
Rasanya bagai mimpi ketika Reo mendengar ungkapan Edewina.
Apakah tadi dia bilang i love you? Apakah aku tak salah dengar?
Reo merasakan kalau pipinya terasa panas. Ia menatap wajahnya pada kaca yang ada di depan wastafel. Benar saja, wajahnya terlihat memerah.
Perlahan Reo membalikan badannya dan mencari istrinya Ia melihat Edewina sedang minum di dapur.
Edewina sendiri sedang menenangkan hatinya. Sungguh, ia merasa gugup setelah mengatakan kalimat itu pada Reo. Ia sendiri heran karena kalimat itu dengan cepat keluar dari mulutnya.
"Sayang......!" panggil Reo.
Edewina perlahan membalikan badannya. Ia tersenyum walaupun sebenarnya ia sangat gugup. "Ada apa, kak? Kakak mau minum juga?" tanya Edewina sambil mengangkat gelas yang ada di tangannya.
Reo menggeleng. "Aku tak haus." ia mengambil gelas dari tangan Edewina lalu meletakkannya di atas meja yang ada di belakangnya. Ia kemudian mengangkat tubuh Edewina yang mendudukan nya di atas meja pantry, berdiri diantara kaki Edewina sehingga jarak mereka jadi begitu dekat.
"Kamu tahu apa arti kata-kata mu tadi?" tanya Reo sambil menatap mata Edewina tanpa berkedip.
"Apa?" Edewina balik bertanya sambil menelan salivanya.
Tangan Reo yang ada di pinggang Edewina kini berpindah di pipi istrinya itu. "Kata-kata itu yang aku tunggu selama 10 tahun ini. Kata-kata itu yang ku doakan setiap kali aku ulang tahun." kata Reo sambil membelai wajah Edewina. "Sejak pertama kali melihatmu di pesawat itu, entah mengapa aku sudah jatuh cinta padamu. Aku berdoa pada Tuhan agar ada jalan untuk kita bersama. Kau adalah nafasku, Wina. Setiap kali aku ada masalah, setiap kali aku putus harapan, menyebut namamu saja, aku sudah merasa lega." Reo berusaha menahan air matanya namun entah kenapa ia menjadi cengeng saat ini. "Aku pernah bertanya pada Tuhan, kenapa harus kamu, gadis yang membuat aku jatuh cinta, sementara kita tinggal di benua yang berbeda. Berulang kali aku mencoba melupakanmu, mencoba dekat dengan gadis lain, namun tetap saja aku tak bisa melepaskan mu dari hatiku."
Air mata Reo mengalir. Membasahi wajah tampannya membuat Edewina tak tahan untuk menghapusnya. Reo mengambil tangan Edewina yang masih ada di pipinya, lalu mencium tangan itu secara bergantian.
"Walaupun cara aku mendapatkan mu mungkin tak baik di mata banyak orang, namun di hari pernikahan kita, aku benar-benar bahagia. Aku bahkan tak bisa tidur semalaman karena akhirnya, setelah 10 tahun menanti, aku bisa memilikimu. Aku....!"
"Sst....!" Edewina meletakan jari telunjuknya di depan bibir Reo. "Sebenarnya, saat mendengar cerita bibi Adeline kalau kak Sen sudah mencintai aku sejak aku masih kecil, membuat aku sungguh tak percaya. Memangnya ada pria berusia 19 tahun bisa jatuh cinta pada gadis kecil yang ditemuinya di pesawat? Namun dibalik keraguan itu, ada rasa bangga dalam diriku karena bisa dicintai sebesar ini. Aku tak tahu kapan rasa ini hadir, kak. Namun saat kamu mengacuhkan aku, saat kamu tak peduli dengan semua perhatian yang kuberikan padamu, aku rasanya sangat sakit. Makanya dari pada harus merasa sakit, aku memilih untuk cerai saja."
Reo tersenyum. Ia mengecup bibir Edewina dengan sangat lembut. Setelah itu ia menatap Edewina
"I love you. You are my first girl, my first love, the girl I want to be with for the rest of my life."
Air mata Edewina jatuh. "I love you too Christensen Haireo Almond." kata Edewina dengan suara yang bergetar.
Reo langsung memeluk istrinya. Ini adalah kebahagiaan yang sudah lama ia inginkan. Ini bahkan lebih indah disaat ia bisa mendapatkan tubuh Edewina pertama kali.
Agak lama keduanya saling berpelukan dengan posisi Edewina yang masih duduk di atas meja pantry.
Saat pelukan mereka berakhir, keduanya pun saling bertatapan.
__ADS_1
"Kak, ajari aku bagaimana bisa mencintaimu sebesar cinta yang kau miliki untukku." pinta Edewina membuat Reo semakin bahagia.
"Tentu saja, sayang." Ujar Reo dan langsung menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya. Memberikan ciuman yang sarat dengan perasaan cinta yang mendalam.
Edewina membalas ciuman Reo dengan perasaan yang sama. Ia juga merasakan kalau perasaannya begitu bahagia.
Ciuman yang awalnya lembut, saling mengungkapkan rasa cinta yang mendalam, akhirnya berubah menjadi suatu percikan api yang mulai membakar raga mereka. Edewina dapat merasakan tangan Reo yang tadi ada di pinggangnya, kini mulai mengangkat kaos yang Edewina kenakan dan membelai perut Edewina dengan gerakan yang sangat ringan, seringan bulu. Apalagi saat tangan Reo perlahan naik ke atas, menyentuh gunung kembar Edewina yang masih tertutup itu.
"Kak....!" Edewina memanggil Reo dengan sangat sensual saat Reo melepaskan bibir Edewina dan ciuman itu berpindah ke lehernya.
Kaki Edewina kini melingkar di pinggang Reo dan akhirnya Reo mengangkat tubuh Edewina seperti koala. Ia kembali mencium bibir Edewina dan melangkah ke arah kamar mereka.
Dengan gerakan tak sabar Reo membuka pintu kamar lalu melangkah dengan cepat dan akhirnya meletakan tubuh Edewina perlahan di atas ranjang.
Reo membuka kemeja yang yang dipakainya dengan gerakan cepat lalu ia menempatkan dirinya di atas Edewina dan mulai mencium istrinya lagi.
Suasana kamar berubah menjadi sangat romantis sekaligus panas oleh suasana yang tercipta diantara dua orang yang baru saja saling menyatakan cinta itu.
Sampai akhirnya, ketika Reo akan melepaskan celana jeans yang Edewina kenakan, perempuan itu tiba-tiba ingat sesuatu.
"Kak....!" Edewina menahan tangan Reo.
"Aku masih datang bulan."
"Duh Wina....!" Reo segera menggulingkan tubuhnya di sebelah Wina, mengusap wajahnya dengan kasar sambil terkekeh.
"Maaf....!" Dengan wajah polosnya, Edewina langsung memeluk Reo dan mencium pipi Reo. Setelah itu ia mengenakan kembali kaosnya yang sebenarnya sudah Reo lepaskan tadi.
Reo menatap istrinya yang sedang duduk. Ia pun ikut duduk lalu membawa Edewina dalam pelukannya. "Aku mengerti sayang. Dan aku akan siap menunggunya walaupun sebenarnya kau sudah membuat kepalaku sangat sakit."
Edewina melepaskan pelukan Reo dan menatap suaminya itu. "Kak, a...ku pernah baca. Beberapa hari yang lalu secara tak sengaja tentang cara memuaskan pasangan tanpa harus memasukan di anu...." Wajah Edewina menjadi merah. Ia menyesal telah mengungkapkan itu. Namun ia juga dapat melihat gairah suaminya yang masih begitu besar menguasai dirinya.
"Kamu mau melakukan apa?" tanya Reo menggoda walaupun sebenarnya ia sudah bisa membayangkan apa yang akan Edewina lakukan.
"Eh, nggak jadi." Edewina langsung menggeleng karena merasa dirinya terlalu nekat jika harus melakukan itu.
Reo kembali terkekeh melihat wajah Edewina yang merah bagaikan kepiting bakar.
"Aku tahu apa yang kamu maksudkan, sayang. Aku juga ingin kamu melakukan itu. Namun bukankah itu berarti hanya aku yang mendapatkan kepuasan sedangkan kamu tidak?" Reo membaringkan tubuhnya dan meminta Edewina untuk tidur di lengannya. Setelah Edewina membaringkan tubuhnya dalam dekapan Reo, suaminya itu mencium puncak kepala Edewina dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Aku masih bisa menahan hasrat ku. Aku akan menunggu sampai tamu bulanan mu pergi. Dan kita akan menikmati keintiman ini dengan meraih kepuasan secara bersama. Berapa hari lagi baru selesai?"
"Dua hari lagi."
"Nggak lama, kok. Asalkan kamu jangan pergi dariku, itu sudah lebih dari cukup."
"I love you." bisik Edewina lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
"I love you too, my wife."
Duh, Reo nggak sama dengan babang Jero. Kalau Abang Jero mau aja di buat cara-cara lain seperti itu. Ada yang kangen dengan om Jero nggak?
**********
Sebuah mobil Hammer hitam berhenti tak jauh dari rumah baru Reo dan Edewina.
"Jadi akhirnya mereka membeli rumah itu?"
"Iya, bos."
"Secara kebetulan, tanpa kita rencanakan akhirnya sasaran masuk perangkap sendiri."
"Dia akan lakukan apa saja untuk gadis itu."
"Dia memang gadis yang cantik. Pintar, masih muda dan penuh gairah. Biarlah menunggu sejenak sampai Reo akhirnya akan terpuruk karena gadis itu. Mencintai terlalu dalam, itu sebenarnya tak baik."
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?"
"Ada kamera di dalam rumah itu, kan?"
"Ada bos."
"Untuk sementara, itu sudah cukup. Mari kita pergi."
**********
Hallo semua
selamat pagi ...
__ADS_1
Ayo...., siapa si di mobil Hammer hitam itu?