MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Malam Yang Panas


__ADS_3

Selesai menggosok gigi dan mencuci wajahnya, Edewina pun keluar dari kamar mandi. Ia menggenakan gaun tidur yang sudah disiapkan Reo untuknya. Sebenarnya tak terlalu seksi namun Edewina masih memakai kimono karena sesungguhnya ia merasa malu.


Reo masih ada di luar. Beberapa jam yang lalu mereka baru selesai makan malam dan Reo harus mengurus pekerjaan bersama Mark sehingga sekarang mereka ada di ruang kerjanya.


Malam ini Mereka akhir nya akan tidur di rumah mungil yang sangat Edewina Sukai. Mengingatkan gadis itu akan rumah di desa milik keluarga Almond. Walaupun di sini letaknya di kota namun karena area ini baru di buka sehingga tak padat penduduk. Reo bahkan sudah membeli tanah yang ada di samping kiri dan kanan rumah ini sehingga jika akan semakin banyak orang yang membeli tanah di sekitar sini, rumah ini nantinya akan lebih aman.


Pintu kamar terbuka. Nampak Reo masuk sambil membuka kancing kemejanya.


"Mark sudah pulang?" tanya Edewina.


"Iya, sayang. Aku nggak mau membuat Mark lebih lama di sini. Dia sepertinya punya kencan."


"Oh ya? Aku tak pernah melihat Mark bersikap manis pada gadis manapun. Dia itu terlihat cuek, dingin. Sahabatku Sinta bahkan penasaran dengan Mark."


Reo hanya bisa mengangkat kedua bahunya. "Itulah Mark. Dia hanya mengatakan kalau dia tak percaya dengan pernikahan makanya ia tak mau menikah. Kedua adiknya sudah menikah dan memiliki keluarga mereka masing-masing." Reo melepaskan kemeja dari tubuhnya, menyisahkan singlet putih yang membungkus tubuh atletis Reo.


Edewina merasakan pipinya panas. Ia yang sementara duduk di depan meja riasnya, secara jelas dapat melihat melalui pantulan kaca kalau Reo sementara melepaskan sabuk, kemudian menurunkan celana panjang hitamnya.


"Sayang, aku mandi dulu ya?" ujar Reo.


"Kak, ini sudah jam 10 malam. Sekarang kan sudah memasuki musim dingin. Masa mau mandi jam segini?" tanya Edewina. Mau tak mau ia harus membalikan badannya dan menatap suaminya itu.


"Kan pakai air panas. Lagi pula, aku beraktifitas dari pagi, sayang. Tadi sore juga sempat joging bersama Mark. Masa sih nggak mandi?"


"Kamu nggak bau, kak."


Reo tersenyum nakal sambil menatap istrinya. "Tapi aku mau tambah bersih. Ini kan malam kedua kita." Lalu lelaki itu masuk ke dalam kamar mandi.


Edewina merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Ia tak bisa membayangkan apa yang terjadi malam ini.


Tak lama Reo ada di dalam kamar mandi. Pria itu keluar hanya menggunakan handuk yang melilit perut sixpack nya.


Edewina yang sedang duduk di tepi ranjang, langsung merasa semakin gugup.


Reo berjalan mendekati istrinya. Ia kemudian berdiri di depan sang istri sambil menatap wajah Edewina yang nampak merona.


"Kamu gugup ya?" tanya Reo sambil membungkukkan badannya kemudian menyentuh wajah istrinya.


Tangan Reo terasa dingin dan membuat Edewina memejamkan matanya sebentar. Kepalanya mengangguk perlahan karena memang ia merasa sangat gugup.


Reo ikut duduk di samping istrinya. Ia meraih tangan Kanan Edewina dan menggenggamnya erat. "Sayang, apa yang membuatmu gugup?"


"A...akankah se...sakit yang pertama?" tanya Edewina.


Reo tersenyum. Ia membelai pipi istrinya. "Mungkin karena sesudah yang pertama, kita bertengkar hebat, sampai akhirnya kamu sudah melupakan rasa nikmat yang membuatmu memeluk aku sangat erat setelah rasa sakit itu hilang. Namun, kata orang, yang kedua nggak akan sama dengan yang pertama. Malahan semakin nikmat rasanya. Jadi, hilangkan ketakutanmu itu ya? Aku ingin malam ini menjadi sangat indah untuk kita berdua." Reo mengahiri kalimatnya. Ia menatap wajah Edewina dengan sangat lembut lalu perlahan mencium bibir istrinya, menyesapnya secara lembut sambil tangannya menarik tali kimono Edewina dan menarik kimono itu agar lepas dari tubuh Edewina.


Edewina memejamkan matanya. Ia membalas ciuman Reo. Tangannya secara perlahan memeluk pinggang suaminya dan perempuan itu merasakan kalau tubuhnya sedikit melayang. Rupanya, Reo mengangkat dia dan mendudukan Edewina ke atas pangkuannya.


Ciuman diantara mereka menjadi semakin panas, apalagi saat Reo perlahan menarik tali gaun tidur Edewina.

__ADS_1


Perempuan itu membiarkan suaminya melepaskan gaun itu lalu perlahan membalikan tubuh Edewina yang ada di pangkuan Reo di atas ranjang. Handuk yang melilit di tubuh Reo, ditarik olehnya dan dilemparkannya ke secara sembarangan. Keduanya siap melewati malam penuh cinta ini.


***********


Tangan Edewina sementara mengoles margarin di atas roti. Namun pikirannya melayang kembali ke malam indah yang baru saja dilewatinya bersama Reo.


Tanpa sadar Edewina mengigit bibir bawahnya. Bibirnya mengukir senyum indah ketika bayangan tentang indahnya percintaan mereka semalam melintas lagi di kepalanya. Reo begitu lembut menyentuh semua bagian tubuhnya namun saat penyatuan mereka, suaminya itu begitu perkasa dan membuat Edewina mencapai puncaknya sampai beberapa kali.


Percintaan yang lama dan tetap membara walaupun mereka telah melakukannya sebanyak 3 ronde.


Hati Edewina bahagia mengingat momen penuh sensasi rasa yang membuatnya tanpa sadar meneriaki nama suaminya beberapa kali.


"Baby.....!"Reo tiba-tiba saja sudah ada di belakang Edewina, memeluk istrinya dengan posesif dan mencium tengkuk Edewina yang memang terekspos karena rambutnya digulung ke atas.


Darah Edewina langsung berdesir. "Kak, aku mau buat sarapan."


Reo terus menciumi bagian belakang leher Edewina membuat istrinya itu langsung berbalik dan melotot ke arah suaminya. Di tangan kanannya ada pisau kecil yang dipakainya mengoleskan margarin.


Mendapatkan tatapan itu, Reo justru terkekeh. Ia mengambil pisau dari tangan istrinya lalu dengan tak terduga mencium bibir Edewina dengan keras dan penuh gairah.


Edewina terkejut atas serangan suaminya itu namun ia tak menolak karena tubuhnya seakan menanti kan itu. Tangan Reo dengan cepat mengusap paha istrinya dan perlahan naik menyingkapkan gaun tidur yang dikenakan istrinya itu.


"Kak.....!" Edewina menjadi panik saat tahu kalau suaminya mau apa. Namun ia tak mampu bicara saat Reo sudah kembali membuainya dengan sentuhan dan ciuman yang menghentar gadis itu untuk kembali merasakan kenikmatan surgawi lewat penyatuan raga di pagi hari.


Dapur itu menjadi saksi bagaimana pasangan itu bagaikan tak kehilangan energi. Mereka saling memuaskan. Edewina belajar dengan cepat saat Reo mengajaknya bercinta dengan berbagai posisi.


**********


"Sayang, hati-hati. Nanti kamu jatuh." kata Reo sambil ikutan turun dan segera memutar langkahnya untuk mendekati istrinya.


"Aku sudah terlambat hampir 15 menit, kak." keluh Edewina sambil merapikan rambutnya sebentar.


Reo segera mencium pipi istrinya. "Tenang saja. Kita kan baru saja melalui pagi yang manis."


Senyum menghiasi wajah cantik Edewina. "Aku masuk kelas dulu ya?"


"Jam berapa ke tempat proyek?"


"Hari ini dan besok aku off."


"Kalau begitu, kita ke Manchester yuk! Buat kejutan untuk mommy. Besok nggak kuliah kan?"


"Boleh. Aku pergi dulu ya, kak."


"Eh....!" Reo menahan tangan Edewina. "Cium dulu dong." ujar Reo sambil manyum.


"Ih kakak....!" Edewina melotot namun ia mencium suaminya juga.


"Sampai jumpa nanti sore, sayang..." ujar Reo lalu segera masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Edewina sedikit berlari melewati pelataran parkir.


"Eh....Win....!"


Edewina menghentikan langkahnya. "Ken?"


"Mau kemana buru-buru?"


"Aku sudah terlambat di jam pertamaku."


Ken tersenyum. "Dosennya nggak masuk. Tuh Clara dan Sinta ada di cafe. Kita ke sana yuk!"


"Beneran?"


"Masa sih aku bohong. Ayo!"


Edewina mengikuti langkah Clara dan Sinta.


"Wah...wah....selama hampir 3 tahun aku kuliah di sini, baru kali ini aku melihat si nona jenius datang terlambat." ujar Clara diikuti anggukan kepala Sinta.


Edewina duduk bersebelahan dengan Ken sambil menatap kedua sahabatnya. "Untungnya dosen kita nggak masuk."


"Betapa beruntungnya kamu, cantik." kali ini Sinta yang bicara.


Edewina mengibaskan tangannya di depan wajahnya. Walaupun cuaca agak dingin namun ia merasa sedikit gerah karena tadi sempat tegang karena menyangka kalau ia terlambat kuliah.


Mata Clara langsung bersinar saat melihat ada tanda merah di leher Edewina yang terlihat saat gadis itu tanpa sengaja mengangkat rambutnya.


Clara langsung membisikan sesuatu pada Sinta dan mereka berdua pun tak sabar menggoda temannya.


"Hemmmm, pantas saja terlambat. Sepertinya nona cantik kita baru saja melewati malam yang panas." kata Sinta sambil menunjuk leher Edewina.


Wajah Edewina langsung merah. Ia terlihat salah tingkah. Namun Ken yang duduk di sampingnya, justru menepuk bahunya.


"Nikmati saja kebahagiaan mu, Win. Yang melihat nggak boleh sirik." perkataan Ken membuat Edewina merasa lega. Ia yakin kalau Ken kini sudah move on dari hubungan masa lalu mereka. Sinta dan Clara pun hanya bisa terkekeh. Keempat sahabat itu lalu menikmati kopi pesanan mereka sambil bercanda seperti dulu.


***********


Mata elang yang tajam itu menatap layar ponselnya dan melihat adegan romantis dari pasangan Edewina dan Reo di dapur pagi ini. Senyumnya terlihat sinis.


"Berbahagialah kalian..., sebentar lagi semuanya akan menjadi lautan darah."


**********


Ih....serem.....


mau yang horor atau action saja?


Hallo semua......

__ADS_1


semoga tetap suka dengan kisah ini ya?


__ADS_2