MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Tentang Mobil


__ADS_3

Musim gugur telah tiba. Itu berarti sudah 3 bulan lebih Edewina menikah dengan Reo. Dan satu hal yang membuatnya senang, kini mobilnya sudah bisa digunakan lagi setelah satu bulan lamanya ia harus diantar oleh Reo.


Jumat ini, ia dan Reo akan pergi ke Manchester karena mommy Riani berhari ulang tahun. Pada saat yang sama juga hari Senin adalah hari libur jadi mommy Riani memang mengharapkan anak dan menantunya untuk tinggal di sana.


Reo menjemput Edewina di kampusnya jam 1 siang. Mereka anak naik pesawat dari London menuju ke Manchester dan menggunakan pesawat pribadi Kel. Almond.


Selama perjalanan Edewina hanya diam saja. Hanya sekita 40 menit dan mereka akhirnya tiba.


"Sayang, aku mau mampir di kantor sebentar ya? Ada sesuatu yang harus aku tanda tangani." ujar Reo.


"Terserah."


Begitu tiba di kantor, Edewina ikut turun juga. Reo dengan bangganya memperkenalkan Edewina sebagai istrinya. Semua pegawai nampak kagum dengan kecantikan perempuan Asia.


"Seperti nyonya Riani ya?" bisik-bisik para karyawan.


"Sayang, tunggu aku tak lama di sini ya? Jika kamu ingin sesuatu, panggil saja sekretaris ku." ujar Reo sebelum menuju ke ruang meeting.


Edewina memperhatikan ruang kerja Reo yang sangat berbeda jauh dengan ruang kerjanya yang ada di London. Mungkin saja karena di sini adalah kantor utamanya.


Merasa bosan, Edewina akhirnya bangun dan mulai memperhatikan pajangan yang ada di lemari itu. Ada beberapa foto Reo bersama keluarganya. Kedua kakak perempuan Reo sangat cantik.


Sampai akhirnya Edewina melihat replika mobil yang bentuknya hanya sebesar tapak tangan. Seperti nya itu koleksi mobil yang Reo miliki. Karena di semua bagian depan mobil tertulis my Car, lengkap dengan tahun pembeliannya. Ada sekitar 10 mobil sampai akhirnya Edewina melihat mobil yang terakhir. Mobil Ferrari klasik warna merah seperti yang Edewina miliki. Dan di sana tercetak tahun pembeliannya seperti juga yang Edewina terima. Reo juga punya mobil seperti ini? Apakah ada di rumahnya?


Pintu ruangan terbuka. Seorang perempuan cantik dan elegan masuk. Edewina mengenalnya. Cassie.


"Hallo sayang....!" Cassie langsung memeluk Edewina dan mencium pipi kiri dan kanannya. "Aku kaget saat Reo bilang kalau kamu ada di sini. Seharusnya ia mengantar kamu dulu ke rumah. Pasti kamu capek kan?"


"Nggak juga. Kan kami naik pesawat."


Cassie mengangguk. "Kamu lihat apa?"


"Apa ini koleksi mobil Reo?"


"Ya. Anak itu memang hobinya koleksi mobil."


"Tapi hanya satu mobil klasik ya?"


Cassie melihat replika mobil yang Edewina tunjuk. "Oh, aku ingat mobil itu. Sekitar 3 tahun yang lalu. Reo bahkan mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk mendapatkannya. Katanya untuk seseorang yang istimewa. Aku sendiri yang membantu Mark dalam mengurus ijinnya untuk di bawa ke Indonesia. Tapi nggak tahu itu untuk siapa."


Edewina terkejut. Namun ia berusaha menyembunyikannya karena Cassie langsung mengajaknya ke luar ruangan.


Ternyata Reo pun sudah ada di sana.


"Sayang, kita akan pergi sekarang? Mommy Riani sudah marah-marah padaku karena menantunya belum juga tiba dan ia sudah siap dengan kue coklatnya." kata Reo disambut tawa dari Cassie. Mereka bertiga pun keluar dari perusahaan secara bersama namun Cassie naik mobil sendiri karena ia ingin menjemput suami dan anak-anak nya untuk makan malam di rumah Almond nanti.


Edewina kagum melihat rumah keluarga Almond. Dia jadi ingat dengan rumahnya sendiri di Indonesia. Banyak bunga dan tertata rapi halamannya.


"Wina sayang, selamat datang."


"Mommy!"

__ADS_1


Edewina memeluk Riani dan Jack secara bergantian. Lalu ia diajak masuk ke dalam. Semu pelayan pun menyebut nyonya muda mereka dengan sangat antusias.


Riani segera mengajak Edewina ke teras belakang. Di sana sudah tersedia kopi dan kue.


"Wina sayang, bagaimana perkembangannya? Kalian kan sudah 3 bulan lebih menikah. Sudah ada isi?" tanya Jack membuat Reo tersedak.


"Mengapa kamu yang tersedak. Apakah kamu kurang mampu membuahi istrimu?" tanya Jack sambil menatap tajam ke arah anaknya.


"Daddy!" Riani melotot ke arah suaminya lalu segera mengambil air mineral dan memberikannya pada putranya.


"Dad, tanya saja pada Wina apakah ia kurang puas denganku. Kamu kan selalu minta lagi dan lagi kan sayang?" tanya Reo sambil menatap Wina mesra.


Kali ini, Edewina yang tersedak. Ia tak menyangka ayah dan anak ini dengan seenaknya saja mengangkat cerita yang sangat intim seperti ini.


"Sayang, minum airnya. Jangan disimpan dalam hati ya? Daddy memang suka gitu. Namun aku yakin kalau mommy dan daddy tak akan menekan kita untuk segera punya anak. Lagi pula kita masih senang berdua." Reo meraih tangan Edewina dan mencium punggung tangan istrinya dengan lembut. Edewina hanya tersenyum dan pura-pura tersipu malu.


************


"Kamu belum berhasil menaklukkan dia kan?" tanya Jack saat acara makan malam selesai dan mereka mendapat kesempatan untuk berdua.


"Belum daddy. Dia begitu keras kepala dan sedikit sombong. Namun aku yakin akan bisa menjadikannya sebagai milikku seutuhnya."


"Berjuanglah. Tapi jangan sampai mommy tahu. Ia akan sangat kecewa."


Reo mengangguk. Tak lama kemudian, Riani datang bergabung bersama mereka.


"Senang rasanya melihat daddy sama putranya ngobrol seperti ini. Reo, kalau kuliah Edewina sudah selesai, tinggal di sini saja. Mommy kesepian. Walaupun daddy sudah jarang ke kantor namun rumah ini terlalu besar untuk kami berdua. Memang di akhir pekan, anak-anak Cassie sering main ke sini. Namun tetap saja kami merasa kesepian."


"Cucu."


Reo dan papanya saling berpandangan sambil menahan senyum. "Semoga mom. Sesegera mungkin."


Edewina melihat koleksi mobil Reo yang ada di garasi mobil. Letaknya memang hanya bersebelahan dengan ruang makan keluarga. Dari dinding kaca, sebagian mobil terlihat. Semuanya ada seperti yang Wina lihat di lemari yang ada di ruangan kerja Reo. Hanya satu mobil yang tak ada. Ferrari klasik merah. Hati Edewina mulai gelisah. Apakah mungkin? Ah, tak mungkin. Tapi Ferrari itu harganya hampir 6M, hanya orang kaya seperti keluarga Almond yang sanggup membelinya.


Edewina menatap Reo yang sedang bermain dengan anak bungsu Cassie yang masih berusia 5 tahun. Seorang anak laki-laki yang tampan. Usianya memang agak jauh jaraknya dengan kedua kakak kembarnya yang berjenis kelamin perempuan. Kedua kakaknya itu sudah berusia 14 tahun.


Aku mengenal Reo saat usiaku 16 tahun ketika ia datang ke sekolah. Apakah dalam percakapan kami, apakah aku pernah mengatakan tentang keinginanku memiliki mobil itu?


Jika memang mobil itu dihadiahkan oleh Reo, apakah benar saat ia mengatakan bahwa ia sudah mencintaiku sejak lama?


"Sayang, ada apa? Kenapa berdiri di depan pintu garasi?" tanya Reo.


"Eh, aku hanya melihat koleksi mobilmu. Opa Edriges juga suka mengoleksi mobil."


"Ayo gabung dengan mereka." Reo meraih tangan Edewina dan menggenggamnya erat. Keduanya melangkah bersama menuju ke tempat keluarga Reo duduk.


*********


Acara makan malam selesai. Cassie dan keluarganya sudah kembali ke rumah mereka. Edewina pun sudah masuk ke kamar Reo. Ia telah mencuci wajahnya dan menggunakan gaun tidur yang disediakan oleh Riani.


Edewina sebenarnya tak mau menggunakannya namun ibu mertuanya itu tak mau kompromi. Lagi pula, pakaian yang Edewina sudah siapkan, tak dibawa oleh Reo. Pria itu beralasan karena ia berangkat dari kantor, ia sendiri juga tak membawa pakaian.

__ADS_1


Saat keluar dari kamar mandi, Edewina bersyukur karena Reo belum ada. Makanya ia dengan cepat naik ke atas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Reo akhirnya memasuki kamar. Ia tersenyum melihat Edewina yang sementara duduk sambil memainkan ponselnya namun selimut menutupi tubuh Edewina sampai ke lehernya.


Setelah selesai dengan gosok gigi dan ganti pakaian, Reo juga ikut naik ke atas tempat tidur. Cowok itu tersenyum saat menyadari bahwa sofa besarnya di kamar ini sudah dikeluarkan oleh mommy Riani.


"Sayang, kamu tak ingin apa-apa lagi?"


"Nggak....!"


"Eh ...." Kalimat Reo terhenti saat mendengar ada ketukan di pintu kamarnya.


"Itu mommy....!" Reo langsung menarik tubuh Edewina dan memeluknya.


Benar saja, Riani muncul dengan sebuah nampan di tangannya.


"Maaf ya mommy menganggu sebentar. Nih minum susu dulu untuk Wina dan minuman kebugaran untuk Reo."


Reo dan Wina pun meminum susu dan minuman kebugaran yang di bawa Riani.


Mata Reo sedikit berbinar melihat gaun tidur Edewina.


"Lalui malam ini dengan indah ya?" ujar Riani.


"Mommy, minuman apa sih ini?" tanya Reo karena merasa ada yang berbeda dengan minuman kebugaran yang biasa diberikan oleh mommy Riani kepadanya.


"Ini susu persiapan kehamilan untuk Wina, dan untuk Reo minuman penambah gairah dan mengurangi lelah. Good night." Riani keluar dari kamar sambil mengedipkan sebelah matanya.


Edewina dan Reo saling berpandangan. Gadis itu perlahan menjauhkan tubuhnya dari Tubun Reo.


"Mommy.....!" Reo mengusap wajahnya dengan gelisah. Ia menatap Edewina yang sudah menggeser tubuhnya sampai di ujung ranjang.


"Wina, ke sini! Nanti kamu jatuh!"


"Ba....bagaiman ji....jika minumannya bekerja? A...pa kah kau....a..kan memperkosaku?"


Reo tertawa. "Mana ada aku akan memerkosa mu? Kau kan istriku. Wajarlah jika kita berhubungan. Nggak ada yang salah."


"A....ku......!" Edewina turun dari ranjang. Namun ia menyesal karena justru gaun tidurnya yang membuat tubuhnya terbuka dimana-mana kini bisa dilihat oleh Reo. Pria itu nampak menelan salivanya dengan susah payah melihat bagaimana menggodanya penampilan istrinya.


"A....ku....!" Wina nampak panik.


"Mommy akan kecewa jika ia tahu kalau kita tidak melakukan apa-apa malam ini."


Edewina terkejut mendengar perkataan Reo. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Akankah ia jatuh dalam pelukan Reo malam ini?


**********


Hallo semua


terus dukung emak ya guys

__ADS_1


semoga suka dengan cerita ini


__ADS_2