MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Hilang


__ADS_3

Reo melewati ruangan para staf. Tanpa sengaja ia mendengar ada percakapan diantara para pegawai.


"Kemarin aku melihat Indira muntah-muntah. Tapi aku yakin kalau dia nggak sakit. Aku sangat yakin kalau dia hamil."


"Iya. Aku juga lihat beberapa hari yang lalu ia meminta OB untuk mencari makanan Asia yang kayak asinan gitu."


"Tapi dia hamil dengan siapa ya? Kita kan tak pernah lihat dia akrab dengan lelaki manapun kecuali pak Reo. Apa mungkin dia selingkuh dengan pak Reo?"


Reo terkejut mendengar percakapan mereka. Ia segera membalikan badannya dan masuk kembali ke dalam lift untuk menuju ke ruangan Indira.


Kebetulan Indira baru saja keluar dari toilet. Saat melihat Reo, ia segera menyimpan kedua tangannya di belakang punggungnya.


"Kamu kenapa?" tanya Reo.


"Nggak." Indira berusaha tersenyum.


"Kok wajahmu jadi pucat seperti itu dan terlihat gugup."


Indira tertawa. "Aku gugup? Kamu bisa aja, deh. Aku baik-baik saja, kok."


"Lalu apa yang kamu sembunyikan di belakang?"


"Nggak ada."


"Indira!" Reo semakin curiga.


"Aku nggak....."


Reo dengan cepat menarik tangan Edewina dan akhirnya sebuah benda kecil jatuh. Reo memungutnya dan langsung terbelalak melihat kalau itu adalah testpack dengan hasil dua garis.


"Ra, ini milik kamu?"


Indira terlihat semakin gugup. Ia akan pergi meninggalkan Reo namun pria itu dengan cepat menarik tangan Indira dan masuk ke dalam ruangannya. Reo mendorong pintu namun sayangnya pintu itu tak tertutup dengan sempurna.


"Katakan padaku, Ra. Siapa yang sudah menghamili kamu? Kalau memang kamu punya pacar, aku pasti tak akan bertanya seperti ini. Tapi kamu nggak punya pacar."


Indira duduk di sofa sambil menangis. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Reo duduk di samping sahabatnya itu. "Katakan yang sebenarnya, Ra."


Tangis Indira semakin dalam. Ia beberapa kali menarik napas panjang.


"Maafkan aku, Re." Indira akhirnya bicara.


"Bukankah kamu bilang malam itu tak ada sesuatu yang terjadi diantara kita? Kamu bilang bahwa kamu memang sengaja membuka bajuku karena penuh dengan tumpahan alkohol dan juga muntah ku?" tanya Reo panik seakan ia sudah tahu apa maksud perkataan Indira dengan meminta maaf padanya.


"Aku sengaja bilang begitu supaya kamu nggak stres. Lagi pula aku tak menyangka kalau akhirnya akan begini."


"Memangnya kamu sudah periksa?" tanya Reo sambil berharap hasil testpack itu salah.


"Iya. Kata dokter kandunganku memasuki minggu ke-9."


"Jadi kamu hamil anakku?"


"Ya." ujar Indira dan tangisnya pun kembali pecah.


Reo bersandar di sandaran sofa dengan kepalanya yang tiba-tiba saja pusing.

__ADS_1


"Mak..maksudmu, aku adalah ayah dari anakmu?"


"Iya. Tapi aku nggak akan meminta pertanggungjawaban dari kamu, Re. Aku tahu kejadian ini hanya sebuah kecelakaan. Karena itu kamu tenang saja." Kata Indira cepat.


Reo menarik napas panjang beberapa kali.


"Permisi....!" Mark mengetuk pintu.


"Masuk, Mark!" kata Reo sedangkan Indira langsung membersihkan air matanya.


"Tuan, aku melihat nyonya Edewina masuk ke dalam lift sambil menangis." kata Mark membuat Reo dan Indira sama-sama terkejut dan saling berpandangan.


"Kapan?" tanya Reo.


"Baru saja."


Jantung Reo bagaikan ditarik keluar dari tempatnya.


"Edewina pasti mendengarkan percakapan kita, Ra."


"Ayo kejar istrimu. Aku tak mau Edewina salah mengerti. Aku tak mau menganggu rumah tangga kalian. Aku bahkan ingin resign dan pulang ke Indonesia." kata Indira membuat Mark bingung dengan apa yang terjadi.


"Ayo kita pergi, Mark!" Reo segera meraih ponselnya dari atas meja dan menelepon istrinya. Namun Edewina sama sekali tak menerima panggilannya. Ia melangkah menuju lift sambil terus menghubungi istrinya.


"GPS mobil nyonya menunjukan bahwa nyonya ada di rumah, tuan." ujar Mark saat mereka akan masuk ke dalam mobil.


"Segera ke rumah, Mark."


Mark mengangguk. Ia pun segera mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, sambil ikut jalan tol agar bebas hambatan.


Saat mobil memahami halaman rumah, nampak mobil Edewina memang terparkir di depan rumah.


"Honey.....!" panggilnya sambil mencari istrinya di ruang tengah dan dapur. Karena tak menemukan Edewina di sana, Reo segera ke kamar. Namun kamar pun kosong.


"Sayang, kamu di mana?" tanya Reo pada dirinya sendiri. Ia kembali menghubungi ponsel istrinya dan terdengar bunyi ponsel Edewina ada di atas nakas. Di sana ada kunci mobil dan ponsel Edewina.


"Kamu tidak ingin aku menemukanmu, sayang? Kamu sengaja meninggalkan mobil dan ponselmu karena kamu tahu aku bisa melacak keberadaan mu di mana kan?" Reo terduduk di tepi tempat tidur. Tak lama kemudian ia keluar kamar dan menemui Mark yang masih menunggu di samping mobilnya.


"Dia tak ada di dalam, Mark."


"Dari CCTV nampak nyonya keluar lagi. Ia berjalan agak jauh. Tak ada tanda-tanda nyonya memesan taxi. Mungkin nyonya hanya jalan-jalan sebentar untuk menenangkan pikirannya."


"Baiklah. Kita tunggu di sini saja." Reo duduk di depan teras sambil sesekali melihat ke arah jalan.


"Tuan, aku sudah menyelidiki DNA yang ada di kemeja nyonya."


Reo mengangkat kepalanya."Lalu?"


"Itu adalah DNA milik tuan Kennard Lim."


"Apa?"


"Saya juga memeriksa CCTV di toilet kampus namun sayangnya CCTV di sana tak terlalu jelas. Kayaknya sudah agak rusak kameranya."


"Apakah Ken menyentuh Edewina?"


"Saya juga tak dapat memastikan. Namun mereka terlihat ketemu di depan toilet namun tak jelas apa yang terjadi setelah itu."

__ADS_1


Reo menarik napas panjang.


"Nanti saja aku tanyakan saat Edewina kembali. Sekarang aku benar-benar pusing, Mark. Indira hamil."


"Hamil?"


"Dan itu anakku."


"Karena peristiwa malam di hari ulang tahun itu?"


"Ya. Menurutmu bagaimana?"


"Aku hanya melihat kalau tuan dan nona Indira berciuman setelah itu masuk kamar. Makanya saat nyonya Edewina datang, aku tak berani mengatakan kalau tuan ada di dalam dengan nona Indira."


"Aku bingung, Mark. Semua peristiwa ini tak pernah aku pikirkan. Di saat aku dan Edewina sudah semakin mesra, justru hal ini terjadi. Dan aku juga tak mungkin membiarkan Indira sendiri. Dia sahabatku, dia tak pernah pacaran dengan siapapun. Aku pasti sudah menodainya malam itu dan dia tak mengatakan apapun karena ia tahu kalau aku mencintai Edewina. Aku harus bagaimana, Mark?"


"Jalannya hanya ada dua, tuan. Ceraikan nyonya Edewina dan menikah dengan nona Indira agar anak itu lahir dalam pernikahan yang sah. Atau mempertahankan nyonya Edewina dan membiarkan nona Indira kembali ke Indonesia."


"Menceraikan Edewina? Itu tak mungkin aku lakukan, Mark. Dia adalah cinta dalam hidupku."


Mark mengangguk. "Mungkin lebih mudah melepaskan nona Indira pergi namun tetap menjamin anak itu."


"Entahlah, Mark. Saat ini aku hanya ingin bertemu dengan Edewina dan menjelaskan segalanya tentang malam itu."


"Tuan tunggu saja di sini, dan aku akan mengeceknya di tempat nona Sinta dan Clara."


"Baiklah."


*********


2 jam berlalu, hari mulai malam dan Edewina belum juga kembali. Mark bahkan sudah kembali ke rumah.


"Nona Sinta sakit dan ada di rumah sakit. Nona Clara sedang menjaganya. Mereka juga kaget saat tahu kalau Edewina tak ada."


"Apakah dia bersama Ken?"


"Tuan Ken sekarang sementara bertugas di rumah sakit."


"Duh, inilah akibatnya kalau tak ada bodyguard lagi yang mengikuti istriku. Dia kemana, Mark?"


"Saya juga sudah menyusuri beberapa zaman yang ada di sini. Nyonya juga tak ada."


Reo menjadi resah. Ia tak bisa diam seperti ini. Ia pun mengajak Mark berkeliling ke tempat yang biasa Edewina pergi. Namun tak ada jejak Edewina di sana.


Sampai menjelang tengah malam, Reo mendapatkan telepon dari pihak kepolisian.


"Tuan Almond, kami menemukan istri anda tergeletak di dekat kampusnya. Kami mohon anda segera datang ke rumah sakit karena keadaannya cukup serius."


Reo hampir saja pingsan mendengarnya. Wina sayang, apa yang terjadi denganmu ?


**********


Apa yang terjadi dengan Edewina menurut kalian?


Semakin penasaran aja kan dengan misteri yang ada.


Dukung emak terus ya?

__ADS_1


komen yang panjang pun tak masalah. Asal jangan komen julid 🤣🤣🤣


__ADS_2