
3 tahun Reo menahan semua keinginannya untuk menyentuh istrinya. Malam ini, saat ciuman itu tak mau berhenti, Reo pun tak ingin menahan-nahan dirinya lagi.
Ia pun merayu Edewina sedemikan rupa dengan semua keahlian yang dimilikinya untuk menaklukan wanita.
Perlahan ia mulai membuka resleting gaun Edewina sambil terus merayu wanitanya itu.
Edewina yang terbuat dalam sentuhan Reo pun seakan telah kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Ia hampir tenggelam dalam hasrat yang sama dengan Reo, ketika sesuatu menyadarkan dirinya.
"Reo.....!" Edewina menahan tubuh Reo yang sudah berada di atasnya.
"Ada apa?" tanya Reo sambil menahan dirinya karena sesungguhnya ia sudah siap dengan penyatuan mereka.
"Aku takut."
"Takut apa, sayang?" tanya Reo sambil membelai wajah Edewina.
"Apakah kita sudah pernah melakukannya?"
Reo tersenyum. "Iya, sayang. Leon kan anak kita."
"Ta...tapi aku tak tahu bagaimana caranya."
"Kamu cukup mengikuti kata hatimu saja. Mengikuti naluri mu saja, maka semuanya akan berjalan dengan baik. Kita sudah pernah melaluinya dulu bersama dengan indah. Aku pun ingin malam ini kita merasakan hal yang sama juga."
Walaupun tatapan matanya agak ragu, namun Edewina mengangguk juga. Ia melingkarkan tangannya di leher Reo lalu kembali mengajak suaminya itu berciuman.
Reo kini tak menahan dirinya lagi. Ia pun langsung menyatukan diri mereka. Walaupun diawal Edewina sempat meringis sedikit namun tak lama kemudian, keduanya sudah larut dalam kehangatan balutan kasih dan gairah.
**********
Ada senyum kepuaasan yang terpancar di wajah Reo, saat membuka matanya dan melihat ada Edewina di sampingnya.
Perempuan itu nampak masih tertidur nyenyak. Reo tahu kalau semalam ia dan Edewina bagaikan orang yang sudah lama berjalan di Padang pasir dan sangat kehausan. Mereka sangat merindukan air sejuk. Dan itulah yang mereka nikmati bersama tadi malam.
Ada sesuatu yang berbeda pada diri Edewina yang Reo rasakan. Istrinya semalam begitu aktif bahkan kesannya sedikit liar. Ketika Reo merasa dua ronde cukup untuk malam tadi, Edewina justru menjadikannya 3 ronde. Akhirnya mereka tidur saat hari sudah menunjukan pukul 3 pagi. Dan inilah mereka sekarang, jam 10 pagi namun masih ada di atas ranjang.
Ponsel Reo berbunyi. Ia terkejut saat melihat kalau panggilan itu dari mommy Riani.
Perlahan Reo menarik tangannya yang menjadi bantal bagi kepala Edewina lalu ia turun dari ranjang dan berjalan menjauhi ranjang.
"Ada apa, mom?" tanya Reo pelan.
"Mommy membangunkan kamu ya? Kamu di kamar Edewina kah?"
"Iya. Wina masih tidur."
"Ihs...., dasar kamu ya! Pasti kamu sudah membuat Edewina lelahkan? Like father like son."
Reo terkekeh. "Mommy kayak nggak tahu aja. 3 tahun aku puasa mom. Wajarlah kalau semalam kami berdua kayak orang yang lupa daratan."
"Leon mencari kamu sejak tadi. Mommy bilang kalau kamu sudah pergi sejak pagi dengan Edewina ke acara kantor. Daddy sekarang sedang menemani Leon di sekolah dan setelah itu keduanya akan ke taman bermain. Jadi mommy harap sebelum jam 1 siang kalian sudah bangun."
__ADS_1
"Ok, mom."
"Mommy bahagia saat tahu kalau kalian sekamar lagi."
"Aku juga bahagia walaupun Edewina belum ingat apa-apa. Selama saja ia merasa bahwa ia masih perawan."
"Nikmati saja kebersamaan kalian, nak."
"Makasih, mommy." Reo menutup percakapan mereka. Saat ia membalikan badannya, nampak Edewina sedang menggeliat dan bersiap untuk bangun. Edewina membuka matanya dan langsung menatap Reo yang berdiri tak jauh dari ranjang. Peremouan itu langsung menutup wajahnya dengan tangannya.
"Kenapa sayang?" tanya Reo bingung.
"Kok nggak pakai baju sih?"
Reo menatap dirinya sendiri. Ia tak sadar saat turun dari ranjang tadi, ia tak menggunakan pakaian.
"Aku sekarang jadi lupa kalau sedang tak menggunakan baju."
Mereka pun tertawa bersama. Reo langsung naik kembali ke atas ranjang, menutupi badannya dengan selimut lalu memeluk istrinya.
"Aku bahagia pagi ini." bisik Reo lalu mencium pipi Edewina.
"Aku juga bahagia sekaligus malu."
"Kok malu, sayang?" Reo mengerutkan dahinya.
"Bagaimana jika mommy dan Daddy mu tahu kalau kita tidur di kamar yang sama?"
"Tapi aku belum mengingat kamu dan Leon."
Reo membelai wajah Edewina. "Tak apa jika kau belum mengingat kami. Hanya saja, bukalah hatimu, untuk menerima aku dan Leon sebagai bagian dari hidupmu."
"Bukankah aku sudah memulainya denganmu?"
Reo tersenyum menggoda. "Jadi, apakah masih boleh kita melanjutkan yang semalam?"
Edewina mengerutkan dahinya. "Masih mau lagi?"
"Ya."
Edewina tertawa. Namun ia mengangguk juga. "Morning kiss."
Reo pun langsung menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh mereka. "Ayo sayang.....!"
***********
Di kota Seoul......
Indira menatap Lim Jeou, putranya. "Je, ayo ganti pakaiannya. Ini sudah malam."
Jeou mendekati mamanya. "Eomeoni!"
__ADS_1
"Anak mama yang tampan!" Indira langsung memeluk putranya dengan penuh kasih. Jeou baru saja pulang dari rumah orang tua Ken sudah 2 hari ia ada di sana dan Indira merasa kesepian.
"Opa dan Oma kemana?"
"Langsung ke bandara. Mereka mau ke Singapura."
"Kenapa nggak ikut?"
"Nggak mau meninggalkan eomeoni sendirian di sini."
Indira mengecup pipi putranya dengan gemas. Jeou memiliki tubuh yang montok dan pipi yang tembem. Semua orang pasti senang dengannya.
Sejak mereka menikah 3 bulan yang lalu, Ken dan Indira sepakat untuk belajar tinggal sendiri. Ken membeli sebuah rumah yang berdekatan dengan rumah sakit tempatnya kerja. Supaya ia bisa sering pulang ke rumah dan akan cepat ke rumah sakit bila ada pasien yang gawat.
"Terus hanya eomeoni saja yang di sayang? Aboji nggak?"
Jeou turun dari gendongan mamanya dan langsung berlari ke arah papanya.
Ken langsung memeluk anaknya dengan penuh sayang. Menghujani ciuman di pipi Jeou dengan gemas.
"Aboji bawa buah apel untuk Je. Ayo ke dapur dan minta bibi buatkan jus."
Jeou memang sangat menyukai jus apel. Ia pun segera turun dari gendongan Ken dan berlari ke dapur.
"Sayang.....!" Ken mendekati Indira dan langsung memeluk istrinya. Ia juga menghujani Indira dengan ciuman yang bertubi-tubi di pipi, dahi dan di bibir istrinya.
"Ken...!" Indira merasa jengah. Ia memukul dada suaminya mesra.
"Aku punya hasil periksaan darahmu."
"Adakah sesuatu yang serius? Mengapa aku sering merasa mual?"
Ken mendekatkan wajahnya ke wajah Indira. "Kau akan kembali menjadi ibu."
"Apa?" Indira terkejut. "Aku hamil?"
"Ya."
"Beneran? Tapi aku belum terlambat haid."
"Pemeriksaan melalui darah akan lebih mudah mengetahui kehamilan dari awal." Ken memegang perut Indira dan mengusapnya perlahan. "Kali ini, aku akan menemanimu selama kau hamil. Aku akan memantau perkembangan anak ini setiap saat."
Indira menjadi berkaca-kaca. "Ken, aku nggak tahu harus ngomong apa."
"Cukup jaga kesehatanmu saja, sayang. Nggak boleh lagi peluk Jeou lama-lama. Dia berat. Nggak baik untuk kandunganmu."
Indira mengangguk. Ken langsung mencium bibir Indira dengan penuh kasih sayang.
Awalnya ia dekat dengan Indira hanya karena Jeou. Anak itu lahir di tangannya sendiri dalam peristiwa penembakan di gudang 3 tahun yang lalu. Ketika mendengar suara tangisan Jeou, pada saat itulah Ken merasa jatuh cinta pada anaknya itu. Ia berjuang keras untuk membujuk Indira agar Jeou tinggal bersamanya di Seoul karena ia sudah di deportasi. Awalnya Indira menolak namun kebaikan hati orang tua Ken meluluhkan dinding pertahan Indira. Ia pun berjanji akan tinggal sampai Jeou berusia 6 bulan lalu meninggalkan anaknya itu. Namun semakin lama, Indira justru tenggelam dengan semua perhatian dan kasih sayang keluarga Ken bahkan sikap Ken banyak merubah.
Mampukah Indira mencintai Ken dan melepaskan cintanya pada Reo?
__ADS_1
Dukung emak terus ya guys