
"Tuan, ini profil Kennard Lim." kata Mark sambil menyerahkan tablet yang ada di tangannya.
Reo membacanya secara cepat. "Ibunya orang Manado juga? Pantas saja mereka langsung dekat. Dia berusia 19 tahun dan sementara kuliah jurusan kedokteran di salah satu universitas ternama di Seoul. Pria tampan. Idola Edewina." Reo melepaskan tablet yang ada di tangannya dengan kesal. Dia merasakan cemburu yang sangat dalam karena pria ini telah memenangkan hati Edewina.
"Tuan, dari informasi yang saya terima pagi ini, Kennard Lim sekarang sedang naik pesawat menuju ke Indonesia. Sepertinya ia mau buat kejutan pada nona Edewina."
"Sial....! Sial....! Sial....!" Reo berdiri dan menumpahkan kegalauan hatinya dengan berjalan mondar mandir di dalam kamar hotel itu.
"Batalkan perjalanan kita ke Jakarta."
"Tapi tuan..., pihak perusahaan yang akan bekerja sama dengan kita akan siap jam 3 sore ini."
"Kalau aku bilang batalkan, ya batalkan. Aku ingin melihat secara langsung pria itu."
Mark menarik napas panjang. "Baik, tuan." ia takut membatah jika Reo dalam mode marah berat seperti ini.
**********
Edewina merasakan kalau jantungnya berdetak kencang. Ia berdiri di depan pintu kedatangan penumpang. Tangannya bahkan sudah berkeringat dingin.
"Kamu kenapa sih?" tanya Sinta yang ikut bersama Edewina menjemput pujaan hatinya.
"Aku sangat gugup, Sin. Gimana kalau Ken ternyata tak suka dengan aku? Penampilanku sekarang gimana?"
"Kamu sudah cantik. Sangat cantik di sore ini. Gaunnya juga cantik."
Edewina tersipu. Ponselnya berbunyi. Ia melihat siapa yang memanggil. "Ini Ken...!" Edewina semakin tak sabar rasanya. Ia pun menerimanya. "Hallo Ken...."
"Aku sudah selesai mengambil bagasi ku. Kamu ada di mana?" tanya Ken.
"Aku sudah berdiri di depan pintu keluar. Aku menggunakan gaun berwarna pink."
"Oh gitu ya. Aku melihatmu." Ken melambaikan tangannya.
Edewina membalas lambaian tangan Ken.
"Oh my God...., benar-benar mirip Oppa Korea. Lihat saja cara berpakaiannya. Mirip banget sama boyband-boyband Korea. Oh... Wina, kau sangat beruntung." Sinta hampir pingsan melihat kekasih hati sahabatnya itu.
Kennard yang menarik kopernya, sangat keren dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
"Jangan terlalu kencang suaranya. Ken bisa bahasa Indonesia." Wina menginjak kaki temannya. Sinta meringis namun tak marah. Matanya ikut berbinar melihat pria tampan itu.
"Hai....!" Sapa Kennard ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah.
"Hai...!" Edewina tersipu malu.
Kennard membuka kacamata hitamnya.
"Aku Sinta, sahabat terdekat Wina." ujar Sinta memecahkan kesunyian melihat kedua pasangan itu hanya saling menatap saja.
"Hai, Sinta. Wina sudah sering bercerita tentangmu." Ujar Kennard menjabat tangan Sinta.
"Selamat datang." ujar Edewina setelah berhasil menguasai dirinya dari rasa gugup.
"Terima kasih." Ken menatap Edewina dengan pandangan penuh cinta.
"Ayo, kita pergi!" ajak Edewina.
Ken dan Wina berjalan bersisian sedangkan Sinta ada dibelakang mereka. Mengabadikan momen itu melalui siaran langsung grup kelas mereka. Histeri-lah semua penghuni grup.
__ADS_1
Tanpa mereka ketahui, tak jauh dari sana, Reo sedang menatap mereka dengan hati yang perih. Ia melihat bagaimana Edewina dengan malu-malu menatap pria tampan itu dan akhirnya mereka saling melepaskan senyum penuh cinta.
"Sudahlah, Reo. Gadis itu bukan untukmu." kata Indira saat Reo curhat tentang rasa cemburunya yang melihat Wina menjemput kekasih hatinya.
"Ingin rasanya aku menarik Wina dari sana dan membawanya pergi ke Inggris. Aku cemburu, Ra. Hatiku sakit."
"Come on, Reo. Semangat dong. Kamu tuh harus realistis. Edewina sedang jatuh cinta. Wajar dong, diakan masih muda. Dia baru 17 tahun. Dan kamu? Kamu sudah 26 tahun."
"Aku rasanya mau gila, Ra."
"Sudahlah. Itu resikonya kalau mencintai dalam diam. Belajar menerima kenyataan. Jangan jadikan rasa cintamu pada Wina sebagai sebuah obsesi. Itu akan membunuhmu."
Reo menarik napas panjang. "Baiklah. Terima kasih sudah mendengarkan curhatku." .
"Semangat, dude! Aku yakin kamu pasti bisa."
"Ok." Reo melepaskan ponsel yang ada di tangannya. ia duduk di atas sofa sambil sesekali menarik napas panjang.
"Tuan.....!" panggil Mark.
"Usahakan besok kita pergi dengan pesawat yang paling pertama."
"Baik. Terus, bagaimana dengan orang-orang kita yang selama ini mengawasi nona Wina?"
"Biarkan mereka tetap ada di dekatnya. Aku mau pastikan kalau Kennard adakah lelaki yang baik."
"Baik, tuan...!"
Reo mengingat perkataan mama Riani. "Nak, jika suatu saat kau jatuh cinta, jangan sampai itu menjadi obsesi yang akan membuatmu menjadi jahat. Jika orang yang kau cintai tak mencintaimu juga, lepaskan dia. Biarkan dia bahagia dengan pilihan hatinya. Jangan memaksa kan."
Reo mengusap dadanya. Aku akan melepaskan mu, Wina. Jika kau sudah menikah dengan pria yang menurutku adalah pria terbaik yang tak akan menyakitimu.
***********
Mereka berhenti di sebuah bangku beton. Ken meminta Edewina untuk duduk di sampingnya.
"Besok malam aku akan ke Singapura. Menemui mamaku di sana. Mama mau menjemput opa untuk membawa berobat ke Seoul." kata Kennard sambil menyingkirkan anak-anak rambut Edewina yang menutupi wajahnya.
Wajah Edewina menjadi sedih. "Entah kapan lagi kita akan bertemu."
"Kamu kan bisa liburan ke Seoul."
"Mamiku sedikit ketat aturannya. Aku nggak tahu apakah akan diijinkan liburan ke sana."
"Kau kan dapat mengajak teman-temanmu liburan ke sana bersama. Nanti semua aku yang atur. Kalian tinggal datang saja."
"3 bulan lagi kami akan ujian akhir. Dan aku harus mengikuti serangkaian tes untuk bisa masuk ke Oxford. Aku tak tahu apakah bisa memiliki waktu liburan ke sana."
Kennard membelai wajah Edewina. "Kalau begitu, usahakan dirimu untuk bisa masuk ke Oxford. Karena aku juga akan melanjutkan S2 ku ke sana."
Mata Edewina langsung berbinar. "Oh ya? Kamu benar akan ke sana?"
"Iya, sayang. Aku akan ke sana. Sekarang tersenyumlah karena aku tak mau malam perpisahan kita menjadi tak indah karena wajahmu yang cemberut itu."
Edewina tersenyum membuat Kennard menarik hidung mancungnya dengan gemas. "Aku mencintaimu, Wina. Sangat mencintaimu."
"Aku juga."
Kennard mendekatkan wajahnya ke wajah Edewina. Jantung keduanya sama-sama berdetak kencang. Dan saat Kennard menyentuh bibir Edewina dengan bibirnya, waktu seakan berhenti bagi kedua anak muda itu. Ciuman pertama yang sangat manis dan menggetarkan hati. Ciuman pertama yang mungkin tak akan dilupakan.
__ADS_1
**********
Reo yang masih tidur, bangun saat mendengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Ia langsung mengusap layarnya saat tahu kalau pesan itu dari anak buahnya yang mengawasi Edewina di Manado.
Jantung Reo seakan berhenti berdetak melihat foto yang dikirimkan padanya. Foto Edewina yang sedang berciuman dengan Kennard.
Reo langsung menelepon Mark. "Mark, selidiki kehidupan Kennard di Seoul. Aku tak mau kalau dia memiliki kekasih lain di sana. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri jika dia berani menyakiti Edewina."
"Baik, tuan."
***********
"Duh, yang lagi kangen. Pasti kesepian nih karena pujaan hatinya sudah pergi."
Edewina yang sedang duduk sendiri di depan kolam renang, menoleh saat mendengar suara papinya.
"Ih...papi...!"
Edmond duduk di samping anaknya. "Jatuh cinta itu indah kan?"
Wina mengangguk.
"Papi harap kalau sekolahmu tetap yang paling utama."
"Baik, pak Edmond Moreno."
Edmond tertawa mendengar cara anaknya menyebutkan namanya. "Papi yakin kalau Wina pasti bisa. Mau masuk ke Oxford kan?"
"Iya. Pendaftarannya sudah dibuka. Semoga ya aku bisa masuk ke sana."
"Papi yakin Wina pasti bisa."
Mahira datang sambil membawakan kopi bagi suaminya.
"Wina mau minum sesuatu?" tanya Mahira.
"Nggak. Wina mau mandi dan belajar." Edwina mencium pipi papi dan maminya sebelum meninggalkan tempat itu.
Edmond menatap Edewina yang menghilang di balik pintu.
"Dia jatuh cinta."
"Kennard kelihatannya baik. Walaupun saat melihat wajahnya, aku jadi teringat dengan seseorang."
"Artis Korea mungkin. Dulu kan kamu juga suka nonton drama Korea waktu sedang hamil Wina."
Mahira tertawa. "Waktu memang sudah cepat berlalu."
"Dan kau masih saja terlihat cantik di mataku."
Mahira menatap suaminya dengan mata yang berbinar. "Kau juga masih terlihat tampan, sayang."
Edewina yang menyaksikan kemesraan kedua orang tuanya dari jendela kamarnya pun tersenyum. Ya Tuhan, andai aku dan Ken akan seperti itu.
********..
Hallo semua
terima kasih sudah baca part ini
__ADS_1
jangan lupa dukung emak terus ya