
Tangan Reo terkepal saat keluar dari kantor kepala gang mafia itu.
"Ken brengsek! Dia ternyata belum bisa melepaskan Edewina. Aku akan menghancurkannya kalau memang dia terbukti dia adalah dalang semua ini." ujar Reo tanpa bisa menyembunyikan kemarahannya.
"Sabar tuan. Saya sementara menyelidiki semuanya." ujar Mark lalu membukakan pintu mobil bagi Reo.
Reo duduk di bangku belakang. Lalu menggunakan sabuk pengamannya. "Jalan, Mark. Kita langsung ke perusahaan."
"Baik, tuan!"
Mark menjalankan mobilnya secara perlahan meninggalkan halaman parkir yang ada. Mereka pun menyusuri jalan tol untuk menghindari kemacetan yang ada. Namun di tengah perjalanan, Mark merasakan kalau ada yang tak beres dengan kendaraan yang di bawahnya.
"Tuan, sepertinya ada yang tak beres dengan kendaraan ini." Mark menatap ke layar yang menunjukan keadaan mobil yang dibawahnya.
"Apa maksudmu, Mark?"
"Radar menunjukan bahwa mobil ini mengalami gangguan sistem di bagian remnya. Dan sepertinya bahan bakarnya juga berkurang dengan sangat cepat."
"Hentikan mobilnya, Mark."
"Aku tak bisa, tuan."
"Apa maksudmu tak bisa?"
"Seluruh sistemnya mengalami gangguan."
Mobil Reo ini memang adalah mobil yang semua sistemnya sudah sangat canggih. Reo bahkan dapat menuntun kendaraannya ini pulang sendiri ke alamat yang sudah ditentukan walaupun tak ada pengemudinya.
Pria itu langsung mengambil ponselnya dan memeriksa mobilnya ini.
"Mobil ini sudah dibajak, Mark." Reo mencoba menurunkan kaca mobilnya namun tak bisa. Memecahkannya pun percuma karena mobil ini adalah mobil anti peluru.
Mark memasang pengemudi otomatis. Ia kemudian mencoba mengotak atik layar digital yang ada di depannya. Akhirnya kaca mobil bisa terbuka.
"Tak ada jalan lain, tuan. Kita harus keluar melalui jendela kaca. Aku akan mencoba menurunkan laju mobil ini."
Reo mengangguk. Ia mengambil ponsel dan dompetnya. Ia juga mengambil tas kerjanya dan memasukan semua ke dalam tas kerjanya. Saat laju kendaraan sedikit berkurang, Mark menginstruksikan agar mereka segera keluar dari jendela. Akhirnya kedua pria itu pun melompat keluar setelah reo terlebih dahulu melempar tas kerjanya. Keduanya jatuh dengan sangat keras sambil memegang kepala mereka agar terlindung. Tak lama kemudian mobil itu tiba-tiba saja meledak membuat Reo dan Mark saling menatap dengan wajah yang merasa bersyukur.
"Tuan, apakah mengalami luka yan serius?" tanya Mark.
"hanya luka lecet." Reo menatap mobil seharga 4M yang dibelinya tahun yang lalu. Sebenarnya ada rasa sedih juga karena Reo sangat menyukai warna dan model mobil ini.
Mark menghubungi orang kantor agar datang menjemput mereka. Tak sampai 15 menit, sala satu mobil Reo yang memang terparkir di kantor datang menjemput mereka.
"Tuan, pergilah! Aku akan di sini sebentar untuk mencari memori yang ada di mobil. Bukankah kita punya kamera tersembunyi?"
"Memorinya aman?"
"Ya. Dia tak akan pernah terbakar walaupun mobil terbakar sangat parah."
__ADS_1
Reo pun naik ke mobil yang menjemputnya. Begitu ia tiba di perusahaan, semua kaget melihat keadaan Reo.
"Reo, ada apa?" tanya Indira yang memang ada di depan ruangan Reo. Ia segera masuk ke dalam ruangan dan mendekati Reo. Wajahnya terlihat khawatir saat melihat tangan dan kaki Reo terbuka.
"Ada apa?" tanya Indira. Ia segera menelepon OB untuk mengambil air hangat dan handuk kecil.
"Aku tak apa-apa, Ra." Kata Reo lalu mulai membuka kemejanya. Ia tahu kalau di dalam ruangannya ada beberapa pakaian yang memang sengaja ia tinggalkan di kantor.
Saat Reo sudah telanjang dada, Indira semakin meringis melihat ada memar di dada Reo. Tangan pria itu terluka, demikian juga dengan dagunya ada luka goresan.
Seorang OB datang membawakan apa yang Indira perintahkan.
"Re, sebaiknya kamu ke rumah sakit."
"Panggil saja dokter. Aku nggak mau Edewina merasa khawatir jika mendengar kalau aku ada di rumah sakit."
Indira menelepon dokter perusahaan. Setelah itu ia mengambil handuk dan membasahinya dengan air hangat dan mulai membersihkan luka yang ada di wajah, tangan dan kaki Reo.
di lobby, EDewina baru saja tiba. Ia merasa bosan di rumah dan ingin memberikan kejutan pada suaminya dengan mengajak Reo untuk makan siang berdua.
Saat Edewina masuk ke ruangan Reo, matanya langsung tertuju pada Reo dan Indira. Posisi Reo sedang duduk sambil bersandar pad sandaran sofa sedangkan Indira setengah menunduk sambil membersihkan wajah Reo. Jarak wajah mereka begitu dekat.
Edewina merasakan kalau dadanya terasa panas. Namun saat melihat luka di tangan Reo, gadis itu langsung menjerit. "Kak Sen, ada apa?" tanya Edewina.
"Sayang?" Reo langsung berusaha berdiri sedangkan Indira mundur beberapa langkah. Edewina duduk di samping Reo. "kamu kenapa, kak?"
"Aku dan Mark mengalami kecelakaan kecil." Reo tak mau menceritakan tentang keadaan yang sebenarnya. Ia tak mau Edewibna menjadi sangat khawatir.
"Aku nggak mau kamu khawatir, sayang." kata Reo sambil memegang wajah istrinya namun Edewina menepiskan nya.
"Luka Reo harus dibersihkan dulu sebelum dokter datang." ujar Indira.
"Biar aku saja." Edewina mengambil handuk kecil itu dari tangan Indira. Sekilas ia melirik ke arah perut Indira yang sudah mulai kentara.
Indira hanya tersenyum. Ia kemudian duduk di bagian sofa yang lain sementara Edewina mulai membersihkan luka yang ada di tangan Reo.
"Sayang, pelan-pelan." Reo meringis manja.
"Maafkan aku." Edewina mencium pipi Reo membuat pria itu nampak senang. Indira memalingkan wajahnya melihat bagaimana manjanya Reo pada Edewina. Pada hal tadi saat Indira membersihkannya, Reo sama sekali mengeluh apapun.
Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa Reo di dalam kamar pribadi yang ada di ruangannya. Edewina ikut masuk ke dalam kamar sedangkan Indira menunggu di ruangan Reo.
Menurut dokter tak ada luka yang serius. Luka-luka Reo juga segera diberikan obat dan Reo diminta segera memeriksakan iri ke dokter jika mengalami sakit di dadanya yang mengalami memar.
Edewina membantu Reo menggunakan pakaian bersih. "Sayang, kita pulang saja, ya? Aku sudah meminta para pelayan untuk menyiapakan makan siang. Sebenarnya aku ingin mengajak kamu makan siang di luar. Namun sebaiknya kita makan di rumah saja."
"Iya. Sebaiknya di rumah saja. Kita pergi sekarang?"
Edewina langsung menggandeng tangan Reo dan keluar dari kamar. Indira nampak masih duduk di sana.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan, Re?" tanya Indira.
"Kata dokter tak ada yang serius. Aku dan Wina akan pulang saja. Sebaiknya kamu pulang juga. Hari ini akan ada badai salju. Nanti kamu terjebak dan tak bisa pulang."
Indira mengangguk.
Edewina menahan sakit di hatinya melihat Reo yang memberikan perhatiannya pada Indra. Namun ia berusaha membuang rasa cemburunya karena ia tahu Indira juga sedang hamil anaknya Reo.
Mereka pun pergi meninggalkan kantor. Indira menahan sakit di hatinya. Lebih dari 10 tahun ia menahan semua perasaannya pada Reo. Namun semua penantiannya menjadi sia-sia. Reo memang bukan untuknya.
**********
Dalam perjalanan pulanng, ponsel Edewina berbunyi. Ternyata Ken yang meneleponnya.
"Hallo, Ken."
Reo melirik Wina dengan tatapan tak suka saat tahu kalau yang menghubungi Edewina adalah pria yang sekarang dicurigainya.
"Win, kamu sudah ada di Indonesia?" tanya Ken.
"Eh, belum. Aku masih di London. Papi dan mami yang akan datang ke sini. 3 hari lagin mereka akan tiba dengan kedua adikku."
"Oh gitu ya? Kamu sekarang ada di mana? Jadi ingin ketemu denganmu. Sekedar ngobrol saja. Sepi nggak ada teman."
"Aku ada di mobil bersama dengan suamiku. Kayaknya hari ini aku nggak bisa, Ken."
"Baiklah. Nanti kalau kamu ada waktu, kabari aku ya?"
"Ok." Edewina mengahiri percakapannya dengan Ken. Ia kemudian tersenyum ke arah suaminya lalu melingkarkan tangannya di lengan Reo yang tak terluka.
"Ken mau apa?" tanya reo.
"Mau ajak aku ketemu. Namun aku bilang nggak bisa."
"Sayang, kamu tahu kalau Ken punya orang tua angkat?"
"Nggak. Kenapa memangnya?"
"Aku pernah melihat foto Ken ada di ruangan seorang pengusaha dan ia mengatakan kalau Ken adalah anak angkatnya."
"Aku nggak tahu, sayang. Namun aku pernah beberapa kali ikut Ken ke latihan menembak. Kami bertemu dengan seorang pria yang kayak mafia gitu. Tapi aku nggak bicara dengan pria itu karena memang Ken tak mengijinkannya."
"Kenapa Ken latihan menembak?"
"kata Ken untuk sekedar jaga-jaga saja karena di London ini kan banyak penjahatnya. Ken juga punya beberapa pistol di apartemennya. Ken bahkan pernah bilang padaku kalau ia tahu membuat orang pingsan hanya melalui udara."
Reo tersenyum penuh misteri. Kena kau, Ken.
************
__ADS_1
Apa yang akan Reo lakukan selanjutnya.
Terima kasih sudah terus membaca cerita ini.