MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Tolong Batalkan


__ADS_3

2 hari lagi, Edewina akan resmi menjadi nyonya Almond.


Semua keluarga sudah ada di Paradise Hotel yang memang keindahan alamnya seperti sorga dunia karena dibuat dengan sangat indah.


Hotel ini ternyata milik Reo dan pamannya Clark. Makanya hotel ini selama satu minggu ini tak menerima tamu lain selain dari keluarga Almond dan keluarga Moreno.


Paman dan bibi Edewina pun sudah datang dari Spanyol begitu juga dengan Tante Putri sahabatnya mami Mahira.


Sore ini, Edewina secara diam-diam meninggalkan kamarnya. Ia akan menikmati kesendiriannya di sini.


"Wina....!"


Edewina terkejut mendengar suara itu. Ia membalikan badannya. Nampak Ken berdiri diantara salah satu pohon yang tumbuh di lantai ini.


"Ken?" Edewina terkejut melihat badan Ken yang sangat kurus pada hal mereka baru 2 minggu tak bertemu.


"Wina..., aku tak bisa membiarkan kamu menikah dengan Reo." Ken mendekat. Ia langsung memegang kedua tangan Edewina. "Ayo kita pergi dari sini, Win. Kita cari tempat lain yang tidak mengenal kita. Kita menikah di sana. Sungguh, aku tak bisa tanpamu."


Air mata Edewina mengalir tanpa bisa ditahannya. "Kak, jangan seperti ini."


Ken membelai wajah Edewina. "Sayang, haruskah kisah kita berakhir seperti ini? Aku tak mau kehilangan dirimu." Ken langsung memeluk Edewina. Tangis Edewina langsung pecah dalam pelukan Ken. Ia sangat mencintai Ken.


"Kita harus bagaimana, Ken. Aku tak bisa menolak semua ini." kata Edewina diantara Isak tangisnya.


Mereka menangis bersama.


Mark menahan tangan Reo yang akan mendekati pasangan itu.


"Tahan, tuan. Biarkan mereka bicara sebentar."


"Kau tak dengar kalau lelaki itu mengajak Edewina untuk pergi? Edewina bisa saja mengikutinya karena mereka saling mencintai." ujar Reo sambil menahan dirinya agar tak segera menarik Edewina dari pelukan Ken.


"Kalau memang nona Edewina akan pergi, maka aku yang akan bertindak untuk mencegahnya." ujar Mark.


Reo memejamkan matanya sebentar berusaha menahan sakit di hatinya. Ia kemudian menatap Edewina dan Ken yang masih berpelukan.


"Ken, pergilah. Nanti ada yang melihatmu." ujar Edewina lalu melepaskan pelukan diantara mereka.


"Aku tak akan pergi sebelum kau ikut denganku! Aku tak akan mengijinkan pria brengsek itu menikah denganmu."


"Seluruh keluargaku ada di sini, Ken. Apakah aku harus membuat malu keluarga ku? Opa ku bisa saja meninggal jika ia tahu kalau aku melarikan diri bersamamu."


"Mereka pasti akan mengerti, sayang. Mereka suatu saat nanti akan mengerti kalau kita saling mencintai dan tak akan bisa dilepaskan lagi. Memangnya kamu tak mencintai aku lagi?"

__ADS_1


"Aku sangat mencintai kamu, Ken "


Ken menautkan jari mereka. "Ayolah! Pendeta sudah menunggu kita untuk dinikahkan. Petugas catatan sipilnya juga sudah menunggu kita dicatatkan pernikahan ini. Aku sudah membeli 2 buah tiket bagi kita berdua. Kita akan ke Swiss, negara yang selalu ingin kita kunjungi bersama."


Hati Edewina menjadi ragu. Ia menatap wajah Ken. Mata yang penuh cinta itu sangat mengharapkan agar Edewina ikut dengannya. "Baiklah. Ayo kita pergi!" ujar Edewina. Ken tersenyum senang. Ia mencium bibir Edewina dengan sangat lembut.


"Mark.....!" Wajah Reo sudah sangat merah. Ia siap untuk memuntahkan segala amarahnya pada mereka berdua. Apalagi saat dilihatnya Edewina sudah melangkah bersama Ken. Reo pun tak bisa menahan langkahnya lagi. Ia akan menghadang mereka.


Namun langkah Reo terhenti melihat Edewina yang berhenti.


"Ken...., maafkan aku. Aku tidak bisa." ujar Edewina lalu menarik tangannya dari genggaman Ken.


"Wina.....!" Ken menatapnya tak percaya.


Edewina menggelengkan kepalanya. "Aku tak bisa meninggalkan keluargaku, Ken. Apalagi opaku."


"Tapi sayang ....!"


"Maaf, Ken. Aku tak bisa!" Edewina langsung membalikan badannya dan berlari meninggalkan Kennard yang menatapnya tak percaya.


Reo menarik napas lega. Ia menatap Mark. "Tolong awasi Ken. Jangan sampai aku akan membunuh orang di hari pernikahanku." ujar Reo lalu segera menyusul Edewina.


Ia melihat Edewina duduk di taman hotel sambil menangis. Ingin rasanya Reo ada di sana. Memeluk gadis itu dan membiarkan ia menangis di dada Reo. Namun rasanya itu tak mungkin. Edewina pasti akan membencinya. Itulah mengapa Reo hanya bisa menatapnya dari jauh. Aku janji akan memenangkan hatimu. Aku janji akan membuat kamu bahagia. Sehingga kamu tak perlu lagi menangis untuk Kennard.


Reo tak menikmati pesta bujangnya malam ini. Ia lebih lebih memilih duduk di meja bartender sambil menikmati segelas minuman.


Tak lama kemudian ponselnya berdering. Ada pesan dari Edewina.


Reo, aku mohon padamu. Batalkan pernikahan kita. Hanya kamu yang bisa melakukannya. Aku tak akan pernah mencintaimu. Memangnya kamu mau menjalani kehidupan pernikahan yang seperti ini? Aku mohon, lupakan pernikahan ini.


Reo tersenyum sinis. Bagaimana mungkin aku bisa membatalkan nya jika aku sendiri yang memaksa kan pernikahan ini? Kau boleh menyakitiku sesuka hatimu, Wina. Namun aku yakin, cinta akan memenangkan pertarungan ini.


**********


Edewina duduk di dalam kamarnya. Perias pengantin sudah ada dan siap untuk merias dirinya. Ia membuka ponselnya. Pesan yang ia kirimkan pada Reo semalam sudah dibaca oleh cowok itu. Namun Reo sama sekali tak membalasnya.


Hati Edewina menjadi sakit. Kini ia tak punya kekuatan apa-apa lagi untuk membatalkan semuanya.


"Nona, apakah kita sudah bisa memulainya?" tanya sang perias pengantin.


Edewina menghapus air matanya. Ia akhirnya mengangguk. Selamat tinggal Ken. Cinta pertamaku, dan cinta sejati ku. Aku tak mungkin bisa melupakanmu begitu saja.


*********

__ADS_1


Di kamarnya, Reo baru saja selesai sarapan. Ia memandang jas pernikahannya yang sudah tergantung rapi di dinding kamar itu. Sebentar malam, ia tak lagi akan tidur sendiri. Edewina akan bersamanya. Dan Reo sudah tak sabar menunggu malam ini.


Pintu kamarnya diketuk. Reo membukanya.


"Indira?"


"Hai..." Indira tersenyum. Ia melangkah masuk sambil membawa sesuatu di paper bag.


"Kau belum bersiap?" tanya Reo.


Indira menatap Reo. "Re, apakah kamu sudah yakin akan menikah dengan Edewina? Bagaimana jika dia tak mencintaimu? Bagaimana jika nanti kau tak bahagia?"


"Aku punya sahabat terbaik yang akan mendengarkan semua keluh kesah ku."


"Reo, pernikahan itu bukan main-main."


Reo menarik hidung mancung Indira. "Aku akan mendapatkan kebahagiaan lewat pernikahan ini. Kau kan tahu hampir 10 tahun aku menunggu. Dan akhirnya hari ini tiba. Edewina akan menjadi milikku. Dan apapun yang terjadi, aku tak akan pernah menceraikannya."


"Kau yakin?"


"Akankah kau meminta aku membatalkannya?"


"Seandainya masih bisa. Sebelum terlambat dan sebelum kau terluka."


Reo memeluk sahabat masa kecilnya itu. "Doakan aku, Ra. Hanya kamu yang paling mengerti isi hatiku."


Indira menahan tangisnya. Menggigit bibirnya sendiri dan berusaha menguatkan hatinya. Dia melepaskan pelukannya. "Aku akan berdoa untuk kebahagiaan mu, Reo."


"Dan aku akan berdoa agar Tuhan juga memberikan jodoh yang terbaik untukmu."


Indira mengangguk. Ia memberikan paper bag yang dibawahnya tadi. "Aku membelikan kaos kaki, ikat pinggang dan jam terbaru untukmu. Aku ingin kau memakainya di hari pernikahanmu."


"Dengan senang hati, Ra. Terima kasih. Oh ya, ini kotak cincinnya. Aku ingin kau nanti yang berdiri di sampingku dan memegang cincin pernikahan ini. Kau sahabat, adik dan segalanya bagiku. Pernikahan ini tak akan mengubah arti mu dalam hatiku."


Indira mengangguk. Ia mengambil kotak cincin itu. "Terima kasih atas kepercayaan ini. Sekarang aku mau ke kamarku dulu dan siap-siap agar tak terlambat." Indira meninggalkan kamar Reo dengan cepat sebelum cowok itu melihat air matanya.


Mencintai dalam diam selama bertahun-tahun tanpa berani mengungkapkannya telah membuat Indira kehilangan Reo.


********


Hallo semua, terima kasih sudah membaca part ini. Semoga suka ya...


Jangan lupa dukung emak ya guys

__ADS_1


__ADS_2