Mencinta Tanpa Batas

Mencinta Tanpa Batas
Salah Makan Apa Ya?


__ADS_3

"Sayang,aku pulang dulu ke rumah ya,kamu mau di bawain apa?"tanya Teo saat ia membereskan pakaian kotor Gea.


"Ga ada Kak,semua yang dibutuhin kan udah Kakak ambilin tadi"sahut Gea.


"Ya udah aku pulang dulu ya,bentaran doang kok.Habis beresin rumah aku langsung kesini lagi".


Teo menghampiri Gea dan mengecup perlahan pipinya sebelum beranjak keluar.Tapi langkahnya tertahan melihat wajah Gea yang agak muram.


"Apa ada yang kelupaan?"tanya Teo hingga Gea tergagap dibuatnya.


"Eh itu Kak.."Gea seakan ragu untuk bicara.


"Bilang aja ga usah takut"


"Aku pengen martabak manis Kak"cicit Gea.


Teo tersenyum mendengarnya,namun hatinya terasa berdenyut nyeri.Sebegitu takutkah Gea hanya untuk mengatakan apa yang diinginkan padanya?.


"Itu aja apa ada yang lain lagi?"tanya Teo.


"Itu aja Kak,tapi aku ga bawa uang Kak,nanti uangnya kakak ambil aja ya di dompet aku"


Mata Teo bak elang yang menyorot tajam setelah mendengar ucapan Gea.


"Apa aku sebegitu miskinnya dimata kamu Ge sampai membelikanmu jajan pun aku harus mengambil uangmu?"sarkas Teo.


Deg!!!.


Lagi lagi...


Kesalahpahaman akan terjadi,membuat Gea terhenyak untuk sesaat.Suaminya pasti salah mengartikan ucapannya.


"Kak,maaf"lirih Gea seraya menahan lengan Teo yang akan berlalu.


"Tak apa,aku sadar siapa aku"balas Teo.


Gea menarik lengan Teo dan membawa telapak tangan suaminya ke wajahnya.

__ADS_1


"Bukan maksud aku seperti itu.Kakak tahu pasti bagaimana aku.Aku hanya takut menambah bebanmu.Biaya di klinik ini juga pasti mahal,dan Kakak harus mengeluarkan banyak uang untuk aku.Karenanya aku tak ingin menambahinya lagi dengan keinginanku yang ga penting"jelas Gea.


Teo menghela nafas kasar mendengarnya."Denger ya,apapun semua yang berkaitan dengan kamu sudah menjadi tanggung jawab aku.Bisa ga bisa dan mau ga mau aku harus memenuhinya.Jadi sekecil apapun itu katakanlah padaku.Aku akan berusaha memenuhinya semampu aku.Aku tahu kamu lebih dari mampu untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan dengan caramu sendiri.Tapi dengan kamu minta sama aku,itu membuatku merasa dihargai dan dibutuhkan sebagai suamimu"tutur Teo.


"Iya Kak,maaf kalau aku mengecewakanmu"


"Sama sama sayang.Maaf juga kalau aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu"


Senyum Gea melebar,betapa bahagianya ia melihat perubahan yang begitu besar pada diri suaminya.Harapannya Teo bisa menjadi imam yang lebih baik bagi ia dan putrinya.


"Kakak pasti bisa lebih baik lagi.Yakinlah itu"


Teo menggerakkan jemarinya untuk mengelus wajah Gea.Inilah yang ia sukai dari kesayangannya itu.Selalu mendukungnya tanpa mau mengguruinya.


"Makasih sayang untuk semua doa dan dukungannya.Aku pulang dulu ya biar nanti kesininya ga kemaleman"kata Teo.


Dengan berat Gea melepas tangan suaminya perlahan.Ingin rasanya ia menahan Teo,tapi lidahnya terasa kelu untuk menahannya.


"Hati hati Kak"


Teo menatap penuh arti pada istrinya lalu menoleh ke arah pintu sejenak.


Teo mengecup bibir Gea dan menyesapnya sejenak.Dan berlalu begitu saja setelah membisikkan kata keramat di telinga Gea.Membuat Gea terkejut dan tersenyum malu malu setelahnya.


.


.


.


Gea menatap haru pada Teo yang tengah menggendong putri kecilnya.Ada bahagia yang menyeruak dalam dadanya melihat pemandangan menggemaskan itu.Bagaimana tidak,Teo terus menciumi pipi putrinya dengan penuh kasih.


Ya,Teo kembali datang beberapa saat yang lalu tepat saat dokter selesai memeriksa keadaan Gea dan membawa putrinya untuk menyusui.Dokter juga mengatakan bahwa besok pagi Gea sudah bisa pulang.Alhasil,setelah kenyang menyusu Teo meminta untuk menggendong putrinya itu.


"Cantik,kamu cantik kaya bunda"celetuk Teo.Kini ia sudah duduk di sebelah Gea.


Gea tersenyum mendengarnya."Emang mau mirip siapa kalo ga mirip aku Kak"

__ADS_1


"Ya kan bisa juga mirip aku"balas Teo.Ia berjalan untuk menidurkan putrinya di box bayi karena anaknya sudah sangat lelap dalam tidurnya."Kayanya doyan bobok kaya kamu nih".


Gea tersenyum kecut mendengarnya.Malu?.Iyalah dikatain doyan tidur meskipun sama suami sendiri.


"Itu kenapa martabaknya ga dimakan?"tanya Teo yang sudah kembali duduk di sebelah Gea.


Ya saat datang tadi Teo membawa pesanan Gea.Bahkan ia membelikan martabak dengan toping full keju,sesuai kesukaan Gea selama ini.Tapi karena masih sibuk dengan anaknya,harumya martabak favoritnya itu terabaikan sejenak.


Teo membawanya ke hadapan Gea.Melihat Gea yang hanya diam saja iapun mengambil satu potongan martabak dan menyuapkannya pada Gea.


"Enak ga?"tanya Teo.


"Iya,apalagi makannya disuapin Kakak jadi tambah enak"seloroh Gea.


"Jadi dari tadi nunggu disuapin?"


"Ga juga sih.Tadi kan pas kamu dateng masih repot sama dedeknya jadi lupa deh sama jajannya"


"Tapi ga lupa kan sama aku"kata Teo dengan alis yang bergerak naik turun.


Mata Gea memicing mendengarnya.


Suamiku salah makan apa ya?


"Aneh ya?"tanya Teo membuat kepala Gea mengangguk."Maaf kalau aneh buat kamu.Aku hanya ingin berubah biar kamu tetap ada disamping aku.Maaf kalau aku memang ga bisa romantis sama kamu".


"Gapapa Kak.Aku tahu semua ini ga mudah buat kamu.Maaf juga kalau aku selalu menuntut ini itu.Tapi gitunya di depan aku aja ya,di luaran sana jangan"kata Gea.


"Kenapa?"bingung Teo.


"Aku ga mau berbagi lagi dengan yang lain,siapapun itu"


Gea menunduk.Ada semburat merah di wajahnya.


"Aku suka ini.Rasa cemburumu membuatku selalu merasa lebih berharga"


Bukannya menghilang tapi semburat merah itu kian kentara di wajah Gea.Dan semakin terlihat menggemaskan di mata suaminya.

__ADS_1


Seandainya tidak habis melahirkan Teo pasti sudah menghukumnya hingga pagi.


__ADS_2