
Pertemuan perdana antara pihak kontraktor dan ke-10 mahasiswa yang terpilih ternyata memakan waktu yang sangat lama. Pertemuan di awali jam setengah tiga sore dan berakhir jam 8 malam. Setelah itu masih ada acara makan malam bersama dan terpilihnya Edewina sebagai koordinator dari semua mahasiswa yang ada.
Mulai Senin mereka akan bekerja dan akan dibagi tugas sesuai dengan jam kuliah masing-masing. Makanya selesai makan malam, ke-10 orang ini kumpul lagi sambil mencocokan jadwal kuliah dan Edewina akan membuat jadwal pengawasan mereka bersama.
Selesai pembuatan jadwal, Edewina pun bergegas untuk pergi. Namun saat ia tiba di tempat parkir. Sahabat-sahabatnya sudah berkumpul di sana dengan sebuah kue tart.
"Happy Birthday Edewina.....!" teriak mereka serempak lalu berhamburan memeluk Edewina secara bergantian.
"Kok kalian tahu aku ada di sini?" tanya Edewina setelah ia meniup lilin ulang tahunnya yang ke-20.
"Tuh, Ken yang memberitahunya. Kami sudah menunggu di depan apartemen mu namun kamu nggak muncul-muncul juga. Bosan menunggu, kami sudah kelaparan, akhirnya kami datang ke sini. Ini sudah hampir jam 11, nanti hari ulang tahunmu akan lewat dan kami belum memberikan selamat." ujar Sinta panjang lebar membuat teman-temannya yang lain langsung tertawa. Hampir semua teman-teman seangkatan Edewina ada di sini.
"Jadi kalian sudah kelaparan karena menunggu aku?" tanya Edewina merasa tak enak.
"Ponselmu kehabisan baterai ya? Dari tadi dihubungi nggak aktif." ujar Clara.
Edewina mengeluarkan ponselnya. "Bukan. Tadi sengaja aku matikan karena takut menganggu rapat kami. Sebentar...."
"Ayo kita pergi! Restorannya sudah 6 kali menelepon menanyakan apakah kita jadi datang atau tidak." Ken memotong ucapan Edewina dan mereka pun akhirnya pergi. Edewina tak sempat menghidupkan lagi ponselnya.
**********
Di sebuah villa dekat danau, Reo menunggu dengan gelisah. Ponsel Edewina tak bisa dihubungi. Reo terpaksa meminta bantuan Mark untuk mencari dimana keberadaan istrinya itu.
"Nyonya baru saja menerima kejutan dari teman-temannya, sekarang mereka sedang menuju ke restoran. Sepertinya mau makan malam." Mark melaporkan.
"Ada Ken di sana?"
"Ya, tuan."
Reo membanting hp nya dengan kasar. Ia sungguh merasakan sakit hati malam ini. Kembali lagi Edewina mengabaikannya. Edewina selalu menempatkan Ken yang paling pertama dari semua aktifitas kehidupannya.
Tangan kanan Reo terkepal. Lalu ia memukul meja yang ada di depannya. Membalikan meja itu dengan emosi yang tak bisa terkendalikan lagi. Makanan, kue bahkan alat makan yang sebenarnya sudah tersaji indah menjadi hancur berantakan.
Reo langsung masuk ke dalam villa. Ia mengeluarkan pistol yang selalu dibawanya kemana saja. Ia sungguh ingin mengakhiri semuanya malam ini.
*********
Edewina tiba di depan apartemen saat jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Teman-temannya memaksa dia untuk ke diskotik dan mereka menghabiskan waktu 1 jam di sana.
Sebelum Edewina turun dari mobil, ia menghidupkan ponselnya kembali. Ia melihat ada 10 panggilan dari Reo. Ada 3 pesan dari Reo dan 1 pesan dari Mark.
*Selamat ulang tahun sayang. Tak sabar ingin ketemu denganmu hari ini
Sayang jangan lupa ya? Aku sudah menunggumu di sini
Wina, apakah kali ini kau akan mengabaikan aku lagi? Ok. Selamat menikmati kebersamaan mu dengan Ken. Dia memang selalu ada dalam hatimu*.
Pesan Reo yang terakhir membuat Edewina merasa hatinya sakit. Ia sungguh melupakan janjinya dengan Reo. Ia menyesal telah menonaktifkan ponselnya tadi.
Edewina membaca pesan dari Mark.
Nyonya, apapun yang terjadi, datanglah ke sini. Tuan sangat kacau dan aku tak bisa menenangkan dia. Aku takut kalau tuan akan mencelakai dirinya sendiri dengan pistol. Aku tak pernah melihat tuan seperti ini seumur hidupnya.
Edewina segera menjalankan mobilnya kembali. Ia menangis. Sungguh ia merasa sangat bersalah. Ya Tuhan, semoga tak terjadi apa-apa dengan Reo.
Edewina menghubungi ponsel Reo. Namun ponsel Reo sudah tak aktif. Edewina menghubungi nomor Reo yang lain. Tak juga aktif. Ia kemudian menghubungi Mark. Panggilannya masuk namun Mark tak mengangkatnya.
Sepanjang perjalanan Edewina menangis. Entah mengapa ia merasa sangat bersalah pada Reo.
Akhirnya ia tiba di villa dekat danau. Edewina segera turun dan melihat sebuah tenda putih yang nampak kacau karena mejanya sudah terbalik. Ia kemudian melihat ke arah villa itu. Ada mobil Reo dan satu mobil berwarna merah ada di sana. Edewina terus masuk.
"Kak Sen....! Kak Sen.....!" panggil Edewina.
"Nyonya .....!" Mark muncul dari arah dapur.
"Mark, dimana kak Sen?" tanya Edewina.
"Eh....tuan pergi....!"
"Pergi? Tapi mobilnya ada di depan."
"Tuan pergi dengan nona Indira."
"Terus mobil merah itu, mobil siapa?"
"Mobil nona Indira." Mark terlihat gugup.
__ADS_1
"Lalu mereka pergi dengan apa?"
"Na....naik mobilku." ujar Mark agak terbata.
Edewina langsung duduk di sofa sambil menangis. "Aku salah, Mark. Aku sungguh menyesal. Menurutmu, kemana Indira dan Reo pergi?"
"Sa...saya nggak tahu, nyonya."
"Apakah mungkin ke rumah mommy Riani?"
"Entahlah nyonya. Tuan sedikit mabuk dan nona Indira membawanya pergi."
Edewina menghapus air matanya. "Ya, sudah, aku menunggu di sini saja."
"Sebaiknya nyonya kembali saja. Aku akan membawa pulang mobil tuan. Tinggal menunggu sopir yang satu lagi untuk membawa mobil nona Indira."
Edewina mengangguk. "Mark, tolong berita tahukan padaku jika kamu tahu Reo ada di mana ya?"
"Ok."
Edewina pun pulang dengan hati yang sedih. Ia sungguh merasa sangat menyesal. Ada sesuatu yang membuatnya galau dan Edewina tak tahu apakah itu.
*********
"Nyonya tak tidur semalaman?" tanya Adeline.
Edewina yang sedang duduk di meja pantry menatap Adeline sambil mengangguk.
"Tak ketemu tuan tadi malam?"
Edewina menggeleng. "Aku pasti sudah membuatnya sangat kecewa. Aku bahkan tak memberitahukan padanya apa yang terjadi. Aku sungguh menyesal telah membuat kak Sen kecewa untuk yang kesekian kalinya."
"Tuan mungkin marah dan kecewa namun cinta sejati itu akan mudah memaafkan."
"Aku sudah berulang kali melakukan ini padanya, bibi. Sungguh, tak bermaksud membuatnya kecewa."
Adeline mengusap punggung Edewina dengan lembut, membuat perempuan itu langsung memeluknya sambil menangis.
"Sekarang nyonya sarapan dulu. Pasti sebentar lagi tuan akan ke sini. Kan nyonya Riani sudah kembali ke Manchester. Bagaimana mungkin tuan akan tinggal sendirian di sana. Oh ya, selamat ulang tahun."
Adeline segera menyiapkan sarapan untuk Edewina. Walaupun sebenarnya Edewina tak lapar namun ia tak mau mengecewakan Adeline. Selesai sarapan, Edewina segera mandi sambil memeriksa ponselnya. Tak ada kabar baru Reo maupun Mark.
Setelah mandi, Edewina bermaksud akan menelepon Reo, namun mommy Riani yang lebih dulu menghubunginya.
"Wina sayang, maaf ya mommy baru tahu. Selamat ulang tahun, sayang. Mana Reo?"
"Reo masih tidur, mommy."
"Oh gitu ya? Anak itu nggak bilang kalau kamu ulang tahun kemarin. Kamu ingin hadiah apa, nak?"
"Nggak ingin hadiah apa-apa. Berharap agar kita semua baik-baik saja."
"Akhir pekan ini, kamu sama Reo ke Manchester dong. Kalian sudah saling memaafkan kan?"
"Su...sudah, mommy."
"Ya sudah. Mommy tunggu ya?"
"Ok."
Edewina menelepon Reo lagi. Namun nomornya tak aktif. Demikian juga dengan dua nomornya yang lain. Nomor Mark pun tak aktif.
Saat hari menjelang sore, Edewina belum juga bisa menghubungi nomor mereka semua. Akhirnya ia menelepon Indira. Gadis itu menerima panggilannya.
"Hallo kak Indira. Maaf menganggu. Apakah kakak tahu di mana kak Sen berada?"
Agak lama Indira terdiam.
"Kak.......!" panggil Edewina.
"Eh, Reo ada di sini. Tapi, dia....dia....."
"Tak mau bicara dengan aku ya?" Edewina langsung menebak.
"Iya. Maaf ya, Wina."
"Nggak masalah, kak. Aku tahu kalau aku yang salah. Terima kasih ya?"
__ADS_1
Edewina langsung meletakan ponselnya. Hatinya sakit. Untuk yang pertama kali, Reo menolak berbicara dengannya.
Tenang Wina. Reo mencintaimu. Dia hanya marah. Pasti juga marahnya akan hilang.
Edewina berusaha menghibur hatinya sendiri. Ia berusaha menenangkan hatinya yang mulai galau saat Reo mengacuhkannya.
*********
3 hari sudah Reo tak memberi kabar padanya. Dan di sinilah Edewina sekarang. Ia akan menemui Reo di kantornya.
Selesai kuliah dan meninjau proyek selama 3 jam, Edewina segera menuju ke kantor Reo. Ia melihat mobil Reo ada di sana. Ini baru jam 4.30 dan jam pulang kantor adalah jam 5.30 sore.
"Selamat sore, nyonya." Diana, sang resepsionis langsung menyapa Edewina.
"Selamat sore, Diana. Kak eh, suamiku ada kan?"
"Ada nyonya. Baru saja selesai rapat. Tamunya baru 10 menit yang lalu pergi. Saya akan memberitahukan kedatangan nyonya."
"Jangan....!" Edewina mengangkat tangannya. "Aku ingin memberikan kejutan."
"Oh....ya. Saya paham. Silahkan nyonya." Diana tersenyum penuh arti. Edewina pun langsung menuju ke lift. Ia sudah 3 kali datang ke sini dan sudah hafal dimana ruangan Reo.
Saat Edewina keluar dari lift, Reo, Indira dan Mark sedang bercakap-cakap di depan ruangan Reo. Mereka semua terkejut melihat kedatangan Edewina.
Wajah Edewina terasa panas karena perasaan malu yang dirasakannya. Ia malu karena Reo menatapnya dengan dingin.
"Selamat sore." kata Edewina sambil berusaha tersenyum.
Mark menunduk hormat.
"Selamat sore, Wina. Apa kabar?" tanya Indira lalu mendekati Edewina dan memeluk gadis itu.
"Baik, kak."
Indira melepaskan pelukannya. Ia menatap Reo. "Aku tinggalkan kalian ya? Sampai jumpa besok." Indira langsung melambaikan tangannya dan segera melangkah ke ruangannya yang ada di ujung lorong sedangkan Mark langsung membuka pintu ruangan Reo setelah itu ia pun masuk ke ruangannya yang bersebelahan dengan ruangan Indira.
Reo terlihat menetralkan nafasnya yang tiba-tiba saja terasa sesak.
"Ayo masuk!" katanya pada Edewina lalu melangkah lebih dulu.
Edewina menelan salivanya yang terasa pahit. Ia menatap punggung Reo yang sudah menghilang di balik pintu. Kemudian ia pun mengikuti langkah pria itu.
Edewina menutup pintu lalu duduk di depan meja kerja Reo. Suaminya itu sedang membaca sesuatu di laptopnya.
"Kak....!" panggil Edewina ketika keduanya saling diam beberapa menit.
"Ada apa?" tanya Reo tanpa mengangkat pandangannya dari hadapan laptop.
"Mommy meminta kita untuk ke Manchester akhir pekan ini."
"Aku tak bisa."
"Tapi aku sudah bilang bisa sama mommy."
"Bilang saja kembali bahwa kita tak bisa datang. Atau kalau kamu mau, kamu bisa pergi sendiri. Nanti aku bilang Mark untuk mengantarmu dengan mobil atau jika kamu ingin naik pesawat nanti Mark akan siapkan."
"Apa nanti kata mommy melihat aku datang sendiri?"
"Katakan saja yang sebenarnya. Bahwa hubungan kita semakin buruk."
"Kak, aku minta maaf untuk semua yang telah terjadi. Sungguh aku tak bermaksud...."
"Cukup Edewina. Jangan jelaskan apapun padaku. Kamu tahu, aku sudah menyerah."
"Me...menyerah?" Tanya Edewina tak mengerti.
Reo menatap Edewina. "Semua yang telah terjadi membuktikan pada kita bahwa jodoh memang tak bisa dipaksakan. Kalau kamu mau, kita dapat bercerai besok."
"Kak....!" Edewina terkejut. Matanya langsung berkaca-kaca. Bercerai? Mengapa perkataan itu justru membuat dada Edewina menjadi sesak?
*********
Hallo semua.....
Duh, apakah Reo benar-benar sudah menyerah?
Kasih komentar yang banyak ya guys
__ADS_1