MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Kecewa Lagi


__ADS_3

Hari ini, Edewina dan Reo janjian untuk pergi makan malam. Edewina setuju karena memang besok hari Sabtu jadi ia tak kuliah dan bisa pulang larut malam.


Selesai ganti baju, Edewina segera ke dapur. Ia tersenyum pada Adeline yang sudah menyiapkan sarapan di atas meja.


"Bibi Adeline, masakan mu selalu enak. Aku merasa kalau berat badanku sudah naik. Biasanya aku jarang makan malam, namun sekarang kalau nggak makan malam, rasanya nggak bisa tidur."


Adeline tersenyum. "Baguslah kalau nyonya bisa naik badan. Soalnya kalau dalam pandangan bibi, nyonya agak kurus. Semua makanan yang saya siapkan atas resep dari Nyonya Riani. Katanya agar nyonya bisa cepat hamil."


Edewina jadi sedih setiap kali keluarga Reo membicarakan tentang kehamilan. Andai saja waktu itu aku tak keguguran.


"Katakan pada mommy, jangan terburu-buru. Kita kan masih ingin berdua. Iya kan sayang?" Reo tiba-tiba muncul di belakang Edewina, memeluk istrinya lalu mencium pipi Wina.


"Kak....!" Edewina melotot ke arah Reo karena ia memang malu setiap kali Reo menciumnya di depan orang lain.


"Biar aja. Bibi Adeline tahu kok kalau aku itu sangat tergila-gila padamu."


Adeline hanya tersenyum. Ia meninggalkan pasangan itu di ruang makan dan langsung ke depan, memeriksa para pelayan yang sementara membersihkan apartemen.


"Tak terasa ya kalau ini sudah akhir bulan oktober. Aku sudah tak sabar mengikuti turnamen di Philipina." ujar Reo. "Kamu mau ikut aku ke sana?"


Edewina tak fokus dengan pertanyaan Reo. Mengingat akhir bulan Oktober, ada sesuatu yang rasanya ia lupakan. Astaga, ini adalah ulang tahunnya Ken. Kok aku bisa lupa ya? Biasanya, aku menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat.


"Sayang, ada apa?" tanya Reo membuat.


"Nggak." Edewina buru-buru menggeleng. Ia langsung menghabiskan minumannya dan berdiri. "Aku pergi dulu ya?"


"Sarapannya belum habis."


"Aku sudah kenyang." ujar Edewina lalu bergegas meninggalkan ruang makan.


"Sayang, jangan lupa dengan janji kita nanti malam." seru Reo namun Apakah Edewina mendengarnya atau tidak, Reo tak tahu karena perempuan itu sudah menghilang dibalik pintu masuk.


Sepanjang jalan Edewina memikirkan kado apa yang akan dia berikan pada Ken. Biasanya masih sebulan ulang tahun Ken, Edewina sudah menyiapkan kado nya.


Toko dan mall lainnya belum buka. Ini memang masih jam 8 pagi. Sebaiknya selesai kuliah aku membelikannya untuk Ken.


Saat Edewina memarkir mobilnya di tempat biasa, ia tak melihat mobil Ken ada di sana.


"Brian, mana Ken?" tanya Edewina saat melihat Brian yang baru datang bersama Sinta.


"Ken masuk kembali ke rumah sakit." ujar Brian.


"Apa?" Edewina kaget.


"Iya. Semalam sebenarnya kami ada di apartemennya, mau menunggu jam 12 tepat untuk memberikan kejutan ulang tahun di hari ulang tahunnya. Namun yang terjadi, kami justru mendapatkan kejutan dari Ken ketika ia tiba-tiba saja pusing dan tak sadarkan diri."


"Ya, Tuhan, terus bagaimana keadaannya sekarang? Mama nya sudah pulang kan?"


"Iya. Mamanya baru saja 2 hari yang lalu pulang ke Seoul."


"Terus siapa yang menjaga Ken?"


"Ada dokter Arbren. Dokter asal Skotlandia yang tinggal satu lantai dengan Ken di apartemennya. Tapi dokter itu lepas tugas jam 3 sore. Aku kuliah sampai jam 6."


"Kasihan. Aku selesai kuliah jam setengah tiga. Biar saja aku yang menjaganya. Nanti selesai itu baru kamu yang menjaganya. Soalnya aku ada janji makan malam dengan suamiku jam 8 malam."


Brian mengangguk.


"Aku ada perbaikan tugas. Mungkin sampai malam ada di kampus." ujar Sinta.

__ADS_1


"Clara juga hari ini nggak masuk. Sedang sakit." Kata Edewina. Sudah 2 hari ini memang Clara di serang flu. Mungkin karena tak lama lagi akan ada pergantian musim.


"Ya sudah, kita masuk dulu. Sayang sampai jumpa nanti malam ya?" Sinta mengecup pipi Brian lalu segera melangkah bersama Edewina.


*********


Edewina mampir sebentar di sebuah mall, membelikan hadiah untuk Ken berupa buku tentang kesehatan. Ken memang sangat suka membaca.


Sebelum turun dari mobil, Edewina menelepon Reo.


"Ya, sayang." jawab Reo dari seberang.


"Masih rapat ya?" tanya Edewina. Ia tahu kalau Reo ada rapat jam 2. Namun ia ingin segera menelepon Reo karena tak ingin kejadian yang lalu terulang lagi.


"Masih. Tapi nggak masalah jika kegiatan rapat aku hentikan sejenak. Kamu adalah prioritas utamaku. Ada apa?"


"Eh, kak. Aku sekarang ada di rumah sakit."


"Di rumah sakit?"


"Eh, semalam Ken sakit. Ia sempat tak sadarkan diri. Aku di sini untuk menjaga dia karena nggak ada yang jagain. Sekalian mau memberikan ucapan selamat buat Ken. Hari ini dia ulang tahun."


"Baiklah."


"Terima kasih. Bye...!" Edewina langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit. Namun saat ia membuka pintu ruangan tempat Ken di rawat, ia tak menemukan Ken ada di sana.


"Suster, di mana pasien yang di rawat di ruangan 209?" tanya Edewina di ruangan jaga perawat.


"Tuan Kennard Lim? Dia sudah minta pulang sendiri 1 jam."


"Memangnya dia sudah sembuh?"


"Belum. Tapi dia sudah tanda tangan pernyataan bahwa ia siap menanggung semua resiko yang terjadi karena minta pulang belum pada waktunya."


Ken, kamu ada di mana sih?


Edewina ingat dengan Richmond park. Ken senang sekali berada di taman itu karena banyaknya rusa yang bisa mereka temui saat bersepeda bersama. Apakah mungkin Ken kesana?


Edewina memacu mobilnya ke sana. Entah mengapa ia merasa perasaannya menjadi tak enak.


Setelah memarkir mobilnya, Edewina segera menuju ke tempat penyewaan sepeda. Benar saja. Ka menemukan nama Ken di sana.


"Kau mau menyusul kekasihmu?" tanya petugas tempat penyewaan sepeda itu. Seorang wanita berusia 30 an bernama Debora.


Edewina mengerutkan dahinya.


"Kennar Lim. Kalian pasangan kekasih kan? Aku tahu kalau hampir setiap pekan kalian akan datang ke taman ini untuk menyewa sepeda dan berkeliling taman sampai sore. Sekitar 1 jam yang lalu kekasihmu datang. Ia terlihat sedih dan sedikit pucat. Aku pikir memang ada baiknya kau menyusul dia. Sambil aku akan ingatkan bahwa pukul 6 taman ini akan di tutup."


Edewina hanya mengangguk. Ia membayar biaya sewa sepeda lalu segera mencari Ken.


Tempat favorit mereka adalah di sebuah tanjakan yang ada jembatannya. Mereka biasa duduk di sana sambil melihat rusa yang ada.


Benar saja. Ken ada di sana. Ia duduk di lantai sambil bersandar di pagar jembatan dan memandang jauh ke depan. Nampaknya ia sedang melamun.


"Ken.....!" panggil Edewina.


Ken menoleh. Ia menatap. Edewina tak percaya. "Wina?" Air mata Ken langsung jatuh.


"Ken, kenapa kamu keluar dari rumah sakit? Memangnya kamu masih pucat."

__ADS_1


Ken tersenyum. "Ini hari ulang tahunku, Win. Aku tak mau menghabiskannya di ruangan rumah sakit yang sepi. Aku ingin ada di sini. Setidaknya hatiku merasa bahagia saat ada di sini."


Edewina ikut duduk di samping Ken. "Selamat ulang tahun, Ken."


"Aku pikir kamu melupakannya. Biasanya kamu menjadi orang paling pertama yang mengucapkan selamat. Namun mulai tahun ini, aku harus membiasakan diriku." Ken menghapus air matanya kasar. "Maafkan aku. Masih sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kita sekarang bersaudara."


"Kita pasti akan bisa melalui semua ini, Ken. Ayo pulang! Kita kembali ke rumah sakit."


"Sudah ku katakan kalau aku ingin di sini. Aku justru merasa sehat jika ada di sini."


"Ken, kamu calon dokter. Seharusnya paling mengerti apa akibatnya jika mengabaikan kesehatanmu."


"Perutku memang akan selalu seperti ini. Butuh waktu yang agak lama untuk sembuh. Namun aku pasti sembuh. Kamu pergilah!"


Edewina menatap Ken. Ingin rasanya ia memeluk Ken. Ia tahu kalau cowok itu sedang bersedih. Dan salah satu hal yang membuat Ken bersedih adalah dirinya.


"Ken, ayo aku antar pulang."


Ken menggeleng. Ia justru memejamkan matanya. Menikmati hembusan angin sore di penghujung musim gugur.


Agak lama mereka saling diam. Sampai Edewina merasa kalau Ken tertidur karena mendengar dengkuran halusnya. Dan perlahan kepala Ken jatuh di bahu Edewina.


**********


Indira berdiri di hadapan Reo. Pria itu nampak tertunduk lesu dengan pakaian rapi.


"Re....!" panggil Indira.


Reo mengangkat wajahnya. Ia langsung tersenyum. "Terima kasih sudah datang."


Indira membalas senyuman Reo. Lalu menarik kursi dan duduk di hadapan Reo. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membuka kotak itu. Ternyata sebuah kue ulang tahun mini. Indira menyalahkan 1 lilin yang ada di sana.


"Selamat ulang tahun sahabatku, Christensen Haireo Almond."


Reo memejamkan matanya. Merasakan sakit di hatinya. Ia merencanakan makan malam yang indah bersama Edewina. Ia akan menunggu sampai jam 12 tengah malam karena ingin momen ulang tahunnya dilewati bersama wanita yang sangat dicintainya itu.


Namun, Edewina tak juga pulang. Ia bahkan membatalkan acara makan malam mereka pada pukul setengah tujuh malam tadi. Dan Reo masih berharap Edewina akan datang dengan mengirimkan alamat restoran. Ia meminta Edewina datang walaupun sudah terlambat. Sejak jam 10 Reo sudah menunggu, namun Edewina tak juga datang. Akhirnya Reo menelepon Indira. Tak sampai 15 menit sahabatnya itu sudah datang ke sini.


"Ayo make a wish, Re. Dan tiup lilinnya." Kata Indira sambil menepuk tangan sahabatnya itu yang ada di atas meja.


"Selama 10 tahun aku membuat permohonan yang sama. Semoga Edewina akan mencintaiku. Namun rasanya aku harus mengubah permintaanku malam ini, Ra."


"Apa yang kamu akan minta?"


"Semoga kamu mendapatkan pasangan Indira Hillary Resmon." ujar Reo lalu meniup lilinnya.


Indira merasa terharu.


"Mau dansa?" ajak Indira.


"Boleh."


Reo meminta pihak restoran untuk memutar lagu yang sebenarnya sudah ia persiapkan untuk berdansa dengan Edewina. Namun tak masalah jika lagu itu sekarang ia pakai untuk berdansa dengan perempuan yang selalu ada untuknya. Indira. Sahabat baiknya.


Di dekat pintu masuk ada seorang gadis yang berdiri menggunakan gaun berwarna merah maroon. Di tangan kanannya ada kue ulang tahun dan di tangan kiri nya ada paper bag berisi hadiah. Ia langsung membalikan badannya meninggalkan restoran itu.


***********


Duh...siapa ya gadis itu ?

__ADS_1


Penasaran kan bagaimana kelanjutannya?


Dukung emak terus ya guys


__ADS_2