MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Kau Memang Adalah Takdirku


__ADS_3

Suara tangis bayi terdengar dari luar ruangan operasi. Jack, Riani, Mahira dan Edmond yang berdiri di depan ruang operasi itu langsung saling menatap sambil tersenyum.


"Dia lahir....cucu kita sudah lahir. Leon kini punya adik." kata Mahira sambil melingkarkan tangannya di lengan suaminya.


"Iya sayang. Cucu kita sekarang dua." ujar Edmond dengan mata yang berkaca-kaca.


Edmond langsung menelepon Opa Edriges. Ia ada di rumah, menemani Leon. Saat mendengar kalau adiknya sudah lahir, Leon nampak bersorak gembira.


"Leon pasti sangat senang ya?" ujar Riani.


"Iya. Dia bahkan sudah meminta opa Edriges untuk mengantarnya ke rumah sakit." Mahira sudah bisa membayangkan bagaimana repot nya sang opa saat harus menahan keinginan Leon yang ingin segera datang ke rumah sakit.


Tak lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Reo keluar sambil menggendong putra keduanya dengan wajah bahagia dan terlihat bangga.


"Perkenalkan namaku LATHAN EDRIGES ALMOND." kata Reo dengan mata berkaca-kaca. Ia memang memberikan nama opa Edriges kepada anak keduanya karena Edewina yang menginginkannya. Opa Edriges sudah setia menemaninya sampai waktu bersalinnya telah tiba. Opa sendiri tak tahu kalau namanya akan diberikan pada anak Edewina.


"Oh...opa Edriges pasti akan sangat senang." Mahira nampak antusias menyambut nama itu, demikian juga dengan yang lain.


Baby Lathan terlihat sangat tampan dengan lesung pipit di kedua pipinya. Untuk sesaat, Mahira mengingat Teddy. Teddy memiliki lesung pipit seperti itu. Seperti juga Edewina dan kini turun kepada cucu mereka. Namun Mahira hanya menyimpan itu dalam hatinya. Ia menatap sang suami yang nampak terpesona menatap cucu kedua mereka.


"Kamu tahu sayang, aku merasa bahwa cucu kita yang kedua ini mirip Edewina. Kalau Leon seperti fotocopy papinya. Namun Lathan seperti fotocopy ibunya." ujar Edmond.


"Iya. Mungkin yang mirip Reo hanya rambutnya yang agak pirang."


Setelah itu Baby Lathan diantar ke kamar bayi dan Edewina pun di dorong menuju ke ruangannya.


Semua keluarga berkumpul sambil memberikan selamat. Setelah itu mereka kembali meninggalkan kamar dan membiarkan Edewina beristirahat ditemani oleh Reo.


Selama 2 jam, Edewina tertidur. Ia lahirnya bangun karena dokter datang memeriksanya. Edewina kemudian diminta untuk duduk.


"Sayang...., aku bahagia sekali." Ujar Reo setelah dokter dan perawatannya pergi.


"Aku juga bahagia." Ujar Edewina sambil membalas genggaman tangan suaminya.


"Terima kasih karena sudah memberikan aku 2 jagoan yang sangat tampan."


"Leon dan Lathan adalah anugerah Tuhan yang harus kita jaga dan syukuri. Pasti Leon sangat senang kan mendengar adiknya sudah lahir."


"Iya. Leon bahkan ingin segera datang ke rumah sakit. Namun opa Edriges ternyata bisa membuatnya tenang untuk bisa menunggu besok."


Edewina terkekeh. "Aku bisa bayangkan bagaimana repot nya opa menghadapi Leon."


Reo mengusap pipi istrinya dengan lembut. Edewina memejamkan matanya sejenak menikmati kasih sayang suaminya itu. "Aku tak pernah salah menentukan kemana hatiku berlabuh. Engkau memang takdirku."


Perkataan Reo membuat Edewina membuka matanya. Menatap wajah tampan suaminya. "Terima kasih untuk cintamu yang besar untuk diriku."


"Terima kasih juga karena mau menerima cintaku yang penuh paksaan ini pada dirimu."


Edewina tertawa. "Kau memang pemaksa suamiku. Namun jika kau tak melakukan itu, aku pasti sudah pergi dengan orang lain."


"Dan aku akan menyesal seumur hidup karena tak memaksamu. Tuhan memang sangat baik padaku. Karena membuatmu mencintaiku."


Edewina mendekat lalu mengecup bibir suaminya. "Tuhan juga teramat baik bagiku karena sudah memberikan dirimu. Pria terbaikku. Cinta sejati ku. Ayah dari anak-anakku."


Keduanya pun saling berpelukan dengan mesra. Hati mereka dipenuhi dengan cinta yang begitu besar. Tak ada lagi yang mampu memisahkan mereka karena ikatan suci diantara sudah menjadi ikatan seumur hidup yang hanya dapat dipisahkan oleh maut.


"Cepat sehat yang sayang. Kau harus mendapatkan lagi kekuatanmu. Aku tak sabar menanti kedatangan Levina."


"Levina?" tanya Edewina bingung.


"Iya. Adiknya Lathan. Aku ingin ada suara anak gadis di rumah."


Edewina melotot. "Kak Sen. Lukaku juga belum kering, sudah minta adiknya Lathan."


Reo kembali memeluk istrinya. "Iya. Nantilah kalau kamu sudah siap hamil lagi."


"Aku nggak mau. Dua saja cukup ya?" rengek Edewina.


"Terserah kamu, sayang. Dan terserah sama Tuhan saja." ujar Reo tak berani lagi bicara.

__ADS_1


*********


2 tahun kemudian......


Edewina menaburkan bunga di makam opa Edriges. Pria tua itu akhirnya meninggal setelah dua tahun ia tinggal di Inggris bersama Edewina. Ia menghabiskan hari-hari terakhirnya bersama kedua anak Edewina sampai akhirnya ia minta pulang ke Indonesia dengan alasan sudah kangen ziarah ke makam istrinya. Ternyata setelah 2 hari tiba di Indonesia, opa Edriges justru meninggal tanpa ada sakit apapun. Mahira menemukannya sudah berbaring di kamar tidurnya sambil memeluk foto istrinya.


"Sayang, ayo pulang. Sudah hampir malam. Semua yang datang di pemakaman juga sudah kembali. Kasihan Leon dan Lathan. Mereka berdua pasti juga sedih karena kakek buyut mereka sudah tak ada." Reo membujuk Edewina yang terlihat tak mau meninggalkan makam opanya.


"Opa menghabiskan hari-hari terakhirnya bersamaku. Aku merasa kesepian jika pulang ke Manchester tanpa ada opa lagi." tangis Edewina.


"Opa sudah bahagia, sayang. Ia telah menemukan tempat terbaik di samping Oma."


Edewina mengangguk. Ia mengusap papan nisan opa Edriges lalu segera berdiri dan mengikuti langkah suaminya untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Mahira dan Edmond pun memeluk putri mereka yang tak berhenti menangis saat tiba di rumah.


"Mami, jangan menangis. Kata opa Edmond, opa Edriges sudah di surga. Opa akan terus melihat kita dari surga. Leon nggak sedih lagi karena Leon tahu kalau opa masih akan melihat kita dari atas sana." Kata Leon sambil mengusap air matanya Edewina. Leon yang kini hampir berusia 7 tahun itu sudah cukup mengerti apa itu kehilangan.


"Iya sayang.Mami baik-baik saja. Mana Lathan?" tanya Edewina.


"Lathan sudah tidur di kamar. Tadi selesai makan dan mandi, Lathan bilang kalau ia sudah mengantuk."


"Leon juga ayo tidur. Jangan biarkan ade sendirian di kamar." Kata Edewina.


Leon mengangguk. Ia memang anak yang patuh. Tak sampai disuruh dua kali, ia pun segera menuju ke kamar tempat adiknya tidur untuk menemani Lathan.


"Sayang, kamu makan dulu ya? Mami sudah buatkan bubur Manado kesukaanmu." ujar Mahira.


"Baiklah."


Reo memeluk pundak istrinya dan segera menuju ke ruang makan. Makanan sudah di atur di sana.


Mereka berempat pun duduk di depan meja makan. Reo mengambilkan makanan untuk Edewina. Namun saat Edewina mencium bau bubur Manado itu, ia tiba-tiba saja merasa mual. "Aku mau muntah." kata Edewina lalu segera berlari menuju ke kamar mandi.


Reo terkejut melihat istrinya. Ia segera mengejar langkah Edewina. "Sayang, ada apa?"


Reo melihat kalau Edewina muntah di dalam kamar mandi.


Edewina membersihkan mulutnya dengan air, lalu keluar dari kamar mandi.


"Ini tanggal berapa?" tanya Edewina.


"Tanggal 5 Desember. Memangnya kenapa?"


"Acara ulang tahun anaknya Mark, akhir Oktober kan?"


"Iya. Tanggal 24. Kenapa sih? Kok tanya tanggal melulu?"


"Saat ulang tahun Mark, aku sedang haid hari ketiga. Seharusnya. Akhir November, aku sudah mendapatkan haid ku lagi. Mungkin karena terlalu sibuk menyiapkan kepulangan opa ke sini, aku jadi lupa dengan tanggal datang bulanku."


"Maksud kamu apa?"


"Kak Sen, aku sudah terlambat datang bulan selama 11 hari."


Mata Reo membulat dengan sempurna.


"Dan aku tak pernah terlambat datang bulan." sambung Edewina.


Mata Reo berkaca-kaca. "Kamu nggak suntik kontrasepsi lagi?"


"Seharunya aku suntik lagi selesai haid. Namun aku lupa karena opa tiba-tiba saja bilang ingin pulang ke Indonesia."


Reo langsung memeluk Edewina. "Sayangku. Istri terbaikku. Wanita yang kuinginkan seumur hidupku. Aku yakin kalau kau hamil." Reo melepaskan pelukannya lalu menunduk sambil mengecup perut Edewina. "Selamat datang Levina. Akhirnya doa papi terjawab juga."


"Bagaimana kalau yang datang bukan Levina? Bagaimana kalau yang hadir adalah baby boy."


Reo memegang kedua sisi pipi Edewina. "Entah mengapa kali ini, aku merasa kalau Levina sungguh sedang tumbuh dalam perutmu." kata Reo dengan penuh keyakinan.


**********

__ADS_1


Edewina menatap foto keluarga mereka. Ada dirinya yang sedang memeluk Levina yang saat itu berusia 5 tahun dan Reo yang sedang memeluk kedua putra mereka Leon dan Lathan.


"Sayang.....!" Reo memeluk Edewina dari belakang. Mereka kini ada di rumah desa. Tak terasa 18 tahun sudah mereka menikmati kebahagiaan sebagai pasangan suami istri.


Banyak yang sudah pergi. Sahabat terbaik Edewina si Clara yang meninggal karena sebuah kecelakaan mobil bersama suaminya. Bibi Adeline yang juga telah pergi. Dan keluarga Almond sangat berduka ketika Jack Almond menutup usianya 1 tahun yang lalu karena sakit jantung yang tiba-tiba menyerangnya.


Daniel, suami pertama Riani juga sudah meninggal.


Keluarga Almond sudah mencabut larangan bagi Kennard Lim untuk datang ke Inggris. Lelaki itupun datang 3 bulan untuk mengunjungi ayah angkatnya.


Ken dan Indira sudah memiliki 2 orang anak. Keduanya laki-laki. Mark dan Sinta pun memiliki 2 orang anak. Keduanya perempuan.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Reo sambil memeluk istrinya dari belakang.


Edewina membalikan badannya sehingga ia bisa menatap suaminya. Beberapa uban sudah mulai tumbuh diantara rambut Reo yang berwarna coklat itu. Suaminya tak pernah mau mengecat rambutnya. Putri mereka Levina juga mengatakan kalau papinya terlihat sebagai hot Daddy dengan beberapa uban itu.


"Di mana anak-anak?" tanya Edewina.


"Levina sedang menonton drama Korea di ruang keluarga. Lathan masih main game dan Leon sedang curhat dengan Oma Riani di dapur sambil menikmati coklat panas."


"Curhat apa?"


"Sepertinya tentang seorang cewek."


Edewina terbelalak. "Anakku sudah mulai jatuh cinta?"


"Sayang, usianya 4 bulan lagi genap 17 tahun. Wajarlah jika ia mulai menyukai lawan jenis."


"Tahu nggak siapa gadis itu?"


"Maminya jadi kepo sekarang ya..."


Edewina tertawa. "Aku nggak mau kalau dia bergaul dengan anak yang nggak baik."


"Namanya Merry."


"Merry?"


"Kalau nggak salah dengar sih. Soalnya aku tadi juga sedikit menguping."


"Dasar kau ya! Tapi Merry siapa?"


"Merry anaknya Mark dan Sinta."


"Ah anakku....kenapa setiap kali Merry datang dia terlihat sok cuek."


"Sifat siapa itu?"


Edewina menatap suaminya."Bukan sifatku."


"Itu juga bukan sifatku."


"Eh....kok bertengkar?" Leon, Lathan dan Levina tiba-tiba saja muncul dan memeluk mama dan papa mereka.


"Nggak bertengkar sayang. Papi hanya bilang kalau mami tambah cantik saja." ujar Reo membuat ketiga anaknya mengerutkan dahi mereka sambil saling bertatapan dan akhirnya kompak untuk bicara.


"Lebay....!"


Tawa mereka menghiasai rumah kecil itu. Riani yang mendengar di dapur pun tersenyum bahagia. Ia menatap potret suaminya yang tergantung di sana.


Aku tak pernah kesepian sayang. Karena ada mereka. Walaupun aku harus jujur mengatakan kalau aku merindukanmu.


Reo dan Edewina berpelukan dengan ketiga anak mereka. Sungguh manis takdir yang telah menyatukan mereka walaupun harus dilalui dengan banyak air mata.


*********


Hallo semuanya.....


Apakah emak sudah boleh mengahiri cerita ini?

__ADS_1


Jangan lupa baca cerita baru emak yang guys ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS


__ADS_2