
"Wina......!"
Edewina tersenyum tanpa bisa menahan air matanya. "Kak Sen, aku ingat semuanya."
"Apa yang kau ingat?"
"Kau menjebak ku untuk menikah denganmu, aku tahu kalau mobil Ferrari itu darimu, kau sudah jatuh cinta padaku semenjak usiaku belum genap 10 tahun. Kau pria tua yang menyukai seorang anak kecil."
Reo tertawa sambil mengangguk. Matanya juga berkaca-kaca. "Sayang.....Edewina ku. Cinta sejati ku. Gadis impianku seumur hidup."
Keduanya saling berpelukan sambil menangis. Rasanya seperti mimpi saat Edewina mendapatkan lagi ingatannya.
"Leonardo, dimana dia?" tanya Edewina.
"Mungkin sudah di rumah sayang."
"Aku mau melihatnya."
Reo mengangguk. Ia pun bertanya pada dokter apakah Edewina sudah bisa pulang. Dokter mengijinkan sambil berpesan agar Edewina memperhatikan kesehatannya.
Mereka pun pulang ke rumah dengan perasaan gembira. Begitu tiba di rumah, Edewina langsung memeluk putranya sambil berlinang air mata. Rasa memiliki yang dalam karena sekarang ia sudah tahu bahwa Leon adalah anak yang benar lahir dari rahimnya sendiri.
"Mami, kenapa menangis?" tanya Leon heran. Ia melepaskan diri dari pelukan maminya. Tangannya yang mungil menghapus air mata Edewina.
"Mami sudah ingat semuanya, sayang. Mami sudah tahu kalau Leon adalah anak mami. Mami sangat mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu."
Leon pun tiba-tiba menangis. Ia mencium pipi Edewina kiri dan kanan secara berulang-ulang. "Aku mencintai mami juga."
Riani pun tak dapat menahan air matanya saat mengetahui kalau Edewina telah mendapatkan ingatannya kembali. Jack pun ikut terharu. Ia menatap putranya sambil mengangkat jempol kanannya. Ia tahu kalau putranya pasti akan sangat bahagia mulai sekarang.
"Kami punya kabar bahagia, mom. Edewina hamil lagi." ujar Reo. Edewina yang sedang memeluk Leon pun tersenyum bahagia.
"Edewina hamil? Ya ampun, ini berita yang sangat bahagia. Leon ayo turun dari gendongan mami. Nggak boleh Wina angkat yang berat lagi." Riani langsung mengambil Leon dari gendongan Edewina.
"Kenapa?" Leon nampak protes. Ia masih ingin lebih lama dipeluk oleh maminya.
"Di perut mami ada Ade, sayang. Kalau Leon minta peluk sama mami, nanti adenya sakit." kata Jack lalu mengambil Leon dari gendongan omanya. "Kalau Leon ingin dipeluk, minta opa, Oma atau papi saja yang peluk ya?"
"Ok. Tapi kalau Ade bayinya sudah keluar, mami boleh gendong Leon lagi kan?" tanya Leon.
"Tentu saja, sayang." Ujar Edewina sambil menganggukkan kepalanya.
"Sayang, sebaiknya kamu istirahat saja." Ujar Reo sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Iya. Aku memang merasa agak pusing."
Riani menatap menantunya. "Sayang, kamu ingin dimasakan apa?" tanya Riani.
"Kalau boleh, aku ingin masak soto ayam, mom." jawab Edewina malu-malu.
"Tenang saja, nak. Mommy akan menyiapkannya. Di kulkas ada bumbunya." Riani dengan antusias segera ke dapur.
"Leon sayang, mami mau istirahat dulu ya? Nanti kalau mami sudah bangun, Leon boleh bermain lagi dengan mami." kata Edewina. Anaknya yang manis dan memang dengar-dengaran itu mengangguk.
"Leon mau bermain sama opa Jack."
Jack tersenyum senang. Ia pun segera menggendong Leon dan membawa ke kamar Leon. Opa Jack memang tak pernah ada kata lelah dalam mengurus dan menjaga Leon.
"Sayang, ayo kita ke kamar." Reo menggandeng tangan Edewina lalu segera membawanya ke kamar mereka. Edewina pun langsung membaringkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kak Sen, mau kemana?" tanya Edewina melihat Reo yang menjauh.
"Aku mau membuka sepatuku dulu, sayang. Agak gerah soalnya."
"Selesai itu, langsung ke sini ya? Tidur di samping aku."
"Beres, sayang." Reo mengedipkan matanya. Lalu ia segera duduk di atas sofa untuk membuka sepatunya, lalu menuju ke walk in closet untuk menyimpan sepatunya kembali. Setelah itu ia membuka kemejanya, menyisahkan singlet putih, mengganti celana panjang jeansnya dengan celana pendek rumahan dan segera menuju ke ranjang.
Melihat Reo yang sudah berbaring di sampingnya, Edewina pun segera mendekat, dan memeluk suaminya itu dengan posesif.
"Sayang......!"
Reo tersenyum bahagia. Ia mengecup puncak kepala istrinya. "Aku suka kamu yang manja seperti ini.Aku suka jika kamu selalu ingin berada di dekatku. Ini seperti mengisi kembali 3 tahun yang kosong saat kamu koma. 3 tahun yang sangat menyiksa diriku. Ada rasa ketakutan saat membayangkan kalau dokter akan menelepon dan mengatakan kalau kamu sudah tak bertahan. Selama 3 tahun itu, kamu sempat 4 kali berhenti bernapas. Dan aku selalu berteriak memanggil namamu, meminta agar kamu tak meninggalkan aku dan Leon sendiri. Dan Tuhan ternyata mendengar semua doaku."
"Aku sebenarnya selalu mendengar apa yang kau ucapkan. Selalu mendengar suara seorang anak kecil. Namun itu rasanya seperti mimpi. Aku ingin bangun agar boleh keluar dari mimpi itu. Namun rasanya sangat susah." Kata Edewina sambil membelai lembut perut Reo yang dipeluknya.
"Semua mimpi itu sudah berakhir sekarang. Apalagi kita akan memiliki anak lagi. Kali ini kita akan membesarkannya bersama. Tak sabar rasanya menunggu hari itu."
Edewina mendongak. Menatap wajah tampan suaminya yang ternyata sedang menunduk juga dan menatapnya. "Aku cinta kamu, kak."
"Aku juga sangat.....sangat... sangat mencintai kamu Edewina Almond. Kau adalah takdirku yang sejak pertama melihatmu sudah ku yakini."
Edewina mengecup bibir Reo. "Kak, kok aku ingin ya?"
"Ingin apa sayang?" tanya Reo sambil mengerutkan dahinya.
"Aku ingin ber....ber.....bercinta." kata Edewina dengan wajah memerah, menahan malu.
"Sayang, kamu kan sedang lemah. Aku takut membuat kamu kecapean." kata Reo sambil menahan hasrtanya sendiri yang memang sejak Edewina mengusap perutnya sudah membuat pria itu bergairah juga.
"Pelan-pelan saja, kak. Nggak usah pakai gaya kakak yang cepat dan tak terkendali itu."
"Lho, memangnya hanya aku yang tak terkendali saat bercinta? Kamu juga lebih nakal kok."
"Mau bukti?" tanya Reo sambil menghujani istrinya dengan ciuman secara bertubi-tubi. Keduanya tertawa bersama dan saling menggelitik.
Riani yang melewati kamar anaknya hanya senyum-senyum sendiri. Ya Tuhan, jangan ambil kebahagiaan dari anak dan menantuku. Mereka sudah cukup menderita selama ini. Biarkan mereka bahagia seperti aku yang menikmati kebahagiaan bersama Jack.
************
Sinta menatap Edewina yang terbaring lemah. Ini sudah tahun ke-2 dan sahabatnya itu tak sadar juga. Clara sendiri sudah kembali ke Indonesia. Namun Sinta yang baru saja lulus beberapa bulan yang lalu, sudah mendapatkan pekerjaan di Manchaster dan dia berencana untuk melanjutkan studi S2.
"Sin, terima kasih ya, kamu selalu datang menjenguk Wina." ujar Reo.
"Dia sahabatku sejak dari SMA. Kami berencana kuliah bersama di sini dan ternyata lulus. Saat kalian memutuskan untuk memindah Edewina ke Manchaster sebenarnya aku agak sedih. Namun siapa yang sangka jika aku bisa mendapatkan pekerjaan di sini. Makanya setiap pulang kantor, aku ingin mampir ke sini. Lagi pula jarak kantormu hanya berseberangan dengan rumah sakit ini."
Reo mengangguk. Ia senang karena Sinta terus memberikan dukungan pada Edewina.
"Sampaikan salam ku untuk Leon ya? Nanti akhir pekan aku akan main ke rumah. Sekarang aku mau pulang dulu." pamit Sinta.
"Tapi di luar hujan deras." Reo menatap Mark. "Mark, tolong antarkan Sinta pulang."
"Baik, tuan."
Sinta sebenarnya enggan diantar pulang oleh Mark. Selama beberapa bulan ini, Mark selalu mengantarnya pulang. Entah mengapa hati Sinta akhir-akhir merasa berdesir setiap kali berdekatan dengan Mark. Namun Mark adalah pria dingin yang tak peduli dengan perempuan.
Hujan turun dengan deras saat mereka tiba di apartemen Sinta. Mark memarkir mobilnya agak jauh dari lobby apartemen karena memang parkiran penuh. Ia kemudian mengambil payung hitam yang ada di tempat duduk belakang, lalu membukanya dan berjalan ke arah sisi tempat duduk Sinta.
"Mari nona, silakan."
__ADS_1
Sinta pun turun. Tepat di saat itu petir dan kilat menyambar membuat suara yang sangat keras. Sinta dengan cepat langsung memeluk Mark dengan tubuh yang gemetar.
Di tubruk tubuh Sinta secara tiba-tiba membuat Mark kehilangan keseimbangan. Payung yang ada di tangannya terlepas dan langsung diterbangkan oleh angin.
"Aku takut!" Kata Sinta sambil memeluk Mark sangat erat.
"Ok, kita ke dalam saja, nona. Tidak apa-apa."
"Jangan lepaskan aku!"
"Ok...!" Mark dengan cepat mengangkat tubuh mungil Sinta dan membawanya masuk ke dalam apartemen. Di dalam lift pun Sinta sama sekali tak mau lepas dari gendongan Mark. Perempuan itu memang pernah trauma dengan kilat dan bunyi Guntur. Kakaknya meninggal di sambar petir saat mereka main hujan saat masih kecil.
Sesampai di dalam unit milik Sinta, ia juga tak mau lepas dari Mark. Tangannya dengan erat memeluk leher pria itu.
"Nona, turun dulu. Kau harus membuka bajunya. Bajumu basah. Nanti kau sakit."
Sinta akhirnya turun. Tubuhnya masih menggigil antara rasa takut dan kedinginan.
Mark dengan cepat membuka jaket Sinta saat dilihatnya kalau wajah gadis itu malah ketakutan.
"Maaf ya, Nona. Aku harus membukanya." Mark dengan cepat membuka kemeja Sinta.
Mark sendiri membuka juga kemejanya yang basah.
Pikiran Sinta bagaikan dikuasai oleh ketakutannya. Mark tahu Sinta pasti punya trauma dengan hujan. Makanya ia pun masuk ke kamar gadis itu dan mencari pakaiannya di lemari. Mark sendiri sudah melepaskan sepatunya yang juga basah.
"Ayo pakai ini." kata Mark.
Sinta hanya menggunakan pakaian dalamnya saja.
Tiba-tiba terdengar bunyi Guntur yang sangat keras.
"Aku takut." ujar Sinta sambil kembali memeluk Mark dengan sangat erat.
Mark menelan salivanya. Bagaiman pun ia lelaki normal. Ia dan pacarnya sudah putus sejak 8 bulan yang lalu. Mark tak percaya dengan kehidupan pernikahan makanya ia tak mau menikah.
8 bukan tanpa menyentuh wanita bukankah waktu yang sebentar.
"Nona....!"
"Jangan lepaskan!" mohon Sinta sambil terus memeluk Mark dengan erat.
Tubuh Sinta yang nyaris polos, menempel di tubuh Mark yang hanya memakai singket yang sudah basah.
"Nona.....!" Mark berusaha melepaskan diri namun pelukan Sinta sangat erat di tubuhnya. Gadis itu bahkan tanpa sadar sudah melingkarkan kakinya di pinggang Mark sehingga Mark harus menahan tubuh Sinta agar tak jatuh.
"Jangan tinggalkan aku!" bisik Sinta di antara ceruk leher Mark.
"Baiklah. Aku tak akan pergi." Perlahan Mark membaringkan tubuh Sinta di atas ranjang. Melihat pemandangan yang sangat menggoda di depannya, Mark berusaha menahan dirinya sekuat mungkin. Namun saat Sinta menarik Mark dan lelaki itu akhirnya jatuh di atas tubuh Sinta, Mark pun pasrah dengan apa yang akan terjadi. Ia mencium bibir Sinta dengan sangat manis. Dan Sinta membalasnya. Mark menciumnya dengan kemampuannya yang lihai, Sinta pun membalas ciuman itu dengan sama liarnya. Akhirnya terjadilah sesuatu di malam yang hujan dan dingin itu.
***********
Mark lebih berani dari Reo ya.....
Penasaran kan apa yang terjadi?
Malam nanti di grup wa ya? he....he....
Terus dukung emak ya guys
__ADS_1
Besok episode terakhir ya?
Setuju????