MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Semakin Merasa Dekat


__ADS_3

"Reo, aku mengantuk." Edewina mendorong tubuh Reo yang menghalangi jalannya. Ia juga membuang pandangannya ke sembarangan tempat. Sungguh ia tak mau bertatapan dengan pria yang hampir 9 tahun lebih tua darinya. Edewina merasa kalau tatapan Reo begitu kuat menguasai dirinya untuk takluk pada tatapan itu.


"Ini kan baru jam 8 malam, sayang." ujar Reo tanpa mau menggeser kan tubuhnya.


"Reo....!"


Reo tersenyum. "Cium dulu boleh nggak?"


"Nggak mau!" Edewina secara cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Gadis itu perlahan mundur karena Reo terus maju.


"Cium di pipi saja." mohon Reo dengan tatapan menggodanya.


"Nggak...!" Edewina menggeleng tanpa menurunkan tangannya dari mulutnya.


"Ayolah....., please ...!" Mohon Reo.


Edewina menjadi panik saat punggungnya sudah menyentuh dinding. Dan Reo kini berdiri sangat dekat dengannya. Tangan cowok itu diletakan di dinding, memenjarakan tubuh Edewina.


"Reo, aku mengantuk. Capek main basket, kekenyangan karena makan banyak." kata Edewina sambil perlahan menurunkan kedua tangannya dari mulutnya.


"Aku tahu. Kan hanya ingin minta cium." ujar Reo sambil menatap mata Edewina tanpa berkedip.


"Aku nggak mau kamu cium!"


"Aku suami kamu, sayang...!" Ujar Reo lalu menurunkan tangannya, menyatukan jari mereka dan genggaman tanpa sedikit pun melepaskan tatapan matanya dari Edewina.


"Kita kan menikah hanya di atas kertas." kata Edewina perlahan. Tak judes seperti biasanya.


"Bagimu. Tidak bagiku." Reo mengangkat tangannya yang memegang tangan Edewina. Merentangkan nya ke dinding sehingga gadis itu tak berdaya karena pergerakannya di kunci.


"Reo...., mau kamu apa sih?"


"Aku rindu kamu yang dulu. Yang memanggil aku dengan sebutan kak Reo atau kak Sen. Yang menatap aku dengan senyum manis mu. Sangat berbeda dengan Edewina yang sekarang, judes, sering melotot jika melihat aku dan jarang tersenyum."


Edewina menekan salivanya yang terasa pahit saat mendengar perkataan Reo.


"Kamu tahu kalau cintamu bersama Ken adalah sesuatu yang tak mungkin. Tidak dapatkah kamu membuka hatimu untukku? Aku mencintai kamu, Wina. Sudah sangat lama. Bahkan seluruh tubuhku sangat bergetar setiap kali aku menyebut namamu."


"Ke....kenapa harus aku? Banyak kan gadis lain yang lebih cantik, usianya pas denganmu, yang dapat mencintaimu sebesar cinta yang kamu miliki."


Reo tersenyum. "Mengapa harus kamu? Aku sendiri tak pernah tahu mengapa. Karena cinta datang tanpa bisa aku cegah. Andai pun aku bisa memilih, aku akan tetap memilih dirimu."


Edewina membuang pandangannya ke kanan. Tangannya yang ada dalam genggaman Reo mulai kedinginan. Edewina takut detak jantungnya yang sangat cepat bisa didengar oleh Reo.


"Namamu bukan hanya ada di hatiku, namun telah terukir di jantungku. Jika aku memaksa untuk menghapusnya, berati aku membunuh diriku sendiri." lalu Reo menunduk. Mencium ujung hidung Edewina dengan sangat lembut sambil memejamkan matanya. Ia lalu mencium pipi kiri dan kanan Edewina secara bergantian.


"Selamat malam, istriku." bisik Reo tepat di telinga kanan Edewina lalu ia segera melepaskan pertautan jari mereka dan meninggalkan Edewina sendiri.

__ADS_1


Gadis itu akhirnya menarik napas panjang. Ia memegang dadanya yang masih saja berdetak sangat kencang. Ia kemudian masuk ke dalam walk in closet lalu segera mengganti bajunya dengan piyama, mengambil beberapa bantal untuk dijadikannya pembatas.


Pukul 11 malam, Reo masuk ke kamar setelah selesai zoom meeting dengan Indira dan beberapa petinggi perusahaan. Ia tertawa melihat bagaimana Edewina memasang pembatas antara tempat tidurnya dan tempat tidur Reo.


"Dasar bocah!" Reo segera mengganti pakaiannya juga. Ia kemudian membaringkan tubuhnya. Tak lupa dalam hati ia berterima kasih pada mommy Riani yang sangat pintar membaca suasana. Reo jadi rindu dengan mommy nya walaupun baru saja kembali tadi.


**********


Hari ini Edewina ingin bangun siang. Karena sekarang hari Sabtu. Makanya ia tak mau membuka matanya walaupun ia tahu kalau hari sudah siang.


Sedangkan Reo sudah sejak satu jam yang lalu bangun. Ia berolahraga dengan keliling kompleks setelah itu masuk ke ruang olahraga untuk beberapa latihan otot.


"Tuan, ini jus nya." ujar Adeline sambil meletakan gelas berisi jus di meja.


"Edewina sudah bangun?" tanya Reo.


"Belum."


"Jangan dibangunkan ya? Dia pasti kelelahan karena main basket kemarin."


"Iya, tuan. Pada hal nyonya meminta aku untuk mengajari nyonya untuk masak dan menyiapkan sarapan untuk tuan. Namun saya maklum saja karena nyonya masih muda."


Reo mengangguk. "Aku nggak masalah untuk itu, bi. Bagiku, hal yang terpenting adalah Edewina bahagia bersamaku. Soal dia bisa tahu masak, mengurus keperluanku, nanti sajalah. Kan dia juga masih kuliah. Aku sengaja menikah dengannya di usia dia yang masih muda karena takut dia akan dimiliki orang lain. Bukan hanya sekedar cantik, namun Edewina baik, pintar dan populer di kampusnya. Lelaki mana yang tak menginginkannya?"


Adeline mengangguk. Walaupun jauh di lubuk hatinya, ia ingin Reo bersama Indira. Wanita yang juga disukai Riani. Namun ia cukup terkejut mendengar Reo menikah dengan seorang gadis asal Indonesia yang masih sangat muda.


Setelah menyiapkan sarapan, Adeline langsung pamit untuk pergi karena ini hari off nya yang diberikan Reo. Adeline juga maklum kalau Reo pasti ingin punya waktu khusus dengan istrinya walaupun memang ia tak pernah melihat pasangan itu bermesraan di depan umum.


Saat ia membuka pintu kamar, nampak tempat tidur sudah rapi. Reo pikir Edewina pasti sedang mandi. Makanya ia masuk ke walk in closet untuk menyiapkan pakaiannya.


Namun saat pintu walk in closet di buka, Reo menemukan pemandangan yang sangat indah dan membuat jantungnya bergetar. Edewina baru saja melepaskan handuk yang membungkus tubuhnya, dan ia sedang membelakangi arah pintu masuk sehingga tak menyadari kalau Reo ada di belakangnya.


Perlahan Reo menutup kembali pintu walk in closet. Ia tak mau Edewina menuduhnya sebagai tukang intip. Bagaimana pun Reo sudah berjanji tak akan memaksakan kehendaknya pada Edewina sebelum gadis itu menginginkannya.Walaupun jujur harus Reo akui, sebagai lelaki, ia sering tersiksa menahan semua hasratnya itu.


Edewina keluar dari walk on closet saat Reo sedang duduk di sofa sambil menonton TV.


"Sayang, kamu sudah mandi ya? Ayo sarapan dulu. Aku menunggumu untuk sarapan bersama." kata Reo lalu mematikan TV nya dan mendekat Edewina.


"Badanku sakit semua." keluh Edewina sambil memukul-mukul pundaknya.


"Itu karena kamu sudah lama tak berolahraga. Sebentar sore, ayo kita main lagi. Di bagian belakang apartemen ini ada lapangan basket."


"Boleh. Aku mau aktif lagi main basket." kata Edewina tak menolak. Dari pada harus duduk saja di dalam rumah dan menerima tatapan Reo terus.


"Sekarang kita sarapan, yuk!" ajak Reo.


Edewina mengangguk. Reo jadi senang melihatnya. 2 bulan sudah mereka menikah, dan Edewina mulai berubah. Sudah mau berkomunikasi dengan Reo bahkan sudah jarang berkata ketus padanya.

__ADS_1


********


Saat mereka tiba di lapangan basket, sudah ada beberapa cowok yang sedang main.


"Boleh bergabung?" tanya Reo.


"Boleh. Kita bagi tim saja. Satu tim 3 orang." ujar salah satu cowok yang berambut pirang.


"Aku juga mau main." kata Edewina.


Oara cowok yang ada di sana menatap Edewina dengan tatapan sedikit meremehkan.


"Sudahlah cantik. Mendingan kamu jadi pemanduk sorak untuk kami. Bro, bilang sama adikmu untuk berdiri di pinggir lapangan saja."


Reo agak kesal mendengar mereka menganggap Edewina adalah adiknya.


"Begini saja, kalian berlima dan kami berdua. Kita akan lihat, siapa nanti yang akan menang." ujar Reo diikuti anggukan kepala dari Edewina.


"Ok." sambut kelima cowok itu dengan penuh kesombongan. "Kalian dulu yang pegang bola."


Permainan pun di mulai. Para cowok ini tak tahu kalau Reo pernah jadi anggota tim basket nasional bahkan ia adalah kaptennya. Mark yang selama ini adalah asistennya juga sangat jago bermain basket sehingga di manapun Reo pasti bermain. Memang setelah ia dewasa, ia lebih suka berselancar. Namun bukan berarti Reo melupakan permainan basket yang adalah kesukaan nya.


Reo bermain sangat cepat begitu pula dengan Edewina. Ia dengan sangat lincah menghindar, mempertahankan bola dan melemparkannya dengan tepat untuk masuk ring dari jarak yang jauh.


Selama hampir satu jam, mereka bermain dan akhirnya permainan usai. Kelima cowok itu nampak kewalahan dengan skor yang tertinggal jauh. Mereka menatap kagum pada Edewina.


"Cantik, kau sangat luar biasa. Perkenalkan namaku David." Masing-masing cowok itu memperkenalkan dirinya pada Edewina dan Reo. Ternyata 2 orang diantara mereka masih anak SMA.


"Kalian tinggal di mana?" tanya Wiliam. Dia mahasiswa semester 5.


"Di lantai paling atas." kata Reo sambil menunjuk apartemen tempat tinggal mereka.


"Pantas saja aku merasa pernah melihatmu. Kamu kan Christensen Haireo Almond. Atlet Peselancar nasional?" David nampak kagum. "Dan wanita ini?"


"Istriku." ujar Reo dengan bangganya sambil memeluk pinggang Edewina.


Edewina hanya tersenyum saja melihat para cowok itu tak menyangka kalau Edewina yang cantik dan masih sangat muda itu sudah menikah.


Akhirnya mereka berpisah dan janjian Sabtu nanti akan bermain lagi.


Edewina pun masuk ke dalam lift. Tepat di saat itu ponselnya berdering. "Ya Sinta, ada apa? Apa? Lu nggak salah kan? Terus keadaannya gimana? Gue ke rumah sakit sekarang setelah ganti baju."


Tangis Edewina langsung pecah.


*********


Hallo semua

__ADS_1


Selamat menikmati cerita ini


jangan lupa dukung emak


__ADS_2