MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Calon Mama Mertua Yang Baik Hati


__ADS_3

Selesai kuliah, Edewina sudah dijemput oleh Riani. Kali ini akan melihat sepatu yang akan mereka gunakan.


Edewina bersyukur karena Reo tak ikut sebab ada rapat yang tak bisa ia tinggalkan.


Mereka memasuki toko sepatu yang terkenal di Inggris. Beberapa model sepatu sudah disiapkan di ruangan VIP.


"Wina sayang, pilihlah sepatu mana yang akan kau kenakan di hari pernikahanmu nanti." ujar Riani dengan lembut.


"Aku.....!" Edewina bingung. Sesungguhnya ia berharap sesuatu akan terjadi dan pernikahannya itu batal.


"Ayo dilihat-lihat dulu, nak. Mana yang cocok di matamu."


Edewina memilih dengan asal satu model sepatu. Namun saat pelayan toko memasangkan di kakinya, gadis itu terkejut karena sangat cantik di kakinya.


"Ayo pilih lagi, nak. Yang satu untuk acara pemberkatannya dan yang satu untuk acara resepsinya."


"Yang satunya, mommy saja yang pilihkan."


"Sungguh?" Riani nampak senang.


"Iya."


Riani memilih sebuah sepatu berwarna pink-putih. "Bagaimana menurutmu?"


"Bagus, mom."


Setelah dari toko sepatu, Riani mengajak Edewina untuk minum kopi bersama.


"Wina sayang, bolehkah mommy bertanya sesuatu?"


"Tentu saja boleh."


"Maaf kalau mommy salah. Namun mommy melihat kalau Wina nampaknya kurang bersemangat dalam persiapan pernikahan ini. Kemarin saat memilih cincin bersama Reo, mommy juga perhatikan kalau Wina tak ikut memilih. Ada apa? Apakah Reo memaksa Wina dalam pernikahan ini?"


Edewina diam sejenak. Ingin rasanya ia mengatakan secara jujur mengenai isi hatinya. Namun saat mendengar bagaimana sang opa sangat antusias dengan pernikahan ini, bagaimana kesehatan opa menjadi lebih baik, Edewina terpaksa mengurungkan niatnya.


"Tidak, mom. Hanya saja di kampus ada sedikit masalah dengan salah satu dosen. Nilai Edewina agak turun sementara Edewina nggak tahu apa salah Edewina."


Riani menggenggam tangan Edewina. "Begitulah kalau anak pintar. Mommy juga saat kuliah dulu sepertimu. Rasanya stres sekali jika nilainya jelek. Namun dibawah santai saja, ya? Jangan terlalu tegang."


"Iya mommy."


"Mommy senang karena Reo akhirnya akan menikah. Selama bertahun-tahun ia selalu sendiri, tak punya teman dekat wanita selain Indira yang dianggapnya hanya sebagai adiknya saja. Mommy pikir kalau Reo mungkin pencinta sejenis karena banyak yang seperti itu di sini. Ternyata tidak. Kamu telah memenangkan hati Reo. Dan kamu juga telah memenangkan hati mommy." Riani memegang pipi Edewina. "Semoga Tuhan memberkatimu, nak."


Edewina menjadi tersentuh dengan kasih sayang yang diberikan Riani padanya. Ia jadi tak tega disayang seperti ini sementara dirinya sama sekali tak mencintai Reo bahkan Edewina membenci pria itu.


*********


Mahira mengetuk pintunya pintu kamar anaknya. Setelah itu ia masuk dan melihat Edewina sedang belajar.


"Sayang, ini ada kiriman kue putu dari mamanya Reo."


"Kue putu? Memangnya ada di sini?"


Mahira membuka kotak makanan itu. Edewina yang memang sangat suka dengan kue putu langsung memakannya. "Enak. Tahu dari mana kalau aku suka kue ini?"

__ADS_1


"Nyonya Riani menanyakan apa saja kesukaanmu. Dia ingin kamu beta menjadi menantu keluarga Almond."


Edewina mendengus kesal. "Ma, memangnya pernikahan ini nggak bisa ditunda lagi?"


"Semuanya sudah hampir selesai. Apa kamu mau mengecewakan opa mu?"


"Tapi aku tak mencintai Reo, ma."


Mahira duduk di depan putrinya. "Dulu, waktu mami menikah dengan papi pun, mami tak mencintainya. Mami masih mencintai papa Teddy. Namun, papi Edmond begitu tulus mencintai mami. Ketulusannya membuat mami jatuh cinta padanya."


Edewina menggeleng. "Aku tak mungkin akan jatuh cinta pada Reo." Karena seluruh cintaku hanya untuk Ken.


"Mami melihat bagaimana cara Reo menatapmu. Seperti cara papi menatap mami. Penuh binar cinta. Entah mengapa, mami tak ragu menyerahkan kamu ke tangan Reo. Apalagi orang tua Reo kelihatan baik. Mama Reo sama-sama orang Indonesia."


Edewina berusaha tersenyum pada hal hatinya sangat tersiksa. Ingin rasanya ia pergi dari sini dan menghilang saja.


Mahira berdiri. "Selamat menikmati kue ya. Mami mau lihat opa dulu."


"Iya." jawab Edewina singkat. Ia telah kehilangan selera terhadap kue itu.


Setelah mamanya pergi, Edewina mengambil ponselnya. Melihat galeri foto. Kenangan manisnya bersama Ken sangat banyak. Tak sadar Edewina menangis. Ken, i Miss you so much.


***********


Di kampus, Edewina menyelesaikan beberapa tugasnya secara cepat. Mereka akan masuk libur musim panas.


"Win, bagaimana persiapan pernikahan lu? Gue baru tahu ternyata Reo itu salah satu pengusaha muda yang terkenal lho. Perusahaannya pernah dapat penghargaan sebagai perusahaan yang paling sukses tahun yang lalu. Dia juga atlet peselancar seperti papanya Jack Almond." ujar Clara saat mereka sedang istirahat di kantin.


"Gue justru tak tahu."


"Usianya terlalu jauh di atas ku."


"Bedanya juga nggak sampai 9 tahun. Kalau papa dan mamaku justru bedanya 15 tahun dan tetap saling menyayangi sampai sekarang."


Edewina menggelengkan kepalanya. "Gue pusing. Nggak tahu harus bagaimana."


"Nikmati saja, Win. Kan dia tetap mengijinkan lu kuliah. Gue yakin kalau babang Reo orang baik. Gue nggak menemukan satu berita pun yang mengabarkan kalau dia itu play boy, pernah punya pacar, pernah tinggal serumah dengan para model dan lain sebagainya. Catatan nya bersih. Pria sejati kayaknya. Kalau pun ternyata ia punya affair dengan para gadis, mungkin itu secara tersembunyi."


"Ah...., nggak tahu gue. Pusing deh." ujar Edewina menepuk jidatnya.


"Selamat siang...!"


Edewina terkejut mendengar suara Reo. Ia mengangkat wajahnya. Ngapain cowok ini di sini?


Sinta menginjak kaki Edewina melihat sahabatnya itu hanya memalingkan wajahnya ke tempat lain.


"Ada apa?" tanya Edewina dingin.


"Sayang, aku menjemputmu untuk ke butik. Kita mau fitting baju pengantin." ujar Reo.


"Aku masih ada...."


"Urusan kita sudah selesai hari ini kan? Kamu pergi saja. Nanti kirim lewat wa daftar nilai yang keluar." Sinta memotong ucapan sahabatnya. Ia tahu kalau Edewina pasti akan menolak.


Edewina melotot ke arah sahabatnya.

__ADS_1


"Sudah sana pergi!" Sinta menarik tangan sahabatnya itu untuk berdiri.


Edewina pun meraih tas nya dan segera pergi diikuti oleh Reo.


Jalan Edewina yang cepat tak membuat Reo kesulitan mengejarnya karena kaki pria itu panjang.


Mobil Edewina sedang digunakan oleh kedua adiknya yang ingin keliling kota London hari ini.


"Kenapa tak telepon saja biar aku pergi sendiri?" tanya Edewina.


"Aku tahu kalau kamu nggak bawa mobil. Jarak tempat ini ke kota London kan hampir 1 jam. Nanti kamu capek harus naik bis."


"Nggak usah sok peduli." ketus Edewina. Reo hanya tersenyum melihat muka masam calon istrinya itu. Mau ditekuk bagaimana pun, wajah Edewina tetap terlihat cantik di mata Reo.


Setelah sampai di halaman parkir, Reo membuka pintu bagi Edewina. Namun seperti biasa, gadis itu memilih duduk di belakang.


"Win, kenapa duduk di belakang?"


"Apa masalahnya dengan duduk di belakang?" tanya Edewina.


Reo menarik napas panjang dan menghembuskan nya secara perlahan. Ada rasa sakit di hati Reo melihat bagaimana cara Edewina bersikap padanya. Namun cowok itu berusaha sabar. Tinggal beberapa hari lagi dan Edewina akan menjadi miliknya.


Mereka pun akhirnya tiba di rumah mode The Aslon (yang baca novel my Best Photo pasti ingat). Tak ada percakapan yang tercipta di sepanjang perjalanan walaupun Reo berusaha agar ia dan Wina dapat bicara. Kenyataan nya, gadis itu diam seribu bahasa.


Maura Aslon, adalah salah satu perancang di rumah mode itu. Dia juga perempuan asal Indonesia yang masih terlihat cantik di usianya yang tak muda lagi. Semenjak Alicia Aslon, ibu mertua Maura memilih untuk pensiun, istri Ben Aslon itu yang kini bertanggungjawab di rumah mode Aslon.


"Hallo cantik, senang sekali melihat ada orang Indonesia di sini." Maura dengan sikap bersahabat, seolah-olah sudah lama mengenal Edewina langsung merangkul gadis itu dan berbicara dalam bahasa Indonesia.


Riani pun ada di sana bersama Mahira.


"Biasanya perempuan Indonesia yang dinikahi para bule, selalu dijadikan istimewa. Aku kenal beberapa perempuan Indonesia di sini yang berhasil. Faith Thomson, Fairy Manola dan beberapa lagi yang lain adalah wanita-wanita tanggung yang mampu membawa perubahan baik pada suaminya." ujar Maura sambil membantu Edewina memasang gaun pengantinnya. Ia harus bekerja extra karena hanya 2 minggu waktu yang diberikan baginya untuk menjahit 2 gaun pengantin.


"Wah, kau cantik sekali sayang." Maura nampak kagum melihat Edewina yang terlihat seperti putri saat menggunakan gaun pengantin buatannya.


Mahira dan Riani pun sepakat.


Di ruangan yang lain, Edmond, Jack dan Reo sedang juga melakukan hal yang sama.


Jack menatap putranya. Ada rasa bahagia karena Reo akhirnya akan menikah. Jack sadar bahwa usianya tak muda lagi. Ia sudah menikahkan Cassie dan Arma, kini tinggal anak bungsunya saja. Pewaris tahta keluarga Almond.


Edmond pun memperhatikan Reo. Sekalipun ia masih ragu dengan ketulusan Reo pada Edewina namun ia tak punya pilihan lain. Edewina harus menikah dengan Reo agar cerita lama tak terulang lagi. Edmond takut jika Edewina hamil dan ternyata harus dibesarkan nama laki-laki lain.


Selesai fitting baju pengantin, mereka minum kopi bersama. Waktu masih menunjukan pukul setengah lima sore, tentu saja terlalu cepat untuk makan malam.


"Mulai besok, kita akan pindah ke Manchester. Pernikahannya akan diadakan di salah satu hotel dekat pantai. Agak privasi memang karena itu semua tamu yang datang harus menggunakan tanda pengenal khusus." ujar Jack.


"Ya. Reo sudah mengatakannya. Kami juga tak terlalu suka dengan banyaknya wartawan. Kami tahu kalau kalian orang terkenal di Inggris ini makanya banyak orang yang ingin tahu tentang kehidupan kalian." kata Edmond.


"Kami hanya mengundang keluarga dekat dan beberapa rekan bisnis Reo. Mungkin hanya 100 orang saja. Tapi kalau ada tambahan lain dari keluarga Moreno di persilahkan. Konsep pestanya adalah pesta taman, bisa sampai 500 orang." ujar Riani.


"Keluarga kami tak banyak. Dari Spanyol mungkin sekitar 10 orang dan dari Indonesia juga demikian. Maklumlah, nikahnya agak mendadak jadi yang lain kesulitan untuk mendapatkan visa." kali ini Riani yang bicara. Sedangkan Edewina hanya diam. Sesekali, Reo yang duduk di sampingnya mengajak gadis itu bicara. Namun Edewina tidak terlalu menghiraukannya karena ia sementara memutar otaknya untuk membatalkan pernikahan ini.


***********


Hallo semuanya. Terima kasih sudah membaca sampai part ini.

__ADS_1


dukung emak terus ya guys


__ADS_2