Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Kepergian Nenek


__ADS_3

Hari ini kandungan Gea genap berusia sembilan bulan. Hari ini juga hari terakhir Gea masuk kerja.Besok sudah mulai cuti hamil,hingga hari ini ia menyerahkan semua pekerjaannya pada Pak Zain.


"Semoga sehat sehat sampai lahiran nanti ya Ge"kata Pak Zain.


"Aamiin,semoga saja pak"balas Gea.


"Jangan lupa kasih kabar ya kalau udah lahiran"


"Selama saya cuti jadi dibantu sama Avika kan Pak?"tanya Gea.


"Jadi,tenang aja.Nikmati aja masa cuti kamu"seloroh Pak Zain."Syukur syukur kalo nanti anaknya boleh buat saya"


Gea hanya terkekeh."Bisa dipegat langsung sama Teo Pak kalau anaknya buat bapak"


"Diajakin bikin lagi aja ntar"


Tawa Gea pecah seketika.Ia tak ingin berkomentar lebih jauh.Bagaimanapun juga istrinya Pak Zain ga bisa punya anak lagi.Gea takut akan menyakiti perasaan pak mandornya itu jika membahas lebih jauh perkara anak.


"Saya ke ruangan Avika dulu ya Pak"pamit Gea.


Sesampainya di ruangan Avika.


"Assalamualaikum Vik"sapa Gea.


"Waalaikumsalam.Hai Ge,sini duduk"ajak Avika.


"Gimana gimana ini bumil cantik"seloroh Avika.


"Biasalah,mau ngerepotin kamu"balas Gea.


"Wah seneng banget direpotin ,kan bonus aku jadi dobel"


Keduanya tertawa bersama.


"Canda Ge,canda.Jangan di ambil hati ya"kata Avika.


"Gapapa Vik,santai aja"


"Btw,jadi mulai besok nih cutinya?"tanya Avika.


"Iya,aku nitip sebentar ya kerjaan aku.Kalo ada apa apa kamu bisa hubungin aku kok"


Avika tersenyum mendengarnya."Santai aja,udah biasa kan kalo kita saling bantu"


Baru akan membuka mulutnya lagi,ponsel Gea berdering.Nomor dari Pak Rt memanggil.


"Sebentar ya Vik,ada telepon dari tetangga"kata Gea.


"Halo Assalamualaikum"


"Gea,kamu dimana?"

__ADS_1


Dahi Gea berkerut mendengar pertanyaan dari tetangganya itu.


"Saya masih di tempat kerja pak,ada apa ya?"tanya Gea.


Beberapa detik kemudian ponsel Gea jatuh begitu saja.Nafasnya seakan berhenti saat itu juga.


Avika yang melihat wajah shock Gea segera mendekat.Di ambilnya ponsel Gea yang terjatuh dan sambungan telfonnya masih menyala.


Avika ikut terkejut saat panggilan berakhir.Detik berikutnya Gea sudah bersandar lunglai di kursinya.


"Geaaaa!!!"


Jeritan Avika mengundang orang orang datang ke ruangannya.Mereka terkejut melihat Gea pingsan dengan ditahan Avika.


Segera mereka membantu Avika membaringkan Gea.


"Ada apa Vik?Kenapa Gea pingsan?"tanya Pak Aldo,mandornya Avika.


"Ne neneknya Gea meninggal Pak"kata Avika.


"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un"


"Gea pasti shock mendengarnya"kata Pak Zain."Padahal tadi ia masih baik baik saja"


"Iya Pak,tadi waktu masuk kesini juga gapapa,masih tenang dan senyum senyum"kata Avika.Tangannya masih mengolesi minyak kayu putih pada telapak tangan Gea yang begitu dingin.Berharap Gea secepatnya siuman..


Ya,mereka semua memang tau kalau Gea hanya berdua dengan neneknya sejak orang tuanya pergi entah kemana.Pasti ini hal yang berat bagi Gea.


"Alhamdulillah"kata Avika yang melihat Gea siuman.


Gea berusaha bangun saat kesadarannya penuh.Avika membantunya untuk duduk.


"Vik,aku mau pulang,nenek.."


"Iya,sabar ya Ge,yang kuat"tenang Avika.


Gea hanya diam.Tatapan matanya kosong.Membuat Avika khawatir.


"Kamu dijemput Teo kan Ge?"tanya Avika.


Gea menggeleng lemah.


"Aku bisa pulang sendiri"


Dengan lambat Gea beranjak.Kakinya terasa lemas,namun ia mencoba tetap kuat.Setelah membereskan meja kerjanya iapun pamit pada semuanya.


Dengan menguatkan hatinya sendiri berjalan lunglai.Bagaimana ia pulang sekarang sedangkan tadi ia menolak untuk diantar Avika.


Disaat bersamaan Teo datang.Melihat istrinya berjalan dengan tatapan kosong ia langsung turun dari motor dan meraih Gea dalam dekapannya.


Gea hanya diam,tapi Teo merasakan kaosnya basah.Ia tau,Gea menangis dalam diam.Hal yang akan dilakukannya saat Gea merasa begitu sakit atas suatu hal.

__ADS_1


"Kita pulang sekarang ya"kata Teo.


Gea mengendurkan pelukannya dan mengangguk pasrah.


Perjalanan pun hanya dilewati dengan keheningan.Teo tau Gea masih begitu terkejut dengan kepergian nenek.Begitu juga dirinya.Bukankah tadi pagi mereka meninggalkan nenek dalam keadaan baik baik saja.Tapi sekarang nenek lah yang meninggalkan mereka untuk selamanya.Umur manusia memang tak ada yang tau.Memang hanya menjadi rahasia Allah.


Sesampainya dirumah suasana cukup ramai.Banyak tetangga yang datang untuk membantu pemakaman nenek.


Teo langsung menuntun Gea masuk.Berjaga seandainya Gea kembali pingsan.Keduanya masuk ke kamar dulu untuk berganti baju,karena memang masih memakai pakaian kerja.


Teo membantu memakaikan pakaian Gea.


"Kamu yang sabar ya,yang ikhlas biar nenek juga tenang"tutur Teo selembut mungkin.


"Aku udah ga punya siapa siapa lagi kak"lirih Gea.


"Kamu masih punya aku Ge,masih banyak yang peduli sama kamu".


Gea hanya diam,tapi airmata masih mengalir dipipinya.


"Mau langsung dimakamkan apa masih ada yang ditunggu"tanya Teo,bagaimanapun nenek juga masih ada anak anaknya.


"Langsung aja.Mau nunggu siapa.Bibi juga sudah kasih kabar kalau sampe sini nanti malem".


"Kamu bisa sama yang lain dulu kan?Aku mau bantu ngurusin pemakaman nenek"


Gea mengangguk.Memang hanya Teo yang kini bisa ia andalkan.Tak mungkin ia memaksa suaminya untuk tetap disampingnya.


Keduanya keluar kamar.Teo menuntun Gea menuju jenasah nenek dibaringkan.


Dibukanya kain yang menutup wajah sang nenek agar Gea bisa melihat nenek untuk yang terakhir kalinya.


Dengan terisak Gea menyentuh dan mengecup wajah neneknya.


"Kenapa pergi tanpa pamit padaku Nek?"lirihnya.


Teo kembali meraih Gea saat isakannya semakin keras.Sungguh ia tak mungkin meninggalkan Gea dalam keadaan seperti ini.


"Ge,ga baik meratap kaya gini.udahan ya.Lebih baik sekarang kita doakan nenek"kata Teo.


Dibawanya Gea menepi saat Pak Rt datang dan memberitahukan bahwa jenasah akan dimandikan.Teo beranjak akan membantu namun Gea menahannya dan menggeleng.


"Aku mau ketemu Pak Rt sebentar,nanti kesini lagi"


Setelahnya Teo segera menemui Pak Rt.Ia pun menyerahkan semuanya pada Pak Rt karena ia tak bisa meninggalkan Gea.Ia takut Gea kembali pingsan.Pak Rt pun memakluminya karena memang sebelumnya Gea hanya tinggal berdua dengan nenek.Wajar kalau Gea begitu kehilangan sosok neneknya yang menjadi pengganti orang tuanya.


Teo kembali menghampiri Gea.Hatinya begitu nyeri melihat istrinya hanya diam dengan tatapan kosong dan airmata terus mengalir.


"Sabar ya,ikhlaskan nenek biar jalannya juga tenang.Jangan jadi penghambat jalan nenek dengan terus meratapinya"kata Teo.Bagaimanapun Gea tak boleh terlalu banyak pikiran karena akan berpengaruh pada kandungannya.


Gea menatap Teo dalam diamnya.Ucapan suaminya benar.Ia tak boleh larut dalam kesedihan.Tapi salahkah bila ia merasa kehilangan?.

__ADS_1


Sejak orangtuanya meninggalkannya begitu saja memang nenek yang menjadi tempatnya mengadu.Nenek yang menggantikan peran orangtuanya.Neneklah orang terdekatnya.Tapi kini nenek telah pergi untuk selamanya.Meninggalkan semua kenangan tanpa sempat pamit padanya.


__ADS_2