MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Pacaran Dulu


__ADS_3

Kaki dan tangan Edewina sudah berkeringat dingin. Apalagi saat dilihatnya kalau Reo sudah berjalan mendekatinya.


"Reo, aku....aku...., bilang saja ke mommy kalau aku sedang datang bulan sehingga kita nggak bisa berhubungan malam ini." Edewina menemukan sebuah ide.


"Kamu mau membohongi mommy?" tanya Reo lalu menyentuh wajah Edewina dengan punggung tangannya.


"Tapi....tapi kamu kan janji tak akan menyentuhku jika aku tak menginginkannya."


"Mari kita buktikan."


"Maksudnya?"


"Biar kan aku mencium, dan menyentuh tubuhmu. Jika memang kamu tak menginginkan aku, maka aku akan berhenti."


"Tapi ...., aku tak mau bercinta dengan orang yang tak kucintai."


"Maka bercintalah untuk memenuhi kewajiban mu sebagai istriku." Lalu Reo langsung memegang menangkup kedua pipi Edewina dan langsung mencium istrinya itu dengan sangat keras.


Edewina terkejut menerima serangan yang sangat tiba-tiba itu. Ia berusaha melepaskan diri dengan memukul-mukul dada Reo namun suaminya itu tak mau melepaskannya. Akhirnya Edewina pasrah. Ciuman Reo itu mulai membuatnya terlena. Ia memegang pinggiran kaos yang Reo pakai lalu membalas ciuman itu.


Tangan Reo bergerak perlahan menyentuh paha istrinya, membelai lembut di sana membuat Edewina merasakan kalau seluruh tubuhnya terbakar.


Perlahan Reo mengangkat tubuh Edewina dan meletakkannya di atas ranjang. Ia kemudian menempatkan dirinya di atas tubuh Edewina dan perlahan ciumannya berpindah ke leher.


"Re...o!" Edewina memegang seprei sambil memejamkan matanya.


Ada senyum di bibir Reo saat melihat bagaimana Edewina mati-matian menahan dirinya.


"Kau menyerah?" tanya Reo.


"Tidak!" Edewina menggeleng secara cepat.


"Sungguh?" tanya Reo sambil tangannya menyentuh inti tubuh istrinya itu.


"Re ..o....." Edewina merapatkan kedua kakinya.


"Kau masih menyangkalnya?"


"A...ku...Eh...." Edewina merasakan wajahnya panas. Haruskah ia menolaknya?


Tangan Reo kembali membelai, menggoda bagian tubuh istrinya yang sensitif dan bibirnya kembali mencium istrinya dengan lebih hangat dan menggoda.


"Reo......!" Edewina tiba-tiba mendorong tubuh Reo dengan panik. Namun ia merasakan suatu sensasi yang luar biasa yang membuat tubuhnya bergetar.


"Kenapa?" tanya Reo. Namun ia tahu apa yang dialami oleh istrinya.


"Aku....!" Apakah aku pipis di celana? Tapi kenapa rasanya berbeda?


"Kamu kenapa, sayang?"


"Aku mau ke toilet." Edewina langsung berlari ke kamar mandi. Ia mengunci pintunya dan menjadi sangat gugup. Dengan cepat ia membuka pakaian dalamnya. Ada sesuatu yang lengket di sana.


Gadis itu mondar-mandir di dalam kamar mandi setelah membersihkan dirinya. Ia jadi malu untuk keluar kamar mandi.


"Sayang.....!" Reo mengetuk pintu kamar mandi saat dirasakannya kalau Edewina sudah cukup lama di sana.


"Aku..., aku sakit perut." teriak Edewina karena ia merasa malu untuk keluar.


"Apakah aku perlu meminta obat pada mommy?"


"Nggak. Tolong ambilkan saja air hangat."

__ADS_1


"Baiklah sayang. Aku ke dapur dulu ya?"


Edewina merasa lega. Saat didengarnya kalau pintu kamar berbunyi, Edewina langsung keluar dan masuk ke dalam walk in closet. Ia mencari baju dalam yang bersih dan memakainya secara cepat. Ia kemudian memeriksa tempat tidur kalau-kalau ada yang basah. Ia pun tersenyum senang saat tak menemukan ada bekas di sana. Namun, saat gadis itu mengangkat wajahnya, dan menatap ke arah cermin besar yang ada di depannya, ia langsung terkejut melihat beberapa tanda merah yang ada di leher dan dadanya.


"Dasar Reo, mesum!"


Pintu kamar dibuka dan Edewina langsung naik ke atas ranjang sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


"Sayang, ini air hangatnya." ujar Reo sambil menyerahkan segelas air hangat pada Edewina.


Secara cepat Edewina menghabiskan semuanya.


"Terima kasih." ujar Edewina. Sungguh ia tak berani menatap wajah Reo karena malu saat mengingat yang tadi.


Reo meletakkan gelas itu di atas nakas, ia kemudian naik ke atas ranjang dan mendekati istrinya. "Bagaimana perutnya?"


"Eh, masih sakit."


Tangan Reo menyentuh perut Edewina membuat gadis itu kembali terkejut karena ada desiran aneh di kulitnya.


"Sakit di sini?" tanya Reo sambil menggosok telapak tangannya perlahan di bagian perut Wina. Gaun tidur Wina yang sangat tipis tentu saja membuat gadis itu semakin tak nyaman.


"Eh, ya .., di situ. Sekarang aku mau tidur. Bolehkan?" tanya Edewina.


Reo tersenyum sambil menggeleng. "Nggak boleh."


"Kok nggak boleh?"


"Kamu sudah mendapatkan puncak kepuasan mu sedangkan aku menahan sakit di sini." kata Reo terus terang sambil menunjuk inti tubuhnya.


"Oh...." Edewina kembali merasa tegang. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Wajahnya menjadi pucat.


Reo meraih kedua tangan Edewina yang menutupi mulutnya. "Win, sebenarnya kalau aku egois, kita sudah bercinta malam ini. Kamu saja tadi sudah mendapatkan pelepasan mu."


"Iya sayang." ujar Reo lalu mencium kedua tangan Edewina secara bergantian. "Kamu tadi nggak pipis. Itu namanya orgas...."


"Aku tahu. Jangan diteruskan." Wajah Edewina kembali menjadi panas.


Reo jadi gemas melihatnya. Ia melepaskan satu tangannya yang memegang tangan Edewina lalu membelai wajah gadis itu. "Jangan malu. Itu tandanya bahwa tubuhmu tak menolak aku. Hatimu saja yang masih belum terbuka untukku. Bagaimana pun kita sudah menikah. Sekarang atau nanti, kita pasti akan melakukannya. Namun aku juga ingin saat melakukannya, kita sama-sama menikmatinya."


"Aku ingin melakukannya dengan perasaan cinta."


"Siapa tahu dengan sering bercinta maka kamu akan jatuh cinta padaku."


Edewina memberanikan diri menatap Reo. "Kita sudah menikah tanpa saling mengenal secara baik. Seharusnya orang pacaran dulu baru menikah."


"Jadi?"


"Bagaimana kalau kita....., kita...., pa...caran dulu?" tanya Edewina sambil menatap Reo dengan tatapan polosnya. Entah mengapa, Edewina ingin mengubah caranya melihat hubungan mereka selama ini. Mungkin dengan cara ini, ia bisa mengenal Reo lebih baik. Sesungguhnya Edewina yang selama ini selalu baik pada siapa saja, tak tahan jika selalu harus bersikap jutek pada Reo.


Tawa Reo langsung pecah. "Pacaran? Sampai kapan?"


"Sampai aku bisa jatuh cinta padamu."


Reo diam sejenak. "Jadi, kamu mau bersedia untuk belajar mencintaiku?"


"Ya. Tapi aku mohon, bersabarlah padaku. Jujur saja, melupakan Ken bukanlah perkara muda bagiku. Cinta Ken masih begitu kuat tertanam di hatiku. Fakta bahwa kami bersaudara tak langsung membuat perasaan ini hilang."


Reo mengangguk. Setidaknya Edewina mau membuka hati untuknya. "Mengapa akhirnya pikiranmu berubah?"


"Karena mommy Riani dan daddy Jack adalah orang yang baik. Mereka semua menyayangi aku. Dan aku..., aku merasa bahwa kamu tulus mencintai aku."

__ADS_1


Reo langsung membawa Edewina ke dalam pelukannya. "Sebenarnya kalau orang pacaran itu mereka berdua sudah saling mencintai. Namun tak apalah jika kita memulai hubungan ini dengan status pacaran walaupun sebenarnya kita sudah menikah. Aku harap kamu benar-benar akan membuka hatimu untukku." Reo mengecup puncak kepala Edewina. Lalu ia melepaskan pelukannya dan kembali menatap istrinya itu. "Wina, kalau orang pacaran itu kan biasa saling berpelukan, saling berciuman. Jadi jangan marah jika aku ingin memeluk dan mencium mu."


"Tapi orang pacaran nggak tidur bersama, Reo."


"Nggak masalah. Kita pacaran seperti orang barat saja. Namun, aku masih memegang janjiku padamu. Aku tak akan bercinta denganmu sebelum kau yang memintanya."


Edewina mengangguk. "Ok. Jadi sekarang kita sudah boleh tidur?"


"Tentu saja sayang. Tapi boleh kan tidur sambil memeluk mu?"


"Tapi...."


"Mommy bisa masuk kapan saja."


Edewina mengangguk walaupun ia tahu kalau itu hanya modus Reo saja.


Akhirnya keduanya pun tidur. Reo memeluk Edewina dari belakang.


"Win, boleh nggak kamu panggil aku kayak dulu lagi?" tanya Reo sambil memejamkan matanya.


"Kak Sen atau kak Reo?"


"Aku lebih suka kak Sen saja. Rasanya panggilan itu adalah panggilan yang memanjakan aku. Seperti kedua kakakku yang sangat memanjakan aku sehingga aku merasa sangat berlimpah kasih sayang yang mereka berikan."


"Baiklah, kak Sen."


"I love you." bisik Reo sambil mencium pundak Edewina.


"Re....eh, kak Sen, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Tentu saja, sayang."


"Apakah Ferrari merah klasik yang aku miliki, kau yang memberikannya?"


Reo tak langsung menjawab. Ia diam sejenak.


"Kak Sen....!" Edewina membalikan badannya lalu menatap Reo.


Reo mengangguk. "Dari mana kau tahu?"


"Kau punya replika mobil itu di ruang kerjamu lengkap dengan tahun pembeliannya. Lalu Kak Cassie mengatakan bahwa ia yang mengurus ijin agar mobil itu bisa di kirim ke Indonesia. Aku juga pernah menceritakan padamu tentang keinginanku untuk memiliki mobil langkah itu. Dan kau yang menghadiahkan nya di ulang tahun ku yang ke-17?"


"Ya."


"Jadi perasaanmu padaku...?"


"Aku jatuh cinta saat pertama kali melihatmu."


Hati Edewina tersentuh mendengar pengakuan Reo. Edewina langsung membalikan badannya kembali. Ia tak mengerti dengan gemuruh yang ada di hatinya. Gadis itu hanya memejamkan matanya dan kembali merasakan tangan Reo yang memeluk pinggangnya.


*********


Wah, sih emak PHP lagi, pada hal banyak yang komen ingin membaca Malam Kedua Reo dan Wina.


Sabar ya.....


Nanti kalau sudah MP terus hamil, tamat dong novelnya he...he..


Pacaran tapi cinta masih bertepuk sebelah tangan?


Bagaimana menurut kalian pembacaku yang setia?

__ADS_1


Jangan lupa dukung emak terus ya guys?


__ADS_2