
Indira membuka pintu ruangan Reo saat dilihatnya Mark masih duduk di ruang tunggu sambil memainkan ponselnya.
"Re, kamu belum pulang? Ini sudah hampir jam 11 malam."
Reo menatap sahabatnya itu. "Bosan pulang ke rumah. Sepi."
"Kan ada mommy Riani."
"Daddy juga masih ada. Namun setiap saat aku hanya melihat kebucinan daddy yang selalu membujuk mommy agar memaafkannya. Pada hal umur daddy sudah berapa? 60 lebih."
Indira tertawa. "Seharusnya kamu bahagia melihat orang tuamu yang masih terus saling menyayangi. Nah, aku? Sekarang aku tak punya mereka lagi. Kedua kakakku sudah menikah. Satu tinggal di Indonesia dan satunya lagi tinggal di Amerika. Opa dan Oma pun sudah tak ada. Kadang aku iri melihat kamu yang masih memiliki orang tua lengkap. Apalagi jika pulang ke Indonesia masih ada kakek dan nenekmu."
"Aku yang nggak tahu bersyukur ya?"
Indira duduk di hadapan Reo. "Kangen Wina kan?"
"Sangat kangen."
"Kenapa nggak menemui dia?"
"Di larang oleh mommy. Lagi pula Edewina sendiri seakan lebih senang menjalani hari-harinya tanpa ada aku."
"Dari mana kamu tahu? Kamu kan sudah menarik semua bodyguard mu yang bekerja untuknya."
"Aku juga mengawasinya. Beberapa kali ke kampusnya dan melihat Edewina tertawa bahagia bersama teman-temannya dan juga Ken."
"Orang yang tertawa belum tentu ia bahagia."
Reo menggelengkan kepalanya. "Aku pusing, Ra. Aku ada di suatu titik yang mendorong diriku untuk menyerah."
"Setelah kamu mendapatkan dirinya secara utuh?"
"Justru itu yang lebih menyakitkan. 10 tahun menunggu dalam ketidakpastian tapi tak membuat diriku menyerah. Kini, setelah aku berhasil memilikinya, setelah aku berhasil mencicipi manisnya hubungan intim diantara kami, namun harus dipisahkan seperti ini, rasanya seperti membunuh aku secara perlahan. Seharusnya aku memang tak menjebak dia malam itu. Seharunya aku katakan saja kalau dia dan Ken bersaudara. Seharusnya aku berjuang secara benar untuk bisa memenangkan hatinya. Ah, Ra. Aku sungguh tersiksa dengan keadaan. Aku suaminya namun tak bisa bersamanya."
Hati Indira sakit saat melihat lelaki yang dicintainya tak bahagia. Ah, Reo, andaikan aku bisa membuatmu bahagia. Andaikan aku bisa menggantikan kedudukan Edewina di hatimu. Namun rasanya itu tak mungkin.
"Kamu sudah makan?" tanya Indira.
Reo menggeleng. "Nggak ada selera makan."
"Harus makan dong. Ayo kita cari makan malam. Aku lapar banget, nih. Mark juga kelihatannya sangat lapar."
Sebenarnya Reo tak mau makan. Namun ia tak mau mengecewakan Indira. Lagi pula, ia tahu Mark pasti juga kelaparan. Karena pria itu tak akan makan kalau Reo juga tak makan. Akhirnya mereka bertiga pun pergi ke restoran yang biasa mereka kunjungi.
Sementara makan, perhatian mereka dialihkan pada sekelompok anak muda yang baru saja masuk. Reo terkejut saat menyadari kalau itu adalah Edewina dan kawan-kawannya. Tentu saja di sana ada Ken.
__ADS_1
Sepertinya, Clara ulang tahun. Mereka membawa kue tart dan menyanyikan selamat ulang tahun untuk gadis asal Indonesia itu.
Reo melihat bagaimana bahagianya Edewina tertawa diantara teman-temannya. Walaupun sikap Ken dan Edewina terlihat biasa saja, namun tetap saja Reo merasa cemburu. Ia rindu namun takut mendekat ke sana karena pesan mommy Riani dan juga keinginan Edewina sendiri untuk tak bertemu dengan Reo.
Mark dan Indira saling berpandangan. Tujuan mereka datang ke sini agar Reo dapat makan dan melupakan beban hatinya sejenak, namun ternyata Reo bertemu dengan sumber kegalauan hatinya. Dan tentu saja makanan yang sudah setengah dimakan oleh Reo tak dapat dia habiskan karena matanya kini hanya tertuju pada Edewina dan teman-temannya.
"Re, masih ingin di sini atau mau pulang?" tanya Indira ketika ia dan Mark sudah menghabiskan makanannya.
"Aku ke toilet dulu sebentar." Reo merasa perlu mencuci wajahnya untuk mengusir keinginan hatinya yang ingin berjumpa dengan Edewina.
"Wah, akhirnya makanan kita tiba." Ujar Sinta sambil menyingkirkan semua tas mereka yang ada di atas meja.
"Aku ke toilet dulu ya?" ujar Edewina karena tangannya kotor terkena cream dari tart yang tadi dipegangnya.
Saat Edewina memasuki lorong untuk menuju ke toilet, ia berpapasan dengan Reo. Gadis itu terkejut. Tak menyangka akan ketemu dengan Reo di sini. Reo sendiri pun terkejut karena Edewina kini berdiri di hadapannya.
Keduanya terpaku di tempat mereka berdiri masing-masing. Mata saling tatap dan jantung yang sama-sama berdebar. Satu minggu sudah Edewina tak bertemu dan melihat Reo walaupun tanpa gadis itu ketahui, Reo selalu melihatnya walau hanya dari jauh.
"Maafkan aku, Win." Reo tak bisa menahan dirinya lagi. Ia langsung memeluk Edewina dengan sejuta kerinduan yang ia miliki untuk gadis itu lalu setelah puas memeluknya, ia mencium dahi Edewina dan langsung pergi meninggalkan istrinya itu begitu saja. Reo takut mendengar protes atau kemarahan Wina karena sudah melanggar janji yang sudah dibuatnya dengan sangat terpaksa untuk tak menemui Edewina selama 1 bulan ini.
Sedangkan Edewina masih seperti orang linglung. Ia tak menyangka kalau Reo akan memeluk dan menciumnya. Walaupun hanya sebentar, namun ada sesuatu yang mengusik hati kecilnya. Edewina tak tahu apakah itu. Yang pasti, semenjak bibi Adeline menceritakan tentang Reo yang ternyata sudah 10 tahun ini mencintainya, ada sesuatu yang membuat Edewina gelisah setiap kali mengingat pria yang masih menjadi suaminya itu. Namun, rasa sakit hatinya, karena sudah dibohongi Reo, menekan perasaan lain yang mulai muncul itu dan membuat Edewina selalu meyakinkan dirinya bahwa ia tak akan pernah jatuh cinta pada lelaki yang telah tidur dengannya.
"Ayo kita pulang!" ajak Reo begitu tiba di meja mereka. Indira dan Mark saling berpandangan. Mereka tak mengerti apa yang terjadi namun mereka mengikuti langkah Reo.
Indira pulang ke apartemennya dengan menaiki mobilnya, sedangkan Reo dan Mark pulang ke rumah mereka.
"Oh ya? Saya tadi tak melihat kalau nyonya ke toilet. Terus apa yang terjadi."
"Aku peluk saja dia dan mencium dahinya. Setelah itu aku pergi."
"Terus nyonya bilang apa?"
"Mana aku tahu dia bilang apa? Aku langsung pergi begitu saja."
"Tuan, seharusnya kalian saling bicara. Kan ketemunya nggak disengaja. Aku tahu kalau tuan sangat merindukan nyonya. Mungkin saja nyonya juga merindukan tuan."
"Dia hanya menatapku tanpa ekspresi."
"Wanita suka melakukan apa yang tak diinginkan hatinya."
Reo melirik Mark yang sedang membawa mobil. "Tahu dari mana kamu tentang wanita?"
Mark tersenyum samar. "Aku kan punya kehidupan pribadi juga, tuan. Walaupun memang tak seperti pria lain pada umumnya karena waktuku banyak bersama tuan. Aku mengenal beberapa tipe wanita. Namun kebanyakan wanita itu, lain yang diucapkan dan lain yang hatinya inginkan."
"Benarkah? Aku berharap agar Edewina juga merasakan hal yang sama. Bagaimana pun, saat pertama aku menyentuhnya, ia begitu lembut, pasrah namun sangat menikmati. Aku dapat merasakan itu. Tak mungkin kalau Wina tak menggunakan perasaan saat kami saling bersentuhan."
__ADS_1
"Nyonya Wina tipe wanita yang menjemput bola."
"Maksudnya?"
"Dia tak akan memulai sebelum tuan yang beraksi lebih dulu."
"Oh ya?"
"Buat acara kejutan. Bukankah 3 minggu lagi nyonya akan ulang tahun? Itu juga kan berarti masa satu bulan hukuman dari mommy Riani sudah selesai. Mengapa tuan tak buat sesuatu yang spesial?"
Reo tersenyum mengangguk. "Rasanya, aku tahu kemana harus membawa Edewina pergi." Reo tersenyum senang. Ada harapan besar dalam dirinya untuk mendapatkan kepercayaan Edewina lagi.
***********
"Aku lulus?" tanya Edewina saat Ken datang dan memberitahukan hasil tes itu.
"Iya. Memangnya kamu belum baca pengumumannya di Internet?"
"Belum, sih. Soalnya dari tadi aku sibuk dengan tugas kuliah yang sangat banyak. Makanya hampir seharian aku duduk di perpustakaan. Badanku sampai kaku semua." Edewina langsung membuka ponselnya. Ia terkejut melihat namanya ada di urutan ke-3 dari 10 mahasiswa yang terpilih sebagai pemenangnya.
"Astaga, Ken. Aku menang. Terima kasih sudah memberikan aku motivasi untuk bisa menang."
Tanpa sadar Edewina memeluk Ken. Namun ia segera melepaskan pelukan itu saat menyadari statusnya sebagai istri orang.
"Besok kalian harus segera menghadap pihak kontraktor. Kalau nggak salah pertemuannya sekitar jam 2 siang."
"Baguslah. Aku kan selesai kuliah besok jam 1 siang. Tak sabar rasanya menunggu besok."
Ponsel Edewina berbunyi. Pesan dari Reo. Ia pun membukanya.
Sayang, masa hukuman aku selama sebulan tak bisa ketemu denganmu telah berakhir hari ini kan? Besok aku ingin kita bertemu. Aku tunggu di tempat ini.
Reo mengirimkan suatu lokasi yang Edewina tahu tak jauh dari sini. Ia akan datang ke sana begitu pertemuannya selesai. Ia takut jika mommy Riani ada dan ia tak pergi ke tempat itu.
"Ada apa?" tanya Ken.
"Kak Sen ajak ketemu besok. Nanti saja selesai aku ketemu dengan pihak kontraktor."
"Memangnya kalian sudah bisa ketemu?"
"Hari ini sebenarnya masa hukuman kami sudah selesai."
"Oh....gitu ya." Ken tersenyum walaupun sebenarnya hatinya sakit.
********
__ADS_1
Dapatkah Reo memenangkan kembali hati Edewina?
Dukung emak terus ya guys