
Rasanya sangat menyenangkan melewati hari-hari bersama dengan keluarga besar. Edewina benar-benar menikmati kebersamaan itu. Ia bahkan semakin merasakan bahagia menjadi istri Reo karena pria itu pun sangat memanjakannya.
"Hari ini mommy mau menemui Indira." kata Riani sambil memasukan beberapa kue ke dalam kotak makanan.
Edewina yang sedang melintasi ruang makan, menghentikan langkahnya. Nampak Reo sedang duduk di depan meja makan dan sedang menikmati kopinya.
Semalam Edewina dan Reo baru saja melewati malam panas mereka sehingga Edewina bangun terlambat di pagi ini.
"Mommy mau pergi dengan daddy?" tanya Reo.
"Nggak. Mommy pergi sendiri saja. Daddy dan papinya Edewina ada urusan penting katanya hari ini." jawab Riani sambil terus menyusun kue yang akan dibawahnya untuk Indira.
"Jangan lupa ajak bodyguard, mom."
"Kenapa juga harus pakai bodyguard?" Riani nampak tak suka.
"Hanya jaga-jaga saja." ujar Reo.
Riani memasukan beberapa kotak makanan itu ke dalam kantong plastik. "Mommy nggak bisa mengabaikan Indira karena mommy menyayanginya seperti anak sendiri. Dulu mommy berharap agar kalian akan berjodoh namun kenyataannya tidak. Eh, dia sekarang malah hamil anakmu."
Reo hanya diam. "Mommy tahu kalau kau hanya menganggap Indira seperti adikmu. Mommy tahu kalau Edewina adalah cinta sejatimu. Mommy tak ingin membuat kau semakin tertekan. Tetaplah bersama Wina, apalagi dia sekarang sudah membuka hati untukmu. Tentang Indira, biarlah dia menjadi tanggungjawab mommy." kata Riani lalu ia segera mengambil tas tangannya dan bersiap untuk pergi.
Edewina pun keluar dari tempat persembunyiannya.
"Sayang, kau sudah bangun?" Reo berdiri saat melihat istrinya memasuki ruang makan.
"Iya. Kenapa tak bangunkan aku? Ini sudah jam 10." ujar Edewina sedikit cemberut. Reo langsung menarik kursi dan mempersilahkan Edewina untuk duduk. Di atas meja masih tersedia makan pagi.
Reo mendekat dan mencium pipi istrinya itu. "Aku tahu kalau kamu lelah, sayang. Makanya aku biarkan saja kamu tidur." ujar Reo.
"Aku lapar. Oh, ya kemana yang lain?"
"Lagi pergi main ski. Apa kamu lupa semalam mereka semua janjian hendak pergi bersama."
Edewina mengangguk. Ia mulai menikmati nasi goreng yang ada di hadapannya. Ia yakin kalau nasi goreng ini buatan papi Mahira.
"Sayang, tadi mami Riani kemana?"
"Ke tempatnya Indira."
"Oh....." Edewina pun melanjutkan sarapannya. Reo senang melihat bagaimana lahapnya sang istri menikmati makanannya. Tak lama kemudian ponsel Reo berbunyi. Ternyata itu dari Mark.
"Ada apa, Mark?"
"Rumah kecil yang kita beli di dekat kampus ternyata memiliki rumahan rahasia. Dari sanalah para penjahat masuk dan meneror nyonya. Ruang rahasia itu ada di dapur. Aku minta maaf karena sama sekali tak bisa mendeteksinya. Ada di bagian belakang lemari barang."
"Jalannya tembus kemana?"
"Tembus di bagian belakang tuan. Tapi kami sudah menghancurkan ruang bawa tanah itu. Menutupnya kembali dengan mengisi tanah dan batu. Tak akan ada lagi akses untuk jalan masuk. Sepertinya rumah itu dulunya adalah sarang para perampok."
"Baiklah. Pindahkan saja barang-barang kami ke sini, Mark."
"Baik, tuan. Oh, ya menurut mata-mata yang ada di sana, ia melihat tuan Ken berbicara dengan tuan Justin di cafe rumah sakit."
"Oh, ya? Lakukan terus penyelidikanmu, Mark."
__ADS_1
"Baik, tuan."
Edewina menatap suaminya. "Adalah sesuatu yang serius?"
"Rumah kecil kita ternyata ada ruangan rahasianya. Itulah sebabnya kamu selalu bisa diteror tanpa bisa dilihat dari CCTV."
"Lalu, siapa yang melakukan itu?"
"Kami belum tahu, sayang. Namun kamu jangan khawatir. Di sini kita aman."
"Kak, sebenarnya di rumah Manchester, aku juga pernah mengalami hal yang sama."
"Oh ya? Kenapa kamu tak mengatakannya padaku?"
"Aku pikir itu hanya halusinasi ku saja."
Reo nampak berpikir sejenak. "Sayang, kamu masuk kerja di proyek itu karena didaftarkan oleh Ken ya?"
"Iya. Ken yang mendaftarkan aku. Memangnya kenapa?"
"Nggak." Reo tak ingin membuat istrinya khawatir.
"Kak Sen, aku merasa kalau kakak, papi Ed sama daddy Jack kayaknya ada pembicaraan yang serius."
"Biasalah pembicaraan para lelaki."
"Benar? Nggak ada hubungannya dengan teror yang kita alami kan? Aku merasa kalau kak Sen sepertinya mencurigai, Ken."
"Kenapa memang jika aku mencurigai, Ken."
"Ken nggak mungkin menyakiti aku, kak. Jangan curiga padanya."
"Ngapain ke kamar? Kan baru saja bangun."
"Berdua aja sambil menonton Drakor."
Edewina tertawa. "Sudah suka drakor juga?"
"Nggak suka, sih. Hanya saja aku ingin mencoba menyenangi sesuatu yang juga disenangi oleh istriku."
Edewina tersenyum. Ia memeluk Reo dengan hati yang bahagia. "Aku bahagia karena jatuh cinta padamu."
Reo menggendong tubuh istrinya dan segera menuju ke kamarnya. Edmond dan Jack yang baru saja datang, melihat pasangan yang sedang tertawa bahagia itu.
"Aku, tak akan pernah membiarkan kebahagiaan anakku berakhir dengan kepedihan." kata Edmond. Jack mengangguk.
"Ayo kita cari siapa dalang semua ini, Ed. Jangan mereka berpikir karena kita sudah tua sehingga kita tak bisa memegang pistol dengan baik."
Edmond menatap Jack. "Mari kita buat mereka menyesali perbuatannya karena telah mengusik anak Moreno dan Almond."
***********
Liburan tahun baru sudah selesai. Edmond dan keluarganya harus kembali pulang ke Manado namun Edmond berjanji akan segera kembali ke London.
Edewina sebenarnya sedih jika harus berpisah dengan kedua orang tua dan adik-adiknya. Namun karena papanya berjanji akan segera kembali sehingga Edewina pun akhirnya merasa sedikit lega.
__ADS_1
"Sayang, rumah kecil kita kan sudah steril, jadi kita kembali saja ke sana ya? Jaraknya ke kampusku kan nggak sampai sepuluh menit." ujar Edewina.
"Sayang, memangnya kuliahmu sudah mulai? Ini kan baru tanggal 8 Januari."
"Masalahnya proyek yang...."
"Kamu berhenti saja dari proyek itu, sayang. Lagi pula kamu kan hamil. Aku nggak mau kamu sampai capek dan menyebabkan anak kita mengalami masalah juga."
"Tapi kak Sen, proyek itu adalah impianku, sebagian desain gambarku di gunakan di sana. Aku hanya mengawasi, kok. Please ...!" mohon Edewina.
Reo tak bisa melihat wajah Edewina yang penuh permohonan itu. "Baiklah. Tapi dengan syarat ada bodyguard yang akan menjagamu. Mereka akan menyamar agar kamu merasa nyaman. Dan mereka berjumlah 4 orang."
"Kok 4 sih? Dua saja sudah cukup."
"Nggak sayang. Kali ini kamu harus mendengarkan kata-kata ku."
"Baiklah."
Reo sebenarnya berat hati melepaskan istrinya untuk dekat dengan Justin. Namun ia juga tahu kalau Edewina sangat menyukai pekerjaannya di proyek itu.
*********
3 bulan berlalu, musim dingin pun telah berlalu. Salju-salju sudah mencair dan bunga pun kembali berseri.
Usia kandungan Edewina sudah memasuki bulan ke-5. Jenis kelaminnya bahkan sudah diketahui. Edewina mengandung anak laki-laki, demikian juga dengan Indira.
Pagi ini, Edewina pergi ke kampus seperti biasa. Ia sementara menyelesaikan tugas akhirnya.
Ia tak pernah lagi diijinkan membawa kendaraan dan selalu diantar oleh sopir.
"Wina.....!" Clara dan Sinta mendekati nya. Keduanya langsung mengusap perut Edewina.
Mereka bertiga pun berjalan menuju ke kelas mereka.
"Aduh, aku mau buang air. Aku ke toilet dulu ya?" pamit Edewina.
Clara dan Sinta pun menunggu Wina di tangga.
Saat Edewina selesai, ia pun keluar.
"Win, Justin itu adalah bos kamu kan?" tanya Clara.
"Aku beberapa kali melihat ia bersama Ken. Apakah karena mereka sama-sama pernah tinggal di Seoul ya?"
"Oh ya?" Edewina terkejut.
"Kata Brian juga kalau si Ken sekarang sudah bertato. Kayak tato karena mafia gitu deh."
Edewina semakin terkejut mendengar perkataan Clara. Brian adalah teman dekat Ken. Tentu saja ia tahu kalau ada sesuatu yang berubah dari diri Ken.
Selesai kuliah, Edewina pun menuju ke rumah sakit tempat Ken sementara praktek. Ia harus bertemu dengan Ken. Edewina tak ingin Ken menjadi jahat.
*********
Episode berikut, Edewina akhirnya akan tahun sisi gelap Ken yang selama ini tersembunyi darinya.
__ADS_1
Apakah Ken ada hubungannya dengan teror yang dialami Edewina?
Sepuluh episode lagi novel ini akan tamat ya guys ...