
Kembali ke malam pernikahan...
Edewina membuka pintu kamarnya. Ia terkejut melihat Ken ada di depan pintu kamarnya.
"Ken...?"
Ken tersenyum. Wajah Ken terlihat sangat pucat. Matanya juga tak bercahaya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Ken?" tanya Edewina sambil melirik ke arah ranjang tempat Reo berbaring.
"Aku merindukanmu." ujar Ken lalu memegang pipi Edewina. "Kamu cantik sekali."
"Ken, kamu sakit?" tanya Edewina sambil menyentuh wajah Ken. Ia terkejut saat merasakan kalau wajah Ken sangat dingin.
"Boleh aku memelukmu?" tanya Ken.
"Boleh."
Ken memeluk Edewina sambil tersenyum. Ia bahkan mencium puncak kepala gadis itu secara berulang-ulang.
"Wina, ayo ikut dengan aku!" ajak Ken.
Edewina melepaskan pelukannya. "Kita akan kemana?"
"Kalau kehidupan tak bisa menyatukan kita, maka kematian lah yang akan menyatukan kita."
"Ken, maksud kamu apa?"
Ken membelai wajah Edewina. Ia kemudian mengambil sebuah botol dari dalam kantong celananya. "Ini racun. Ayo kita minum bersama."
Ken langsung meminum setengah isi botol itu tanpa sempat dicegah oleh Edewina.
"Ken....!"
"Minumlah sisanya Edewina. Aku mohon. Buktikan kalau kamu memang mencintai aku."
"Ken....aku...!"
Tubuh Ken jatuh ke lantai dengan mulut yang mengeluarkan busa.
"Ken.....! Tolong.....!"
"Kau tidak meminumnya, Wina? Kau tidak mencintai.....a....ku?" mata Ken terbuka namun napasnya berhenti. Edewina terkejut.
"Tidak....tidak....! Ken...., buka matamu, Ken....aku mohon. Aku mencintai mu. Aku sangat mencintaimu. Ken...jangan tinggalkan aku...!" Edewina memeluk tubuh Ken yang sudah tak bernyawa lagi. Ia menangis sejadi-jadinya. Hatinya hancur melihat pria yang dicintainya meninggal di hadapannya.
"Wina....Edewina sayang....!"
Edewina membuka matanya. Ia terkejut melihat Reo ada di hadapannya.
"Ken...., Ken...dia bunuh diri!"
"Sayang, kamu hanya mimpi...!" Reo menepuk lembut pipi Edewina untuk menyadarkan istrinya itu.
"Aku nggak mau Ken meninggal."
"Wina sayang....!"
Edewina langsung memeluk Reo sambil menangis. "Aku nggak mau Ken meninggal. Aku nggak mau.....!"
__ADS_1
"Wina, kamu hanya mimpi." Reo mengusap punggung Edewina membuat perempuan itu akhirnya mulai menemukan kesadarannya. Ia langsung melepaskan tangannya yang memeluk Reo kemudian menggeser tubuhnya agar menjauh dari Reo.
Dengan cepat Reo turun dari ranjang. Ia langsung menuangkan air di gelas lalu kemudian memberikannya pada Edewina.
Edewina menggeleng. "Aku tidak butuh." ujarnya pelan. Lalu ia turun dari ranjang dan segera menuju ke kamar mandi. Perempuan itu mencuci wajahnya sambil berusaha menenangkan suasana hatinya yang galau.
Apakah terjadi sesuatu dengan Ken? Apakah dia putus asa dan akhirnya bunuh diri?
Edewina dengan cepat mengeringkan wajahnya dengan handuk. Ia kemudian keluar dari kamar mandi dan mencari ponselnya.
"Ada apa, Win?" tanya Reo.
Edewina tak menanggapi pertanyaan Reo. Ia mengambil ponselnya dan segera berjalan ke arah balkon sambil menghubungi nomor Ken. Sayangnya nomor Ken tak aktif. Edewina menghubungi nomor Delon, pacarnya Clara yang satu kelas dengan Ken. Namun Delon tak juga mengangkat teleponnya. Akhirnya Edewina menghubungi Clara.
"Hallo....." terdengar suara Clara yang serak khas orang baru bangun tidur.
"Clara....., lu dimana?"
.
"Di apartemen gue lah. Ada apa subuh-subuh gini lu bangunin gue?"
"Subuh?"
"Ini jam setengah empat pagi, Nyonya Almond, apakah lu nggak ada kerjaan dan menganggu tidur gue?"
"Maaf. Gue mimpi buruk. Ken bunuh diri. Gue ingin tahu kabarnya Ken gimana?"
"Ya ampun, Win. Lu kan sudah menikah. Ngapain juga masih mikirin si Ken? Nikmati aja bulan madu ku dengan si tampan Reo."
"Kami nggak lagi bulan madu, La. Kamu kan tahu kalau kami dijodohkan."
"Ken pasti stres ya...."
"Win, Lu nggak boleh lagi mikirin Ken. Lu sudah menikah. Biarkan Ken menjalani hidupnya. Mungkin awalnya agak susah bagi kalian berdua namun percayalah, ini yang terbaik."
"Tapi, La."
"Gue lihat kalau Reo sungguh-sungguh menyayangi lu. Di hari pernikahan kalian, mata Reo berbinar khas orang yang sedang jatuh cinta. Entah mengapa, walaupun gue teman baik Ken, namun gue yakin kalau Reo orang baik."
"Gue nggak mungkin mencintai dia, La."
"Itu karena lu belum melihat kebaikan hatinya."
"La, gue stres banget."
"Lu kan sedang bulan madu."
"Ini bukan bulan madu, La. Ini adalah black moon bagi gue. Andai bunuh diri itu bukan dosa, gue pasti sudah melakukannya."
"Lu jangan gila, Win. Masa depan lu masih panjang."
"Rasanya nggak kuat tanpa ada Ken."
"Lu harus kuat, Win. Sekarang gue tutup dulu, ya? Ngantuk banget nih!"
Edewina menarik napas panjang. Ia menatap ke arah pantai yang nampak sepi. Tangisnya terdengar perlahan.
Tanpa Edewina tahu, Reo yang berdiri di belakangnya pun nampak sedih melihat keadaan gadis itu. Ia tahu kalau Edewina tersiksa namun Reo tak akan menyerah. Ini barulah hari yang ke-2. Dan Reo tahu masih banyak hari yang akan dilalui mereka.
__ADS_1
********
"Mau kemana?" tanya Edewina saat melihat Reo sudah mengeluarkan 2 buah koper.
"Pergi bulan madu." jawab Reo dengan senyum manisnya.
"Bulan madu?" Edewina tersenyum sinis. "Untuk apa berbulan madu kalau kita hanya menikah di atas kertas? Untuk apa pergi jika....." Edewina merasakan kalau ia pusing. Gadis itu langsung duduk di atas sofa.
"Kamu sakit?" tanya Reo. Ia mendekat namun Edewina menepiskan tangan Reo.
"Jangan sentuh aku...!" teriak gadis itu lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Wina, kau boleh membenciku namun jangan tolak aku untuk membantumu."
Edewina memejamkan matanya. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Mengapa ia merasa pusing pagi ini. Pada hal ia baru saja sarapan setengah jam yang lalu.
Reo membungkuk di depan Edewina kaki Edewina. Ia meraih kaki gadis itu dan memijatnya di bagian telapak kaki. Reo ingat dengan. kakeknya yang adalah orang Jawa. Kakeknya selalu memijat Reo dan kedua kakaknya tiap kali mereka sakit. Menurut sang kakek, bagian kaki adalah bagian penting untuk dipijat karena semua syaraf manusia terhubung dengan bagian kaki.
Edewina awalnya menolak saat Reo memegang kakinya. Namun sekuat apapun ia berusaha menarik kakinya, Reo tetap menahannya. Dan tentu saja Edewina tak memiliki kekuatan lagi untuk menolak karena ia merasa sangat lemah akibat pusing yang dirasanya.
Pijatan Reo di kaki Edewina membuat perempuan itu merasa sedikit enak.
"Ayo baringkan kepalamu di sini dulu." Reo mengambil bantal dan membantu Edewina membaringkan tubuhnya di atas sofa. Perempuan itu menurut.
Walaupun matanya terpejam, Edewina masih terus berpikir.
Apakah benar aku hamil? Bagaimana kalau aku benar hamil? Apa yang harus aku lakukan? Ya Tuhan, aku memang belum siap hamil namun aku tak mungkin akan menolak kehamilan ini. Anak ini tak berdosa.
Edewina tanpa sadar memegang perutnya dan mengusapnya perlahan. Reo yang duduk di hadapannya tentu saja melihat Edewina mengusap perutnya. Lelaki itu tersenyum. Ada sesuatu yang membuatnya bahagia.
Ponsel Edewina berbunyi. Ternyata dari Opa Edriges.
"Hallo sayang, apakah kalian sudah di bandara?"
"Belum, opa. Masih di hotel."
"Seharusnya kalian sudah berangkat. Nanti terlambat bulan madunya. Opa berharap agar kamu selalu mengirim foto-foto bulan madu di sana ya? Itu juga tempat bulan madu opa dan Oma."
"Di mana memangnya?"
"Swiss."
Edewina terkejut. Bukankah itu tempat yang ingin dia kunjungi bersama Ken?
"Kirim foto-fotonya ya nak? Hanya itu yang akan membuat rindu opa pada oma mu terobati. Dia sudah 11 tahun meninggalkan opa. Dan opa sangat merindukannya. Mungkin dengan melihat foto-fotomu nanti hati opa akan menjadi sedikit terhibur."
"Baik, opa." Mana tega Edewina menolak permintaan opanya. Ia pun perlahan bangun dan melihat Reo yang masih setia menunggunya.
"Jam berapa pesawatnya berangkat?" tanya Edewina.
"Satu jam dari sekarang. Kita harus bergegas agar tak terlambat."
Edewina meraih tas punggungnya. "Ayo kita pergi. Namun sebelumnya aku ingin mampir ke apotik dulu."
Reo mengangguk. Ia tahu apa yang akan Edewina beli.
*********
Apakah akan ada sesuatu yang terjadi di sana?
__ADS_1
Dukung terus kisah ini ya guys