MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Jatuh Cinta Lagi


__ADS_3

Edewina berdiri di depan jendela kamarnya yang berhadapan dengan taman. Sudah 2 hari ini Edewina sudah bisa berdiri dengan kakinya sendiri tanpa bantuan tongkat penyangga.


Nampak Reo dan Leon sedang bermain sepak bola. Keduanya nampak sangat bahagia.


"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Mahira yang baru memasuki kamar. Ia pun ikut berdiri di dekat putrinya.


"Aku melihat mereka, mami."


"Itu anak dan suamimu, sayang."


"Mereka berdua sangat tampan."


Mahira tersenyum. "Ya. Mereka memang sangat tampan."


"Apakah benar aku dulu mencintai Reo?"


"Ya. Sayang. Kau mencintainya. Kau punya panggilan khusus untuknya. Yaitu kak Sen."


"Oh ya?"


Mahira mengecup pipi putrinya. "Mami yakin suatu saat nanti kau akan mengingat semuanya." Ia kemudian meninggalkan kamar anaknya.


Edewina masih terus memandang mereka. Sampai akhirnya ia melihat Reo melihat ke arahnya. Tatapan mata pria itu bagaikan panah tajam yang langsung menusuk hatinya, membuat hati Edewina bergetar. Perempuan itu langsung menjauh dari jendela.


Kenapa jantungku berdetak sangat cepat saat Reo menatapku seperti itu? Ada apa dengan diriku?


Edewina jadi senyum-senyum sendiri.


Ia kemudian keluar dari kamarnya. Di saat yang sama, Reo dan Leon masuk dari pintu samping.


"Mami....!" Leon langsung mendekati Edewina.


"Hallo Leon!" Edewina mengusap kepala Leon dengan lembut.


"Leon baru selesai main bola dengan papi. Leon mengalahkan papi dengan skor 4-2."


"Oh ya?" Edewina mengangkat kedua jempolnya. "Leon hebat!"


"Sekarang kami mau berenang. Ayo ikut ke kolam renang!" ajak Leon.


"Leon, mami nggak boleh terlalu capek." kata Reo.


"Tapi kan sekarang mami sudah bisa jalan. Ayo mami!"


"Baiklah!" Edewina pun akhirnya mengikuti langkah Leon. Reo jadi senang. Ia berjalan di belakang mereka sambil terus memandang punggung istri dan anaknya yang berjalan sambil bergandengan tangan.


Sesampai di tepi kolam, Reo membantu Leon melepaskan baju yang di pakainya dan menggantikan dengan celana renang yang sudah di siapkan di sana. Leon yang memang sejak bayi sudah diajari Reo berenang langsung masuk ke dalam kolam renang.


Reo sendiri melepaskan juga kaos dan celana pendeknya, menyisahkan celana boxer nya.


Edewina langsung memalingkan wajahnya melihat tubuh atletis Reo. Ia sendiri merasakan kalau jantungnya berdetak tak menentu dan pipinya menjadi panas.


Sebenarnya Reo juga melihat kalau Edewina menjadi salah tingkah. Sesuatu yang tak pernah perempuan itu tunjukan sebelum penculikan itu terjadi. Edewina memang terlalu gengsi untuk menunjukan bahwa ia mencintai Reo.


"Mami, ayo ikut berenang!" ajak Leon setelah Reo masuk ke dalam kolam.


"Eh....mami nggak ingat apakah mami tahu berenang atau tidak." Edewina menggeleng.

__ADS_1


"Jangan takut. Kalau mami nggak bisa berenang, nanti papi yang pegang." Leon menatap Reo. "Iya kan, papi?"


Reo mengangguk penuh semangat.


"Tapi mami nggak punya baju renang." Edewina melihat pakaiannya yang saat ini ia pakai. Mini dress tanpa lengan berwarna putih.


"Nggak masalah. Ayolah mami!" Leon mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.


Edewina mendekat ke kolam. Ia membuka sandal rumah yang dipakainya. Perlahan ia duduk dan memasukan kakinya ke dalam kolam. Air kolam ternyata hangat.


"Ayo mami!"


Perlahan Edewina pun menurunkan badannya ke dalam kolam. Begitu ia masuk ke dalam, tubuhnya hampir saja tenggelam. Edewina menjadi panik namun Reo dengan cepat memeluknya.


"Kau aman!" bisik Reo sambil mengusap punggung Edewina lembut.


Edewina yang melingkarkan tangannya di leher Reo, menatap Reo. Wajah keduanya menjadi begitu dekat. Hidung mereka bahkan hampir bersentuhan.


"Kamu tahu berenang, Win. Mungkin kamu sudah lupa." ujar Reo tanpa memangkas jarak diantara mereka.


"Benarkah?" tanya Edewina. Tangannya masih sedikit bergetar. Entah mengapa, berdekatan dengan Reo seperti ini membuat ada desiran aneh di hati Edewina. Ia sendiri bahkan tak mau menjauh.


"Iya. Ayo aku ajari lagi."


"Bagaimana caranya?"


Reo tersenyum. Ia sebenarnya sudah hampir kehilangan kontrol dirinya karena ingin mencium bibir istrinya itu. "Lepaskan dulu tanganmu dari leherku, aku akan memegang pinggangmu saat kamu sudah tengkurap."


Perlahan Edewina melepaskan tangannya dari leher Reo. Ia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya sementara Reo memegang pinggangnya.


"Aku bisa....! Aku bisa....!" Edewina jadi gembira saat ia akhirnya dengan bebas bisa berenang tanpa bantuan Reo.


"Tanganku....!" Edewina tiba-tiba merasakan tangannya kram. Reo dengan cepat segera berenang ke arah Edewina dan memeluknya lagi.


"Kau baik-baik saja?" tanya Reo setelah berhasil memeluk Edewina.


"Ya. Hanya tanganku agar kram. Mungkin karena aku terlalu senang sampai lupa kalau tanganku belum pulih benar."


"Iya." Reo tersenyum. Ia menyingkirkan rambut Edewina yang menutupi wajahnya.


Mata mereka kembali bertemu. Edewina merasakan hatinya kembali bergetar menerima tatapan itu.


Reo membelai wajah Edewina dengan punggung tangannya. Kali ini ia tak bisa menahan dirinya lagi. Dengan cepat Reo langsung mencium Edewina. Ciuman yang sangat lembut. Seolah takut menyakiti Edewina. Awalnya Edewina terdiam dan tak membalas ciuman Reo. Namun lama kelamaan entah dorongan dari mana, Wina pun membalas ciuman itu.


Leon ternganga melihat mereka berciuman. Ia kelihatan sangat senang dan berlari untuk memanggil omanya. Kebetulan Mahira dan Riani ada di ruang tamu. Mereka kaget saat Leon menarik tangan mereka. Namun keduanya mengikuti saja kemana Leon membawa mereka.


Mahira dan Riani pun terkejut melihat di dalam kolam, Reo dan Edewina sedang berciuman.


"Ya Tuhan, semoga Edewina sudah menemukan kembali ingatannya." Ujar Mahira dengan mata yang berkaca-kaca.


Di dalam kolam itu, keduanya bagaikan tak mau mengahiri ciuman diantara mereka. Namun mereka butuh pasokan oksigen. Ciuman itu harus diakhiri dengan napas keduanya yang terengah-engah.


"Aku....aku mau ke kamar ku." Edewina melepaskan diri dari pelukan Reo. Ia segera naik ke atas dan sedikit berlari masuk ke dalam rumah. Mahira, Riani dan Leon segera bersembunyi agar Edewina tak melihat mereka.


Reo pun tersenyum melihat kepergian istrinya. Ia memegang bibirnya sendiri. Pada saat yang sama, Reo menyadari kalau ada sesuatu di bawah sana yang sudah mengeras. Wajarlah. 3 tahun lebih Reo menahan seluruh hasratnya sebagai lelaki normal karena Edewina yang koma. Ia hampir saja lupa diri saat ini. Ah Reo, kau membutuhkan obat sakit kepala.


********

__ADS_1


Selesai makan malam, Edewina mengenakan jaketnya dan berjalan ke teras belakang. Ia duduk di gazebo sambil menyandarkan punggungnya di sandaran bangku yang ada.


Entah mengapa, ciuman mereka di dalam kolam tadi terus membayangi Edewina. Ia merasakan ada desiran aneh dalam tubuhnya yang menginginkan ciuman itu kembali.


Ini gila! Kenapa aku terus memikirkan Reo? Pada hal aku sama sekali tak bisa mengingatnya.


"Kenapa di sini sendiri?"


Edewina menoleh dengan kaget. Reo sudah berdiri di sampingnya.


"A...aku hanya merasa bosan saja di kamar."


"Sudah minum obatnya?"


Edewina mengangguk.


"Soal ciuman tadi, aku minta maaf." Kata Reo.


"Oh....itu..." Edewina tak tahu harus bicara apa.


"Aku begitu rindu denganmu. Aku hanya terbawa perasaan tadi."


"Tidak apa-apa."


"Boleh aku duduk di sini?" tanya Reo.


"Silahkan."


Reo duduk di sebelah Edewina. Jarak mereka sangat dekat. Edewina bahkan bisa mencium bau harum parfum pria itu.


"Apakah kamu selalu seperti ini?" tanya Edewina.


"Maksudnya?"


"Walaupun di rumah selalu menggunakan parfum?"


Reo terkekeh. "Iya. Sudah kebiasaan."


"Apakah dulu aku menyukainya?"


Reo mengangguk.


Keduanya pun saling diam beberapa saat sampai akhirnya Edewina berdiri. "Aku mau masuk."


"Wina....!" Reo ikut berdiri lalu menahan tangan Edewina.


Keduanya pun berdiri saling berhadapan dengan posisi Reo memegang kedua tangan Edewina. "Ijinkan aku dekat denganmu. Aku ingin agar kau mengingat aku lagi. Biarkan aku menemanimu seperti Leon yang kau ijinkan dekat denganmu. Boleh kan?"


Edewina tersenyum. Entah keberanian dari mana, perempuan itu mendekat dan langsung mencium pipi Reo. "Selamat malam." ujarnya lalu segera membalikan badannya dan berlari meninggalkan Reo.


Reo tersenyum bahagia. Ia memegang pipinya yang baru saja dicium Edewina. Tak apalah sekarang Edewina belum mengingatnya namun setidaknya Edewina membuka hati untuknya sekalipun tanpa kenangan masa lalu mereka.


***********


Duh, kisah perjalanan cinta Reo memang butuh perjuangan ya?


Ayo, semangat Reo!

__ADS_1


mana komentar nya?


__ADS_2