
Mereka akhirnya tiba kembali ke London. Sebuah apartemen mewah berlantai tujuh kini mereka masuki. Lantai paling atas ini adalah milik Reo dan Edewina.
"Ini tempat siapa?" tanya Edewina.
"Apartemen kita."
"Tapi aku mau tinggal di apartemenku yang lama."
"Sayang, apartemen mu yang lama kan kecil. Sekarang kita sudah menikah. Bagaimana kalau orang tua kita datang? Mereka butuh ruang yang lebih luas. Lagi pula aku pilih apartemen ini karena jaraknya dari kampus mu hanya 30 menit dan jarak ke kantorku tak sampai 40 menit. Kami sebenarnya punya rumah di pusat kota London namun jaraknya ke kampusmu agak jauh."
Edewina nampak kesal. "Tapi aku kan harus membereskan semua barang ku dulu. Kenapa sih kamu tak bertanya dulu padaku."
"Sayang, semua barang mu sudah ada di sana. Bahkan baju-bajumu sudah di atur rapi di lemari kamar. Kau boleh memeriksanya kalau ada yang kurang. Pelayan ku menyusun barang-barang mu sesuai dengan kategori yang ada. jadi kamu nggak akan bingung mencarinya." kata Reo sambil menunjukan barang-barang Edewina yang ada di beberapa box yang ditaruh di dekat tangga.
Mark yang datang membukakan pintu bagi tuannya segera meninggalkan tempat itu saat melihat kode dari tuannya.
Edewina menatap lantai satu apartemen itu.
"Di mana kamarku?" tanya Edewina.
"Kok kamarmu, sih? Kamar kita."
Edewina menatap Reo. "Aku tak mau tidur sekamar dengan mu. Aku ingin memiliki kamarku yang lain."
"Win, kita ini suami istri. Kenapa juga harus tidur di kamar yang berbeda?"
"Pokoknya aku mau kamarku sendiri, kalau tidak, aku akan kembali ke apartemenku yang lama." ancam Edewina tegas namun ia tak berani menatap Reo. Karena tatapan Reo sangat mengintimidasinya. Reo bagaikan singa lapar yang sedang menahan emosinya karena sang mangsa seakan mempermainkannya.
"Wina sayang, di sini memang ada tiga kamar. Namun yang satu adalah kamar pembantu. Satunya lagi kamar tamu. Mamaku bisa datang kapan saja tanpa pemberitahuan. Bagaimana jika ia menemukan kenyataan kalau kita pisah kamar? Selama ada di Swiss kita kan juga di kamar yang sama. Namun tak masalah denganmu. Kenapa sekarang jadi masalah?" tanya Reo sabar sambil menahan emosinya.
"Tapi di Swiss kan terpaksa karena sudah dipesan seperti itu. Lagi pula....." Edewina membuang tatapannya. Sungguh ia tak berani menatap wajah Reo. Tatapan mata pria itu sangat tajam kali ini.
"Kamu tetap tidur di kamar atas. Aku tak mau para pembantu membicarakan kita karena tidur di kamar yang terpisah. Dan asal kamu tahu ya, Wina, aku tak akan menyentuhmu, sebelum kamu yang memintanya."
Edewina terkejut mendengar perkataan Reo. "Aku yang memintanya? Mana mungkin itu terjadi?"
"Itu sangat mungkin, Edewina."
"Itu tak akan pernah terjadi." Edewina segera menaiki tangga dan meninggalkan Reo sendiri. Gadis itu terlihat kesal. Ia mencoba menemukan kamar yang dimaksud dan berhasil menemukannya. Sebuah kamar yang luas dengan ranjang yang sangat besar. Dan gadis itu tersenyum karena ada sofa besar di kamar ini.
Gadis itu pun membuka pintu lemari yang ternyata merupakan pintu walk in closet. Ia melihat semua pakaiannya memang sudah teratur rapi di sini. Ada juga beberapa pakaian yang sepertinya masih baru.
__ADS_1
Saat ia keluar, Reo sudah ada di dalam kamar. Pria itu sementara membuka kemeja biru yang dikenakannya membuat Edewina memalingkan wajahnya. Tubuh Ken memang cukup kekar dengan perut yang rata. Namun sebagai olahragawan, tentu saja tubuh Reo lebih kekar, padat dan berotot. Terutama perut sixpack nya yang sering ia pertontonkan ketika berselancar.
"Aku mau mandi. Sebentar lagi asisten rumah tangganya akan datang untuk menyiapkan makan malam." ujar Reo lalu melangkah ke kamar mandi.
Edewina menatap seluruh bagian kamar ini. Di bagian kanan ruangan ini, ada sebuah lemari buku yang sekaligus juga menjadi pembatas ruangan. Saat Edewina melangkah ke sana, teryata ada sebuah meja belajar. Laptop dan beberapa buku Edewina ada di sana. Meja belajar ini berdekatan dengan balkon.
Beberapa buku Edewina sudah teratur rapi di rak buku itu.
Tak lama kemudian, Reo sudah selesai mandi. Ia tersenyum melihat Edewina yang sedang memperhatikan rak bukunya.
"Kita kuliah di jurusan yang sama. Kamu bisa mengambil beberapa buku ku jika perlu."
Edewina tak menanggapi perkataan Reo. Ia masih kesal karena Reo memaksanya untuk tidur di kamar yang sama. Perempuan itu segera mengambil ponsel dan headset nya dari dalam tas. Ia mengambil satu bantal dari ranjang dan meletakkannya di atas sofa. Edewina menyetel lagu kesukaannya lalu meletakan headset itu di telinga. Ia pun memejamkan matanya.
Reo hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia tahu kalau Edewina sedang menunjukan sifat pembangkang nya. Reo akan sabar menghadapinya. Demi masa depan yang ingin dijalaninya bersama Edewina.
*************
"Selamat pagi nyonya. Perkenalkan saya Adeline. Kepala pelayan di sini."
Edewina yang baru turun dari lantai dua menatap seorang wanita berusia sekitar 40 tahun. Semalam, Edewina tak turun untuk makan malam makanya ia tak tahu dengan semua pembantu yang ada.
Gadis itu merasa lapar justru saat waktu sudah menunjukan pukul setengah tiga pagi. Ia bangun perlahan dan mencari makanan di dapur. Untungnya ada makanan yang tersisa dan hanya ia panas kan di microwave saja. Makanya pagi ia Edewina terlambat bangun karena ia tidur kembali saat jam sudah menunjukan pukul 5 pagi.
"Tuan sudah ke kantor sejak satu jam yang lalu. Nyonya mau sarapan apa?" tanya Adeline.
"Saya mau minum susu dan roti bakar saja. Lagi pula sebentar lagi sudah mau jam makan siang." ujar Edewina sedikit merasa geli sendiri karena sekarang sudah hampir jam 11 siang.
"Baiklah. Di dapur masih ada 2 pelayan lagi. Tugas mereka adalah membersihkan ruangan sedangkan yang satu mencuci dan menyetrika pakaian. Jam tugas mereka selesai jam 5 sore. Mereka akan kembali ke rumah mereka. Hanya saya yang tinggal di sini. Saya sudah lama bekerja di rumah keluarga Almond. Ayah saya dulunya adalah koki di rumah keluarga itu. Nyonya Riani menugaskan saya ke sini namun setiap Sabtu pagi, tuan mengijinkan saya pulang ke rumah. Katanya nanti kembali hari minggu sore."
Edewina hanya mengangguk saja. Ia duduk di ruang makan dan dua orang pelayan datang memperkenalkan diri mereka sebagai Rose dan Tulip. Edewina sebenarnya ingin tertawa saat tahu kalau mereka memiliki nama seperti nama bunga. Kedua pelayan ini berusia sekitar 30an.
Sementara sarapan, bel apartemen berbunyi. Rose yang pergi untuk melihat di monitor siapa yang datang. Akses masuk ke lantai atas ini memang tak sama dengan penghuni yang lain. Ada lift khusus yang langsung terhubung ke lantai tempat Edwina dan Reo tinggal. Dan mereka bisa membuka pintu lift dari layar monitor yang ada setelah melihat siapa yang datang.
"Nyonya Riani yang datang." ujar Rose.
Edewina merasakan jantungnya berdetak hebat. Ia akan berjumpa dengan wanita yang baik. Tak mungkin ia akan bersikap jutek.
"Sayang...., anakku. Mommy terkejut mendengar kalau kalian sudah datang. Padahal apartemen ini belum seratus persen selesai mommy siapkan." ujar Riani lalu memeluk Edewina dengan penuh kasih sayang.
"Tidak apa-apa, mommy. Ini sudah sangat indah." kata Edewina.
__ADS_1
"Reo kan sibuk. Sementara kamu sendiri masih libur. Jadi mommy datang untuk mengajak kamu belanja. Kita akan membeli beberapa bunga, dan keperluan dapur lainnya. Karena ini akan menjadi rumahmu bersama Reo, maka kau yang harus memilihnya." kata Riani.
"Kita akan pergi sekarang?"
"Ya. Atau kau...."
"Nyonya sementara sarapan." ujar Adelin membuat Riani mengerutkan dahinya.
"Sarapan? Di jam begini? Berarti kamu belum lama bangun? Oh...., mommy mengerti. Dasar Reo. Like father like son." Riani tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia pikir kalau Edewina bangun terlambat karena Reo membuatnya ada di ranjang sampai subuh seperti yang Jack lakukan padanya.
Sedangkan Edewina hanya bisa tersipu malu karena semua pelayan ikut tersenyum seolah membenarkan apa yang dipikirkan oleh Riani.
Edewina pun menghabiskan sarapannya lalu pergi bersama ibu mertuanya ke toko.
Mereka belanja banyak hari ini. Edewina mengakui kalau ibu mertuanya yang kini telah menjadi nyonya besar yang terkenal tetap sederhana. Keduanya pergi ke pasar tradisional untuk membeli beberapa bunga. Edewina jadi ingat dengan mommy Mahira yang juga sangat senang memelihara bunga.
Saat mereka pulang, Reo ternyata sudah ada.
"Tumben baru jam 3 sore sudah pulang." ujar Riani sedikit mencibir ke arah anaknya.
"Mommy, namanya juga pengantin baru. Iya kan sayang?" Reo dengan cepat mencium pipi Edewina membuat gadis itu sedikit terkejut dan melotot ke arah Reo.
"Jangan kaget, Wina. Reo itu kayaknya seperti Daddy nya. Mereka sangat posesif dengan apa yang dimilikinya sehingga sangat pencemburu. Mereka juga tak malu menunjukan rasa cintanya pada wanita yang mereka sayangi di depan banyak orang. Mereka akan menunjukan pada semua orang bahwa wanita yang dicintainya akan sangat mereka lindungi. Mommy bersyukur kalau Reo punya cinta yang besar untukmu. Caranya menatapmu dengan mata yang berbinar tak sepertinya caranya menatap mommy. Awalnya mommy sedikit cemburu karena perhatiannya pada mommy pasti akan berkurang. Namun mommy juga senang karena akhirnya dia menikah."Riani mendekati Edewina. Ia mengusap perut Edewina dengan sangat lembut. "Jangan tunda untuk memiliki anak ya? Mommy bersedia menjaganya dengan semua waktu yang mommy miliki jika Wina sibuk kuliah. Anak adalah anugerah Tuhan. Yang harus kita jaga dan kita syukuri kehadirannya."
Edewina sangat tersentuh dengan perkataan Riani. Ia yang sebenarnya berhati lembut berusaha menahan air matanya. Bagaimana jika mommy tahu kalau aku sudah keguguran?
"Sayang, kok menangis?" tanya Riani lalu menghapus air mata Edewina.
"Tidak, mataku...."
"Honey.....!" Reo yang memang berdiri di dekat Edewina langsung memeluk istrinya itu. Diperlakukan seperti itu tentu saja Edewina kaget dan mencubit perut Reo. Lelaki itu menahan sakit di perutnya dan terus memeluk Edewina.
"Ah, mommy tak sabar menunggu Edewina hamil." ujar Riani dengan mata yang berkaca-kaca juga.
**********
Duh, dapat mertua sebaik ini, apakah Edewina tak akan luluh?
semoga suka ya guys
jangan lupa dukung emak
__ADS_1
siapa tahu bisa up banyak 😄😄