MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Setelah mendapatkan perawatan selama 2 minggu, Edewina diijinkan pulang walaupun dengan peraturan yang sangat ketat yang dokter berikan. Untunglah Edewina sudah menyelesaikan semua tugas kuliahnya karena ia dan Reo awalnya sudah berencana untuk pergi ke Indonesia.


Dari kabar yang Edewina dengar, 2 minggu lagi baru orang tuanya akan datang dan kedua adiknya. Tentu saja ia senang karena mereka akan datang lengkap walaupun minus opa Edriges. Karena cuaca London yang sudah memasuki musim dingin sehingga opa tak datang karena alasan kesehatannya. Namun berita kehamilan Edwina sudah membuatnya sangat senang dan berjanji setelah musim dingin berlaku, ia akan ke London dan menetap di sana sampai Edewina melahirkan.


"Sayang, aku ada rapat penting hari ini. Namun aku janji, setelah rapat, maka aku akan segera pulang." ujar Reo sambil duduk di tepi tempat tidur. Ia memegang tangan Edewina yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Ok. Aku akan menunggumu dengan setia."


"Ingat kata dokter, jangan turun dari ranjang kalau nggak perlu. Di luar ada bibi Adeline. Dia akan menemanimu sampai aku kembali. Di luar juga ada dua bodyguard yang berjaga. Aku nggak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu."


Edewina mengangguk.


Reo mendekat dan mencium bibir istrinya. Rasanya ia sangat merindukan ciuman seperti ini. Ia hampir saja lupa diri sampai akhirnya ia menarik dirinya dari ciuman itu karena tak ingin sampai ia akhirnya tak bisa bisa menahan dirinya. Bagaimana pun berhubungan suami istri juga dilarang oleh dokter.


"Ah, sayang. Aku hampir lupa dengan pesan dokter." ujar Reo sambil mengusap bibir bawa Edewina dengan jempolnya.


"Makanya jangan dicium."


"Mana bisa sih aku nggak mencium? Bibirmu menggoda seperti ini."


"Kalau begitu mulai sekarang aku akan pakai masker sehingga bibirku nggak menggoda."


Reo tertawa. "Ya sudah. Aku berangkat dulu. Ini sudah jam 1 lewat dan rapatnya jam setengah dua." Reo segera berdiri. Menunduk sebentar lalu mengecup dahi istrinya. Ia pun berjalan keluar.


Edewina menatap seluruh kamarnya. Walaupun keadaannya masih sama seperti di rumah sakit, namun setidaknya ia sudah berada di rumah sendiri. Rumah mungil yang begitu ia inginkan.


Clara dan Sinta sedang liburan ke Belanda. Mereka berdua sempat beberapa kali datang ke rumah sakit sebelum akhirnya pergi.


Edewina pun mengambil ponselnya dan memeriksa pesan. Ternyata ada pesan dari Ken dan Justin yang isinya menanyakan bagaimana kabar Edewina sekaligus mengucapkan selamat atas kehamilannya.


Edewina membalas pesan mereka lalu meletakan ponselnya kembali. Ia kemudian membelai perutnya. "Mami yakin kalau kamu akan menjadi anak yang kuat, nak. Kamu tetap bertahan di perut mami sekalipun telah diinjak dan tubuh mami dilempar."


Pintu kamar terbuka. "Maaf menganggu, nyonya. Apakah nyonya ingin sesuatu?"


"Tidak, bi. Aku mau tidur saja."


"Untuk makan mam, ingin menu apa?"


"Kayaknya makan ayam goreng. Yang pasti aku mau ada nasinya, bi."


"Baik, nyonya. Selamat istirahat."


Edewina segera memejamkan matanya saat Adeline kembali menutup pintu kamarnya.


**********


Bunyi sesuatu di kamar mandi membuat Edewina terbangun. Apakah kak Sen sudah pulang? tanya Edewina didalam hati.


"Kak.....!" panggil Edewina.


Tak ada sahutan.


Perlahan Edewina turun dari ranjang dan berjalan sangat hati-hati menuju ke kamar mandi. Ia mengetuk pintunya saat terdengar suara shower.


"Kak Sen...!" panggil Edewina.


Suara shower berhenti. Lalu pintu terbuka dengan sendirinya namun tak ada orang.


Edewina merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Namun ia berusaha menenangkan dirinya sambil mengusap perutnya sendiri.


Suara bunyi pintu kamar terbuka. Ternyata Reo yang datang.


"Sayang, ada apa?" tanya Reo sambil mendekat dan langsung memeluk istrinya saat dilihatnya kalau wajah Edewina terlihat pucat.


"Nggak. Aku tadi mendengar ada suara di kamar mandi. Aku pikir kalau kakak sudah datang."

__ADS_1


Reo melepaskan pelukannya. "Suara seperti apa?"


"Mungkin hanya halusinasi ku karena baru saja bangun tidur."


Reo mengecup dahi Edewina. "Jangan tegang, sayang. Kalau kamu kurang nyaman di rumah ini, sebaiknya kita ke rumah di pusat kota saja."


"Nggak. Aku suka di sini. Eh, sekarang sudah jam berapa?" tanya Edewina.


Reo menatap arlojinya. "Jam 5 sore. Di luar ada hujan salju. Sangat dingin."


"Aku mau minum susu. Tapi di dekat perapian ya?"


Reo mengangguk. Ia langsung menggendong tubuh Edewina menuju ke ruang tamu. Edewina tertawa manja karena menurutnya Reo terlalu berlebihan dengan tak mengijinkannya jalan kaki.


"Kamu duduk manis saja di sini, biar aku yang membuatkannya. Bibi Adeline sedang ke toko. Beras Kuta ternyata habis."


"Ok. Jadi aku punya banyak waktu untuk bermanja-manja dengan kamu kan?" ujar Edewina.


"Siip...! Aku buat susu dulu ya, sayang." Reo segera ke dapur. Ia membuatkan segelas susu hamil untuk Edewina lalu membawakan beberapa potong kue.


"Wah, enaknya." Mata Edewina langsung berbinar saat melihat kue itu.


"Makanlah yang banyak. Supaya anak kita mendapatkan gizi yang cukup."


Edewina mengangguk. Tak membutuhkan waktu yang lama baginya untuk menghabiskan segelas susu hamil dan 2 potong kue.


"Ah, enaknya. Untungnya aku nggak mengalami ngidam yang kayaknya muntah atau pusing. Memang sih kalau pagi sering merasa pusing namun nggak lama langsung hilang."


Reo melingkarkan tangannya di bahu Edewina sehingga istrinya itu bersandar di bahunya.


"Aku berharap juga kalau kamu nggak akan mengalami masa ngidam yang berat."


"Mungkin kalaupun berat, jika ada kamu pasti jadi kuat."


"Kita akan sama-sama saling menguatkan."


Tak lama setelah itu ponsel Reo berbunyi. Ia melihat kalau itu panggilan dari Juke, bodyguard yang berjaga di apartemen Indira.


"Maaf menganggu, tuan. Nona Indira berteriak karena perutnya merasa kram."


"Langsung di bawa ke rumah sakit."


"Baik, tuan."


Edewina membuka matanya. "Siapa?"


"Eh, Juke. Bodyguard yang menjaga Indira. Katanya Indira berteriak karena perutnya merasa kram. Jadi aku memintanya untuk membawa Indira ke rumah sakit."


"Lalu kenapa kakak masih di sini?"


"Maksudnya?"


"Ayo pergi ke rumah sakit!"


"Tapi....!"


"Kak, kak Indira juga sedang mengandung anakmu. Memang rasanya hatiku tak rela jika kamu harus pergi ke sana. Tapi bagaimana pun kakak harus bertanggungjawab dengan Indira."


"Tapi kamu sendiri di sini, sayang."


"Kan ada dua bodyguard. Sebentar lagi bibi Adeline akan datang."


"Tapi ...!"


"Nggak ada tapi-tapian. Ayo sana pergi!" Edewina mendorong tubuh Reo.

__ADS_1


Agak terpaksa Reo akhirnya pergi. "Aku akan cepat kembali." ujarnya sebelum menghilang dari balik pintu.


Edewina berusaha menenangkan hatinya yang perih. Ia tahu kalau ia cemburu. Namun ia ikhlas meminta Reo untuk melihat keadaan Indira.


Mengusir rasa galau di hatinya, Edewina pun mencoba menonton TV. Namun baru saja ia menemukan siaran TV yang bagus, lampu di ruang tengah tiba-tiba saja padam.


"Kok...padam sih?" Edewina berdiri dan memperhatikan bagian rumah yang lain. Ternyata di luar lampu masih menyala. Yang padam hanya ruang tamu dan ruang makan saja.


Baru saja Edewina akan melangkah untuk memanggil dua bodyguard yang berjaga di teras depan, lampu kembali menyala.


Perempuan itu menjadi tegang. Namun ia berusaha berpikiran waras. Ia tak mau terganggu dengan semua ini. Perlahan Edewina duduk lagi. Ia melipat tangannya dan berdoa. Ia harus menjadi tenang.


**********


Indira terkejut melihat Reo ada di sana.


"Re, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Indira.


"Bagaimana keadaanmu?" Reo tak menjawab pertanyaan Indira.


"Kram nya sudah hilang. Namun ada sedikit bercak darah di baju dalam ku sehingga dokter menahan ku untuk di observasi malam ini."


"Baguslah." Reo tersenyum lega.


"Aku baik-baik saja. Jadi sebaiknya kamu pulang saja."


"Aku akan meminta bibi Adeline untuk menemanimu di sini."


"Nggak perlu, Re. Aku bisa memanggil perawat."


Reo memikirkan Edewina yang sendiri di rumah. "Kalau begitu aku pulang ya? Aku juga belum bisa meninggalkan Edewina sendiri."


"Baiklah."


Reo membalikan badannya untuk pergi namun ia mendengar rintihan Indira.


"Ra, ada apa?" Reo berbalik.


"Nggak ada apa-apa."


"Tapi aku mendengar kalau kamu meringis menahan sakit."


Air mata Indira mengalir.


"Aku panggil dokter, ya?"


"Jangan. Kata dokter memang harus seperti ini. Tak boleh diberikan penghilang rasa sakit karena akan membahayakan bayinya. Aku hanya butuh istirahat."


Reo menarik kursi dan duduk di samping ranjang Indira.


"Kenapa belum pergi?" tanya Indira.


"Aku akan menjagamu sementara di sini sampai bibi Adeline datang." kata Reo lalu mengirim pesan pada Edewina.


*********


Tak jauh dari rumah itu, mobil Hammer hitam pun berhenti. "Akankah dia keguguran?"


"Tak tahu. Namun aku ingin Reo terpukul karena kehilangan keduanya. Mungkin sebaiknya tunggu Edmond dan Mahira datang ya? Untuk sementara kita buat Edewina jadi gila sendiri."


"Kau jahat!"


"Sejahat dirinya yang mengabaikan aku!"


***********

__ADS_1


Mau marah pada siapa ya?


Pokonya tetap dukung emak ya guys


__ADS_2