MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Lamaran


__ADS_3

"Aku tahu kalau Reo juga salah karena tak bisa menahan diri untuk menyentuh Edewina. Karena itu sebagai papanya, saya datang untuk melamar Edewina. Reo ingin bertanggungjawab dengan semua yang telah dilakukannya pada anak kalian." Ujar Jack saat keesokan harinya mereka datang ke apartemen Edewina.


Mahira dan Edmond saling berpandangan. Mereka sebenarnya tak ingin memaksa Edewina dalam menentukan pilihan hatinya. Namun pengalaman Mahira di masa lalu tak ingin diulanginya lagi. Bagaimana kalau Edewina benar hamil?


Reo terlihat baik. Sebagaimana juga yang dikatakan oleh Teddy. Pria itu juga mengaku sudah lama mencintai Edewina namun ia tak pernah menyatakan perasaannya karena Edewina sudah pacaran dengan Ken.


"Kami....."


Bel pintu apartemen berbunyi. Mahira yang membuka pintu. Ia terkejut melihat siapa yang datang.


"Papa?"


Edriges, ayahnya Edmond datang. Pria itu kini duduk di kursi roda karena ia mengalami stroke beberapa bulan yang lalu.


Edriges di dorong masuk oleh perawatnya yang bernama Tobby. Ia adalah perawat asal Spanyol. Pria berusia 30 tahun yang disewa khusus oleh Edmond untuk mengurus papanya.


"Ada apa ini? Siapa mereka?" tanya Edriges lalu turun dari kursi rodanya. Ia memang masih bisa berjalan kalau jaraknya pendek.


"Mereka keluarga Almond, pa. Mereka datang ingin melamar Edewina." kata Edmond.


"Oh...akhirnya Tuhan mendengarkan doaku. Sudah lama aku ingin melihat cucuku itu menikah. Tapi, bukankah Edewina masih 19 tahun? Dan dia kan sangat mencintai pendidikannya?" Edriges mengerutkan dahinya.


"Begini, pa." Edmond bingung harus bagaimana menjelaskannya.


"Edewina dapat meneruskan kuliahnya jika kami sudah menikah. Saya tidak akan pernah melarang Edewina untuk kuliah. Hanya saja, aku ingin segera meresmikan hubungan kami karena aku sangat mencintai Wina dan aku tak mau Wina sampai diambil oleh orang lain. Wina kan cantik, pintar dan sangat terkenal di kampus. Dia menjadi incaran banyak pria." Reo akhirnya memberanikan diri untuk bicara.


"Waw, kamu pria yang posesif juga ya? Aku suka itu. Tapi, setahuku pacar Wina orang Korea." Edriges kembali berpikir.


"Mereka sudah lama putus, pa." Ujar Mahira.


Edriges menatap Reo. "Kamu nggak akan pernah menyakiti cucu saya kan?"


"Bagaimana mungkin saya menyakiti wanita yang sangat saya cintai?"


Edriges tersenyum. "Panggilkan Edewina. Mengapa ia tak ada di sini?"


Mahira menuju ke kamar putrinya.


"Opa ada di luar. Dan kami tak memberitahukan masalah yang terjadi padamu. Opa terlanjur melihat Reo dan keluarganya."


"Apa?"


Edewina terkejut. Ia segera menyisir rambutnya dan mencuci mukanya lalu segera keluar kamar.


"Wina sayang, kenapa berdiam diri saja di kamar? Bukankah calon suamimu ada di sini?"


"Eh, aku...."

__ADS_1


"Wina sayang. Opa ini sudah sakit-sakitan. Hal terakhir yang ingin opa lihat adalah kau akan menikah. Opa tahu kalau kamu masih muda. Masih ingin kuliah. Tapi menikah muda kan nggak apa-apa. Nanti kalau kamu sudah punya anak, opa akan datang ke sini dan menjaga cicit opa supaya kamu tak kesulitan membagi waktu antara kuliah dan mengurus anak."


Edewina menatap wajah opanya yang nampak bahagia. Haruskah ia memudarkan cahaya di mata opanya itu? Edewina sangat menyayangi opa Edriges. Sejak kecil bahkan ia sering tidur di samping opanya. Apalagi saat sang Oma sudah meninggal. Bagaimana mungkin Edewina membuatnya kecewa?


Edriges mendekati cucunya. Memegang tangan Wina dan membelainya dengan lembut.


"Opa yakin kamu pasti bisa sayang." Ia lalu menatap Reo. "Jadi anak muda, kapan rencananya kau ingin menikahi cucu ku?"


"Secepat mungkin. Kalau bisa akhir bulan ini." ujar Reo membuat Edewina terkejut.


"I..itu terlalu cepat. Berarti tinggal 3 minggu lagi?" tanya Edewina.


Mahira akan protes juga namun saat mengingat bahwa kemungkinan Edewina hamil, ia pun langsung mengangguk setuju. "Mami pikir akhir bulan adalah waktu terbaik."


"Anak muda, uangmu banyak kan untuk menyiapkan pernikahan dalam jangka waktu 3 minggu? Kau akan menikahi putri kesayangan keluarga Moreno. Kalau kau tak punya uang, aku tak mau menyerahkan cucuku padamu." ujar Edriges membuat Jack hampir tertawa karena si kakek tua ini rupanya tak mengenal keluarga Almond.


"Aku siap." ujar Reo. Membeli mobil seharga 6 M saja untuk Edewina aku bisa, apalagi mempersiapkan pernikahan kami?


Jack dan Reo pun pamit pulang dan mengundang keluarga Moreno untuk makan malam bersama di rumah milik keluarga Almond yang ada di luar kota London. Itu adalah rumah musim panas keluarga Almond. Jaraknya hanya sekitar 40 menit dari apartemen Edewina.


"Bagus juga mendatangkan opa Edewina ke sini, dad. Tapi bagaimana daddy bisa tahu kalau opa Edriges sangat berpengaruh pada Edewina?" tanya Reo dalam perjalanan pulang.


"Daddy sebenarnya pernah bekerja sama dengan perusahaan Moreno yang ada di Spanyol yang kini dikelolah oleh adik Edmond. Waktu itu Edriges masih sehat dan dia selalu menceritakan tentang cucunya itu. Semenjak kamu mengatakan jatuh cinta pada Edewina, daddy sebenarnya menyelidiki tentang gadis itu tanpa sepengetahuan mu. Dan Daddy tahu bagaimana besarnya pengaruh sang opa bagi Edewina. Makanya, Daddy mengirim kabar pada Edriges bahwa Edewina akan menikah dan tentu saja dia langsung datang. Walaupun aktingnya tadi benar-benar bagus karena dia seolah-olah tak tahu apa yang terjadi."


"Thanks, dad."


"Lalu, bagaimana kita akan mengatakannya pada mommy?"


"Jangan katakan masalah kau yang dengan sengaja meniduri Edewina untuk membuatnya menikah denganmu. Katakan saja kalau kau berhasil memikat dia. Karena jika Riani Almond tahu kau melakukan trik licik, dia yang pertama akan membebaskan Edewina dari pernikahan ini."


Reo tertawa. Tentu saja ia tahu bagaimana sifat mamanya itu.


**********


"A...pa? Kamu akan menikah akhir bulan ini? Siapa perempuan itu? Kenapa mommy tak pernah tahu?" tanya Riani terkejut saat mendengar pengakuan anaknya.


"Mom, tenang dulu. Ayo duduk." Reo mengajak mamanya duduk.


Riani menatap Jack. "Kamu pasti sudah tahu rencana ini kan Jack? Dan kamu menyembunyikan dariku?"


"Dengarkan dulu sayang ..." Jack menatap istrinya mesra. "Reo meminta aku untuk menemaninya melamar gadis itu. Dia memastikan dulu apakah gadis itu akan menerimanya atau tidak. Karena gadis itu baru berusia 19 tahun."


Riani terkejut. "Reo, apakah itu tak terlalu muda bagimu?"


"Mommy sama daddy saja bedanya hampir 9 tahun. Samalah kayak aku dan Edewina." Kata Reo.


"Edewina? Di mana mommy pernah mendengar nama itu? Edewina? Oh, bukankah itu nama gadis yang pernah kau sebutkan saat kau sakit demam waktu itu? Dia itu yang mamanya orang Indonesia kan? Memangnya kalian sudah pacaran?" Riani jadi penasaran.

__ADS_1


"Mom, tenang dulu." Reo meraih tangan Riani dan menggenggamnya erat. "Aku pernah cerita ke mommy kan kalau aku pernah suka pada seorang gadis kecil yang kutemui di pesawat. Dialah gadis itu."


"Reo, itu kan sudah sangat lama? Mommy kan bilang rasa cinta itu nggak boleh jadi obsesi. Itu nggak baik. Apakah kamu memaksanya untuk menikah denganmu? Apakah kamu menggunakan kekerasan jaringan mafia mu itu? Kamu sudah berhenti berhubungan dengan mereka kan?" Riani melotot ke arah anaknya.


"Mommy, aku nggak menggunakan kekerasan. Gadis itu berasal dari keluarga baik-baik. Keluarganya juga sudah setuju. Aku ingin cepat menikah dengannya karena aku takut dia akan berubah pikiran. Dia cantik, pintar dan terkenal di kampusnya. Mommy tahu kan pasti banyak pria yang mengincarnya."


"Memangnya dia mau sama kamu yang sudah tua?"


"Mommy, siapa bilang aku sudah tua? Berarti mommy mau juga dong sama daddy yang sudah tua."


Riani menatap Jack. "Kami menikah saat mommy berusia 25 tahun. Kami sudah sama-sama dewasa."


"Tetap saja bedanya 9 tahun."


Jack menatap Riani mesra. "Namanya juga cinta. Iya kan sayang? Nggak memandang usia."


"Duh, jangan cerita tentang daddy dan mommy dulu. Sekarang masalah aku. Mommy mau kan menyambut mereka besok? Masakan masakan Indonesia agar mereka tahu bahwa nuansa Indonesia juga ada di rumah kita ini. Selanjutnya kita akan mempersiapkan pernikahannya akhir bulan ini." kata Reo sambil tersenyum.


"Akhir bulan ini? Reo, kenapa begitu cepat? Gadis itu tak hamil kan?" Riani menatap anaknya penuh selidik.


"Mommy, orang tuanya ada di sini. Mommy kan tahu ada ijin tinggalnya. Makanya harus dibuat secepat mungkin."


Riani mengangguk. Namun tiba-tiba wajahnya berubah sedih.


"Ada apa, mom?" tanya Reo.


"Bagaimana dengan Indira? Gadis itu pasti sedih saat tahu kamu akan menikah dengan orang lain. Mommy merasa kalau sebenarnya dia mencintai kamu, nak." Kata Riani sedih.


"Kami hanya berteman, mom. Berteman. Sekarang, aku mau ke kantor dulu ya? Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan." Pamit Reo.


*********


Selesai rapat, Reo meminta agar Mark menyiapkan kopi untuknya. Ia merasa lelah hati ini.


"Tuan, ada tamu yang sedang menunggu anda." kata Bianca, sekertaris Reo.


"Siapa?"


"Aku!"


Reo membalikan badannya. "Edewina?" Pria itu langsung tersenyum senang. "Ayo masuk ke ruangan ku. Oh ya Bianca, aku tak ingin menerima telepon, tamu atau gangguan apapun juga. Ok?" ujar Reo sebelum membuka pintu ruangannya.


*********


Ada apa Edewina menemui Reo?


Dukung emak terus ya guys

__ADS_1


__ADS_2