
Sudah 10 menit Edewina berdiri di depan pintu kamar. Namun ia takut untuk masuk. Di tangannya ada gaun dan sepatu yang tadi di berikan Mark padanya.
Pada hal Edewina sangat lapar. Ia masih harus memasak. Namun hati kecilnya meminta dia untuk segera minta maaf sekaligus jujur mengakui kalau ia tak hafal nomor ponsel Reo.
Setelah menarik napas panjang beberapa kali, Edewina pun membuka pintu kamar.
Ternyata, Reo baru selesai mandi. Rambutnya terlihat basah dan ia telah menggunakan baju rumahan. Di tangan Reo masih ada handuk yang baru saja di pakainya. Lelaki itu berjalan melewati Edewina dan memasukan handuk basah itu di keranjang tempat baju kotor yang letaknya ada di dekat pintu kamar mandi. Agak tersembunyi sebenarnya letak keranjang itu.
Selesai itu, Reo duduk di sofa sambil membuka ponselnya.
"Kak.....!" panggil Edewina sambil mendekat.
Reo tak menyahut. Ia tetap fokus pada layar hp nya.
"Kak....!"
Reo tetap diam.
Edewina ingat, diawal-awal pernikahan mereka, ia sering bersikap cuek seperti ini pada Reo. Dan ternyata, rasanya sangat menyakitkan. Apakah kak Sen sedang balas dendam karena dulu aku sering mengacuhkannya?
"Kak, terima kasih atas gaun dan sepatunya."
Reo mengangkat wajahnya. Menatap Edewina dengan tatapan mengintimidasi. "Buang saja. Tak ada gunanya lagi."
Edewina mengingat bibir bawahnya. Reo langsung membuang mukanya. Sikap Edewina itu justru membuat Reo ingin mencium istrinya itu.
"Masa di buang sih? Gaunnya bagus. Sepatunya juga..Pasti harganya mahal."
"Nggak masalah buatku." kata Reo ketus lalu kembali menatap Edewina dengan dingin. Yang di tatap jadi salah tingkah.
"Kak, sebenarnya Ken mengingatkan aku tentang janjiku denganmu. Ia bahkan meminjamkan hp nya untuk ku gunakan menelepon kakak. Tapi....tapi..., aku tak menghafal nomor kakak."
Mata Reo langsung menatap Edewina dengan tajam. "Wina, berapa lama kita kenal? 3 bulan? Nggak. Kau mengenal ku saat usiamu baru 16 tahun. Sejak saat itu kau sudah tahu nomorku. Itu sebenarnya nomor khusus yang hanya aku, kamu, keluarga inti ku, Indira dan Mark yang tahu. Itu nomor khusus yang ku pesan dengan kombinasi angka yang sangat muda dihafal. Segitunya sampai kamu nggak hafal?"
"Kak Sen nggak percaya saat ku bilang kalau aku tak menghafal nomor kakak? Aku terbiasa hanya langsung menekan nama kakak saat menelepon. Ketika kita menikah, aku mungkin hanya dua kali menghubungi kakak. Dulu kakak bukan orang spesial untukku, jadi mana bisa aku menghafal nomor kakak?" Edewina jadi kesal karena Reo sepertinya tak percaya dengan alasan yang diberikannya.
Reo mengangguk sambil tersenyum sinis. "Sampai sekarang pun aku belum menjadi orang spesial untukmu, kan? Pada hal kita pacaran." Reo merasakan hatinya kembali sakit. Ini lebih sakit saat Reo melihat Ken mencium Edewina saat mereka baru saja ketemu.
"Bu...bukan seperti itu kak, aku...!" Edewina ingin menonjok kepalanya sendiri karena sembarangan mengeluarkan kata-kata.
"Sudahlah. Yang penting kamu sudah kembali ke apartemen dengan selamat." Reo meletakan hp nya di atas meja. Ia kemudian berdiri dan bermaksud akan keluar kamar.
"Reo......!"
Langkah Reo terhenti. Apakah ia tak salah dengar? Edewina memanggil dia dengan sebutan Reo lagi?
Reo membalikan badannya. Ia menatap Edewina yang nampak sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Biasakan menyelesaikan persoalan baru pergi. Aku lapar. Dari pagi hanya makan nasi goreng yang kamu siapkan. Aku sungguh minta maaf. Aku jujur saat mengatakan tak hafal nomormu. Dan aku merasa bodoh karena bilang kamu bukan orang yang spesial. Bisa nggak sih kamu memaafkan kebodohan aku hari ini? Sungguh, Ken tadi beneran sakit. Aku nggak bohong." Tangis Edewina langsung pecah. Ia melemparkan gaun dan sepatu yang ada di tangannya di atas sofa yang tadi di duduki oleh Reo.
__ADS_1
Reo mengepalkan tangannya. Ia sebenarnya bukan tak percaya pada perkataan Edewina. Namun ia marah karena Edewina ternyata tak menghafal nomornya. Bagaimana jika ada sesuatu yang penting? Bagaimana Edewina bisa menghubunginya?
Melihat Edewina menangis, sungguh membuat Reo tak kuat. Apalagi saat tahu kalau istrinya itu sekarang sedang lapar.
Reo melangkah ke arah meja belajar. Ia menuliskan sesuatu di sana. Lalu mendekati Edewina yang masih menangis.
"Aku nggak suka kamu cengeng." Lalu ia memeluk Edewina dengan erat. Di ciumnya puncak kepala Edewina dengan sangat lembut. Setelah itu ia melepaskan pelukannya. Tangannya menghapus air mata Edewina.
"Akan ku siapkan makanan untukmu." kata Reo lembut.
"Aku bisa siapkan sendiri." Edewina masih merajuk.
"Bagaimana mungkin kamu akan menyiapkan makanan dengan perut yang lapar?" Reo memberikan secarik kertas yang tadi ia gunakan untuk menulis.
"Ini nomor pribadiku, dua yang dibawa adalah nomor ku yang diketahui oleh rekan kerja dan dan beberapa karyawan ku. Yang paling bawa adalah nomor Mark. Kau harus menghafalnya saat ini juga sementara aku akan menyiapkan makan malam." Lalu Reo segera melangkah.
"Kak....!"
Reo membalikan tubuhnya lagi. "Ada apa? Susah untuk mahasiswa terpandai di angkatannya menghafal 4 nomor itu?" tanya Reo sedikit mengejek.
Edewina mendekati Reo lalu mencium pipi lelaki itu. "Terima kasih." lalu gadis itu melangkah ke arah sofa. Mengambil gaun dan sepatu itu, menyimpannya ke dalam walk in closet.
Reo memegang pipinya. Rasanya sungguh menyenangkan dicium oleh Edewina walaupun hanya di pipi tanpa diminta olehnya. Lelaki itu segera keluar kamar untuk menuju ke dapur. Ia pun merasa lapar karena tak sempat makan tadi di hotel.
***********
Edewina berdiri di depan Reo. Bau makanan sudah tercium menggoda di hidungnya namun ia harus membuktikan bahwa menghafal nomor hp bukanlah perkara sulit untuknya.
"Nomor khusus ku?"
Edewina pun menyebutkannya dengan tepat.
Sampai beberapa kali Reo meminta Edewina mengulanginya.
"Kak, aku lapar ....!" Edewina merengek. Ia tahu kalau Reo sedang mempermainkannya.
"Ayo, makan!" Reo menarik kursi makan untuk Edewina. Mempersilahkan istrinya itu duduk lalu ia sendiri duduk di hadapan Wina. Ada tatapan bahagia melihat Edewina menikmati makannya.
"Kakak nggak makan? Oh pasti sudah makan di hotel kan?"
Reo menggeleng. "Mana sempat tadi makan kalau aku sedang pusing memikirkan mu? Aku sebenarnya lapar. Namun melihat kamu makan sangat lahap rasanya aku jadi senang."
Edewina berpindah tempat duduk di sebelah Reo. Ia mengambil makanan dan menuangkannya di atas piring. "Ayo makan, kak. Aku suapi. Ini sebagai tanda permohonan maaf ku atas semua yang terjadi."
"Aku bisa makan sendiri, Win."
"Ayolah kak. Orang yang sedang pacaran, pasti akan saling menyuapi."
__ADS_1
Reo tak tahan lagi. Ia mencium bibir Edewina. Tak peduli dengan rasa makanan yang menempel di bibir gadis itu.
"Kakak....!" Edewina protes lalu mendorong tubuh Reo perlahan.
"Ayo suapi aku." kata Reo sambil membuka mulutnya. Ia tahu kalau Edewina seperti ini karena perilaku manja yang diterimanya di keluarga Moreno. Dari CCTV yang Reo lihat waktu itu, jika Edewina sakit, atau gadis itu sedang merajuk, opa atau papinya akan membujuk Edewina dengan cara menyuapinya saat makan.
Mungkin di hati Edewina belum ada cinta untuk Reo. Namun dengan perilaku seperti ini, Reo yakin kalau Edewina mulai menganggapnya orang yang dekat di hatinya.
**********
Edewina sudah terlelap. Reo yang tadinya memeluk istrinya itu, bangun karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan. Ia pun duduk di depan meja belajar sambil memeriksa tabletnya. Ia tersenyum karena baru beberapa jam produk terbaru mereka diluncurkan, sudah laku sangat banyak dan di pesan oleh beberapa pengusaha club' olahraga.
Ia pun mengucapkan terima kasih di grup wa tim work mereka. Lalu ia meredupkan lampu kamar. Tepat di saat Itu, Reo melihat ponsel Edewina yang ada di atas nakas menyala. Ternyata ada pesan wa yang masuk. Dengan mudah Reo bisa membuka ponsel Edewina karena password nya adalah tanggal lahir opa Edriges.
Aku harap kau tak mendapat masalah dengan suamimu. Namun, jika dia marah padamu, aku bisa bantu menjelaskannya.
Ternyata itu pesan dari Ken. Reo sendiri yang membalasnya. Lalu ia menghapus pesan itu dan kembali tidur sambil memeluk Edewina.
***********
Aku baik-baik saja. Suamiku memahami kalau aku menolong mu. Selamat malam.
Ken tersenyum membaca balasan Edewina. Ia tahu kalau pesan itu bukan di balas oleh Edewina. Karena Edewina tak suka menulis kalimat secara lengkap. Ia selalu menyingkat setiap kalimat yang dikirimkannya.
"Ken, kenapa belum tidur? Masih memikirkan Wina?"
Ken menatap mamanya. "Tidak, ma."
"Lupakan dia, nak. Ingat masa depanmu. Tuhan pasti akan memberikan gadis lain untukmu."
"Aku tak ingin gadis lain, ma. Setelah studi S2 selesai, aku akan mengikuti wajib militer dan bergabung dengan bala bantuan untuk kemanusiaan di daerah perang. Namun sebelumnya, aku harus yakin dulu, apakah Edewina bahagia dengan suaminya ataukah hanya pura-pura bahagia."
"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika Edewina tak bahagia?"
"Apapun caranya, aku akan mendapatkan Edewina kembali."
Mama Ken hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menyelimuti tubuh anaknya lalu mencium dahi Ken. Mengambil hp dari tangan anaknya dan meletakan di atas nakas. "Selamat malam, nak." katanya lalu mematikan lampu utama.
**********
Hallo semua
Bagaimana kisah ini berlanjut?
Kapan dong Wina dan Reo mau menikmati hubungan manis?
Sabar ya para pembaca, Wina tak seperti mamanya yang langsung jatuh ke pelukan Edmond di hari pertama.
__ADS_1
Harus berbeda dong kisah Edewina dan Mahira.
Terus dukung emak ya guys