
Riani pulang setelah dijemput oleh Jack. Mereka sempat makan malam bersama di apartemen Reo dan Edewina.
Jack yang tak muda lagi tetap terlihat gagah dan tampan. Ia begitu mesra pada istrinya bahkan tak segan-segan berbicara manis dan mesra membuat Reo kadang memutar matanya malas karena merasa kalah dengan daddy nya.
Saat apartemen sudah sepi, Edewina memilih untuk berada di kamar. Ia membuka laptopnya untuk memeriksa email dan juga membuka akun media sosialnya. Betapa kagetnya ia saat melihat banyak sekali komentar tentang perjalanannya ke Swiss. Edewina sama sekali tak pernah mempostingnya. Sang kakek lah yang memposting semua foto-foto itu dan menandai Edwina di dalamnya.
"Dasar opa Edriges!" Edewina menggerutu. Ia yakin kalau Ken pasti melihat ini. Edewina tak ingin membuat Ken menjadi sedih. Ia yakin baik dirinya maupun Ken, sama-sama belum bisa move on dari kisah cinta mereka.
Tak lama kemudian, Reo ikutan masuk. Pria itu seperti biasa membuka pakaiannya. Edewina sebenarnya akan segera memalingkan wajahnya seperti biasanya. Namun matanya yang tajam menatap sesuatu yang memerah di atas pinggang sebelah kanan Reo. Apakah itu bekas cubitan ku tadi? Sebegitu keras kah aku mencubitnya?
Edewina jadi tak enak hati. Ia berdiri dan melangkah ke arah Reo.
"Eh, itu bekas cubitan aku ya?" tanya Edewina. Ada rasa tak enak hati karena ia telah melukai Reo.
Reo menunduk dan menatap pinggangnya. "Iya." jawab Reo. Ia tahu Edewina pasti akan merasa tak enak hati. Karena gadis itu hatinya sangat lembut. Reo ingat, Edewina pernah tak tidur semalaman saat salah satu pelayan di rumahnya jatuh dari pohon mangga karena Edewina memintanya untuk memetik mangga. Walaupun semua orang sudah mengatakan kalau pelayan itu baik-baik saja, tetap saja Edewina merasa bersalah karena telah membuatnya terluka.
"Apakah sakit?" tanya Edewina. Tangannya ingin menyentuh pinggang Reo namun ada rasa enggan dan gengsi untuk melakukannya.
"Tidak. Hanya tadi saja saat kau mencubitnya." Reo tersenyum. Ia tak mau kalau Edewina merasa terbeban dengan bekas cubitannya di pinggang Reo.
"Tapi itu harus di beri salep. Sebentar aku akan menelepon Ken untuk menanyakan salep apa yang harus dibeli." Edewina dengan cepat mencari hp nya namun Reo dengan cepat pula menahan tangannya.
"Tak perlu, Win. Aku bisa meminta Mark untuk membelikannya. Lagi pula ini tak sakit. Yang akan menyakitiku jika kau menghubungi Ken. Itu akan lebih sakit dari cubitan yang kamu lakukan tadi."
Edewina menarik tangannya yang dipegang oleh Reo. Ia tak berani menatap mata Reo yang tajam. Ia yakin kalau dia seharusnya tak selalu harus berhadapan dengan Reo.
***********
Liburan sudah selesai. Hari ini Edewina akan bersiap ke kampus. Ia sudah bangun pagi. Bersamaan dengan Jack.
Sudah hampir sebulan pula Edewina tidur di sofa. Reo sama sekali tak pernah mengusiknya.
Selama ini mereka hanya makan malam bersama. Edewina dengan sengaja selalu bangun saat Reo sudah berangkat ke kantor. Gadis itu tahu kalau Reo sangat disiplin masalah waktu. Ia akan tiba tepat pukul 9 pagi untuk memberikan contoh bagi semua pegawainya agar bisa hadir tepat waktu.
Sebenarnya kantor utama perusahaan Almond ada di Manchester namun demi menjaga Edewina, Reo berkantor di London saja. Kakaknya Cassie untuk sementara mengawasi perusahaan yang ada di sana walaupun pada kenyataannya Cassie sudah ikut mengolah perusahaan suaminya.
__ADS_1
"Sayang, jika kamu capek menyetir ke kampus, aku bisa minta Mark untuk membawa mobilmu." ujar Reo saat mereka sementara sarapan.
"Aku nggak mau. Aku bisa menyetir sendiri." ujar Edewina.
Reo mengangguk. Ia sangat yakin kalau istrinya ini tak mau menerima perhatian apapun darinya.
"Aku pergi!" Edewina segera meraih tasnya dan meninggalkan Reo di meja makan. Tak ada ciuman mesra layaknya pengantin baru. Untung saja saat sarapan atau makan malam, Reo selalu meminta agar Adeline meninggalkan mereka berdua. Reo yakin kehadiran Adeline di sini sebagai mata-mata dari mommy Riani karena ia masih belum percaya dengan pernikahan mereka yang begitu cepat.
Reo menatap Edewina yang pergi meninggalkannya sendiri. Ia pun segera meninggalkan sarapannya yang belum habis lalu segera meraih jas dan tas kerjanya yang sudah ia letakan di atas meja ruang tamu. Ia segera menuju ke kantor.
*********
Edewina memarkir mobilnya di tempat biasa. Ia melihat bahwa di sana sudah ada juga mobil Ken.
"Wina sayang....!" Clara langsung berlari dan memeluk sahabatnya itu. "Kangen lho hampir sebulan tak melihatmu. Bagaimana bulan madunya?"
"Biasa saja. Kamu kan tahu kalau aku dan Reo menikah karena dijodohkan."
"Tapi kalian sudah..." Clara sengaja menggantungkan kalimatnya sambil mengangkat alisnya.
"Bohong! Mana mungkin Reo melepaskan kamu begitu saja? Dia terlihat sebagai lelaki yang seksi dan pandai membuat perempuan melayang."
Edewina hanya tersenyum menanggapi perkataan sahabatnya itu. Langkah Edewina terhenti melihat siapa yang baru saja keluar dari cafe. Ken sedang menggandeng seorang gadis yang bernama Jenisa. Jenisa adalah mahasiswa kedokteran yang sejak dulu sangat menyukai Ken. Gadis asal Filipina itu nampak bahagia saat melangkah bersama pria pujaannya.
"Itu Ken?" tanya Edewina masih merasa tak percaya.
"Iya. Dia sekarang berpacaran dengan Jenisa. Bahkan sekarang Ken sudah tinggal di apartemen Jenisa."
"Apa? Tak mungkin. Ken bukan jenis lelaki seperti itu." Edewina menggeleng tak percaya.
"Wina, semua lelaki sebenarnya sama. Mereka tak puas hanya dengan memeluk dan mencium saja. Apalagi di tengah dunia barat seperti ini. Mungkin karena Ken mencintaimu sampai dia menghargai keinginanmu yang tak mau melakukan hubungan intim sebelum menikah. Sekarang kan kalian sudah putus. Jadi nggak masalah jika itu Ken lakukan dengan pacar barunya."
Edewina merasakan hatinya sakit. Ia yakin kalau Ken melakukan semua ini karena dirinya.
Ken melihat kearah Clara dan Edewina. Ia melepaskan tangannya yang memeluk pinggang Jenisa.
__ADS_1
"Wah, pengantin baru kita sudah sampai rupanya." ujar Ken sambil mendekat. Jenisa melangkah di sampingnya. Perempuan itu tersenyum penuh kemenangan melihat Edewina yang terluka.
"Sayang, ayo kita pulang!" Jenisa bergelut manja di lengan Ken.
"Ayo! Tak sabar aku ingin mendengar ******* manja mu itu." Ken mencium bibir Jenisa dengan sangat keras.
Edewina memalingkan wajahnya. Ia tak menyangka akan sesakit ini melihat Ken bersama dengan gadis lain.
Ken dan Jenisa melangkah bersama tanpa melepaskan ciuman mereka.
Clara melihat sahabatnya. "Win, kamu baik-baik saja kan?"
Edewina menggeleng. "Aku tidak baik-baik saja. Aku ingin pulang."
"Kuliahnya akan segera di mulai, Win." Clara menahan tangan sahabat nya.
Edewina terpaksa menghentikan langkahnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Apapun yang terjadi, kuliahnya tetap nomor satu.
Dengan langkah gontai, Edewina mengikuti Clara menuju ke kelas mereka.
*********
Selesai kuliah, Edewina langsung pulang. Gadis itu menangis mengingat semua kejadian di kampus tadi. Apalagi saat tahu dari orang-orang kalau Ken sudah sering bolos kuliah. Ia bahkan tak mengikuti praktek kerja nyatanya di rumah sakit.
Ada apa dengan kamu, Ken? Mengapa kamu menjadi seperti ini? Aku tahu kalau perpisahan ini menyakitkan bagi kita. Tapi bukankah kita memang tak boleh bersama? Ah, Ken. Maafkan aku!
Edewina membawa mobilnya dengan perasaan galau sampai akhirnya......
"Ah......!"
*********
Apakah yang terjadi?
Selamat membacanya
__ADS_1
Jika yang komen banyak, emak akan up setiap hari 2 episode he...he...