MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Swiss Punya Cerita


__ADS_3

Maaf ya pembaca yang Budiman entah kenapa bab 15 dan bab 16 ketukar.


semoga gak mengurangi sukacita saat membacanya.


************


Reo dan Edewina menggunakan jet pribadi saat mereka menuju ke Swiss. Perjalanan yang hanya memakan waktu 1 jam lebih sedikit membuat mereka tiba di bandar udara internasional Zurich.


Hati Edewina kembali menjadi sedih saat mengingat negara impiannya bersama Ken harus kini ia telah datang namun bersama lelaki lain.


Mobil yang menjemput mereka langsung membawa mereka ke salah satu hotel ternama di kota itu. Hotel yang sudah lama berdiri dan menjadi hotel tempat bulan madu opa dan Oma Moreno.


"Sayang, kita harus foto di sini supaya opa tahu kalau kita memang menginap di sini." ujar Reo saat keduanya sudah tiba di lobby hotel.


Edewina sebenarnya ingin tidur saja namun mengingat pesan opanya, ia kemudian membiarkan Reo melingkarkan tangannya di bahunya dan pura-pura tersenyum untuk mengambil gambar mereka.


Setelah foto dikirim kepada opanya, pria tua itu langsung menelepon dan menyatakan kebahagiaan nya karena cucunya sudah berada di sana.


Mereka menuju ke kamar yang ada di lantai 7. Sebuah kamar khusus orang yang berbulan madu. Kamar dengan dekorasi yang sangat indah serta bunga mawar dan lilin aroma terapi.


Hampir saja hati Edewina larut dengan suasana kamar ini, namun ia segera menuju ke arah luar kamar. Ternyata di sana ada kolam yang khusus untuk penghuni kamar khusus bulan madu ini.


Edewina melihat di tepi kolam ada pasangan yang sedang berjemur. Mereka sesekali berciuman dan saling melemparkan tatapan penuh cinta.


Hati Edewina menjadi sakit. Dia kembali ingat Ken. Dengan cepat Edewina masuk ke dalam kamar. Di lihatnya Reo sedang memasukan pakaian mereka di dalam lemari.


"Memangnya berapa lama kita akan ada di sini?" tanya Edewina. Ia sendiri tak menyiapkan bajunya. Namun ia yakin kalau Reo dengan semua kekayaan yang dimilikinya akan mampu menyiapkan pakaian untuknya.


"Seminggu, sayang. Tapi kalau kamu mau, bisa juga lebih."


"Menghabiskan waktu sehari saja di sini aku tak mau apalagi jika lebih dari seminggu? Kenapa sih semua harus ada campur tangan opa?" Edewina mengeluh lalu ia duduk di sofa. Ia baru sadar kalau kamar pengantin ini tak ada sofa yang panjang dan besar. Yang ada hanya 2 singel sofa dan ruang makan dan dapur mini.


"Istirahatlah. Sore nanti kita akan ke tempat tujuan kita yang pertama."


Edewina memang merasa lelah. Namun ia ingat dengan testpack yang tadi dibelinya. Dengan cepat ia mengambil tas punggungnya dan segera ke kamar mandi.


Setelah membaca petunjuknya, Edewina menjadi ragu untuk melakukan tes. Karena yang terbaik adalah urine di pagi hari. Dan ia juga takut dengan hasil yang akan diterimanya. Bagaimana jika positif? Bagaimana jika aku beneran hamil? Oh Tuhan, kenapa Kau berikan aku cobaan seperti ini? Aku belum siap jadi ibu. Aku belum ingin menjadi ibu. Tapi apakah aku harus membencinya? Anak ini tak bersalah .


Di dalam kamar mandi Edewina menangis sendiri. Tanpa sadar ia memegang perutnya. Ia mengingat tanggal datang bukannya dan ia memang sudah terlambat selama 4 hari.


"Wina sayang...., kamu sedang apa?" terdengar suara Reo dibalik pintu sambil mengetuk pintu.


Edewina memasukan testpack itu kembali ke tasnya lalu ia segera keluar kamar mandi. Ia hanya menatap Reo sekilas. Lalu melangkah melewati pria itu. "Aku ingin keluar sekarang!" ujar Edewina.


"Win, tunggu!"


*********

__ADS_1


Hari ini mereka berada di danau Jenewa. Mereka sungguh tak nampak seperti pasangan yang sedang bulan madu karena Edewina selalu melakukan aktifitasnya sendiri. Mereka hanya akan bersama jika akan melakukan foto mesra yang nantinya akan dikirimkan kepada opa.


Edewina berjalan meninggalkan Reo. Tanpa sadar kalau ia sudah jauh melangkah dari tempat keramaian dan hari sudah mulai senja.


"Hallo cantik ...!" tiba-tiba saja tiga orang lelaki menghadang langkahnya.


Edewina terkejut. Ia menatap ketiga lelaki itu yang terlihat menatapnya dengan penuh napsu. "Kalian mau apa?"


"Gadis Asia yang cantik dan menarik."


Edewina merasakan kalau ia dalam bahaya. Ia membalikan badannya dan merasa menyesal karena Reo tak ada di belakangnya. Salah Edewina sendiri karena ia dengan sengaja menghilang dari pandangan Reo.


"Ayo kita bermain-main, sayang....!" Salah satu pria itu langsung maju dan mencolek pipi Edewina membuat perempuan itu langsung menepiskan nya dengan kasar.


"Jangan menolak kami sayang....!"


Edewina tak menunjukan rasa takutnya walaupun sebenarnya ia sangat takut. Ia pernah belajar bela diri waktu di SMA, sayangnya semenjak kuliah Edewina tak pernah lagi melatih skillnya di bela diri taekwondo.


"Jangan ganggu saya!"


"Ah ..., dia sungguh manis dengan sikap juteknya itu."


Edewina menyesal karena hari ini ia menggunakan gaun yang membuatnya tak bisa leluasa bergerak.


"Cantiknya kamu membuat aku tak tahan untuk segera memasuki mu." Salah satu diantara mereka langsung memeluk Edewina. Dengan cepat gadis itu berusaha untuk melepaskan dirinya. Ia menendang pria itu dan berhasil membuat dia lepas. Namun pria yang satu segera menahannya. Edewina kembali melawan. Kali ini mereka sama-sama jatuh dan membuat Edewina merasa pusing karena mereka jatuh cukup keras dan pria itu kini berada di atasnya.


"Lepaskan dia....!"


Edewina merasakan jantungnya berdetak sangat cepat saat mendengar suara Reo. Ia merasa sangat senang.


Reo dengan cepat menarik pria yang ada di atas Edewina. Ia menghajar mereka bertiga dengan luapan kemarahan yang sangat dalam.


Edewina melihat bagaimana ketiga lelaki itu terkapar dengan luka yang sangat parah.


"Reo....sudah! Kau bisa membunuh mereka." ujar Edewina sambil berusaha bangun namun tubuhnya sakit semua.


Reo yang sedang ada dipuncak amarahnya segera melepaskan pria-pria itu lalu mendekati Edewina. Hatinya sakit melihat wajah Edewina yang memar karena bekas tamparan dan sudut bibirnya yang luka.


"Sayang ...!" Reo langsung memeluk Edewina dengan penuh kasih lalu setelah itu ia menggendong tubuh istrinya ala bridal style dan melangkah menuju ke hotel.


Sesampai di kamar, ia membaringkan Edewina di atas ranjang lalu segera mengambil air hangat dan handuk kecil. Ia membersihkan luka-luka Edewina yang ada di tangan, kaki, dan juga sudut bibirnya.


"Ah ....!" Edewina meringis saat Reo membersihkan sudut bibirnya.


"Sakit? Maafkan aku ya? Seharusnya kau membiarkan aku menghajar mereka." geram Reo.


"Kau bisa membunuh mereka." kata Edewina pelan. Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat Edewina kurang nyaman. Napas Reo yang berbau mint dan wangi tubuh pria itu yang tetap harum sekalipun ia sudah berkeringat karena menggendong Edewina dari jarak yang jauh.

__ADS_1


Reo pun merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Ingin rasanya ia mencium bibir tipis yang menggoda itu. Namun Reo tahu kalau itu tak mungkin. Ia tak mau Edewina menganggapnya pria kurang ajar walaupun Reo adalah suaminya.


Menyentuh kaki Edewina yang terluka, apalagi paha mulusnya yang terlihat menggoda tentu saja sebagai lelaki Reo tergoda. Namun sekali lagi, lelaki itu harus menahan dirinya karena ia tak mau Edewina marah padanya.


"Aku sudah meminta dokter ke sini untuk memeriksa mu." ujar Reo setelah selesai membersihkan luka-luka Edewina.


"Tak perlu."


"Harus, Wina. Kamu terjatuh dan ditindih oleh lelaki itu yang berat badannya lebih dari aku. Bagaimana kalau ada bagian dalam tubuhmu yang memar?"


Edewina tak bisa membantah kata-kata Reo yang tegas dan sedikit mengintimidasinya dengan tatapan lelaki itu. Edewina memilih menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang sambil menahan sakit di punggungnya.


"Sebaiknya kamu ganti baju dulu. Bajumu itu sudah sobek dan kotor." ujar Reo lalu membuka lemari dan mengeluarkan sebuah gaun sederhana berbahan kaos.


Edewina mengangguk. Ia turun dari ranjang. Melangkah perlahan lalu mengambil gaun yang ada di tangan Reo menuju ke kamar mandi.


Namun saat Edewina mencoba membuka gaunnya sendiri, ternyata ia tak bisa. Tangannya begitu sakit dan ia hampir saja terjatuh.


Haruskah aku memintanya untuk menolongku? Tapi bagaimana?


Edewina membuang semua rasa gengsi dari dalam hatinya. Ia membuka kembali pintu kamar mandi dan terkejut melihat Reo sudah berdiri di sana.


"Aku tahu kalau kamu tak bisa membuka gaun mu sendiri. Boleh aku membantunya?" tanya Reo lembut.


Edewina mengangguk walaupun sebenarnya ia tak rela kalau Reo akan melihat tubuhnya.


Gaun yang dipakai Edewina adalah gaun tanpa resleting. Hanya ada dua kancing baju di depan. Reo membuka kancing itu sambil menahan dirinya sendiri untuk tak terpesona dengan tubuh istrinya itu. Edewina memang baru 19 tahun namun ia memiliki bentuk tubuh yang nyaris sempurna seperti wanita dewasa pada umumnya. Tentu saja Reo sudah melihat semuanya di malam itu.


Perlahan, Reo mengeluarkan gaun itu dari tubuh Edewina. Perempuan itu memejamkan matanya, menahan napasnya saat merasakan kalau tubuhnya menjadi dingin karena gaunnya yang sudah terlepas.


Reo pun menelan salivanya saat melihat pemandangan indah di hadapannya. Lalu ia membantu Edewina untuk memasang kembali bajunya.


"Sudah selesai." kata Reo lalu segera membalikkan badannya, tepat di saat itu bunyi bel pintu terdengar.


Reo sudah menduga kalau yang datang adalah dokter. Ia segera memeriksa Edewina dan memberikan resep obat agar Edewina tak kesakitan akibat benturan yang dialaminya.


"Semuanya baik. Yang ada hanya luka luar saja. Semoga cepat sembuh nyonya Almond!" ujar dokter cantik itu lalu pamit dan memberikan resep obatnya pada Reo.


Reo meminta salah satu pelayan hotel untuk menebus obat.


"Kamu mau makan?"


"Nggak. Aku hanya ingin istirahat." ujar Edewina. Namun ia merasakan kalau ada sesuatu yang keluar dari inti tubuhnya. Perut bagian bawahnya pun terasa sakit. Edewina bergegas ke kamar mandi. Saat ia membuka baju dalam nya, gadis itu terkejut melihat darah. Ya Tuhan, apakah aku keguguran?


**********


Hallo semuanya.....

__ADS_1


terima kasih sudah membacanya sampai di episode ini. Jangan lupa dukung emak terus ya guys


__ADS_2