melihat keadaan anaknya.
Setelah ia keluar dari ruangan NICU, Reo sedikit mendapatkan kekuatan saat mengetahui kalau mommy Riani dan Mahira, selamat dari ledakan itu.
Mark, Clara dan Sinta, semuanya setia menemani Reo di rumah sakit.
Sampai akhirnya, pintu operasi di buka kembali dan dokter keluar. Wajahnya terlihat lelah karena hampir 9 jam mereka sudah berada di sana.
"Nyonya Almond koma dengan kondisi yang tidak baik. Tubuhnya kurang merespons transfusi darah yang diberikan padanya. Detak jantungnya juga lemah." kata dokter bedah yang menangani Edewina.
Reo menangis sangat dalam. Tubuhnya berguncang sambil terus memukul dadanya sendiri. "Wina, jangan tinggalkan aku....! Jangan tinggalkan aku!" ucapnya secara berulang-ulang.
**********
__ADS_1
Mahira melihat menantunya yang masih berlutut di dalam ruangan doa. Ia tahu kegelisahan hati Reo. Hatinya juga demikian.
Perlahan, perempuan itu masuk ke dalam dan ikut berlutut di samping menantunya.
"Mami?" Reo terkejut melihat ibu mertuanya.
"Saat ini kita memang tak memiliki kekuatan apapun selain berdoa, nak."
"Aku takut kehilangan Edewina, mami. Rasanya aku tak mampu. Aku sudah mencintainya saat usianya belum genap 10 tahun. Aku begitu yakin kalau dia adalah takdirku. Jodoh yang memang Tuhan siapkan untukku. Namun lihatlah sekarang, kami baru saja bahagia. Aku baru saja menikmati kasih sayang dan cinta Edewina padaku. Haruskah kami dipisahkan lagi?"
Mahira mengusap punggung menantunya. "Kamu harus kuat, nak. Demi anakmu juga."
"Bagaimana jika anakku juga tak bertahan?"
"Mami yakin kalau dia adalah anak yang kuat. Serahkan semua kekhawatiran mu kepada Tuhan, nak. Dan biarkan Tuhan yang menentukan seluruh jalan hidupmu."
Reo mengangguk. Ia bersyukur memiliki mertua yang sangat baik.
*********
Setelah 3 hari Edewina tak bisa dijenguk, Reo pun akhirnya diijinkan masuk.
Lelaki yang biasa terlihat gagah dan kuat itu, kini terlihat kacau dengan air mata yang terus membasahi kedua pipinya. Ia memegang tangan Edewina, menciumnya dengan seluruh perasaan sayang yang dimilikinya untuk istrinya itu.
*********
Kini, Leonardo Almond sudah berusia 3 tahun. Berarti 3 tahun sudah Edewina berada dalam situasi koma. Setahun yang lalu, pernah detak jantungnya berhenti berdetak. Namun Reo tetap berteriak meminta dokter untuk terus menolong istrinya. Dan akhirnya, Edewina kembali bernapas.
"Papi, mana bunganya?" tanya Leon saat mereka sudah tiba di depan rumah sakit.
"Ini sayang....!" Reo menyerahkan beberapa tangkai bunga mawar putih kepada putranya.
Sambil bergandengan tangan, keduanya memasuki rumah sakit. Ruangan Edewina ada di lantai 2.
"Mau mengunjungi princess sleeping beauty?" tanya seorang perawat.
"Iya. itu adalah mamiku." ujar Leon dengan bangga.
Keduanya pun masuk ke dalam ruangan perawatan Edewina setelah menggunakan pakaian steril.
"Hallo mami!" sapa Leon lalu mencium tangan Edewina.
__ADS_1
"Hallo sayang." Reo pun mencium tangan Edewina.
"Papi, kenapa mami dipanggil sleeping beauty?" tanya Leon.
"Karena mami adalah putri tidur yang sangat cantik."
"Oh, opa pernah membacakan dongeng itu. Kenapa papi nggak mencium bibir mami? Dalam dongeng dikatakan sang putri bangun setelah dicium pangeran. Papi adalah pangeran kan?"
Reo mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Papi sudah sering mencium mami namun mami belum juga bangun."
"Apakah mungkin mami menanti pangeran yang lain?"
"Mami sudah punya dua pangeran. Papi dan Leon. Mami nggak membutuhkan pangeran yang lain. Mami mungkin masih capek makanya belum mau bangun."
Tangan mungil Leon mengusap wajah Edewina. Wajah Edewina tetap terlihat cantik walaupun ia sudah 3 tahun terbaring.
Reo sengaja meminta tempat tidur Edewina di letakan di dekat jendela. Agar pagi hari, sinar matahari bisa menerpa tubuh istrinya itu.
Reo bahkan sering membersihkan tubuh Edewina dengan handuk yang dicelupkan pada air hangat.
"Papi, jika mami nanti membuka mata, apakah mami akan tahu kalau aku adalah Leon?"
"Ya, sayang. Papi yakin, mami sekarang sedang mendengarkan kita. Mungkin mami ingin kita lebih sungguh-sungguh menunjukan perasaan sayang kita pada mami."
"Mami Edewina Carensia Almond, Leon dan papi sangat sayang sama mami. Buka mata ya? Leon rindu mendengar suara mami. Kata papi, suara mami merdu dan lembut. Namun jika mami marah, suara mami akan melengkung tinggi. Benarkah mami?"
Reo tertawa tetapi juga menangis. Ia menunduk dan berbisik di telinga istrinya. "Sayang, kami sangat merindukanmu. Kami sangat membutuhkanmu. Kembalilah pada kami. Berhentilah bermimpi dan bukalah matamu."
"Papi, mami menangis." seru Leon membuat Reo terkejut dan segera mengangkat wajahnya. Ia melihat ada air bening yang membasahi pipi Edewina.
"Aku tahu kamu mendengarkan kami, sayang. Aku tahu." ujar Reo dengan perasaan yang sedikit terhibur.
Setelah puas berada di rumah sakit. Reo dan Leon bergegas untuk pulang. Sore ini, mereka akan menghadiri pernikahan Mark.
Siapakah perempuan yang sudah membuat Mark yakin untuk menikah?
***********
Hallo semua....
semoga tetap suka dengan episode ini ya
__ADS_1
Dukung emak terus guys