MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Swiss punya Cerita (part 2)


__ADS_3

Dada Edewina menjadi sesak. Entah karena apa, namun ia merasa seperti ada yang hilang dalam dirinya.


Aku mengeluarkan darah. Benarkah aku keguguran?


"Wina sayang...., are you oke?" tanya Reo yang merasa khawatir karena Edewina sudah ada di kamar mandi selama 20 menit.


Edewina buru-buru menghapus air matanya. Ia membuka pintu kamar mandi.


"Eh, aku...., bolehkah aku keluar sebentar?" tanya Edewina bingung.


"Dengan keadaan seperti ini? Sayang, wajahmu masih memerah karena tamparan itu. Dan jalanmu saja masih agak tertatih. Kamu bosan di kamar? Ingin jalan-jalan? Sebentar aku tanyakan dulu pada pihak hotel kalau ada kursi roda." Reo akan menelepon resepsionis namun Edewina mencegahnya.


"Eh, sebenarnya aku hanya ingin makan sesuatu yang ada nasinya." Edewina mencari alasan untuk membuat Reo keluar dari kamar.


"Kamu ingin makan nasi? Sebentar aku cari kalau ada restoran Cina di sekitar sini." Reo dengan cepat mencari ponselnya. Ia kemudian menemukannya.


"Aku pesan ya?" ujar Reo setelah menunjukan beberapa menu pada Edewina dan perempuan itu menunjukan satu menu.


"Bukankah sebaiknya kau membelikan langsung? Kalau delivery kayaknya akan lama."


Reo menatap Edewina. Perempuan itu berbicara manis padanya dan Reo mengerti kalau Edewina pasti menyembunyikan sesuatu. Sejak kecil Reo mengenal Edewina. Ia tahu selain pintar, Edewina memiliki sifat licik namun bukan licik untuk kejahatan melainkan melindungi dirinya sendiri.


"Kau tidak apa-apa jika aku tinggalkan sendiri?" tanya Reo.


"Tidak." Edewina menggeleng dengan cepat.


Reo mengangguk. "Baiklah. Akan ku belikan." Reo meraih dompetnya di atas meja dan langsung pergi ke luar.


Saat Reo pergi, Edewina pun


meraih dompetnya. Ia tahu kalau di sebelah hotel ada minimarket kecil dan Edewina bisa menemukan pembalut di sana.


Dengan cepat perempuan itu keluar kamar dan menuju ke lobby hotel. Ia berjalan ke arah minimarket tanpa menyadari kalau Reo sedang mengikutinya. Pria itu hanya meminta salah satu pelayan hotel untuk membelikan makanan yang diinginkan Edewina karena ia yakin kalau Edewina pasti akan keluar kamar. Dan dugaannya benar.


Edewina memilih 2 jenis pembalut dan segera membayarnya ke kasir kemudian ia kembali ke hotel. Setelah sampai di kamar, ia pun menuju ke kamar mandi. Perasaan Edewina menjadi gelisah. Ia memegang perutnya.


Mengapa rasanya harus sesakit ini? Ini adalah bagian dari diriku. Maafkan mama, nak. Mama tak bermaksud menghilangkan mu dengan sengaja. Pasti ini terjadi karena benturan tadi.


Tangis Edewina menjadi semakin dalam. Ternyata, naluri keibuannya telah membuat rasa kehilangan ini menjadi sangat menyakitkan. Edewina mungkin tak mengharapakan kehamilan ini. Namun bukan berarti ia ingin menghilangkannya.


Ia keluar dari kamar mandi lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Entah mengapa Edewina ingin menangis sangat keras saat ini. Ia memeluk perutnya dengan hati yang sangat sedih.


Pintu kamar terbuka dari luar saat tangis Edewina mulai reda. Perlahan ia menghapus air matanya.


"Sayang, kamu sudah tidur? Ini makanannya sudah ada." ujar Reo. Ia meletakan makanan itu di atas meja makan lalu segera mendekati Edewina.


Perlahan Edewina bangun.


"Wina, kamu kenapa?" tanya Reo khawatir.


Melihat bagaimana khawatirnya Reo membuat tangis Edewina langsung pecah. Ia merasa bersalah karena telah menyebabkan dirinya kehilangan bayi itu. Tanpa sadar ia memeluk Reo. Seperti itulah yang Edewina lakukan saat ia merasa sedih. Ia akan memeluk mami atau papinya, bahkan ia banyak kali memeluk opa Edriges.

__ADS_1


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Reo sambil membelai punggung istrinya.


"Maafkan aku, Reo. Aku memang tak menyukaimu, namun aku tak sengaja menghilangkannya."


Reo melepaskan pelukannya. "Maksud kamu apa?" tanya Reo sambil menatap Edewina dengan dahi berkerut. Ia menghapus air mata Edewina dengan ibu jarinya.


"Aku....., aku....." Edewina menjadi bingung karena ia tak bisa mengatakan kalau ia hamil.


Reo tersenyum. "Jangan menangis. Lupakan kesedihanmu. Aku akan memaafkan semua kesalahan mu jika memang kau melakukan kesalahan."


Mendengar kata-kata Reo air mata Edewina justru semakin deras mengalir.


"Hei, kan aku sudah bilang agar kamu jangan menangis." Reo kembali menghapus air mata Edewina. Ia tak dapat menahan dirinya lagi. Dengan lembut ia mencium dahi Edewina, lalu turun di hidungnya dan berakhir di bibirnya.


Edewina terlena menerima ciuman itu. Karena seperti itulah cara Ken menenangkannya ketika sedang menangis. Dengan lembut ia membalas ciuman Ken. Ia bahkan membiarkan lidah mereka saling bertaut.


Untuk sesaat mereka larut dalam ciuman itu, raga mereka mulai terbakar oleh percikan api birahi yang siap menenggelamkan mereka.


Sampai akhirnya Edewina menemukan kesadarannya. Ia mendorong Reo dengan cepat lalu beranjak turun dari tempat tidur. Ia menyeka bibirnya dari bekas ciuman Reo yang sempat membiusnya tadi.


"Win.....!" Reo mendekatinya.


"A...aku mau makan." Edewina segera melangkah ke arah meja makan. Ia berusaha menenangkan dirinya dengan sibuk membuka penutup tempat makanan. Ia tak berani menatap ke arah Reo. Sial! Kenapa aku sampai terlena dengan ciuman ini? Bodohnya aku.


Reo menatap Edewina yang sedang makan. Walaupun Reo yakin kalau Edewina tak terlalu serius menikmati makannya, namun ia bersyukur karena Edewina mau makan juga.


Sebagai lelaki yang pernah berkecimpung di dunia mafia, Reo tahu kalau Edewina sebenarnya sedang menyembunyikan sesuatu. Dan Reo sudah tahu apa itu. Namun ia tak ingin mengatakannya. Ia ingin kalau Edewina sendiri yang berterus terang padanya.


"Aku mau tidur." ujar Edewina saat keluar dari kamar mandi.


"Kau akan tidur dengan gaun itu?" tanya Reo.


Edewina menatap gaunnya. Sebenarnya agak kurang nyaman tidur dengan gaun ini. Namun jika ia ganti baju, maka Reo kembali akan melihat tubuhnya.


"Aku......!" Edewina jadi bingung.


Reo segera melangkah ke lemari pakaian dan mengeluarkan gaun tidur Edewina. Gaun tidur yang tak terlalu seksi namun cukup transparan.


"Ayo aku bantu!" ujar Reo.


Wajah Edewina agak bingung namun akhirnya mengangguk. Kembali lagi mereka berada di jarak yang sangat dekat membuat Edewina merasakan kulitnya menjadi panas setiap kali tangan Reo tak sengaja menyentuh tubuhnya.


Reo sendiri selalu berusaha kuat menahan hasrat dirinya untuk menyentuh Edewina.


Setelah selesai, Edewina langsung naik ke atas ranjang dan menutup dirinya dengan selimut. Badannya masih terasa sakit namun hatinya yang masih sakit. Tanpa sadar ia membelai perutnya dan itu nampak di pandangan Reo. Lelaki tahu apa yang sebenarnya menjadi beban pikiran Edewina. Ia tahu apa yang Edewina beli di mini market dekat hotel.


"Win, kamu baik-baik saja?" tanya Reo lalu duduk di tepi tempat tidur.


Wina dengan cepat meninggalkan menghapus air matanya. Ia tak mau tergoda dengan perhatian Reo dan membuatnya lupa diri seperti tadi. "Aku mengantuk." ujar Edewina sambil memejamkan matanya.


Reo menghapus sisa air mata yang ada di pipi Edewina. "Jangan simpan kesedihanmu sendiri, sayang. Kau harus tahu kalau aku selalu ada untukmu."

__ADS_1


Edewina merasakan hatinya tersentuh. Kata-kata Reo seperti kata-kata Ken yang selalu diucapkannya saat Edewina sedang bersedih.


Tidak! Aku tak boleh tergoda dengan nya. Aku membencinya.


************


Besok paginya Edewina dan Reo bersiap untuk kembali ke Inggris. Edewina ingin mandi namun ia belum bisa menggerakkan tangannya dengan baik.


"Mau mandi?" tanya Reo.


"Eh, aku bisa....."


"Kamu tak akan bisa!" Reo dengan cepat menggendong tubuh Edewina dan menuju ke kamar mandi.


"Reo turun kan, aku bisa sendiri." Edewina memberontak dalam dekapan Reo namun pria itu tak melepaskannya.


Ia langsung menurunkan Edewina saat mereka sudah berada di dalam kamar mandi.


"Ayo mandi! Aku akan membantumu."


"Tapi aku...!" Edewina bingung Haruskah kali ini ia membuka bajunya lagi di hadapan Reo.


"Aku sudah melihat semuanya, Edewina. Kau tak perlu takut padaku. Aku bahkan tahu kalau kamu memiliki tahi lalat diantara kedua gunung kembar mu."


Wajah Edewina menjadi merah saat mendengar perkataan Reo.


"Tapi aku sedang..." Edewina tak bisa mengatakan kalau ia sedang datang bulan. Reo pasti akan tahu apa yang terjadi dengan Edewina.


"Aku hanya akan membantumu membuka baju, setelah itu aku akan keluar."


Edewina mengangguk. Untuk yang ketiga kalinya ia harus membuka bajunya lagi di hadapan Reo. Edewina tahu kalau mata pria itu selalu berbinar melihat Edewina namun Reo bisa menahan dirinya untuk melakukan yang lebih dalam lagi.


2 jam kemudian, pasangan itu sudah ada di bandara. Mereka akan melalui pintu khusus karena akan naik jet pribadinya milik keluarga Almond.


Ketika sedang mengecek barang bawaan mereka, Edewina melihat seorang ibu hamil bersama anaknya yang masih berusia sekitar 2 tahun. Ini hamil itu terlihat cantik dengan gaun hamilnya yang berwarna peach.


Entah mengapa hati Edewina menjadi sakit. Tanpa sadar ia membelai perutnya sendiri. Ia telah kehilangan sesuatu yang tak dia inginkan namun sudah ia cintai begitu dalam.


"Sayang.........!" Reo menyentuh pundak Edewina. Perempuan cantik itu tiba-tiba memeluk Reo sambil menangis.


"Hei, ada apa? Sejak kemarin sikapmu menjadi aneh. Adakah sesuatu yang membuatmu sedih? Katakanlah padaku." Reo melepaskan pelukannya sambil menangkup ke dua sisi pipi Edewina.


"Maafkan aku."


"Apa yang harus aku maafkan?" tanya Reo heran.


Edewina mundur beberapa langkah. Ia menatap Reo. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya?


**********


Hallo semua

__ADS_1


terima kasih sudah membaca kisah ini. Jangan lupa dukung emak terus ya guys


__ADS_2