
"Maksud kakak, aku hamil?"
Reo mengangguk. "Iya sayang. Kan kita setiap hari bercinta."
"Tapi tanggal haid ku memang belum tiba kak."
"Jadi, belum bisa diketahui apakah kamu hamil atau tidak?"
Edewina mengangguk.
"Tapi aku pernah baca di salah satu artikel, katanya kehamilan sudah bisa dideteksi setelah 7 hari berhubungan saat masa subur."
"Aku sendiri nggak tahu kapan masa subur ku. Nanti ajalah kak. Minggu depan, jika aku belum dapat tamu bulanan ku maka kita akan ke dokter spesialis kandungan untuk memastikan semuanya."
Reo mengangguk. Ia menarik Edewina ke dalam pelukannya. "Aku begitu ingin memiliki anak darimu, sayang. Rasanya tak sabar ada yang memanggilku daddy saat pulang kerja. Ada yang bisa ku gendong dan ku belai selain kamu. Aku bahkan sudah sering mengkhayal jika dia perempuan wajahnya akan mirip siapa dan jika dia laki-laki, wajahnya juga akan mirip siapa."
Edewina melepaskan pelukan Reo. Ia menatap suaminya. "Memangnya kakak yakin kalau aku bisa menjadi ibu yang baik?"
"Aku sangat yakin. Karena kamu dibesarkan di tengah keluarga yang penuh dengan cinta kasih. Dari sosok mama Mahira yang sangat sempurna."
"Semoga, kak."
Reo mengecup dahi istrinya. "Sekarang jangan berpikir yang aneh-aneh ya? Rumah ini aman dan sistem keamanan juga aman. Jika malam hari, aku menyalahkan sensor gerak. Jika ada gerakan dari binatang buas atau pun orang yang berusaha memasuki rumah ini, alarm pasti akan berbunyi."
"Baiklah, kak. Aku mungkin hanya parno saja."
"Atau, aku datangkan saja pelayan ke rumah ini? Pelayan nanti akan pulang jika aku sudah pulang kerja."
Edewina menggeleng. "Aku kan sudah bilang, akan belajar menjadi istri yang baik. Aku ingin mengurus rumah ini dan juga dirimu."
Reo mengangguk. Ia mengecup bibir Edewina dengan sangat lembut. "Ayo kita sarapan!"
Selesai sarapan, mereka pun berangkat bersama walaupun dengan mobil yang berbeda. Edewina tiba di kampus bersamaan dengan Ken yang juga memarkir mobilnya di samping mobil Edewina.
"Ken, aku pikir kamu sudah pulang ke Seoul." ujar Edewina lalu mengenakan topi rajutan di kepalanya.
"Aku nggak jadi pulang. Aku mau praktek di sini saja. Lagi pula di Korea juga sedang mengalami musim dingin."
"Oh gitu ya."
"Kamu sendiri nggak pulang Manado?"
"Ada. Bersama suami dan mertuaku."
Wajah Ken terlihat lain saat Edewina menyebutkan kata suami. Namun cowok itu dengan cepat tersenyum juga. "Kapan berangkatnya?"
"Minggu ke-2 di bulan Desember. Rencananya kami akan 3 minggu di Indonesia. Soalnya mau mampir dulu ke tempat kakek dan nenek Reo di Jawa Timur."
Ken mengangguk. "Selamat bersenang-senang kalau begitu. Salam untuk kedua orang tuamu juga opa Edriges ya?"
"Pasti akan ku sampaikan." Edewina pun melangkah menuju ke kelasnya. Pagi ini nampak kampus agak sepi karena memang telah memasuki musim dingin.
Edewina memilih untuk ke toilet sebentar karena ia memang merasa ingin buang air kecil.
Saat ia sementara duduk di atas kloset, Edewina mendengar kalau pintu tempatnya berada di ketuk.
"Ada orang." ujar Edewina.
Suara ketukan itu pun terdengar lagi.
"Ada orang." Edewina menjadi kesal karena ia tahu kalau ada 6 ruangan di toilet perempuan ini dan semuanya tadi dalam keadaan kosong.
__ADS_1
Suara ketika itu terdengar lagi dan Edewina langsung membuka pintu toilet dengan kesal.
Namun ia terkejut karena sama sekali tak ada orang di sana. 5 pintu toilet yang lain masih terbuka.
Jantung Edewina langsung berdetak sangat cepat. Ia pun mencuci tangannya secara cepat dan segera keluar dari sana.
"Win, kamu kenapa?"
Edewina menoleh dengan kaget. "Ken?"
"Aku mau ke ruangan mu untuk mengabari bahwa Sinta nggak bisa masuk. Brian tadi mengabarkan kalau Sinta sedang sakit. Eh, kamu kenapa?" tanya Ken melihat wajah Edewina yang nampak pucat.
"Nggak." Edewina menggeleng.
"Tapi kamu pucat dan sepertinya berkeringat." ujar Ken lalu ia memegang dahi Edewina. Secara refleks Edewina mundur selangkah.
"Maaf." Ujar Ken saat ia meras bahwa Edewina sudah memasang jarak dengannya.
"Aku baik-baik saja, kak. Aku ke kelas dulu ya?" pamit Edewina laku segera meninggalkan Ken. Ia memang tak ingin ada kontak fisik dengan Ken. Walaupun dulu hubungan mereka begitu dekat. Bahkan mereka pernah tidur seranjang (namun tanpa hubungan badan) tapi semenjak Edewina menyadari perasaannya pada Reo, ia memang sedapat mungkin menghindari kontak fisik dengan Ken.
Edewina pun segera naik lift karena kelasnya ada di lantai 3. Namun sebelum pintu lift tertutup, seseorang menahan pintu lift itu.
"Justin?" Edewina terkejut melihat Justin yang masuk.
"Hai, Wina." Justin juga terkejut saat melihat bahwa perempuan yang ada di dalam lift itu adalah Edewina.
"Ada apa ke sini?" tanya Edewina.
"Kangen dengan kamu, cantik."
Melihat ekspresi wajah Edewina berubah jadi jutek, Justin langsung tertawa. "Duh, mana berani aku kangen sama istri orang. Sebenarnya aku ke sini untuk mengurus berkas kelanjutan studi S3 ku."
Justin mengangguk sambil tersenyum mendengar perkataan Edewina.
Lift berhenti di lantai 3. Edewina keluar dan ia tahu kalau Justin pasti menuju ke lantai 4, tempat kantor administrasi berada.
Sesampai di kelas, sudah ada beberapa temannya di sana.
"Wina, kamu terluka ya?" ujar Sandra.
"Nggak. Kenapa memangnya?"
"Kemejamu beradarah." kata Sandra sambil menunjuk bagian punggung Edewina. Kebetulan Edewina memang menggunakan kemeja berwarna putih.
"Masa sih?" Edewina menatap ke arah kaca yang ada di dekatnya. Ia langsung terkejut melihat kemejanya terkena noda darah.
"Sandra, tolong ikut aku ke toilet." ajak Edewina.
Keduanya melangkah bersama menuju ke toilet yang ada di lantai 3 itu.
Edewina langsung membuka kemejanya.
"Nggak ada luka di sini." kata Sandra sambil memeriksa luka punggung Edewina.
Edewina mengambil kemejanya dan mencium noda berwarna merah itu. "Ini sepertinya bau darah. Tapi dari mana?"
Sandra juga nampak bingung. Edewina pun memakai kembali kemejanya dan menyusunnya dengan mantel yang tadi sebenarnya sudah ia buka saat masuk ke toilet yang ada di lantai 1.
**********
Sepulang kuliah, Edewina langsung ke kantor Reo. Suaminya itu nampak terkejut saat melihat kedatangan istrinya.
__ADS_1
"Ada apa, sayang?" tanya Reo melihat wajah istrinya yang nampak bingung.
Edewina membuka mantelnya dan menunjukan noda darah yang ada di kemeja putihnya. "Aku nggak tahu bisa darah ini dari mana."
Reo langsung memanggil Mark. Pria itu memeriksa noda darah itu. "Ini memang noda darah, Nyonya. Dan nampaknya masih baru."
Edewina dan Reo saling berpandangan. "Sayang, saat kamu pakai kemeja ini tadi pagi, apakah nggak periksa kalau ada nodanya."
"Nggak ada, kak. Aku menyetrika kemeja ini sendiri. Kalau ada noda darahnya pasti sudah aku ketahui." lalu Edewina menceritakan apa yang dialaminya di dalam toilet.
"Aku sangat yakin mendengar kalau ada orang yang mengetuk pintu." kata Edewina saat dilihatnya Reo dan Mark nampak bingung.
"Mungkin teman-teman mu ada yang mau jahilin kamu, sayang." ujar Reo.
"Mungkin." Edewina pun hanya bisa menahan kesal.
Reo memeluknya. Sedangkan Mark langsung keluar. "Aku nggak mau kamu terbeban dengan semua ini. Namun aku akan meminta Mark untuk memeriksa DNA siapa yang ada di kemejamu itu. Sekarang kita pergi nonton bioskop, yuk. Ada film drama komedi romantis."
Edewina tersenyum dalam dekapan suaminya. "Ok." Ia juga ingin menghibur hatinya yang resah karena kejadian aneh yang menimpanya hari ini.
***********
3 hari lagi Edewina akan pulang ke Indonesia. Rasanya ia sudah tak sabar karena ia sudah sangat merindukan kedua orang tuanya, kedua adiknya dan juga opa Edriges.
Edewina tiba-tiba saja ingat sesuatu. Ia menatap kalender yang ada, kemudian menghitung hari sejak pertama ia mendapat tamu bulanannya. Perempuan itu tersenyum senang saat menyadari bahwa sebenarnya ia sudah 3 hari terlambat datang bulan.
Edewina pun meraih dompet dan kunci mobilnya. Ia ingin ke apotik membeli testpack dan langsung ke kantor Reo untuk bersama-sama mengetesnya karena memang itu yang Reo inginkan.
Selesai dari apotik, Edewina langsung menuju ke kantor suaminya. Ia melihat kalau lantai di mana ruangan Reo berada nampak sunyi.
Saat Edewina mendekat, ia perlahan mendengar suara Isak tangis seseorang.
"Maafkan aku, Re." suara Indira
"Bukankah kamu bilang malam itu tak ada sesuatu yang terjadi diantara kita? Kamu bilang bahwa kamu memang sengaja membuka bajuku karena penuh dengan tumpahan alkohol dan juga muntah ku?" terdengar suara Reo yang panik.
"Aku sengaja bilang begitu supaya kamu nggak stres. Lagi pula aku tak menyangka kalau akhirnya akan begini."
"Memangnya kamu sudah periksa?"
"Iya. Kata dokter kandunganku memasuki minggu ke-9."
"Jadi kamu hamil anakku?"
"Ya."
Lutut Edewina rasanya langsung loyo. Ia bahkan hampir jatuh. Gadis itu segera membalikan badannya dan berlari meninggalkan ruangan itu. Ia menekan bel dengan tangan yang bergetar.
"Nyonya Wina?" Mark yang aman menuju ke ruangan Reo, kaget melihat Edewina.
Pintu lift terbuka dan Edewina langsung masuk.
*********
Nah kan.....
pasti ada yang komen : pendapat aku benarkan? Pasti Indira hamil.
Ih....menyebalkan, kenapa alurnya harus kayak gini sih?
Dukung emak terus ya guys
__ADS_1