
Edewina memejamkan matanya saat dirasakannya kalau pisau itu menyentuh kulit lehernya. Papi...., mami....Kak Sen..., maafkan aku pergi tanpa pamit.
dor......dor......dor.....
Terdengar suara baku tembak di depan gudang itu. Suasana seketika menjadi kacau. Edewina langsung membuka matanya. Jantungnya langsung berdetak sangat cepat.
Tak lama kemudian, pintu gudang terbuka dan mereka akhirnya mendorong Reo masuk.
"Kak Sen.....!" Edewina jadi menangis melihat Reo yang masuk. Ada luka di pelipis dan bibirnya.
Justin tertawa. "Waw.....waw....waw...., tak terduga si pangeran akhirnya datang."
Reo menatap Justin dengan menahan emosi di dadanya. "Dasar banci! Kalian bisanya menangkap seorang perempuan. Lepaskan istriku!"
Ken tersenyum mendengar perintah Reo. "Aku akan menjadikan Edewina milikku kembali. Namun sebelumnya aku ingin kau membuat keputusan dulu, Almond!"
Cecelia mengangkat tangannya. Seseorang membawa masuk Indira. Wanita itu terlihat kacau.
"Sekarang saatnya kau harus memilih, Reo. Indira atau Edewina. Yang tidak kau pilih maka dia akan mati." kata Justin.
"Kalian sungguh tak punya hati. Bagaimana mungkin kalian akan membunuh wanita yang sedang hamil?" teriak Reo. Ia memang tak mencintai Indira sebagai kekasih. Namun ia menyayanginya seperti seorang adik.
Indira menangis. Ia sudah tahu kalau Reo akan memilih siapa. Ia tahu bagaimana besarnya cinta Reo untuk Edewina.
"Lepaskan mereka, Justin. Jika kau marah padaku karena adikmu, hukumlah aku. Walaupun pada kenyataannya aku tak bersalah atas apa yang terjadi pada adikmu." Ujar Reo.
"Kalau adikku tak bisa mendapatkan kebahagiaan, maka kau juga tak akan pernah, Reo. Kau akan mengenang hari ini sebagai hari yang paling bersejarah dalam hidupmu. Namun, walaupun kau akhirnya memilih Edewina, aku akan tetap mempersilahkan Ken untuk mencicipi tubuh Edewina karena dia memang sangat menyukainya. Walaupun sebenarnya, aku juga sangat tergila-gila pada Edewina. Kau memang mencintai wanita yang tepat, Reo. Wanita yang diinginkan oleh banyak pria namun sayangnya, dengan sedikit paksaan, kau telah membuat wanita ini jatuh cinta padamu." Justin mendekati Reo. Tangan Reo telah diikat ke belakang sehingga pria itu tak dapat melakukan apapun.
"Adikku menjadi gila karena penolakanmu kepadanya. Dia sekarang harus mendekam di rumah sakit menjijikkan itu. Dia akan tertawa setiap kali melihat fotomu. Dan kau memilih perempuan dari keluarga Moreno. Keluarga yang juga udah menghancurkan mimpi terindah bibiku. Bibi Monalisa yang cantik harus mati dengan cara menggenakan karena Edewina menghalangi peluru untuk ibunya. Mahira Moreno. Perempuan yang telah merebut cinta sejati bibiku dari Edmond Moreno."
"Kalian semua keluarga yang sakit. Sama-sama tak bisa menerima kenyataan kalau cinta tak bisa dipaksakan." Reo tak bisa menahan dirinya untuk tak melontarkan hinaan pada Justin.
Pria itu justru tertawa. Ia menatap cecilia. "Mommy sayang, ada yang ingin kau katakan?"
"Mahira dan Indira pasti sekarang sudah mati. Edmond dan Jack terlalu fokus mencari Edewina sampai meninggalkan kedua bidadari mereka di dalam mansion nya." tawa Cecilia pecah.
"Apa maksudmu?" tanya Reo kaget. Perasaannya langsung tak enak.
Cecilia membuka tabletnya dan memutar siaran TV.
"Sungguh tak pernah terpikirkan sebelumnya kalau mansion keluarga Almond yang ada di pusat kota London itu meledak tanpa tersisa. Saat ledakan terjadi, di rumah itu ada Riani Almond dan besannya Mahira Moreno dan beberapa pelayan juga para bodyguard. Jika melihat kondisi rumah yang hancur berkeping-keping, sudah dipastikan tak ada yang selamat."
Air mata Reo langsung jatuh. Wajah mami Riani terbayang-bayang di pelupuk matanya. Wanita lembut yang sangat mengasihinya.
__ADS_1
"Tidak.....! Tidak......!"
Edewina pun langsung histeris. Mami Mahira ada di sana juga. "kalian sungguh kejam...! Kalian terkutuk!" teriak Edewina. Ia tak sanggup membayangkan kondisi mami Mahira saat ledakan itu terjadi.
"Beginilah caraku membalaskan dendam masa laluku. Riani telah merebut Jack dari sisiku. Aku mencoba membunuh Jack namun ia masih bisa selamat. Makanya aku ingin membuat Jack dan Edmond menderita dengan mengambil 2 wanita kesayangan mereka."
Indira juga menangis saat mengingat mami Riani yang sangat sayang dan perhatian padanya.
Ken menghapus air mata Edewina dengan sangat lembut. "semua ini tak akan terjadi jika kamu tetap bersama-sama dengan aku, Wina sayang."
"Lepaskan aku, Ken. Jangan sentuh aku! Kau bukan Ken yang aku kenal." Edewina menjadi histeris dan berusaha untuk menendang Ken namun ia pun tak bisa karena tangan dan kakinya terikat.
"Sayang, aku tak akan pernah mencelakai mu. Jika kau katakan bahwa kau ingin bersamaku, maka kita berdua akan pergi dari sini. Kita akan meninggalkan tempat ini. Aku akan menerima anakmu sebagai anakku." bisik Ken lalu mencium pipi Edewina. Reo menatap Ken dengan sangat marah. Mana mungkin ia akan membiarkan ada pria lain yang akan menyentuh istrinya.
"Simpanlah semua angan-angan mu itu di penjara nanti, Ken. Aku takan akan pernah membiarkan kau memilikiku. Aku lebih baik mati dari pada harus bersamamu." kata Edewina pelan namun sangat menusuk hati Ken.
"Siapkan helikopter. Aku akan pergi dari sini dengan Edewina ku." Kata Ken.
"No, Ken! Kesepakatan kita bukanlah seperti itu. Jika Reo tak bisa memiliki Edewina, demikian juga dengan kamu dan aku." Justin nampak tak suka.
"Kami akan pergi jauh dari sini. Reo akan menderita seumur hidupnya karena tak akan pernah menemukan istri dan anaknya."
Justin menggeleng. "jangan buat aku marah, Ken!"
"Aku hanya ingin Edewina. Bukankah selama ini aku sudah banyak membantumu? Aku bahkan menentang ayah angkat ku demi kalian. Aku hanya ingin Edewina." Ken tak mau mengalah. Tadi memang dia ingin membunuh Edewina namun hati kecilnya melarang karena bagaimana pun ia sangat mencintai gadis itu.
"Hei, ada apa dengan kalian. Fokus pada apa yang sudah kita rencanakan sejak awal. Dan kau, Ken. Jangan jadi lelaki cengeng. Edewina sudah tidak mencintaimu. Ia sudah mencintai Reo." Cecilia nampak kesal melihat bagaimana dua pria itu sudah mulai emosi.
"Bunuh saja Indira dengan anak yang ada di kandungannya. Itu sudah merupakan balasan yang setimpal untuk Reo. Karena rencanamu dengan membuat Indira hamil ternyata tak bisa memisahkan Reo dan Edewina." kata Justin dengan sedikit mengejek.
"Apa maksud kalian?" tanya Indira.
Justin menatap Indira dengan tatapan mengejek. "kau jangan bermimpi bahwa anak yang ada dalam kandunganmu itu adalah anak Reo. No! Itu adalah anak Kennard Lim." Ucap Justin membuat Cecilia nampak kesal karena Justin sudah membuka satu rahasia mereka.
"Apa?" Reo, Edewina dan Indira sama-sama terkejut.
"Di malam Reo dan kamu mabuk, Ken sebenarnya mengikuti kalian. Ia memberikan bius lewat udara dan membuat Mark dan kalian berdua benar-benar tertidur nyenyak. Ken lah yang sudah memperkosa kamu malam itu, Wina sayang. Sebagai dokter ia tahu kalau itu adalah masa subur mu. Dan tentu saja ia berharap Edewina akan meninggalkan Reo saat tahu kehamilanmu."
"A...pa?" Indira semakin terkejut.
"kau jangan pura-pura sok kaget begitu, Indira sayang. Sebenarnya kau juga ingin Reo bertanggungjawab padamu. Kau pura-pura menunjukan hasil testpack di hari itu namun kau tentu tak menduga kalau Edewina juga sedang hamil. Jelaslah kalau Reo akan memilih Edewina." Justin kemudian tertawa.
"Tidak.....! Tidak.....!" Indira menjadi tak terkendali. Ia yang memang tak diikat dengan cepat merebut pistol yang ada di tangan salah satu penjaga dan mulai menembak dengan membabi-buta. Pada saat yang sama pintu depan terbuka dan masuklah Jack dan Edmond.
__ADS_1
Suasana langsung menjadi kacau. Reo dengan cepat dibebaskan oleh salah satu anak buah Jack dan ia langsung berlari untuk menyelamatkan istrinya yang masih terikat.
Namun, sebelum Reo tiba di dekat Edewina, Cecilia dengan cepat sudah berada di belakang Edewina dan menodongkan pistol ke dada perempuan itu.
Jack dan Edmond yang sebenarnya sudah menguasai keadaan langsung terhenti langkahnya.
"Cecilia.....! Lepaskan dia!" ujar Jack.
Cecilia tersenyum. "Tidak, Jack. Aku akan membunuh wanita yang dicintai anakmu. Sepert juga aku telah membunuh istri kesayanganmu, Riani!" Ia kemudian menatap Edmond. "Akan ku balaskan juga dendam suamiku yang telah kehilangan adiknya, Monalisa. Karena kamu, Edmond Moreno." Cecilia melepaskan pengaman yang ada di pistolnya.
Ken yang memegang pisau ditangannya langsung menusuk pinggang Cecilia. Perempuan itu mengerang kesakitan namun ia masih sempat melepaskan satu tembakan yang menembus dada Edewina.
"No......! No.....!" teriak Reo dan langsung menembak Cecilia dengan beberapa tembakan.
Ia langsung memeluk Edewina lalu membuka ikatan yang ada di tangan dan kaki Edewina, dibantu oleh Edmond.
"Kak Sen...., to...long se...la...mat kan anakku." kata Edewina sebelum menutup matanya.
"No.....! Wina.....honey....no....!" teriak Reo sambil memeluk tubuh Edewina.
Edmond menangis histeris saat melihat anaknya yang tak bergerak lagi.
"Tuan, nona Indira sepertinya akan melahirkan. Namun tangan dan kakinya terkena tembakan juga." ujar Mark pada Jack.
Jack mengusap wajahnya yang sudah basah dengan air mata. "Keadaan rumah?"
"Tak ada yang selamat, tuan." Kata Mrk tanpa bisa juga menahan air matanya.
Cecilia yang ternyata masih bernapas, menatap Jack. "Kau kehilangan semua wanita yang kau cintai, Jack."
Dor!
Jack menembak dahi Cecilia dan memastikan bahwa perempuan itu sudah tewas.
Mark langsung menghubungi 911.
***********
Sad ending ya?
Teganya kau emak!
Maaf jika endingnya agak beda dari novel emak yang lain ya?
__ADS_1
nantikan novel emak terbaru yang nggak ada misteri, nggak banyak konflik bergenre komedi romantis