
Entah bagaimana perasaan Reo saat ini. Yang pasti dia juga sangat tegang.
"Tenang Reo! Kalau kamu tak tenang, bagaimana kamu bisa berpikir untuk menemukan istrimu?" tanya Jack.
"Bagaimana aku bisa tenang, dad. Kami sama sekali tak mendapatkan petunjuk bagaimana Edewina di culik. CCTV juga rusak. Adeline pun juga tak nampak."
"Kenapa mereka bisa pergi ke toko itu yang sistem keamanannya tidak baik?" tanya Edmond. Ia baru saja memberikan istrinya obat penenang karena Mahira menangis terus.
"Kata bodyguard, Adeline yang mengajak Wina ke sana karena di sana lebih banyak sayuran." ujar Mark.
"Apakah mungkin Adeline juga ada hubungannya dengan penculikan ini?" tanya Edmond.
"Tak mungkin. Dia sudah lama bekerja dengan kami. Ayahnya juga adalah mantan koki di rumah kami." ujar Jack sambil menggelengkan kepalanya.
Mark menarik napas panjang. "Sa...saya baru tahu kalau anaknya Adeline terlibat dengan badar narkoba. Beberapa bulan belakangan ini, saya melihat kalau Adeline bolak balik mengunjungi penjara. Ternyata ada anaknya di sana. Dan hari ini, saya mendapatkan kabar kalau anaknya Adeline sudah dibebaskan dengan uang jaminan yang jumlahnya sangat banyak." Ujar Mark. Ia merasa bersalah karena baru hari ini merasakan kalau Adeline ada hubungannya dengan kasus ini.
Riani terpana. "Adeline? Tak mungkin."
"Semuanya bisa jadi mungkin kalau uang yang bergerak. Adeline pasti membutuhkan uang yang banyak untuk membebaskan anak semata wayangnya. Tapi mengapa Adeline tak mau memintanya pada kita? Dia kan sudah bekerja dengan kita saat Reo masih berusia 8 tahun." Jack nampak masih tak percaya.
"Aku akan mencari keberadaan istriku." Reo langsung berdiri. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. "Cincin pernikahan kami. Beberapa bulan yang lalu, tanpa sepengetahuan Edewina, aku memasang GPS di batu permatanya." Reo tampak bersemangat.
"Akan kita cari tuan." Mark segera membuka laptop nya.
************
Edewina membuka matanya saat ia merasakan ada air dingin yang disiramkan kepadanya.
"Hallo sayang....!"
Edewina terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya. "Justin?"
"Jangan heran seperti itu. Biasa sajalah. Aku sangat yakin kalau kamu sudah tahu aku dicurigai dalam kasus ini." Justin mendekat. Ia menyentuh pipi Edewina. Perempuan itu merasa jijik namun tak mampu menghindarinya karena tangan dan kakinya terikat di tiang.
"Apa salahku? Mengapa kalian melakukan aku seperti ini?" teriak Edewina.
"Jangan berteriak, sayang. Suaramu jadi tak merdu lagi." Justin mencium pipi Edewina. "Kamu tahu, kalau aku sangat menyukaimu. Reo dan aku sebenarnya sudah kenal sejak dulu. Namun aku benci karena apa yang Reo Inginkan selalu dia dapatkan sementara aku tidak. Dia juara di kampus, menjadi olahragawan yang terkenal dan ributkan oleh banyak perempuan. Reo begitu sombong tak peduli dengan perempuan lain sampai akhirnya ia tak tahu kalau ada gadis yang sangat tergila-gila padanya selain Indira. Adikku yang malang. Dia harus dirawat di rumah sakit jiwa karena Reo menolaknya dan mempermalukan dia." Justin mengangkat foto seorang gadis yang nampak sedang diikat di rumah sakit jiwa.
__ADS_1
"Cinta itu tak bisa dipaksakan."
Justin tertawa. "Oh ya? Lalu apa yang sudah Reo lakukan padamu? Menjebak mu dalam pernikahan. Dan apakah kamu tahu, semua pria yang mencoba mendekatimu sejak kamu SMP dulu, semuanya diancam oleh Reo. Dia terobsesi denganmu. Dia tak mencintaimu."
"Dia mencintaiku."
Justin tertawa. "Aku ingin membuat Reo yang sombong dan sok tak menghargai perasaan seorang gadis itu dengan mengambil perempuan yang sangat diagung-agungkannya. Sekali tepuk, 3 kebahagiaan Reo akan terenggut dalam kehidupannya. Anaknya Indira, anakmu dan juga dirimu. Namun sebelumnya, aku akan memberikan kesempatan kepada saudaraku ini untuk menikmati mu sejenak."
Edewina terkejut melihat Ken ada di sana. Lelaki itu terlihat sedikit mabuk. "Mengapa kau begitu cepat mencintai Reo dan melupakan aku? Mengapa kau begitu mudah menyerahkan tubuhmu kepadanya sedangkan padaku, kau sama sekali tak mengijinkannya? Di mana perasaan cinta yang dulu sangat kamu agung-agungkan?" teriak Ken di hadapan wajah Edewina.
"Ken...., ini bukan kamu! Ini bukan kamu, Ken!" tangis Edewina.
Ken menyentuh bibir Edewina dengan jempolnya. "Bibir ini pertama kali dimiliki oleh aku. Aku yang pertama menyentuh hatimu. Mengapa kau begitu gampang melupakan aku? Apakah karena cara mencium Reo lebih hebat dariku?"
Ken tiba-tiba saja mencium bibir Edewina. Perempuan itu berusaha menghindari ciuman Ken dengan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Dan Justin dengan senang hati mengabadikan momen itu dengan merekamnya.
Edewina pun mengigit bibir Ken untuk menghentikan ciuman itu.
Ken mengangguk. Matanya nampak berkaca-kaca. "Aku tak pernah menyesal pernah mencintai kamu, Win."
"Kamu sakit, Ken. Kamu mau saja di pengaruhi oleh kegilaan Justin dan ibu sambungnya yang gila itu." Kata Edewina tanpa menahan lagi rasa kebenciannya pada lelaki yang menjadi cinta pertamanya.
Ken pun kembali mengangguk. "Ambilkan peralatannya. Kita akan mengeluarkan anak ini dari perutnya!" teriak Ken dengan emosi yang sudah sejak tadi di tahannya.
"Jangan.....Ken! Jangan sakiti anak ini. Aku mohon padamu!"
Terdengar suara hak tinggi yang berjalan memasuki gedung itu. Cecilia nampak dengan anggunnya membawa tas dokter milik Ken.
"Matikan kamera nya sayang....!" kata Cecilia kepada Justin.
"Jangan......! Aku mohon jangan sakiti anakku!"
*********
"Ah.......ah........!" Reo menjadi seperti orang gila saat melihat video itu.
__ADS_1
"Tuan, kami mendapatkan lokasi GPS cincinnya nyonya Edewina." ujar Mark.
"Ayo kita segera ke sana! Jangan sampai kita terlambat!" ujar Jack lalu segera menggerakkan anak buahnya segera mengikuti mereka.
Sepanjang jalan Reo tak henti berdoa. Tuhan tolong selamatkan anak dan istriku.
Mereka pun tiba di lokasi tempat GPS yang ada di cincin Edewina. Namun ternyata ruangan itu sudah kosong. Dan cincin itu diletakkan dengan sengaja di atas sebuah meja.
"Mereka tahu cincin ini ada GPS nya." ujar Edmond.
Niko tiba-tiba menelepon Reo. "Sepertinya anak angkat ku sudah dicuci otaknya. Aku baru menemukan jejak keterlibatannya dengan mafia asal Spanyol. Aku rasa istrimu selama bahaya, Reo."
"Katakan di mana mereka. Istriku sudah mereka tangkap."
"Mereka sepertinya ada di salah satu gudangku. Entah gudang yang mana namun kalian sebaiknya berpencar. Aku punya kurang lebih 10 gudang yang tersebar di luar kota. Alamatnya aku kirimkan."
Reo langsung menelepon papanya yang ada di mobil yang lain. Meminta mereka untuk berpencar sambil mengirimkan titik gudang-gudang itu berada.
***********
Edewina menangis histeris melihat pisau yang sudah Ken keluarkan.
"Ken, aku mohon jangan!" ujar Edewina masih berharap agar Ken akan mengingat dirinya sebagai perempuan yang pernah dicintainya.
Ken menatap mata Edewina. Mata yang dulu selalu memberikan ia keteduhan jika mereka saling bertatapan.
"Jangan terpengaruh dengannya, Ken." teriak Cecilia.
Ken mendekati Edewina. "Maafkan aku, Wina!"
**********
Bagaimana kelanjutannya?
sabar menanti ya guys
jangan lupa dukung emak
__ADS_1