
Ambulance datang tak lama kemudian. Reo ikut masuk ke dalam ambulance sedangkan Mark membawa mobil Reo. Kedua bodyguard diminta tetap berjaga di rumah.
Sepanjang jalan Edewina berusaha tak menangis. Ia memegang perutnya sambil terus berkata dalam hatinya. Yang kuat ya, nak. Jangan lepas dari perut mami.
Reo pun terus berdoa dalam hatinya agar Edewina dan bayinya selamat.
Mereka pun tiba di rumah sakit. Para perawat langsung bergerak cepat dan mendorong Edewina ke dalam ruang pemeriksaan. Reo tak diijinkan masuk.
Namun tak sampai sepuluh menit, dokter Hardi langsung memanggil Reo.
"Maaf, tuan. Darah ini bukan berasal dari dalam tubuh istri anda. Sepertinya darah ini dengan sengaja ditumpahkan ke atas tubuh nyonya agar terlihat seperti pendarahan."
"Apa?" Reo terkejut.
"Perawat sementara membantu nyonya Edewina membersihkan tubuhnya di kamar mandi."
Mark yang mendengar itu segera berlari untuk mengambil pakaian Edewina yang memang sudah dibawahnya. Ia menyerahkannya pada perawat.
"Ada apa sebenarnya ini, Mark?" tanya Reo geram. "Bagaimana mereka bisa masuk tanpa terlihat di kamera pengawas? Ada apa di rumah itu?"
"Sebaiknya nyonya dipindahkan saja dulu, tuan. Aku akan memberikan rumah itu secara mendetail lagi. Mungkin ada sesuatu yang aku lewatkan saat memeriksa rumah itu."
"Baiklah." Reo langsung menelepon kepala pelayan yang ada di rumah orang tuanya agar menyiapkan kamar mereka di sana.
Setelah semua beres, dan pihak rumah sakit mengatakan kalau Edewina baik-baik saja, mereka pun segera pulang ke rumah orang tua Reo di pusat kota London.
"Kenapa sih harus ke sini?" keluh Edewina. Ia tak mau turun dari mobil.
"Sayang, aku merasa ada yang nggak beres di rumah itu. Makanya kita untuk sementara ada di sini dulu sampai Reo selesai memeriksanya." kata Reo lalu ia turun terlebih dahulu dan membukakan pintu bagi istrinya. "Ayo sayang! Kita turun." ajak Reo.
Edewina pun turun dengan terpaksa. Ia berusaha tersenyum kepada para pelayan yang menyambutnya. Mereka mengantarkan Edewina dan Reo ke kamar yang ada di lantai bawah seperti yang Reo pesan agar Edewina tak berurusan dengan tangga.
Begitu sampai di dalam kamar, Edewina memilih duduk di atas sofa sambil mengangkat kedua kakinya. Reo pun duduk di sampingnya.
"Kamu ingin makan apa? Biar nanti aku yang siapkan. Hari ini aku tak akan ke kantor." kata Reo sambil memainkan rambut Edewina di jarinya.
Edewina menggeser tubuhnya sedikit.
"Eh..., masih marah ya?" Reo pun menggeser tubuhnya agak dekat dengan Edewina.
Edewina masih cemberut.
Melihat istrinya yang cemberut, Reo melingkarkan tangannya di bahu sang istri. Awalnya Edewina memang agak memberontak namun akhirnya ia diam.
"I love you....!" kata Reo lembut sambil menyingkirkan rambut Edewina ke belakang telinganya.
Edewina melirik ke arah Reo, lalu kembali membuang muka.
"I love you." ujar Reo lagi. Kali ini ia mencium pipi Edewina.
"Kak Sen....!"
"Ya....!"
__ADS_1
"Jangan cium....!"
"Kenapa memangnya?"
"Aku nggak mau.....!"
Reo kembali mencium pipi Edewina. Kali ini lebih keras dan lebih lama.
"Kak....."
Tak ada suara yang keluar dari mulut Edewina karena Reo sudah mencium bibirnya. Awalnya Edewina tak mau membalas ciuman Reo. Namun pria itu tak mau menyerah. Dengan godaan yang lembut, Edewina akhirnya mulai mengalah. Ia kini membalas ciuman Reo. Bahkan karena posisinya yang agak terjepit di ujung sofa, Edewina secara perlahan duduk di atas pangkuan Reo. Tentu saja hal ini membuat Reo senang dan semakin memperdalam ciumannya.
Ciuman panas itu, membuat pasangan suami istri yang sudah lama tak saling bersentuhan akhirnya tak bisa lagi menahan hasrat diantara mereka. Keduanya dikalahkan oleh gairah yang telah membakar tubuh mereka.
Secara perlahan Reo membaringkan tubuh Edewina ke atas ranjang. Dan dengan lembut, secara hati-hati, Reo berusaha selembut mungkin menyatukan diri mereka. Ia berusaha menahan dirinya yang biasa begitu liar dalam bercinta.
Entah berapa kali Edewina menyebut nama suaminya dalam kehangatan cinta yang dinikmati ini.
Ada senyum kebahagiaan di wajah Reo saat keduanya mencapai puncak kenikmatan itu bersama-sama.
"Kak.....!" Edewina berujar lirih sambil membaringkan kepalanya di dada bidang Reo.
"Ya, sayang."
"Anak kita akan baik-baik saja, kan?"
"Tentu saja. Dia bayi yang kuat. Seperti maminya." kata Reo lalu mencium dahi Edewina.
"Maksudnya?"
"Semalam aku cemburu karena kak Sen terlalu lama berada di apartemen Indira."
"Maafkan aku, sayang."
"Aku merasa kalau kakak lebih mengutamakan kak Indira dari pada diriku."
"Bukan seperti itu sayang. Kamu kan sudah dengar alasannya apa. Tapi aku janji, tak akan seperti itu. Aku akan menyewa dua pelayanan untuk menemani Indira di sana."
Edewina mengeratkan pelukannya. "Sebenarnya aku tahu kamu ada di sana hanya karena Kak Indira mengandung anakmu. Namun tetap saja aku cemburu."
Reo tersenyum. "Aku bahagia mendengar kau cemburu. Itu tandanya kalau kau pun mencintai aku."
"Kak, berjanjilah kalau kau peduli pada kak Indira hanya karena anak itu. Aku tak mau kalau kakak punya perasaan khusus padanya."
Reo membalikan tubuh Edewina yang berbaring di atasnya sehingga kini keduanya saling berhadapan.
"Wina sayang, jangan pernah meragukan kesetiaan ku padamu. Aku tak mungkin akan mengkhianati mu walaupun Indira mengandung anakku. Dari dulu sampai sekarang, cintaku hanya untukmu."
Air mata Edewina mengalir. Ia kemudian menghapusnya. "Kok hamil buat aku jadi takut kehilangan kamu ya, kak?"
Reo terkekeh. "Anak ini hendak membuat daddy dan maminya semakin kuat ikatan cintanya."
"Masa sih aku begitu cepat jatuh cinta padamu? Aku ini orangnya tak mudah jatuh cinta."
__ADS_1
Reo tersenyum. "Karena aku tampan."
"Memangnya kak Sen tampan? Kata siapa?"
"Banyak orang yang bilang kalau aku tampan. Perpaduan darah Indonesia dan darah Inggris membuat seperti pangeran." kata Reo dengan gaya sombongnya.
Edewina jadi tertawa. "Tapi aku jatuh cinta padamu bukan karena wajahmu, kak. Tapi aku kagum dengan ketulusan cintamu padaku. Aku merasa sangat istimewa karena kak Sen mencintai aku dengan cara yang tak biasa."
Reo menunduk dan mengecup bibir Edewina. "Karena kamu memang gadis yang sangat luar biasa untukku."
"I love you, kak Sen." ujar Edewina membuat Reo kembali mencium bibir istrinya dengan sangat lembut.
"Kak.....!" Edewina mendorong dada Reo saat ia merasakan ada sesuatu yang keras menekan pahanya.
Reo tertawa. "Aku mau mandi dulu, ya? Hampir saja aku lupa kalau kamu sedang hamil." Ia pun menggulingkan tubuhnya dari atas tubuh Edewina.
"Ya, mandilah dan kita akan makan bersama setelah itu."
"'Nggak mau mandi bersamaku?" tanya Reo sambil berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tubuh polosnya.
"Aku takut kalau kak Sen nggak bakalan bisa mandi dengan tenang jika aku di sana. Tuh!" dengan dagunya Edewina menunjukan bukti gairah sang suami.
Reo hanya tertawa lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Edewina pun menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Kini perasaannya menjadi lega. Bercinta ternyata bisa membuat hubungan diantara mereka kembali membaik.
***********
Niko Brawn, kepala mafia The Justice yang berusia sekitar 70 tahun menatap Reo. "Aku pikir kau ingin bertemu denganku karena ingin bergabung dengan ku lagi."
"Maaf, bos. Aku sungguh-sungguh ingin lepas dari dunia mafia. Hanya saja aku merasa terganggu karena dua bodyguard ku di ganggu dengan cara di berikan bius melalui udara."
"Oh ya?" Niko terkejut.
Reo mengangguk. "Apakah ada anak buah bos yang tidak mengenalku?"
"Aku memang merekrut banyak anggota. Tapi setiap anggota baru sudah diberi tahu untuk tak menganggu mantan anggota yang masih menjalin hubungan baik dengan kita."
Reo menarik napas panjang. Ia coba memikirkan siapa yang telah menyerangnya. Sampai akhirnya ia menatap sebuah foto yang terpajang di lemari yang ada di ruangan itu.
"Bos, siapa ini?"
"Anak angkat ku. Calon dokter yang sangat pintar."
Deg! Reo terpana seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
**********
Hallo semua....
Misterinya mulai terkuak kan?
Ingat nggak dengan hasil DNA di kemeja Edewina yang berdarah?
Dukung emak terus ya?
__ADS_1