
Setelah bicara dari hati ke hati dengan Anton,kini Teo merenung sendirian.Suasana hatinya yang tak menentu membuatnya tak bisa berfikir jernih.Tapi ia sudah bertekad untuk segera menyelesaikan masalah yang tengah merudungnya.
"Bagaimana aku mengakhiri semua ini?Huh,otakku sungguh lelah"batinnya.
Sebenarnya poros dari masalah yang menimpanya adalah dirinya sendiri.Semua terjadi karena egonya yang tak mau berpikir sebelum bertindak.Dan fatalnya ia tak sadar jika yang ia lakukan akan meninggalkan sakit hati berkepanjangan bagi orang terkasihnya.
Dan satu satunya orang yang bisa membantunya lepas dari semua ini hanyalah istrinya.
Tapi bagaimana ia akan mengungkapkan semuanya pada istrinya itu?Mampukah lidahnya berkata jujur?Sedang sejauh ini ia terus menitipkan luka untuk Gea.
Setiap masalah pasti tercipta bersama solusinya.Hanya cara kita untuk mendapatkannya tidaklah pernah sama meski masalahnya sama.Dan kita tidak akan pernah tau solusi mana yang terbaik untuk masalah kita jikalah kita tak pernah memahami yang sebenarnya terjadi.
Seperti itu juga Teo.
Masalah yang menimpanya berawal dari ketidakterbukaannya sendiri pada pasangan hidupnya.Ia yang tak mau menundukkan sedikit egonya telah memberi celah untuk hadirnya Riri sebagai orang ketiga dalam rumah tangganya.
Sebagai lelaki harusnya Teo memang lebih tegas dalam setiap langkahnya karena ia adalah pemimpin bagi keluarganya.Harusnya ia tahu mana yang akan mengusik ketenangan keluarganya.Tapi ia justru menjadi pencipta celah keretakannya.
Lelah berpikir tanpa ada titik temu ia beranjak untuk mulai kerja kembali.Sebelumnya ia mengirimkan sebuah pesan pada istrinya.
"Gimana keadaan kamu?"
Dan pesannya itu tidak berbalas.Membuatnya bergegas pulang saat jam kerja usai tanpa peduli pertanyaan teman temannya.
Saat ini pikirannya hanya dipenuhi tentang Gea.
Ceklek.
Teo bernafas lega saat melihat Gea di kamarnya.
"Sedang apa?"tanyanya seraya memeluk Gea dari belakang.Gea menoleh ke belakang karena kaget hingga menjadi kesempatan bagi Teo mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibirnya.
Gea berdecak kesal karenanya."Ngagetin aja sih"
Teo hanya tersenyum.Baginya lebih baik melihat Gea marah marah daripada mendiamkannya.
"Calon bunda sibuk ngapain sih?"tanyanya.
"Nyiapin pakaian dedek biar besok kalo sudah berasa mau lahiran tinggal bawa berangkat aja"
"Harusnya aku yang nyiapin semuanya"kata Teo.
__ADS_1
"Keburu brojol dedeknya nungguin kamu kak"sahut Gea.
"Maaf ya"
"Belum lebaran kak,ngapain minta maaf"kilah Gea.
"Emang harus nunggu lebaran kalo minta maaf?".Gantian Teo yang kini balik tanya.
"Emang kak Teo ga bosen minta maaf terus?"
Nah,malah saling lempar pertanyaan kan.
Teo membalikkan tubuh Gea yang tengah di dekapnya.
"Bisa kita bicara sebentar ga"kata Teo.
"Lah emang dari tadi kita ngapain kak kalo ga bicara?"
"Aku serius Gea"kata Teo.
Melihat mimik wajah suaminya yang berubah serius Gea pun beralih untuk duduk di tepi tempat tidur.Teo mengikutinya dan duduk disebelahnya sementara tangannya kembali menggenggam tangan istrinya.
Teo menarik nafas sejenak untuk meredakan rasa gugupnya.Bisa tidak bisa kali ini ia harus mengungkapkannya.
"Maaf sebelumnya kalo apa yang aku katakan nanti akan banyak menyakiti hatimu.Bukan maksud untuk sengaja menyakiti,tapi aku ingin semua yang kualami menemukan solusinya.Aku ingin agar ke depannya rumah tangga kita tetap baik baik saja"
"Maksud Kakak?"tanya Gea kebingungan.Namun sedikitnya ia tahu kemana arah pembicaraan suaminya.
"Kamu udah tahu tentang aku sama Riri kan?"tanya Teo.
"Apa yang aku tahu kak,sementara aku tak pernah mendengarnya darimu sendiri.Apa kata orang aku tak lagi ingin menggubrisnya karena itu hanya akan membebani pikiranku"jawab Gea."Selagi suamiku belum menjelaskannya padaku aku akan tetap mencoba percaya bahwa sumuanya baik baik saja meski kenyataannya hatiku sakit mendengar kabar itu dari orang lain".
Untuk kesekian kalinya hati Teo tergugu mendengar penuturan istrinya.Lembut sekali hati Gea,meski ia telah nyata menyakitinya tapi istrinya tetap mencoba percaya padanya.
"Maaf,kali ini aku akan menjelaskan semuanya"kata Teo.Tatapan matanya tak pernah lepas dari wajah Gea yang semakin menyinarkan aura keibuannya."Aku memang ada hubungan lagi sama Riri.Cukup dekat,tapi tak ada status yang jelas.Awalnya aku mencoba mengabaikannya dan mencoba untuk tetap setia padamu.Tapi aku merasa kecewa saat kamu mulai menjauhiku.Aku merasa kesepian Ge dan aku juga merasa kehilangan kasih sayangmu.Hingga aku benar benar tergoda lagi pada Riri dan kami menjadi lebih dekat lagi".
Gea mencelos mendengar kejujuran suaminya.Tapi ia menahannya.Ia pun ingin tahu seberapa besar keinginan suaminya itu.
Teo mengusap lembut airmata yang jatuh di pipi mulus Gea.Untuk ke sekian kalinya juga ia membuat Gea menangis lagi.Hatinya pun ikut perih merasakannya.
"Udah,jangan nangis lagi.Aku ngga sanggup liat kamu kaya gini"pinta Teo lirih.
__ADS_1
"Teruskan kak"titah Gea yang dibalas dengan gelengan kepala oleh suaminya.
"Diteruskan atau tidak akan tetap sama sama menyakitiku Kak.Hanya jika kamu diam akan menyakitiku seterusnya.Sebaliknya jika kamu bicara sampai tuntas,kita akan tahu bagaimana jalan keluarnya.Bahagia atau kita akan sama sama terluka itu tergantung dari sikapmu saat ini".
Teo tertegun sekali lagi.Ditatapnya manik mata Gea dengan dalam.Dan disana ia melihat kekecewaan yang dalam berbalut ketegaran dan ketabahan.
Dengan tetap menatap mata Gea,Teo melanjutkan ceritanya.
"Aku semakin dekat dan lupa akan siapa diriku.Bahkan aku dengan mudah juga dibodohi oleh Riri.Ternyata dia selama tiga bulan ini sudah menjadi pacarnya Anton,sahabatku sendiri.Sungguh,aku tak pernah tahu kenyataan itu.Hingga kemaren Anton tahu hubunganku dengan Riri.Dia marah dan memukulku.Saat itu juga ia mengatakan keadaan yang sungguh tak pernah kusangka sebelumnya.Aku benar benar tak menyangka semua akan seperti ini".
"Lalu apa yang dikatakan hatimu Kak?"tanya Gea.Meski menyakitkan ia harus tetap menanyakannya.
"Entahlah Gea,aku sendiri bingung dengan perasaanku kini"
"Apa cintamu untuknya masih ada?"tanya Gea.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?Apa kau masih mencurigaiku setelah aku menceritakan semuanya padamu?"tanya Teo dengan nada yang sedikit lebih tinggi.
"Aku hanya sekadar bertanya,kenapa kau marah kak?Apa kau pikir saat aku tahu kamu selingkuh dibelakangku hatiku ini masih baik baik saja?Kenyataannya tidak Kak,akupun terluka.Tapi aku tak ingin mementingkan egoku sendiri sepertimu.Meski aku tetap melayanimu,tapi aku tak pernah baik baik saja.Aku hanya mencoba menahan semuanya hingga kau mau jujur padaku.Tapi harapku hanya sia sia.Aku bahkan tau sejak kapan kau menkhianati cinta ini".
Gea membalasnya dengan kata kata yang lebih pedas,berharap mata dan hati suaminya terbuka akan keadaannya saat ini.
Kini Teo pun ikut menitikkan airmata.Ia meluruh dan bersimpuh di hadapan istrinya.Kedua tangannya meraih jemari Gea dan menggenggamnya.
"Aku harus bagaimana Gea?Aku benar benar sulit saat ini?"tanya Teo dalam tangisnya.
Gea menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.Ia lupa siapa yang ia hadapi kini.Seorang Teo Maradika,seorang lelaki dengan hati yang selalu kebingungan dengan keadaannya sendiri.
"Katakan padaku Kak,apa yang kau inginkan saat ini"
Kali ini ia berkata dengan lembut,seolah mengatakan pada Teo bahwa dirinya akan baik baik saja.
Melihat suaminya yang hanya diam Gea segera menariknya untuk kembali duduk disampingnya.
"Apa disini ada namaku?"tanya Gea seraya menunjuk dada Teo.Teo mengangguk membuat bibir Gea sedikit tersenyum.Namun detik berikutnya ia kembali berwajah masam.
"Apa kau juga masih menyimpan nama Riri disini?"tanyanya lagi.
Sayangnya Teo juga mengangguk lagi.Dunia Gea serasa berhenti berpitar saat itu juga.Bagaimana bisa suaminya menyimpan dua nama wanita dihatinya dalam waktu yang bersamaan.
Bak tertusuk duri hati Gea kembali terluka.Meski ia mencoba kuat tapi ia tetaplah seorang wanita yang juga bisa lemah hati.Dan itu karena suaminya sendiri.
__ADS_1