MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU

MEMILIKIMU ADALAH TAKDIRKU
Ketulusan Cinta Reo


__ADS_3

Langkah Reo sangat cepat saat ia turun dari mobil dan melangkah masuk ke rumah sakit. Jantungnya berdebar sangat kencang saat menerima kabar kalau Edewina mengalami kecelakaan. Ia bahkan sempat marah pada bodyguard nya yang selama ini mengikuti Edewina karena mereka kurang siaga.


"Bagaimana kabar istriku?" tanya Reo begitu ia tiba di depan ruangan gawat darurat.


"Tenang tuan, Almond. Istri anda baik-baik saja. Hanya ada beberapa luka memar di pelipis dan dadanya. Untung saja nyonya Almond menggunakan sabuk pengamannya. Ia masih sock karena hampir menabrak seorang anak kecil. Akhirnya ia banting stir ke kanan dan justru menabrak pembatas jalan. Tangannya juga luka karena terkena pecahan kaca." Kata dokter yang menangani Edewina.


"Boleh aku masuk?"


"Silahkan."


Reo membuka pintu dan langsung melihat Edewina yang sedang duduk sambil bersandar pada kepala ranjang. Melihat wajah Edewina yang masih pucat dan nampak sok berat, Reo langsung memeluknya dengan semua rasa takut ia rasakan.


"Sayang, aku hampir gila mendengar kecelakaan yang kamu alami. Aku sangat takut sesuatu yang buruk terjadi padamu." ujar Reo sambil memejamkan matanya. Ia merasa lega bisa memeluk wanita yang sangat dicintainya.


"Reo, lepaskan....!" Edewina mendorong tubuh Reo perlahan. "Aku baik-baik saja."


Reo melepaskan pelukannya namun tak menjauhkan tubuhnya dari Edewina. Tangannya membelai wajah gadis itu lalu. "Mana yang sakit?"


Edewina membuang tatapannya ke arah lain. Ia selalu tak mampu beradu pandang dengan pria bermata coklat itu.


"Hanya luka goresan saja. Kata dokter aku bisa pulang hari ini ke rumah." Ujar Edewina. Sebenarnya ia merasa sakit di bagian dada karena tekanan dari sabuk pengamannya. Demikian juga dengan tangannya. Namun menurut dokter itu karena pengaruh otot nya yang menjadi tegang saat membelokan stir mobil secara cepat.


"Sungguh, tak ada yang sakit, sayang? Jangan sembunyikan apapun padaku. Aku nggak suka." ujar Reo. Ia memegang dagu Edewina. Memaksa gadis itu untuk menatapnya.


"Hanya dada dan tanganku tapi kata dokter tidak apa-apa." Edewina akhirnya bicara saat dilihatnya kalau Reo terus menatapnya dengan tajam. Reo seolah tahu jika Edewina tak berkata jujur.


"Di sini?" Reo menyentuh dada Edewina membuat gadis itu menahan napas karena ia merasakan kalau tubuhnya bergetar karena sentuhan tangan Reo di dada nya yang memang sedikit terbuka karena entah bagaimana kancing kemejanya putus.


"Ya...!" Edewina menepiskan tangan Reo.


"Maaf, aku tak bermaksud membuatmu tak nyaman dengan sentuhan itu. Aku hanya terlalu takut sesuatu membuatmu terluka."


"Aku baik. Sangat baik."


"Ok." Reo menjauhkan tubuhnya melihat Edewina mulai tak nyaman dengan kedekatan tubuh mereka.


Mark masuk setelah mengetuk pintu. "Maaf menganggu tuan, mengenai mobil nyonya, apakah yang harus saya lakukan?"


"Bawa saja ke bengkel. Nanti Edewina akan ku belikan mobil yang baru."


"Aku tak mau." ujar Edewina cepat. "Aku ingin mobilku itu. Tolong dibuat kembali. Aku tahu kerusakannya sangat parah. Namun aku yakin pasti masih bisa diperbaiki. Mobil itu sangat berharga bagiku."


"Kenapa sangat berharga? Aku bisa membelikan mobil dengan merk yang sama namun keluaran yang terbaru." ujar Reo sambil menahan geli di hatinya.


"Aku nggak mau. Mobil itu punya arti khusus untukku. Mobil itu adalah hadiah di ulang tahunku. Sebenarnya aku tak pernah tahu siapa yang memberikannya. Namun orang itu pasti sangat baik. Aku akan menjaga mobil itu. Aku mohon, perbaikilah. Nanti biayanya aku yang akan menggantikannya." ujar Edewina membuat Reo tertawa.


"Kenapa tertawa?" tanya Edewina sedikit tersinggung.


"Jangan bicara seolah kamu masih gadis. Sekarang statusmu adalah nyonya Christensen Haireo Almond. Jadi seluruh kebutuhan hidupmu adalah tanggung jawabku." kata Reo tegas dan tak ingin dibantah.


"Aku punya uang."

__ADS_1


"Aku bisa memblokir aliran dana yang dikirimkan orang tuamu ke rekening mu. Itu memalukan aku sebagai suamimu."


"Kamu...!" Edewina jadi kesal karena merasa kalau Reo terlalu mengintimidasinya.


Mark langsung mundur perlahan melihat percakapan yang mulai memanas itu.


"Apakah ada yang salah dengan perkataan ku? Sekarang mungkin kamu masih bisa menggunakan uang yang ada di tabungan mu. Namun aku sudah meminta pada daddy Edmond untuk tak lagi mengirimkan kau uang. Mulai besok kau akan menggunakan kartu yang akan kuberikan padamu."


"Aku tak mau. Sudah ku katakan kalau pernikahan kita hanya ada di atas kertas. Aku tak mencintaimu!" tegas Edewina membuat hati Reo kembali merasa sakit.


"Bagimu pernikahan kita hanya ada di atas kertas. Namun bagiku, pernikahan kita adalah janji seumur hidup. Kita hanya akan bercerai jika salah satu diantara kita mati." Reo menetap Edewina tajam. Namun tangannya bergerak lembut menyentuh pipi gadis itu. Ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Edewina membuat gadis itu menjadi tegang.


"A...apa yang akan ka..kamu lakukan?" tanya Edewina panik.


Reo menyentuh hidung Edewina dengan hidungnya. Tatapan matanya masih ke arah mata Edewina. "Satu yang harus kamu ingat Edewina Carensia Almond ! Kamu sudah menjadi milikku. Dan apa yang menjadi milikku, tidak akan pernah ku lepaskan." kata Reo pelan namun sangat menusuk hati Edewina.


Perlahan Reo mencium dahi Edewina yang terluka. Lalu ia menjauhkan tubuhnya dan turun dari ranjang. "Aku akan berbicara dengan dokter."


Edewina menarik napas lega. Sungguh ia tak mau berdekatan dengan Reo seperti ini. Sisi hatinya yang lain begitu membenci Reo namun tubuhnya justru bergetar setiap kali Reo dekat dengannya.


**********


Dokter akhirnya mengijinkan Edewina pulang karena ia juga tak mau kalau harus bermalam di rumah sakit. Sesampai di rumah, Edewina langsung mengganti pakaiannya, ia bermaksud akan tidur di sofa namun Reo yang memang sedang ada di kamar langsung menghadang langkah Edewina.


"Tidurlah di ranjang."


"Aku nggak mau tidur di ranjang yang sama denganmu."


"Aku akan tidur di sofa." ujar Reo lembut.


"Aku justru tersiksa selama satu bulan ini melihatmu yang tidur di sofa sementara ranjang itu begitu luas."


"Reo....!"


"Please....!"


Edewina akhirnya mengalah. Ia naik ke atas ranjang.


"Ada salep yang harus digosok di dadamu yang merah."


"Aku bisa sendiri." Edewina langsung mengambil salep itu dari tangan Reo. Saat ia membuka kancing kemejanya, ia menatap Reo. "Aku bisa sendiri. Kenapa juga masih duduk di depanku?"


Reo tersenyum. "Baiklah. Aku mau mandi dulu." Reo bergegas ke kamar mandi. Ia juga harus menahan seluruh hasrat yang dimiliknya sebagai pria normal untuk tak menyentuh istrinya. Sudah satu bulan lebih mereka menikah dan Reo tak bisa menyentuh Edewina.


Saat Edewina sudah selesai mengolesi salep di dadanya, ponselnya berbunyi. Ternyata itu dari Clara.


"Win, lu nggak apa-apa kan? Gue baca di internet katanya istri Christensen Haireo Almond mengalami kecelakaan."


Edewina berdecak kesal. "Dasar wartawan gosip. Gue baik-baik saja. Itukah untungnya kalau memakai seatbelt."


"Yang telepon gue dan mengabari kalau lu kecelakaan adalah Ken. Ia nampaknya khawatir."

__ADS_1


"Mengapa juga ia harus khawatir kalau dia asyik berduaan dengan Jenisa di kamarnya?"


"Lu cemburu?"


"Nggak. Gue kesal karena Ken tak menjalani hidupnya secara benar. Gue tutup dulu ya. Ngantuk karena minum obat. Nanti besok kita sambung lagi.


Bye...." Ujar Edewina lalu memutuskan sambungan telepon. Suasana hatinya kembali menjadi buruk. Ia yakin Ken melakukan semua itu karena membenci dirinya.


"Ada apa?" tanya Reo yang baru selesai mandi.


Edewina menahan napasnya melihat ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna di hadapannya.


Reo keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian perut ke bawa. Walaupun kenyataannya ia tak menyukai Reo, tetap saja penampilan Reo seperti ini membuat wajah gadis itu menjadi panas. Karena sejujurnya saja, ia tak melihat lelaki berpenampilan seperti ini secara langsung.


"Ti...tidak....!" Edewina menggeleng.


"Wajahmu terlihat kesal setelah menutup telepon."Aku mengantuk!" Edewina langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Reo.


Reo langsung menjauh namun ia yakin kalau ada sesuatu yang membuat Edewina terlihat badmood.


Setelah memakai pakaiannya, Reo berjalan ke arah balkon dan menelepon Mark.


"Sebenarnya tadi aku ingin mengatakannya saat kita di rumah sakit. Namun melihat wajah tuan yang sangat khawatir, aku jadi lupa untuk mengatakan penyebab nyonya kecelakaan." ujar Mark.


"Apa penyebabnya?"


"Di kampus, nyonya melihat tuan Ken bersama seorang gadis. Namanya Jenisa. Gadis Asia juga. Gadis itu adalah mahasiswa kedokteran juga tapi masih Strata satu. Kabarnya ia dan tuan Ken Memiliki hubungan sudah tinggal bersama."


"Jadi Edewina kesal karena Ken yang diketahuinya sebagai cowok yang tak mau berhubungan intim sebelum menikah akhirnya melakukan hal itu juga? Pantas saja dia kelihatannya kesal."


Reo tersenyum sambil mengangguk. Ia pun kemudian menatap langit yang nampak cerah malam ini. Semoga dengan kejadian ini Edewina akan membukanya hatinya untukku.


Agak lama Reo berdiri di balkon kamarnya. Ia kemudian masuk dan mendapati jika Edewina sudah terlelap. Tentu saja dengan itu karena pengaruh obat yang diminumnya. Reo pun mengambil bantal dan segera menuju ke sofa setelah terlebih dahulu mematikan lampu kamar.


Menjelang tengah malam, Reo mendengar teriakan Edewina.


"Wina...., sayang.....!" Reo menyalahkan lampu kamar. Di lihatnya Edewina sudah duduk sambil memeluk lututnya.


"Anak itu......, anak itu.....!" ujar Wina diantara Isak tangisnya.


"Wina, kamu mimpi buruk lagi ya? Sayang, anak itu tidak apa-apa. Kamu tak sempat menabraknya." kata Reo sambil berusaha memegang tangan Edewina.


"Aku takut melukainya....aku takut melukainya." ujar Edewina diantara tangisnya yang dalam.


"Sayang...., kamu hanya mimpi. Tidak terjadi apa-apa dengan anak itu."


"Reo...., aku takut....aku takut...."


Reo langsung membungkam mulut Edewina dengan ciumannya. Tak ada lagi suara tangis yang terdengar. Bahkan saat Reo perlahan membaringkan tubuh Edewina ke ranjang. Gadis itu pasrah yang masih menikmati ciuman Reo.


**********

__ADS_1


Duh, Edewina kira-kira mimpi terus ataukah akan sadar dan menolak Reo?


Berikan komentarmu ya? Jika komentarnya lebih dari 50, emak up lagi deh


__ADS_2