MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Anak Yang Membawa Berkat


__ADS_3

Ken tak pernah menduga kalau ia bisa membuka hati untuk Indira setelah semua yang terjadi.


Semuanya berawal dari kelahiran baby Je. Anak itu menangis saat Ken memeluknya saat ia lahir. Nalurinya sebagai seorang dokter membuat ia secara spontan memeluk tubuh baby Je dan meletakkannya di atas dadanya. Waktu itu Ken langsung merasa jatuh cinta pada Jeou.


Ia merawatnya dengan penuh kasih saat Indira harus dirawat karena tembakan itu. Ia juga yang mendorong Indira untuk memberi ASI kepada baby Je untuk pertumbuhannya.


Setelah hakim memutuskan bahwa Ken akhirnya dideportasi dari Inggris, Ken memohon pada Indira untuk ikut dengannya ke Seoul karena ia ingin terus bersama baby Je. Awalnya Indira menolak dan mengijinkan baby Je untuk dibawah oleh Ken. Indira terlihat awalnya tak menyayangi anaknya itu. Ia bahkan membenci Ken. Namun, Ken berhasil meyakinkannya untuk ikut demi kesehatan baby Je yang harus diberi ASI eksklusif.


Orang tua Ken menyambut kedatangan mereka dengan sangat gembira. Kehadiran baby Je membuat suasana rumah jadi makin ceriah.


Ken sebenarnya sangat bersedih saat mendengar kalau Edewina koma untuk waktu yang tidak bisa diprediksi. Ingin sekali dia hadir di sana. Namun ada juga rasa penyesalan dalam dirinya karena Edewina jadi seperti itu akibat keegoisannya. Makanya untuk membuang rasa sepinya, Ken pun melanjutkan kuliahnya sambil terus berada di dekat baby Je.


Lama kelamaan, Ken semakin tak bisa dipisahkan dengan putranya itu. Ia juga melihat kalau Indira yang awalnya tak begitu menyayangi baby Je, kini semakin sayang pada anak itu.


Saat baby Je berusia 1 tahun, Indira sebenarnya ingin segera kembali ke London namun baby Je masuk rumah sakit. Indira yang saat itu sudah berada di bandara terpaksa balik lagi saat Ken meneleponnya dan mengatakan kalau baby Je demam.


Sejak saat itu, Indira tak lagi ada niat untuk meninggalkan anaknya. Ia berusaha menerima baby Je sebagai bagian dari hidupnya. Melupakan mimpinya untuk menjadi wanita karir yang sukses juga melupakan semua perasaannya untuk Reo.


Kedekatan mereka diawali saat Baby Je berusia 2 tahun dan mendapatkan demam berdarah. Indira begitu bersedih karena baby Je harus dimasukan ke ruangan PICU dan mereka hanya bisa melihatnya dari kaca.


"Tenang, Ra. Jeou pasti akan sembuh." hibur Ken lalu duduk di samping Indira.


"Aku takut kehilangan Jeou. Aku nggak punya siapa-siapa lagi. Jika Jeou pergi, aku akan hancur."


Ken melingkarkan tangannya di bahu Indira. "Kamu nggak punya siapa-siapa? Lalu kamu anggap aku apa? Bukankah selama dua tahun ini kita selalu bersama? Papa dan mamaku juga sangat menyayangimu."


Indira terharu mendengar perkataan Ken. Ia pun balas memeluk Ken dengan tangis yang semakin dalam.


Ken pun mengusap punggung Indira untuk memberikan ketenangan pada perempuan itu.


Setelah puas menangis, Indira melepaskan pelukannya. "Maaf. Aku sudah membuat bajumu basah."


Ken tersenyum. Entah kenapa dia ingin memegang pipi Indira. Dan ia pun melakukannya. Menangkup kedua pipi Indira, menghapus air mata Indira dengan ibu jarinya. "Jangan menangis ya? Seorang anak selalu ada kontak batin dengan ibunya. Jika kamu bersedih, Jeou pasti bersedih. Makanya kamu harus kuat agar anak kita jadi kuat."


Indira mengangguk. Entah kenapa ia merasa nyaman dengan perhatian Ken untuknya. Sentuhan tangan Ken di pipinya membuat jantung Indira bergetar. Ia memang tak pernah sedekat ini dengan seorang laki-laki. Karena tak ada lelaki yang dekat dengannya selain Reo.


Itulah awal kedekatan mereka. Saat baby Je keluar dari rumah sakit, Ken selalu menyiapkan waktu untuk pergi bertiga. Setiap akhir pekan, mereka bertiga selalu jalan-jalan ke berbagai tempat wisata. Sampai suatu hari, saat baby Jeou diajak liburan oleh kedua orang tua Ken, mereka berdua pun pergi makan malam berdua untuk yang pertama kali.


Selesai makan malam, mereka memilih jalan-jalan menikmati malam di musim semi. Namun hujan tiba-tiba saja turun. Sehingga keduanya berlari kembali ke mobil mereka namun sudah dalam keadaan basah.


Saat tiba di rumah, keduanya sambil tertawa bersama karena merasa diri mereka konyol karena terlalu lama dibawah hujan.


"Ra, baju kamu basah." Kata Ken.


Indira yang menggunakan gaun berwarna putih, melihat pakaiannya sendiri. Bajunya sudah menempel di tubuhnya.


"Kamu kedinginan?" tanya Ken.


"Sedikit."


Ken langsung memeluk Indira. "Apakah sudah hangat?"


"Sedikit." jawab Indira dengan suara yang agak pelan. Jujur, ia merasa ada desiran aneh di seluruh permukaan kulitnya.

__ADS_1


Ken melonggarkan sedikit pelukannya. Ia menatap wajah Indira. "Ra, maukah kau membuka hati untuk menerima aku? Ayo kita bersama untuk anak kita Jeou. Aku tahu kalau tak mudah bagimu untuk melupakan Reo. Aku juga berjuang keras untuk melupakan Edewina. Namun aku yakin, jika kita sama-sama berusaha, kita akan bisa."


"Ken, aku lebih tua 4 tahun darimu."


Ken tersenyum. "Anggaplah kau beruntung mendapatkan seorang dokter berondong."


Indira tertawa. Ken juga ikut tertawa. "Aku mulai merasa nyaman saat bersamamu, Ra. Dan aku tak mau membesarkan Jeou tanpa ada dirimu."


Air mata Indira mengalir. Ia mengangguk dan itu membuat Ken tersenyum. Tanpa menunggu lagi, Ken langsung mencium bibir Indira.


Situasi yang dingin dan keduanya dalam keadaan basah membuat kedua orang dewasa itu seperti lupa diri. Mereka mengikuti kata hati mereka, membiarkan tubuh mereka larut dalam gairah yang membara. Dan malam itu menjadi awal keduanya tak ingin lagi tidur di kamar yang berbeda.


Beberapa bulan kemudian, Ken melamar Indira dan mereka pun menikah.


Nah, begitulah kisah manis Ken dan Indira. Semoga puas ya.


***********


Edewina tersenyum malu saat Riani menatapnya ketika ia keluar kamar.


"Mommy, Leon kemana?" tanya Edewina sedikit gugup. Ia tahu kalau dilehernya ada tanda merah dan ia tak bisa menyembunyikannya.


"Leon sudah ke sekolah, nak. Kamu mau sarapan?" tanya Riani.


"Eh...ya..." Edewina bangun terlambat lagi pagi ini. Semalam ia dan Reo melewati malam yang panas dan ini terjadi sudah berlangsung selama 3 minggu.


Edewina tak mengerti mengapa Reo seolah tak pernah puas saat bercinta dengannya dan anehnya juga, ia juga seakan tak mau menolak setiap kali Reo memintanya. Edewina merasa bahwa dirinya begitu tergantung pada Reo dan sangat menginginkannya. Ia tak tahu apakah dirinya dulu seperti itu ataukah justru sebaliknya.


"Wina, tadi Reo berpesan kalau sore ini kalian akan terbang ke London." kata Riani saat menantunya itu sudah selesai makan.


"Mommy nggak tahu. Mungkin ada acara kantor. Kamu tolong siapkan pakaian Reo ya?"


"Ok."


Edewina pun segera ke kamarnya. Sejak kemarin, semua pakaian Reo memang sudah dipindahkan ke kamar Edewina.


Bingung harus menyiapkan yang mana, Edewina pun menelpon Reo.


"Hallo sayang.....!" sapa Reo dengan suara yang riang dari sana.


"Mommy bilang kita akan ke London. Aku bingung harus menyiapkan pakaianmu."


Reo terkekeh. "siapkan saja setelan baju kerjaku sebanyak 3 pasang, lalu pakaian rumah dan juga beberapa pakaian santai. Kita akan seminggu ada di London dan aku ingin mengajak kamu jalan-jalan di sana. Siapa tahu kamu akan ingat sesuatu saat kita di sana."


"Baiklah. Akan kusiapkan. Leon nggak ikut ya?"


"Nggak. Mommy dan Daddy pasti nggak akan juga menginginkan kalau kita mengajak Leon."


"Baiklah. Aku siapkan pakaian mu, ya?"


"Dan juga pakaianmu, sayang."


"Baik."

__ADS_1


"Apakah kamu masih lelah?"


"Sedikit. Memangnya kenapa?"


"Minum vitamin ya? Siapa tahu malam ini di London kita akan melewati malam yang indah juga."


"Ih....kamu genit!"


"Tapi kamu suka kan?"


Edewina terkekeh. "Aku tutup dulu ya? Bye.....!" Edewina selalu merasa kalau hatinya berbunga-bunga setiap kali Reo berkata mesra padanya. Ia makin jatuh cinta saja pada lelaki itu.


Sore pukul 4, Reo menjemput Edewina. Mereka naik Jet pribadi milik keluarga Almond dan tak sampai satu jam sudah berada di London.


Mark dan Sinta yang menjemput mereka. Edewina sama sekali tak mengenali Sinta dan membuat sahabatnya itu sedih.


Mereka pun tiba di rumah yang dibelikan Reo untuk Edewina. Letaknya tak jauh dari kampus.


"Rumah ini.....!" Edewina seperti mengingat sesuatu. Namun ia tak tahu apa itu.


"Ada apa sayang?"


"Aku pernah melihat rumah ini. Tapi di mana ya?" Edewina nampak bingung. Apalagi saat memasuki ruang tamu dan ia melihat Susana perabot yang ada. Perempuan itu sampai memegang kepalanya karena merasa pusing.


"Sayang, ingat kata dokter. Jika kamu mencoba mengingat sesuatu, jangan dipaksakan. Biarkan saja memorimu bekerja dengan natural." Reo langsung memeluk istrinya. Edewina membalas pelukan suaminya dengan erat.


"Kita ke kamar dulu untuk istirahat ya?" bisik Reo lalu tanpa di duga ia langsung mengangkat tubuh Edewina dan membawanya ke dalam kamar. Selanjutnya terjadilah pergulatan panas di kamar itu.


*********


Satu minggu, Edewina dan Reo menghabiskan waktu mereka di London. Saat Reo mengajaknya ke beberapa tempat, termasuk juga kampus Edewina, perempuan itu selalu merasakan sakit kepala karena ia merasa mengenali tempat itu dan tak bisa mengingatnya.


Leon begitu senang saat melihat papa dan mamanya kembali. Ia bahkan tidur dengan mereka malam itu.


Satu minggu setelah kepulangan mereka dari London, Edewina mulai merasakan ada yang aneh dari dalam dirinya. Ia bangun pagi dan mulai mual dan muntah tanpa henti. Reo langsung membawa istrinya ke rumah sakit. Ia khawatir dengan kesehatan Edewina.


"Ini hal yang biasa saat wanita sedang hamil." ujar dokter.


Reo dan Edewina sama-sama terkejut. "Maksud dokter, istri saya hamil?"


"Iya, tuan Almond. Nyonya Edewina hamil. Usia kandungannya sekitar 5 minggu."


Reo langsung memeluk Edewina dengan perasaan yang gembira. Pada saat itulah Edewina pingsan.


Saat Edewina akhirnya sadar, ia membuka matanya dan langsung menatap Reo.


"Kak Sen....!" panggilnya. Reo terbelalak saat mendengar Edewina memanggilnya dengan nama itu.


"Wina.....!"


**********


Hallo semua...

__ADS_1


Ini sudah mendekati tamat ya guys ....


Semoga kalian tetap mendukung emak


__ADS_2