
Cecilia berdiri di depan makam adik kembarnya Camila.
"Apa kabar Camila? Sudah sangat lama dan aku baru datang mengunjungimu!" Cecilia perlahan berjongkok sambil merapatkan jaket yang juga menutupi kepalanya.
Pagi ini salju tak turun dan ia memilih untuk datang berziarah ke tempat ini. Tak jauh dari sana ada makam kedua orang tuanya yang meninggal 5 tahun yang lalu.
"Kau pergi dan membuat aku tak bisa mendapatkan apa-apa. Aku bahkan tak bisa dekat dengan Cassie. Lalu apa yang harus aku lakukan?" tangis Cecilia pecah. Wanita yang masih terlihat cantik itu nampak sedih.
Setelah ia menaburkan bunga di atas makam adik kembarnya itu, ia pun berdiri.
"Apakah kita akan pulang sekarang, mommy?"
Cecilia menatap anak sambungnya. Pemuda tampan yang menyayanginya seperti mamanya sendiri.
"Kau sudah bosan menemani mommy ya?"
"Nggak. Aku justru takut kalau mommy kedinginan."
Cecilia melingkarkan tangannya di lengan putranya yang kokoh. "Ayo kita pergi!" ajak Cecilia.
Keduanya pun meninggalkan kompleks pemakaman lalu masuk ke dalam sebuah mobil Hammer hitam yang terparkir di tempat parkir.
Mobil itu menuju ke sebuah kompleks perumahan mewah di London. Hanya beda beberapa blok saja dari kediaman keluarga Almond.
Saat mobil itu melewati pekarangan rumah keluarga Almond, ia melihat ada aktifitas di sana.
"Ada apa di rumah itu?"
"Katanya Jack Almond dan Riani Almond akan datang ke rumah itu. Mereka akan menghabiskan malam natal di London."
"Mungkin sekarang mereka sedang berbahagia menanti kelahiran cucu mereka."
"Apakah cucu itu akan lahir, mom?"
Cecilia tertawa. "Entahlah."
Mereka pun memasuki sebuah pekarangan mansion yang sangat besar.
Seorang bodyguard langsung membuka pintu mobil saat mobil itu berhenti di lobby mansion.
Cecilia turun dengan anggunnya lalu ia memasuki pintu yang telah dibuka oleh salah satu pelayan.
"Good morning!" sapa Cecilia pada seorang pria berusia sekitar 60an. Walaupun sudah tua, namun garis ketampanannya masih nampak dan tatapannya yang tajam menunjukan siapa dia yang sebenarnya.
"I love you...!" ujar Cecilia sambil memeluk pria itu yang sedang berdiri di depan perapian.
Pria itu membalikan badannya. Wajah tampan keturunan Spanyol itu langsung mencium istrinya dengan sangat lembut. "Kau tidak kedinginan di luar sana, sayang?"
"Kalau pun dingin, aku selalu tahu kemana tempat untuk mendapatkan kehangatan."
"Apakah di hatimu sudah sepenuhnya milikku ataukah Jack Almond masih ada di sana?"
Cecilia melingkarkan tangannya di leher suaminya. "Jack hanya masa laluku, sayang. Aku hanya ingin membalaskan dendam atas kematian Camila yang tak wajar."
"Dan menantu Jack itu, apakah kau akan menghabisinya juga?"
Cecilia menatap putra sambungnya yang sedang berdiri tak jauh dari mereka. "Kalau soal itu, tanyakan saja pada anakmu. Aku hanya ingin membuat keturunan Almond tak ada penerusnya. Selebihnya, ku serahkan pada pria tampan itu." Cecilia mengecup bibir suaminya lalu segera meninggalkan ruang tamu dan menuju ke kamarnya yang ada di lantai 2.
**********
"Terima kasih atas partisipasinya di rapat ini. Semoga tahun depan perusahaan kita akan semakin maju. Selamat sore semuanya." Reo yang memimpin rapat pemegang saham hari ini. Rapat yang dilaksanakan setiap 3 bulan sekali. Seharusnya daddy Jack datang. Namun karena kondisi kesehatannya belum stabil sehingga Reo yang menangani semuanya.
__ADS_1
Saat menuju ke ruangannya, ponsel Reo berbunyi.
"Hallo sayang.....!" sapa Reo saat melihat kalau itu dari nomor istrinya.
"Kak Sen, masih lama ya rapatnya?"
"Sudah selesai, sayang. Sebentar lagi aku mau pulang. Kenapa memangnya?"
"Kangen....!"
Reo tersenyum senang mendengar suara manja Edewina. "Kangen sekali ya?"
"Bukan aku yang kangen, tapi dede bayinya."
Reo terkekeh. "Maminya memang nggak kangen?"
"Sedikit saja."
Lagi-lagi Reo tertawa. Mark yang berjalan di belakangnya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat bagaimana bucin nya sang tuan pada istrinya.
"Kalau begitu aku belum mau pulang."
"Kok gitu." Suara Edewina terdengar merajuk.
"Habis kangennya hanya sedikit."
"Mau kangen banyak juga nggak ada gunanya. Kakak pulangnya masih lama. Pada hal aku ingin memeluk dan mencium kakak saat ini."
"Kalau begitu, aku pulang ke rumah naik helikopter saja supaya tiba lebih cepat."
Kali ini Edewina yang tertawa. "Kak tolong belikan ikan asin di toko Asia ya? Pingin makan ikan asin."
"Oh..., jadi keberatan nih?"
"Nggak kok, sayang. Toko Asianya kan agak jauh jadi nanti aku tiba di rumah sudah malam. Bagaimana kalau aku minta Mark untuk membelikannya?"
"Nggak mau! Aku mau kakak yang belikan sendiri. Kalau nggak, aku mogok makan."
"Baiklah...., baiklah nona manis ku. Aku akan segera pergi." Reo membuka pintu ruangannya. Ia hanya akan mengambil tas kerjanya dan segera pergi.
"Mark, kamu tolong ada di sini sampai jam kantor selesai ya? Jangan lupa hubungi ketua mafia The Justice. Aku ingin bicara dengannya."
"Baik, tuan."
Reo pun segera meninggalkan ruangannya. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan istrinya.
Saat sampai di lobby kantor, seorang bodyguard mengambil mobil Reo. Pada saat itu, Reo melihat Indira yang sedang duduk di ruang tunggu sambil memegang perutnya. Wajah perempuan itu terlihat pucat.
"Indira, ada apa?" tanya Reo.
"Aku mau pulang tapi masih menunggu taxi. Dokter melarang aku untuk tak membawa kendaraan dulu."
"Perut kamu kram lagi?"
"Sedikit."
"Ya sudah, ayo aku antar."
"Tapi....!"
"Arah kita kan sama. Nggak akan banyak menyita waktuku."
__ADS_1
Indira pun mengangguk dan segera mengikuti langkah Reo.
Di kantor ini, tak ada lagi yang membicarakan tentang keberadaan Indira karena Mark sudah membungkam mulut mereka semua. Jika ada yang terdengar menggosipkan Indira maka mereka akan dipecat.
Reo dan Indira pun pergi dengan mobil Reo.
Sepanjang perjalanan keduanya tak banyak bicara.
Begitu tiba di depan pintu masuk apartemen, Reo menoleh ke arah Indira. Wajah perempuan itu nampak sangat pucat dan berkeringat.
"Indira...., kamu kenapa?"
"Nggak."
"Kamu sakit? Kita ke rumah sakit aja ya?"
"Tidak, Re." Indira buru-buru tersenyum. "Aku mungkin hanya kelelahan."
"Mulai besok, kamu tak boleh masuk kantor lagi sampai libur tahun baru selesai."
"Tapi, Re. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Nanti Mark yang akan mengerjakannya."
Indira hanya mengangguk lalu ia membuka seatbelt nya. "Terima kasih, Re." Ia pun turun. Reo perlahan menjalankan mobilnya. Namun dari kaca spion ia melihat kalau Indira terjatuh saat menaiki tangga. Pria itu langsung menghentikan mobilnya dan segera turun. Ia berlari dan mendapati Indira.
"Ra.....!" Reo langsung membantu Indira berdiri.
"Lantainya licin karena salju."
"Kamu bisa jalan?"
"Rasanya tak bisa, Re. Aku bahkan tak bisa menggerakkan tubuhku. Kakiku sakit." keluh Indira sambil memegang kakinya.
"Ayo ku antar kau sampai ke dalam." Reo dengan cepat langsung menggendong tubuh Indira dan melangkah masuk ke dalam lift.
***********
Edewina menjadi gelisah. Reo tak juga datang. Saat ia mengambil ponselnya untuk menelepon Reo, ia terkejut melihat ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ada foto yang dikirimkan padanya yaitu foto Reo yang sedang menggendong Indira memasuki apartemen wanita itu.
Hati Edewina merasa sakit karena terbakar api cemburu. Jadi sekarang dia ada bersama kak Indira? Kenapa dia tak meneleponku dan memberitahukan kalau dia ada di sana? Pasti...pasti karena kehamilan kak Indira. Oh...Wina, ternyata kamu belum bisa berbagi dengan Indira.
Edewina berjalan mondar mandir di ruang tamu. Namun, saat mengingat kehamilannya, ia pun duduk kembali. Tangannya masih memegang hp dan tak lama kemudian hp nya berbunyi. Ternyata itu adalah panggilan dari Reo.
"Hallo sayang." Sapa Reo dari seberang.
"Hallo, kak. Kamu ada di mana sekarang? Masih di kantor?" Edewina mau memancing kejujuran Reo.
"Nggak. Aku masih di apartemen Indira. Tadi aku mengantarnya dari kantor ke apartemen nya. Sesampai di sana ia terjatuh, jadi aku membantunya untuk masuk ke unitnya. Sayang, aku masih menunggu dokter. Aku akan tetap ke toko Asia jika urusan di sini selesai."
"Nggak perlu, kak. Besok saja. Lagi pula aku sekarang sudah kenyang. Aku justru merasa ingin tidur. Bye...." Edewina merasakan jantungnya berdetak hebat. Reo ada di sana. Akankah Reo mendua?
Hanya itu yang sangat Edewina takuti.
*********
Maaf ya hari ini terlambat up
semoga suka ya....
salam sayang utk semuanya
__ADS_1