
Pagi hari, ketika Edewina bangun, ia tak menemukan Reo ada di kamarnya.
Baguslah. Apakah ia memang akhirnya pergi?
Pintu ruangan tempat Edewina dirawat di buka. Ternyata Justin yang masuk.
"Good morning."
"Justin?"
"Kenapa terkejut melihat aku di sini?"
"Ini kan belum jam besuk. Kenapa kamu bisa masuk?"
"Aku kan penjaga pasien. Namaku tercatat di buku tamu. Makanya diijinkan masuk. Aku membawakan bubur khas Korea buatan mamaku. Ini pasti akan membuat perutmu menjadi enak dan cepat sehat." kata Justin sambil mengangkat sebuah termos makanan yang ada di tangannya.
"Wah, aku sungguh merepotkan mu."
"Sayangnya aku tak merasa direpotkan." ujar Justin lalu mulai menuangkan bubur yang dibawahnya.
Saat Edewina melihat bubur itu, ia jadi ingat dengan Ken yang pernah membuatkan ia bubur seperti ini saat ia sakit di apartemennya. Namun gadis itu buru-buru menggelengkan kepalanya sambil berusaha membuang kenangannya bersama Ken.
"Kamu nggak suka?" tanya Justin.
"Bukan...." Edewina menggoyangkan kedua tangannya di depan Justin.
"Lalu apa maksud kamu menggelengkan kepala mu?"
"Bubur seperti ini pernah dibuatkan oleh seseorang untukku."
"Kennard Lim?"
"Kamu tahu dari mana?"
"Tahu saja."
Edewina tertunduk sedih. "Melupakan cinta pertama untuk bersama dengan seseorang yang sama sekali tak kita cintai bukankah hal yang mudah. Aku baru tahu ternyata kamu adalah istri Christensen Almond." Justin nampak menyimpan kekecewaan. "Kenapa harus bercerai? Christensen baik, lho. Ia tak pernah punya affair dengan perempuan lain. Boleh dikata kalau dia adalah lelaki yang bersih. Banyak gadis yang dibuatnya patah hati karena pernyataannya di sebuah wawancara."
"Apa pernyataannya?"
"Aku sedang menanti seorang gadis yang telah membuatku jatuh cinta sejak pandangan pertama. Aku tak mungkin akan berpaling pada gadis yang lain."
"Menurutmu, siapa gadis itu?"
"Kamulah. Siapa lagi? Hanya kamu kan yang berhasil dinikahi oleh Christensen?"
Edewina hanya diam.
Justin tersenyum melihat Edewina yang tak bicara. "Semua perempuan pasti mendambakan cinta yang besar sebesar cinta yang dimiliki Christensen untukmu."
Edewina kini menatap Justin. "Lebih berbahagia adalah dicintai dari pada mencintai."
"Maksud kamu apa?"
"Kamu kok polos banget sih? Jangan bercerai dari Christensen, cantik. Sekarang habiskan buburnya."
Edewina menikmati bubur yang dibawa oleh Justin dengan lahap. Ia memang merasa lapar saat bangun pagi ini.
__ADS_1
Setelah Edewina selesai makan, Justin pamit untuk kembali bekerja karena ia punya rapat khusus.
Edewina kembali merasa kesepian. Ia tak tahu kemana Reo dan terlalu gengsi untuk menelepon pria itu.
Namun kata-kata Justin cukup mempengaruhi hatinya. Membuat Edewina mengingat kembali awal pertemuannya dengan Reo saat Edewina duduk di kelas 2 SMA. Pertemuan yang ternyata bagi Reo adalah pertemuan kedua.
Semalam ia mengatakan kalau ia tak mau pergi dariku. Namun kemana ia sekarang?
Seorang perawat datang membawakan makanan dan obat-obatan bagi Edewina. Walaupun sebenarnya Edewina masih kenyang karena memakan bubur yang dibawah Justin namun akhirnya Edewina makan juga makanan rumah sakit itu karena ia merasa bosan sendiri.
Menjelang sore, dokter Martha datang untuk memeriksa Edewina. Perempuan itu memohon agar ia bisa pulang dan dokter pun mengijinkan dengan beberapa catatan yang harus Edewina patuhi.
Tepat di saat itu Reo datang bersama Mark.
"Sayang, memangnya kamu sudah sehat?" tanya Reo melihat Edewina yang sudah mengganti pakaian rumah sakitnya dengan pakaian biasa.
"Aku sehat."
"Baiklah. Kalau memang kamu memaksa. Ayo pulang bersama aku."
Edewina awalnya enggan. Namun ia mengikuti juga keinginan Reo. Mereka duduk berdua di belakang sementara Mark ada di depan mengendarai mobil mercy hitam milik Reo.
"Mark, alamat apartemenku tak jauh dari kampusku." kata Edewina.
Mark tak menjawab. Ia hanya memandang Reo dari kaca spion dan lewat tatapan mata majikannya, Mark mengerti apa yang diinginkan bosnya.
"Kita mau kemana, Mark? Bukan ke sini arah menuju kampusku?" tanya Edewina saat ia melihat bahwa mobil itu berbelok ke arah yang lain.
"Jangan panik sayang." Reo berusaha menenangkan Edewina dan akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya klasik yang tak terlalu besar, dengan halaman yang luas dan pagar yang tak terlalu tinggi. Mata Edewina membulat melihat Ferrari klasik merah terparkir di garasi yang ada.
"Ayo turun, sayang!" ajak Reo sambil membukakan pintu bagi Edewina.
"Ini rumah kita."
Edewina ingat, sewaktu mereka pergi ke rumah desa, ia pernah mengatakan pada Reo alangkah indahnya jika rumah unik ini ada juga di kota.
"Bagaimana kamu bisa menemukan rumah ini?" tanya Edewina.
"Kemarin, saat mencari mu ke kampus, aku dan Mark lewat jalan belakang karena macet dengan para mahasiswa yang berunjuk rasa. Akhirnya, kami lewat di sini. Dan saat melihat rumah ini, aku ingat dengan keinginanmu ingin tinggal di sebuah rumah kecil seperti rumah yang ada di desa. Kebetulan ada papan yang bertuliskan di depannya, bahwa rumah ini dijual. Tadi pagi-pagi sekali, aku dan Mark kesini dan langsung mencari pemiliknya. Akhirnya rumah ini menjadi milik kita."
"Kita?"
"Ya. Kamu dan aku."
Di depan pintu rumah itu, Reo Manahan tangan Edewina dan mereka kini berdiri sambil berhadapan.
"Sayang, semua peristiwa yang terjadi diantara kita beberapa minggu ini membuat aku yakin kalau aku tak bisa pisah darimu. Aku mencoba bersikap cuek, bersikap dingin denganmu namun kenyataannya, itu seakan membunuhku secara perlahan. Kamu tahu, saat kamu pulang setelah memasak di rumah mommy, aku makan semua makanan mu. Begitu pula dengan kue coklat yang sudah kamu buang ke tempat sampah. Aku memungutnya kembali dan memakan semuanya sampai habis."
"Kamu sombong!" kata Edewina sambil menarik tangannya dari genggaman Reo. Mata perempuan itu nampak mulai berkaca-kaca.
Reo tersenyum. "Katakanlah aku memang sombong. Tapi, dengan cara itu, aku tahu kalau kamu punya rasa untukku juga."
"Nggak....!" Edewina buru-buru menggeleng.
Reo langsung memeluk Edewina. Awalnya perempuan itu berusaha memberontak dan ingin melepaskan diri dari pelukan Reo namun pria itu sama sekali tak melepaskannya.
"Kamu tak ingin mommy marah padaku karena itu kamu menyalahkan dirimu sendiri kan? Aku yakin itu karena kamu mulai mencintai ku."
__ADS_1
"Nggak." tegas Edewina.
Reo melonggarkan pelukannya namun tak melepaskan tangannya dari pinggang istrinya itu. Ia menatap mata Edewina secara mendalam membuat Edewina segera memalingkan wajahnya.
"Kenapa tak berani beradu pandang denganku?" tanya Reo lalu melepaskan satu tangannya dari pinggang Edewina lalu membelai wajah gadis itu dengan lembut.
Edewina tertunduk. Jantungnya berdebar sangat kencang.
"Sayang .....!" Reo memegang dagu Edewina, sedikit memaksa agar istrinya itu mendongak dan menatap wajahnya.
"Kak Sen....!"
Reo terkekeh mendengar suara merajuk Edewina. Ia kembali memeluk istrinya itu dengan perasaan yang bahagia. "Ayo kita masuk !" sambil menggandeng tangan Edewina, Reo mengajak istrinya memasuki rumah itu.
Rumah itu terbuat dari kayu. Bentuknya pun unik dan warnanya coklat putih.
Saat pintu terbuka, nampak ruang tamu yang tak terlalu besar dengan sofa berbentuk L. Ada meja kaca di depan sofa.
Masih di ruangan yang sama ada meja makan berkapasitas untuk 4 orang. Lalu di belakangnya ada dapur yang lengkap dengan kitchen set yang lengkap. Edewina suka dengan dapurnya.
kamarnya ada di bagian selatan rumah itu.
"Kamarnya ada dua sayang. Aku sebenarnya belum selesai mengatur kamarnya. Aku pikir kamu pulangnya nanti besok atau lusa."
"Kamarku yang mana?" tanya Edewina membuat Reo menghentikan gerakan tangannya yang akan membuka pintu yang pertama.
"Kamarmu?"
"Iya. Kamarku."
"Kamu akan tidur sendiri?"
"Memangnya nggak boleh?"
"Kamu mau membuat aku menjadi gila lagi karena tak bisa menyentuhmu?" mata Reo melotot membuat Edewina akhirnya tertawa.
"Kamu mempermainkan aku ya?" Reo langsung menggelitik pinggang istrinya membuat Edewina lari menghindar. Reo mengejarnya dan berhasil memeluk istrinya itu dari belakang.
"Kak Sen, lepaskan aku!" Edewina berusaha melepaskan dirinya namun Reo tetap memeluknya.
"Tidak....!"
Edewina berhasil mendorong tubuh Reo dan akhirnya ia lepas. Namun karena dorongan Edewina begitu kuat, kepala Reo justru terantuk pada dinding.
"Aow....!" Reo memegang kepalanya.
"Kak, kamu baik-baik saja?"
"Nggak." Reo memasang wajah cemberut.
Edewina tiba-tiba saja maju dan mencium pipi Reo. "I love you." bisik nya pelan lalu segera segera berlari meninggalkan Reo yang seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
*********
Hai, maaf jika kisah ini tak sepertinya maunya kalian
Emak nggak akan mengubah alur ceritanya hanya karena ada pembaca yang nggak suka. Maaf ya...🙏🙏🙏
__ADS_1
Semoga yang masih setia membacanya tetap terhibur dengan kisah ini