MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Bukan Sekedar Mantan


__ADS_3

Walaupun kaki Reo lebih panjang dari kaki Edewina namun kali ini cowok itu kalah cepat dengan langkah Edewina. Karena begitu turun dari mobil, Edewina sudah berlari sangat kencang mencari keberadaan Ken yang dikabarkan mengalami kecelakaan.


"Sinta, di mana Ken?" tanya Edewina.


Sinta dan Clara ada di sana.


"Sementara persiapan untuk operasi, Win. Salah satu pecahan kaca mobil menancap di pinggang Ken." ujar Clara.


"Ya Tuhan! Memangnya kenapa sampai Ken kecelakaan?" tanya Edewina sambil menangis.


"Kami juga nggak tahu. Mobilnya bertabrakan dengan sebuah truk sampah." jawab Sinta.


Pintu ruangan terbuka. Nampak Ken di dorong keluar menuju ke ruang operasi.


"Ken.....kamu harus kuat, Ken. Jangan menyerah! Aku mohon padamu jangan menyerah! Aku nggak mau kalau kamu sampai mati." ujar Edewina sambil memegang tangan Ken. Gadis itu menangis sangat keras membuat kedua sahabatnya memeluk dia.


Reo yang melihat hal itu hanya bisa menenangkan hatinya. Ia menarik napas panjang beberapa kali lalu menghembuskan nya secara perlahan. Ia berusaha sabar dan mengerti. Memang tak mudah melupakan cinta pertama. Apalagi mereka dipisahkan bukan karena salah satu berkhianat.


Reo hanya memperhatikan Edewina dari jauh. Ia belum mau mendekat. Membiarkan Edewina menangis bersama kedua sahabatnya. Mungkin dengan menangis dapat mengurangi beban di pundak gadis itu.


3 jam berlalu......


Ketika ruang operasi tak juga terbuka, Reo bergegas ke kantin untuk membelikan air mineral. Ia kemudian datang membawanya pada Edewina dan kedua sahabatnya.


"Sayang, minumlah dulu agar kau menjadi tenang." mata Reo.


Edewina menerima botol itu dari tangan Reo. Ia membukanya dan segera meneguk setengah dari isi botol itu.


"Apakah kamu ingin makan? Kamu belum makan siang." Reo tak ingin Edewina menjadi sakit.


"Aku belum lapar." jawab Edewina lalu kembali bersandar di pundak Clara.


Reo hanya mengangguk. Ia kemudian mengambil tempat duduk di bangku yang tak jauh dari mereka.


Setiap detik yang dilalui terasa sangat lama. Sampai akhirnya setelah hampir 5 jam berada di ruang operasi, dokter akhirnya keluar.


"Di mana keluarganya?" tanya dokter.


"Orang tuanya ada di Korea. kami belum bisa mengabarinya. Namun saya adalah sepupunya, dok." kata Edewina membuat Reo cukup senang mendengarnya.


"Operasi berjalan baik. Hanya saja, penggalan kaca yang masuk di perutnya membuat luka di ususnya. Pasien masih kritis. Setiap saat kondisinya bisa saja semakin turun. Kita harus menunggu 24 jam dari sekarang untuk memastikan bahwa pasien bisa melewati masa kritisnya."


"Apakah kami boleh melihatnya?" tanya Edewina.


"Untuk sementara belum bisa. Namun pasien akan di pindahkan di ruang perawatan intensif, kalian bisa melihatnya dari kaca."


Edewina mengangguk.


1 jam kemudian...


Air mata Edewina kembali jatuh melihat tubuh Ken yang terbaring pucat dan nampak tak berdaya. Hanya dari kaca Edewina bisa melihatnya dan ia kembali menangis melihat keadaan Ken.


Reo mendekati istrinya itu. "Win, Ken sudah selesai operasi. Kau seharusnya pulang untuk beristirahat."

__ADS_1


"Aku nggak mau." Edewina menggeleng. "Aku harus ada di sini sampai Ken dinyatakan keluar dari masa kritisnya. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya."


Reo kembali menekan emosinya. Jujur, bukannya ia tak punya rasa kemanusiaan. Namun sikap Edewina saat ini masih menunjukkan rasa cintanya yang begitu besar pada Ken.


"Sayang, kamu belum makan, belum juga istirahat semenjak main basket tadi. Sekarang sudah pukul setengah satu tengah malam. Bagaimana jika sakit asam lambung kamu kambuh? Nanti kamu juga ikut dirawat di rumah sakit ini."


"Baiklah. Aku akan makan. Namun aku tak mau pulang. Aku ingin di sini, Reo. Please !" mohon Edewina.


Reo hanya bisa mengangguk walaupun hatinya tak rela Edewina akan tinggal di sini.


Mereka menuju kantin. Edewina, Clara dan Sinta bersama pacar Sinta yang adalah sahabat Ken, mereka juga ikut makan di sana. Selesai makan, Reo pulang kembali ke apartemennya namun ia terus berpesan agar Edewina harus beristirahat.


************


"Dia sudah keluar dari masa kritisnya. Pasien bahkan tadi sempat siuman namun ia akhirnya tidur lagi karena pengaruh obat."


Keempat orang itu langsung menarik napas lega mendengar penyampaian dari dokter.


"Win, apakah kamu nggak akan pulang? Nanti suamimu marah." kata Sinta.


"Kalian saja masih di sini, bagaimana mungkin aku akan pulang? Ken memang sudah menjadi mantan kekasihku. Namun sekarang dia adalah sepupuku. Orang tuanya belum juga kita beritahu, lalu siapa yang akan menjaga Ken?"


"Win, setidaknya kita harus istirahat. Aku dan kamu yang akan pulang, Sinta dan Brian akan berjaga di sini. Nanti malam kita kembali." ujar Clara.


Dengan berat hati, Edewina pun setuju. Ia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari rumah sakit. Begitu mereka tiba di lobby, Edewina terkejut melihat Reo ada di sana. Ia masih memakai baju yang kemarin.


"Reo? Kamu tidak pulang?" tanya Edewina terkejut.


"Aku tidur di mobil. Kamu mau pulang sekarang?" tanya Reo lembut. Edewina mengangguk.


"Nggak. Arah kita berlawanan. Aku sudah pesan taxi." ujar Clara.


"Baiklah. Sampai jumpa nanti." pamit Edewina laku segera mengikuti langkah Reo menuju ke tempat parkir.


Tak ada percakapan yang tercipta selama mereka dalam perjalanan. Edewina bahkan tertidur karena semalaman memang ia tak tidur.


Begitu mereka sampai di apartemen, Reo dengan sangat hati-hati mengangkat tubuh Edewina dan membawanya masuk ke dalam apartemen. Ia membaringkan Edewina di atas ranjang lalu mengambil selimut dan menutupi tubuh istrinya itu. Setelah itu Ken ke kamar mandi. Ia ingin mandi dan menyegarkan dirinya karena badannya sedikit pegal karena tidur di dalam mobil.


Reo ikut tertidur bersama Edewina. Tanpa sadar keduanya saling berpelukan dan Edewina dengan nyamannya berbaring di lengan Reo sambil memeluk pinggang pria itu.


Menjelang malam, barulah keduanya terbangun. Edewina langsung menjauh dari Reo saat menyadari bahwa ia memeluk pria itu.


"Ada apa?" tanya Reo sambil membelai pipi Edewina.


"Eh.....aku lapar." Edewina segera turun dari tempat tidur.


"Sayang, kamu ingin makan sekarang atau kamu ingin mandi dulu?" tanya Reo lalu ikutan turun.


"Aku mau mandi dulu." Edewina dengan sedikit salah tingkah segera masuk ke kamar mandi. Ia merutuki dirinya yang terlelap sampai tak sadar kalau Reo memindahkannya dari mobil bahkan bisa berpelukan seperti itu.


Reo sendiri tentu saja sangat bahagia. Memeluk Edewina adalah suatu perasaan yang tak bisa dikatakan lagi.


Ia segera keluar kamar dan menemukan kalau bibi Adeline sementara memasak.

__ADS_1


"Apakah sudah siap, bi?"


Adeline tersenyum. "Hampir siap, tuan. Tinggal sup nya saja. Saya juga masak nasi."


"Terima kasih, bi. Edewina katanya sudah lapar namun ia sedang mandi."


Tak lama kemudian, Edewina sudah selesai mandi dan turun ke bawa sambil membawa tas punggungnya.


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Reo.


"Kembali ke rumah sakit."


"Sayang, aku sudah menyewa 2 orang perawat di sana untuk menjaga Ken. Mereka akan mengabari kita apapun yang terjadi. Tadi sebelum kamu bangun, si perawat sudah mengirim pesan kalau Ken sudah sadar. Ia hanya minta minum lalu tidur lagi. Sebaiknya kamu istirahat saja. Kamu kan besok ada presentasi jam 8 pagi." Reo mengingatkan Edewina.


"Aku akan berangkat ke kampus dari rumah sakit besok pagi."


"Edewina, kenapa sih kamu memaksakan diri untuk ke sana? Bukankah dokter sudah mengatakan kalau Ken baik-baik saja?" Reo mulai kesal.


"Aku ingin menemani Ken." ujar Edewina sambil memasukan makanan ke mulutnya.


"Tapi kan dia sudah ada yang menjaganya. Apakah karena kamu masih mencintainya?"


Pertanyaan Reo membuat Edewina melepaskan garpu dan pisau yang sedang dipegangnya. "Aku hanya sekedar menjaga dia. Orang tua Ken tidak tahu tentang kecelakaan ini. Siapa lagi yang Ken miliki?"


"Kan sudah ku katakan kalau sudah ada yang menjaganya?"


Edewina meminum air yang ada di gelas sampai habis. Lalu ia dengan marahnya meninggalkan ruang makan.


"Wina....!" Reo mengejarnya. Ia menahan tangan istrinya itu.


"Kenapa?"


"Aku tidak mengijinkan kamu pergi!" ujar Reo tegas sambil menatap istrinya dengan tajam.


"Lepaskan ...!" Edewina berusaha melepaskan tangannya namun Reo begitu kuat memegang pergelangan tangannya.


"Sadarlah Edewina, kehadiranmu di sana akan membuat Ken kembali berharap pada cintamu."


"Reo, kamu membuat tanganku sakit." Edewina meringis.


"Kamu akan sangat menyakitiku jika kamu pergi."


Edewina tak berani menatap mata Reo. Ia selalu kalah jika harus beradu pandang dengan pria itu. Air mata Edewina pun menetes tanpa bisa di tahannya. "Lepaskan!" ujarnya sambil berusaha menarik tangannya. Namun Reo sama sekali tak mau melepaskan tangan Edewina.


**********


Nah kan, pasti ada yang mau komen kesal pada Edewina. Harap maklum ya guys, Wina itu sifatnya baik hati dan care sama orang. Dia tahu Ken kecelakaan karena dirinya. Usia Wina juga masih 19 tahun. Belum dewasa namun harus dipaksa dewasa karena sudah menikah.


Akankah Reo membiarkan Wina pergi?


Komen yang banyak ya guys


jangan lupa like dan vote.

__ADS_1


Happy Sunday


__ADS_2