
Selesai kuliah pukul 2 siang, Edewina dikejutkan oleh Reo yang sudah menunggunya di tempat parkir. Pada hal suaminya itu sama sekali tak mengatakan padanya kalau ia akan menjemput.
Clara dan Sinta yang saat itu sedang jalan bersama Edewina, langsung menggoda gadis itu.
"Ceile....yang nggak mau jauh-jauh. Pasti pulangnya langsung ehem....ehem...." kata Sinta membuat wajah Edewina langsung memerah.
"Bukan seperti itu, kami mau ke Manchester. Makanya kak Sen datang menjemput aku." ujar Edewina.
"Biasanya juga pulang sendiri. Mobilnya mana, neng?" kali ini Clara yang nyeletuk membuat Edewina semakin salah tingkah dibuatnya.
Reo yang melihat istrinya digoda oleh kedua temannya langsung mendekati istrinya itu. "Sayang, kita pergi sekarang?" tanya Reo.
Edewina mengangguk. Ia segera pamit pada kedua temannya itu sambil memeluk mereka secara bergantian. Dan Reo langsung meraih tangan Edewina, menggenggamnya erat lalu melangkah menuju ke mobilnya.
"Kita langsung ke bandara ya?" ujar Reo sambil membuka pintu untuk istrinya. Rupanya Mark yang mengendarai mobil.
"Terus laptop sama tas kuliahku, bagaimana?"
"Nanti Mark yang membawanya ke rumah. Kita makan siang di pesawat saja."
"Naik jet pribadi lagi?" tanya Edewina.
"Iya."
"Sesekali naik pesawat komersial dong ,kak."
"Boleh. Tapi kali ini kita naik pesawatku dulu."
"Baiklah, kak." Edewina melingkarkan tangannya di lengan Reo dan menyandarkan kepalanya di sana. Reo nampak bahagia karena Edewina bersikap manja padanya.
"Aku suka kamu yang kayak gini. Jadi pingin cium kamu aja." bisik Reo.
"Awas, ada Mark." Edewina memperingati. Namun Reo sepertinya tak peduli. Ia menunduk lalu mengecup bibir istrinya itu.
Mark menahan senyum. Ia pura-pura tak melihat kemesraan pasangan itu. Hanya hatinya ikut bahagia karena akhirnya Reo bisa mendapatkan apa yang diimpikannya selama ini.
***********
Di Manchester, Riani sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca majalah. Ia sebenarnya sedang merindukan semua anak-anaknya.
Cassie, Arma, Reo, kalian kini sudah punya kehidupan sendiri. Mommy kesepian. Mungkin sebaiknya natal ini aku pulang Ke Indonesia. Aku rindu Arma dan anak-anaknya. Rindu juga sama ayah dan ibu.
Riani merenung sendiri sambil tangannya membuka halaman majalah itu satu persatu tanpa dibacanya secara baik.
"Melamun apa sayang?"
Riani terkejut melihat Jack yang sudah berdiri di belakangnya sambil mengecup pipinya.
"Sudah pulang?" tanya Riani.
Jack memutar langkahnya dan akhirnya duduk di samping istrinya. "Aku kan ke kantor hanya sekedar membantu Cassie saja dan mengajarkan apa yang menjadi bagian Reo. Kalau tak ada lagi yang harus dikerjakan, aku pikir sebaiknya pulang saja dan bermanja-manja di samping istriku ini."
Riani terkekeh mendengar rayuan gombal suaminya yang selalu saja membuat hatinya bergetar. "Ingat umur, Jack."
__ADS_1
"Kenapa memang dengan umurku?" tanya Jack lalu memeluk pinggang istrinya dan membawa Riani ke dalam pelakunya.
"Kayak masih muda saja."
"Memangnya kalau pasangan itu sudah memasuki usia lansia, nggak boleh lagi bermesraan?"
"Nggak juga, sih."
Jack menatap istrinya. Tangannya terangkat lalu membelai wajah Riani yang terlihat semakin cantik. "Aku ingin membuat kenangan yang indah bersamamu, sayang. Aku ingin hari-hari kita selalu ada cerita manis. Sehingga, jika suatu saat nanti, aku atau kamu yang akan pergi lebih dulu, kita tak akan pernah menyesal karena telah melalui waktu bersama dengan sangat baik."
Riani tersenyum. Tanahnya juga memegang wajah Jack. "Aku bersyukur karena memberikan kamu kesempatan kedua untuk bersamaku. Karena belum tentu aku akan sebahagia ini saat menjalaninya tanpa ada dirimu."
"Dan aku bersyukur karena kau memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki diriku dan membuktikan bahwa kita bisa bahagia bersama."
Keduanya saling bertatapan mesra sehingga tak menyadari bahwa di depan pintu masuk, ada Reo dan Edewina yang berdiri sambil menatap pasangan yang sedang berciuman itu.
"Aku ingin sampai tua kita seperti itu, Win." Bisik Reo lalu mencium tangan Edewina yang ada dalam genggamannya.
"Semoga Tuhan memberikan kita hidup bersama yang panjang."
"Amin....!"
"Tuan Reo, nyonya Wina?" teriak Adeline yang kini berdiri di belakang mereka. Jack dan Riani yang sedang berciuman dengan cepat melepaskan ciuman diantara mereka, lalu menoleh ke arah suara Adeline.
"Reo, Wina?" Jack nampak terkejut sekaligus senang.
"Mom, dad....!" Reo langsung mendekati kedua orang tuanya sambil terus menggenggam tangan Edewina.
"Kami datang ke sini untuk memberitahukan bahwa kami sudah berbaikan. Hubungan kami sudah menjadi baik. Kami sudah saling mengakui perasaan kami masing-masing dan Wina akhirnya sadar bahwa dia juga mencintaiku." kata Reo sambil melirik istrinya dengan tatapan penuh cinta.
"Kami tak jadi bercerai, mom." kata Edewina membuat Riani langsung memeluk menantunya itu dengan penuh kebahagiaan.
"Duh, akhirnya kalian menyadari bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang suci dan sakral. Hanya bisa dipisahkan oleh maut. Mommy senang sekali. Akhirnya kalian bisa bersama lagi."
Edewina merasakan hatinya bergetar melihat kebahagiaan dari ibu mertuanya.
Riani kemudian mengajak anak dan menantunya untuk taman belakang. Mereka menikmati kopi dan beberapa kue yang dibuat oleh koki.
"Sayang, kalian nggak bawa baju kan?" tanya Riani.
"Nggak, mom. Baju kami yang lalu kan memang masih ada di sini. Aku dan Riani sudah sepakat, setiap 2 minggu sekali, kami akan berakhir pekan di sini." kata Reo membuat wajah Riani semakin berseri-seri.
"Wah, senangnya....." Riani pun menatap suaminya. "Aku akan punya teman di rumah, dan kau akan punya teman berolahraga."
Jack mengangguk. Ia ikut bahagia saat melihat istrinya ini bahagia.
***********
Edewina tersentak bangun. Ia merasa haus dan minat kalau di atas meja tak ada lagi air minum.
Semenjak jam 10 malam ia dan Reo bercinta di kamar ini dan mereka tadi berhenti Jam 1. Keduanya langsung tertidur.
Perlahan Edewina melepaskan tangan Reo yang masih melingkar di pinggangnya. Ia perlahan turun dari ranjang dan mengenakan kembali gaun tidurnya. Jarum jam sudah menunjukan pukul 4 pagi.
__ADS_1
Ia pun perlahan membuka pintu kamar dan keluar untuk mendapatkan air minum di dapur.
Saat menuruni tangga, Edewina menuruninya secara perlahan walaupun ia tahu kalau semua kamar yang ada di rumah ini kedap suara.
Ruang tamu dan ruang keluarga nampak remang karena hanya ada penerangan dari lampu teras.
Edewina pun menyeberangi ruangan itu. Namun ia menghentikan langkahnya saat merasakan kalau ada seseorang yang sedang mengikutinya.
Perempuan itu membalikan badannya. Ia menyapu seluruh isi ruangan tamu dengan tatapannya yang tajam. Namun gadis itu pun melangkah lagi sambil menggelengkan kepalanya.
Kenapa aku jadi parno ya? Bodohnya aku kalau menyangka jika di rumah ini ada hantu.
Ia pun memasuki dapur dan akhirnya membuka kulkas setelah terlebih dahulu menyalahkan lampu. Edewina menuangkan air minum dari botol yang tersimpan di kulkas lalu menghabiskannya sampai dua gelas. Ia tiba-tiba merasa lapar. Apakah karena Reo yang sudah menguras tenaganya?
Edewina membuka lemari tempat penyimpanan makanan. Ia mengambil dua potong roti lalu mengolesinya dengan coklat. Ia pun duduk di depan meja pantry lalu menikmati makannya.
Prang....!
Edewina menoleh dengan kaget saat mendengar ada bunyi sesuatu di bagian dapur tempat memasak para koki. Di rumah ini memang terdapat dua dapur. Yaitu dapur bersih dan dapur umum. Dapur umum adalah dapur tempat para koki biasa membuat kue dan memasak. sedangkan dapur bersih biasanya digunakan oleh Riani saja.
Apa itu ya?
Edewina turun dari kursi lalu melangkah ke arah dapur umum. Ia membuka pintu penghubung antara dapur umum dan dapur bersih. Keadaan dapur yang gelap membuat Edewina tak bisa melihat apapun namun ia merasa seperti mendengar ada suara langkah kaki.
"Sayang....!"
Edewina menoleh dengan kaget. Ia langsung menarik napas lega melihat Reo yang kini berada di belakangnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Reo.
"Eh, aku....." Edewina memutuskan tak menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Ia tak mau Reo menganggapnya penakut. "Aku haus. Lalu tiba-tiba merasa lapar. Sudah makan roti sih, tapi tetap saja lapar. Makanya mau ke dapur umum. Siapa tahu ada makanan lain."
"Kamu lapar, sayang?" tanya Reo.
"Iya. Soalnya tenagaku habis tadi." Edewina memperhatikan Reo yang hanya menggunakan boxer. "Kakak, kenapa keluar hanya menggunakan ini?"
Reo terkekeh. "Aku panik tadi saat kau tak ada. Aku pikir kau sudah melarikan diri. Sekarang, duduklah. Akan ku panaskan makanan. Biasanya mommy menyimpan di kulkas. Mommy juga suka bangun tengah malam dan makan."
Reo membuka kulkas. Dan ia menemukan sup ikan di sana. Ia pun memanaskannya lalu menikmatinya bersama Edewina.
"Ah, sudah kenyang. Sekarang mau tidur lagi." ujar Edewina.
"Ayo kita kembali ke kamar." ajak Reo lalu mematikan lampu dapur.
Edewina merasa bahwa ia melihat suatu bayangan namun ia menepis rasa takutnya. Ia hanya memeluk suaminya sambil tersenyum lalu tanpa diduga, Reo menggendongnya saat mereka menaiki tangga.
"Kak....!" Edewina tertawa manja saat Reo mencium lehernya. Pada saat yang sama Riani keluar dari kamarnya. Melihat anak dan menantunya yang menaiki tangga sambil tertawa bahagia, ia pun memegang dadanya sambil tersenyum. *Bahagia selalu, nak.
*******
Ini action atau seram ya?
Ada apa di rumah Almond?
__ADS_1
Dukung emak terus ya guys*